Junior Sandreas

Junior Sandreas
Bantuan Kriss part 1



"Mobil itu?" tanya Kriss yang melihat dengan jelas.


Satu mobil hitam yang mengejar mobil Silver berhasil berada di depan. Posisi mobil silver tidak lagi berada di paling depan melainkan berada di posisi tengah antara mobil hitam yang ada di depan dan di belakang mereka. Mobil silver tetap melaju untuk meloloskan diri. Namun mobil hitam yang ada di depan selalu menghalanginya.


Jika mobil Silver mengambil arah ke kanan, mobil hitam yang di depan juga ke kanan untuk ngeblock jalan. Jika mobil silver mengambil arah ke arah kiri, mobil hitam yang di depan juga ke kira untuk ngeblock jalannya. Jadi mobil silver yang di bawa supir Zen tidak dapat lolos dari mereka.


Mobil hitam itu mampu menghalangi mobil silver hingga mereka berhenti menghalangi jalan dan mobil silver mengerem mobil agar tidak menabrak mobil hitam. Di mana mobil hitam itu berhenti di tengah jalan dengan arah memalang. Dan empat orang yang berada di dalamnya keluar menunggu mereka.


Saat Zen dan supirnya berhenti, mobil hitam di belakang mereka juga berhenti dan keluar. Delapan orang yang mendekati mobil silver dan mulai mengetuk kaca mobil mereka.


"Keluar!" Ucap seseorang yang mengetuk kaca mobil.


"Cepat keluar." Ucap salah seorang lagi setelah mengetuk di kaca mobil supir.


"Bagaimana tuan?" tanya supir Zen.


"Pergilah ketika aku keluar. Mereka pasti mengincar ku." Jawab Zen.


"Tidak. Aku adalah pengawal pribadi anda sekaligus supir. Aku tidak akan meninggalkan tuan begitu saja." Jawabnya.


"Masalahnya sepertinya mereka adalah pembunuh bayaran yang profesional. Aku bisa merasakan itu dari postur tubuh mereka. Walaupun kita berdua maju kita tidak akan menang. Lebih baik kau pergi dan meminta bala bantuan." Jawab Zen.


"Tapi tuan." Jawab


"Tidak ada tapi-tapi. Ini perintah." Jawab Zen.


"Tidak. Aku akan ikut bersama. Lebih baik aku duluan. Anda pergilah, biar aku mengahlikan mereka." Jawab Supir.


Mereka yang terlalu lama berdiskusi di dalam mobil membuat orang-orang yang berada di luar sangat tidak sabaran. Mereka membawa pukulan bisbol untuk menghancurkan kaca mobil Zen. Mereka membuat pintu mobil secara paksa.


Zen dan Supirnya melindungi diri dari serpihan kaca pintu mobil yang dipecahkan orang mereka. Lalu mereka berdua diseret keluar oleh mereka yang berjumlah 8 orang. Tubuh kekar dan juga memiliki kekuatan yang tidak sebanding dengan orang biasanya.


Memang benar bahwa mereka adalah orang-orang profesional sebagai seorang pembunuh bayaran di sewa oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dan uang.


"Lepaskan kami. Aku akan membayar kalian dua kali liat dari orang yang membayar kalian." Ucap Zen.


"Tidak perlu negosiasi. Walaupun kau mengetahui kami adalah orang suruhan. Tapi dengan membunuh mu kami bisa mendapatkan beberapa saham perusahan mu dari orang yang menyewa kami."


"Saham? Siapa sebenarnya yang telah menyewa kalian?" tanya Zen.


"Orang yang sudah mati tidak perlu mengetahuinya. Ini juga sebagai kode etik profesional kami dalam bekerja."


"Sudah bos serang langsung bunuh saja. Agar pekerjaan kita selesai."


"Iya bos. ayo serang." Ucap seseorang yang memegang kerah baju supir Zen.


Supir Zen menangkis pukulan yang mendarat ke wajah ya. Menangkis juga pukulan yang mendarat ke perutnya.


"Kau boleh juga." Ucap pria besar itu yang menyerang supir Zen.


Namun seberapa banyak supir Zen menghindar dan menangkis tetap saja tidak bisa menghindari terus menerus serangan yang tertuju padanya. Karena perbedaan ukuran badan, kecepatan dan juga kekuatan. Akhirnya dia dapat di lumpuhkan dalam waktu 3 menit. Supir Zen sudah terjatuh di bawah dengan posisi terlentang di aspal jalan raya.


Sedangkan Zen yang sudah tidak memiliki kekuatan seperti anak muda karena usiannya sudah 45 tahun membuatnya tidak secepat dan sekuat dulu. Bukan hanya faktor usia, namun juga faktor kondisi tubuh yang sudah mengalami banyak rekaman medis.


Zen sudah terduduk di samping mobilnya karena telah di hajar habis-habisan oleh mereka. Zen juga muntah darah akibat tonjokan yang bertubi-tubi ke perutnya dan wajahnya. Wajahnya sudah babak belur. Mereka berdua di kalahkan oleh pembunuh itu dengan waktu 5 menit


"Memang menyiksa orang sebelum mati adalah yang terbaik." Ucap salah satu dari mereka.


"Aku malah lebih suka tidak mengotori tangan."


"Jangan bilang begitu. Bos menyukai penderitaan orang apalagi saat seorang yang berada di ambang kematian dan memohon untuk hidup. Benar kan bos?"


"Kalian benar. Aku menyukai nya. Memohon lah tuan Zen." Ucap seseorang yang menjadi bos itu dengan memegang dagu Zen. Wajah Zen yang sudah penuh dengan bekas luka lebam akibat tonjokkan.


"Tidak akan." Jawab Zen.


"Lepaskan tuan Zen." Ucap supirnya.


Sedangkan di sisi lain 5 meter dari keberadaan mereka, Kriss sudah memberhentikan sepeda motornya dan memperhatikan apa yang sedang terjadi. Kriss sedang memikirkan apakah ia perlu membantu atau tidak karena harus melihat kondisi dulu. Apakah pertolongan dia memang tepat atau tidak.


"Aku akan melihat dulu apa yang terjadi." Ucap Kriss dalam hati saat mereka masih mulai memberhentikan mobil silver.


Kriss yang sejak awal sudah memperhatikan mereka. Membuat Kriss sudah bisa mendapatkan sedikit kesimpulan dan mendapatkan keputusan apa yang akan di lakukan ya.


"Sepertinya aku harus membantu. Mereka berdua memang butuh bantuan ku. Anggap saja karena bertemu dengan ku kalian beruntung." Jawab Kriss dalam hati dan mulai memutar kunci sepeda motor kemudian menghidupkan sepeda motor untuk melaju ke arah depan.


Kriss melaju dengan kecepatan yang cepat di mana saat Bos dari pembunuh itu akan memukulkan Zen dengan pukulan bisbol yang di pegang olehnya sejak tadi terhalang oleh Kriss. Kriss datang mengarahkan sepeda motornya menabrak bos itu hingga terdampar ke mobil hitam yang paling depan.


"Bos." Ucap mereka semua berteriak


Semua orang terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Kriss. Seseorang lelaki menggunakan sepeda motor dengan kecepatan penuh menabrak bos mereka. Mereka langsung berlari ke arah Kriss. Dan Zen membuka matanya melihat apa yang terjadi padahal tadi ia sudah pasrah akan mati di tangan pembunuh itu.


Dan supir Zen yang melihat itu hanya bisa melihat tanpa bisa bergerak lebih karena memang sudah babak belur di tanah. Kriss dengan cepat mematikan sepeda motor dan turun dari sepeda motor. Melihat seseorang yang sudah di tabrak olehnya itu sudah terjepit dengan ban sepeda motornya dan mobil hitam.


Melihat tongkat bisbol yang di tangan pria itu, Kriss mengambilnya dan mengarahkan ke semua anak buah pembunuh itu karena mereka sudah mendekat. Kriss membabi buat melayangkan pukulan bisbol itu ke arah mereka sehingga kepala mereka bocor. Tangannya patah, kakinya patah bahkan lehernya patah dan tembus ke perut mereka.


Kriss tidak memperdulikan nyawa orang atau membuat orang pingsan.