Junior Sandreas

Junior Sandreas
Ujian Taekondow Kriss



Seluruh arena pertandingan di penuhi para pengunjung yang terdiri dari orangtua wali murid yang masing-masing datang untuk melihat anaknya. Jack dan Caca juga berada di arena pertandingan, di kursi penonton. Ada 15 orang yang menggunakan pakaian yang sama seperti Caca.


Jack dan Caca datang dengan persiapan yang matang tanpa ada yang mengenali siapa mereka. Bahkan guru yang bekerja lama di tempat itu tidak tanda dengan wajah Jack. Karena kebanyakan guru tua banyak yang berganti dengan guru yang lebih muda lagi.


"Sudah lama kita tidak seperti ini." Jawab Caca.


"Iya, sudah hampir 3 bulan kita tidak keluar menghirup udara segar." Jawab Jack.


"Dan ini pertama kalinya kita menyaksikan ujian dan memberikan semangat kepada anak kita di situasi yang seperti ini." Ucap Caca.


"Aku tidak salah untuk memberikan kesempatan baginya memasuki sekolah ini walaupun harus menyamar." Jawab Jack.


"Tidak mengapa. Dengan begini Kriss mendapatkan cerita pengalaman hidup yang sama seperti orang lain untuk dirinya. Karena gen mu dan gen ku membuat anak kita menjadi anak yang tidak biasa seperti pada umum ya." Jawab Caca.


"Jadi kau menyesali ya?" tanya Jack.


"Tentu tidak. Aku bersyukur. Tapi seperti pepatah yang mengatakan bahwa semakin berharganya sesuatu maka semakin di inginkan." Jawab Caca.


"Tapi aku bersyukur, karena mu menurunkan sifat lembut dan penyayang pada Kriss. Tidak seperti ku yang terlalu egois dan kejam." Jawab Jack sambil memeluk Caca dari samping dan melihat Kriss duduk di tempat kursi tunggu dan juga tersenyum melihat Kyler dan Farel yang melihat mereka.


Waktu berjalan beberapa jam namun Kriss belum juga dipanggil namanya. Bukan hanya Kriss, teman-teman yang lain juga belum seperti Gibrel dan rekannya. Ella dan Auren juga belum di panggil.


"Lama sekali Kriss tidak di panggil? Padahal waktu sudah menunjukkan siang hari." Jawab Caca.


"Banyak murid ya." Jawab Jack dengan singkat.


"Lihat dia mau kemana?" tanya Caca melihat Kriss yang berjalan ke arah toilet.


"Mungkin ke toilet." Jawab Jack.


"Bersiap-siap untuk........ Ella dan Auren di Ring 4. Kriss dan Gibrel pada ring 5. " MC membacakan kandidat selanjutnya untuk ujian.


Kriss yang mendengar itu tersenyum dan tetap berjalan ke arah toilet dan kembali dengan cepat sebelum pertandingan ujiannya di mulai.


Di posisi Ring 4 peserta ujian telah selesai sehingga Ella dan Auren dapat melanjutkannya menaiki ring. Mereka memulai pertandingan.


"Kali ini aku tidak akan pernah mengalah." Jawab Auren yang memberikan hormat kepada Ella.


"Silahkan." Jawab Ella.


"Mulai." Ucap Wasit.


Pukulan dan tendangan terus mengarah ke Ella tanpa teknik dan jeda. Auren melakukannya dengan membabi buta tanpa memikirkan hal lainnya. Ella yang sulit membaca situasi beberapa kali terkena pukulan dan tendangan dari Auren. Namun tetap saja Ella tidak tumbang karena hal itu. Ia tetap bertahan untuk berdiri dan memulai pertandingan terus.


Karena beberapa kali tendangan dan pukulan terkena sehingga nilai sudah memenuhi syarat untuk menyelesaikan pertandingan. Wasit menghentikan ujian karena sudah memenuhi score. Auren yang mengetahui hal itu tersenyum bahagia karena rencananya berhasil.


"Kau kalah ini ini. Hahahah." Ucap Auren kepada Ella dengan berbisik kemudian tertawa.


"Karena terlalu emosi sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih bawa aku sudah di jebak olehnya sejak awal." Ucap Ella dalam hati.


Untuk membuat kesal Auren, Ella tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang sedang kesal karena kekalahan. Ia tersenyum dan memberikan selamat kepada Auren.


"Selamat telah berhasil." Jawab Ella memberikan uluran tangan kanan ya kepada Auren.


"Nikmati kemenangan mu yang licik itu. Kalah sekali bukan masalah." Jawab Ella untuk menenangkan dirinya.


"Sejak aku bertemu dengan Kriss, aku mengalami yang namanya sebuah kekalahan yang memalukan seperti ini." Jawab Ella melimpahkan kesalahan dirinya sendiri untuk Kriss.


Setelah mengatakan hal itu, Kriss dan Gibrel naik ke atas ring untuk bertanding. Kriss hanya memberikan tatapan dingin kepada Ella yang kalah karena ujian yang baru saja di lalui oleh ya.


"Kenapa tatapannya sama seperti saat pertama kali bertemu." Jawab Ella yang berpapasan dengan Kriss.


Ella duduk di kursi tunggu dan menyaksikan pertandingan Kriss dan Gibrel. Begitu pula dengan Auren yang duduk di samping ya.


"Kemenangan ku juga kemenangan Kriss." Jawab Auren yang membuka botol minum mineral.


"Kau tidak membela sepupu mu?" tanya Ella.


"Apakah kau bodoh, semuanya sudah terlihat jelas siapa yang akan menang walaupun belum bertanding." Jawab Auren.


Ella tidak ingin menjawab ucapan Auren lagi dan lebih memilih untuk melihat apa yang akan terjadi. Wasit mengatakan mulai setelah Kriss dan Gibrel memberi hormat.


Satu pukulan ke arah perut Kriss di tahan dengan tangan kanan Kriss lalu meluncurkan pukulan lagi ke arah perut Kriss namun dpaat di cegah kembali dengan tangan kiri Kriss. Kedua tangan Gibrel yang sudah di tahan oleh Kriss dengan mudah, Kriss langsung memberikan serangan tendangan menggunakan dengkul kaki kanan ke perut Gibrel sehingga membuat nya kesakitan lalu bangkit kembali.


Wasit memulai lagi, Gibrel langsung menyerang ke arah wajah Kriss namun Kriss mengelakkan ke kanan dan ke kiri. Selanjutnya Kriss melayangkan tendangan ke arah wajah Gibrel dengan keras. Walaupun Gibrel menahan dengan kedua tangannya tendangan Kriss tetap saja membuat Gibrel terjatuh.


"Kenapa bisa seperti ini?" Ucap Wilson yang menghentakkan meja tanpa sadar di lihat oleh guru yang lain. Karena suasana tidak begitu tentram karena banyak suara sehingga hanya orang di samping Wilson yaitu Daniel yang mendengar itu.


"Ada apa?" tanya Daniel.


"Tidak apa-apa." Jawab Wilson yang tersadar.


"Sial, jika seperti ini terus menerus akan membuat Gibrel malu. Lebih baik hentikan saja." Ucap Wilson dalam hati dan berniat memberitahukan wasit untuk menyudahi saja.


Belum selesai Wilson untuk memberitahukan wasit, tetapi wasit memulai kembali sehingga Kriss melayangkan satu pukulan ke arah wajah Gibrel sehingga membuatnya terjatuh hingga hitungan ke sepuluh. Wasit langsung memberikan pengumuman bahwa Kriss memenangkan ujian ini.


"Sial. Rencana ku gagal." Ucap Wilson yang mengepal tangan kanannya hingga membuat pulpen yang dipegangnya patah.


Sementara kedua sahabat Gibrel segera menaiki ring dan mengangkat Gibrel ke ruang UKS.


"Bos bangun." Ucap mereka berdua serentak kemudian mengangkat Gibrel.


Sedangkan Kriss selesai dengan ujiannya menoleh ke arah Caca dan Jack dengan tersenyum.


"Memang anak ku." Jawab Jac


"Tetapi sepertinya dia masih belum mengeluarkan semua kekuatannya." Jawab Caca.


"Tentu saja. Tapi tidak seharusnya di keluarkan di hadapan semua orang. Anak kita cerdas dalam mengontrol kekuatannya mylotus." Jawab Jack.


"Yang terpenting dia tidak melukai terlalu parah pada teman-teman ya." Jawab Caca.


"Sepertinya dia ada sedikit dendam dalam pukulan tadi itu." Jawab Jack yang merasakannya.