
Feng yang mengingat apa yang dikatakan oleh adiknya menurutnya untuk bertindak lebih dulu. Feng yang sudah selesai mengerjakan tugasnya mati waktu jam makan siang. Feng berinisiatif untuk menelepon Bella.
Feng mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Bella dan ternyata nomor Bella aktif. Namun, sudah berulang kali ia menelepon tapi tidak ada jawaban juga.
Di sisi lain, Bella yang menyetir dalam perjalanan menuju pulang, ponsel miliknya berdering terus. Bella hanya melihat sekilas bahwa panggilan masuk itu dari Feng. Bella hanya tersenyum namun tidak mengangkatnya.
Feng yang sudah puluhan kali menelpon tapi tidak ada jawaban lagi, Feng berinisiatif untuk menggunakan pesan kepada Bella.
"Semoga dia membacanya." Jawab Feng yang mengirim pesan kepada Bella.
Feng sudah selesai menyimpan ponselnya lalu berjalan keluar menuju ke kantin rumah sakit untuk menikmati makan siangnya dan melanjutkan pekerjaannya hingga pukul 9 malam.
Sedangkan Bella yang masih dalam perjalanan bergegas menginjak gas dengan kecepatan yang maksimal dari jalan tol untuk segera sampai ke kota C. Beberapa waktu perjalanan telah terlewati akhirnya sampai di parkiran apartemen miliknya.
Setelah Bella mematikan mobilnya yang sudah terparkir di parkiran apartemen, Iya mengambil ponselnya lalu membaca pesan yang dikirimkan oleh Feng. Bella melihat ada 137 panggilan tidak terjawab dan Feng dan satu pesan dari Feng.
"My princess bisakah kita bertemu untuk membicarakan semua ke salah pahaman ini? Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tunggu kabar baik mu untuk bertemu dengan ku." Isi pesan yang di kirimkan Feng.
"Ayo bertemu di apartemen mu. Aku sudah sampai di apartemen." Jawab Bella dengan singkat kemudian menyimpan ponselnya lalu keluar dari mobil.
Bella membuka bagasi mobil untuk mengambil beberapa barang-barang yang dibawa olehnya sebagai oleh-oleh itu. Bella membawa barang-barangnya sendiri menaiki lift.
Tiba di apartemen, Bella langsung semoga apartemennya lalu meletakkan semua barang-barang yang ia bawa ke tempat yang seharusnya. Setelah menyusun semua barang-barang yang dibawa olehnya, Bella pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk bertemu dengan Feng.
Di sisi lain, Feng yang baru saja selesai mengecek seluruh pasien dan masuk ke dalam kantor miliknya langsung melihat ponsel. Sejak Iya mengirim pesan itu, Feng selalu saja melihat ponselnya untuk berharap bahwa Bella sudah membalasnya.
"Akhirnya iya membalasnya." Jawab Feng dalam hati sambil membuka pesannya.
"Bertemu di apartemen? Dia sudah tiba?" tanya Feng sendiri setelah membaca pesan itu dengan wajah mimik yang panik. Feng yang melihat jam kerja yang belum habis setengah jam lagi namun pekerjaan tanggung jawab yang harus dikerjakan sudah selesai. Feng dengan terburu-buru pergi meninggalkan rumah sakit menuju ke apartemen miliknya.
Bella yang sudah selesai mandi dan sudah bersiap, berjalan keluar menuju apartemen Feng.
"Langsung masuk atau menekan bel?" tanya Bella dalam hati untuk memilih.
"Karena aku sedang marah lebih baik menekan bel saja." Jawab Bella dalam hati sambil menekan tombol bel apartemen.
Saat Bella sudah menekan tombol lalu menunggu lagu di depan pintu agar Feng datang membukakan pintu apartemennya. Bella yang membelakangi pintu itu dan mendengar suara pintu sudah terbuka membuatnya berbalik badan.
Bella sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya bahwa ada wanita yang membuka pintu apartemen. Bella dan Priscilla sama-sama saling menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan bergumam di dalam hati bersama-sama.
"Siapa wanita ini?" tanya Bella dalam hati.
"Kak Bella. Kesempatan yang bagus." Jawab Priscilla dalam hati juga.
"Maksud ya?" tanya Priscilla.
"Ini apartemen milik Feng Zou?" tanya Bella.
"Iya benar, anda siapa?" tanya Priscilla.
"Yang seharusnya bertanya adalah aku, kau siapanya Feng? Kenapa kau ada di dalam apartemennya?" tanya Bella.
"Seperti yang kau lihat." Jawab Priscilla.
"Di mana dia?" tanya Bella.
"Tentu saja masih berada di rumah sakit untuk bekerja. Anda masih belum menjawab pertanyaanku, anda siapa?" tanya Priscilla lagi.
"Jika anda ingin bertemu dengannya masuklah karena aku sedang memasak jadi sedang buru-buru untuk ke sana." Jawab Priscilla yang membukakan pintu lalu pergi begitu saja menuju ke dapur untuk mematikan kompor.
"Dia memasak di apartemen Feng?" tanya Bella dalam hati yang tetap berdiri di depan pintu dan tidak masuk ke dalam apartemen Feng.
"Sial lelaki buaya, baru saja ditinggal beberapa hari sudah mencari wanita lain. Apa ya yang takut kehilangan. Feng!!! awas kau nanti." Jawab Bella dalam hati dengan menghentakkan kakinya lalu masuk ke dalam apartemen miliknya.
Menutup pintu apartemennya dengan kuat karena sedang kesal. Untuk pertama kalinya Bella cemburu melihat hal itu. Karena wanita yang ia lihat berada di dalam apartemen ingin dicintai dan juga sedang memasakan untuknya.
Siapa yang tidak berfikir buruk ketika melihat hal itu di depan matanya. Begitu juga dengan Bella yang sangat kesal melihat situasi tersebut.
"Hahahhah, pasti Kak Bella sedang kesal saat ini setelah menerima ulahku. Aku akan memberikan percikkan api seperti hal yang sama ketika kau memberikan percikkan api kepada kakakku. Aku hanya ingin melihat bagaimana kalian akan membangun kepercayaan satu sama lain." Jawab Priscilla dalam hati setelah mematikan kompor dan berjalan melihat pintu apartemen di mana Bella tidak masuk.
"Maafkan aku Kak, Aku melakukan hal ini hanya untuk membuat Kak Bella mengerti dan merasakan apa yang kaulah alami kemarin malam."
"Aku juga ingin menguji cinta Kak Bella kepadamu bahwa ia memiliki hal yang sama seperti ini atau tidak. Untuk calon kakak ipar yang dicintai oleh kakak ku haruslah seseorang yang memiliki pendirian, kebaikan dan ketulusan." Jawab Priscilla.
Priscilla kembali berjalan menuju dapur dan mempersiapkan makan malam untuk Feng dan dirinya.
Di sisi lain Feng yang sudah berjalan menuju ke apartemen sedang gelisah karena ia takut jika Bella salah paham tentang kehadiran adiknya berada di dalam apartemen.
Di sisi lain Bella yang sedang emosi berjalan masuk ke dalam kamar lalu mengambil bantal guling dan memberikan beberapa tinju untuk bantal guling itu untuk menyalurkan kekesalan yang sedang ia rasakan saat ini.
"Dasar Feng sialan!" ucap Bella berulang kali sambil meninju bantal guling itu dan membayangkan bantal guling sebagai wajah Feng yang saat ini sedang ia tinju.
Beberapa kali melakukan hal itu membuatnya sedikit reda lalu turun dari tempat tidur berjalan menuju ke arah kulkas. Bella membuka kulkas dan mencari es krim yang disimpan olehnya.
Bella mengambil es krim itu lalu menikmatinya sambil duduk di meja makan dengan membayangkan hal yang dilihatnya lagi tadi. Bella bener-bener cemburu dan berpikir sempit tentang apa yang dilihat oleh matanya tadi.