Junior Sandreas

Junior Sandreas
Pertanyaan Mengapa?



Begitu banyak pemikiran jangka pendek dan juga jangka panjang membuatnya memutuskan memilih posisi yang cocok. Semuanya memiliki resiko yang besar, namun Zhafira mencari resiko yang paling rendah di antara lainnya. Akhirnya Zhafira memilih untuk posisi koki di hotel tersebut, dimana tidak ada pilihan di antara 5 pilihan yang diberikan oleh Kenzo.


“Presdir, eh Kenzo.” Ucap Zhafira yang memanggil Kenzo.


“Iya.” Jawab Kenzo yang sedang melihat berkas di mejanya sedangkan Zhafira berada di depan meja kerjannya.


“Bisakah aku meminta untuk pekerjaan yang lain dari pilihan ini?” tanya Zhafira.


“Maksudnya?” tanya Kenzo.


“Bolehkah aku memintamu untuk memberikan pekerjaan sebagai koki biasa saja di restoran ini?” tanya Zhafira.


“Hanya itu?” tanya Kenzo.


Zhafira memberikan menganggukan kepalanya dengan bermaksud mengatakan iya.


“Baiklah jika seperti itu. Pergilah keruang administrasi dan katakan padanya untuk posisi yang kau inginkan. Mereka akan langsung mengarahkanmu untuk bekerja hari ini juga.” Jawab Kenzo.


“Baiklah. Terimakasih Kenzo.” Jawab Zhafira yang mengambil tasnya dan berdiri dari kursi untuk meninggalkan tempat.


Kenzo yang masih sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya fokus memeriksa tapi tetap saja merasakan bahwa Zhafira tidak melangkah meninggalkan ruangan itu.


“Ada apa lagi?” tanya Kenzo yang sedang memberhentikan aktifitasnya dan menatap Zhafira yang mesih berdiri melihat Kenzo.


“Bolehkan aku bertanya suatu alasan padamu?” tanya Zhafira.


“Alasan apa?” tanya Kenzo yang meletakkan map yang tadi di pegang olehnya kemudian menggenggam kedua tangannya yang berdiri di atas meja lalu melihat Zhafira dengan sungguh-sungguh.


“Kuharap kau akan berkata jujur saat aku bertanya walaupun ini adalah pertanyaan yang lebih cendrung ke pribadi.” Jawab Zhafira.


“Keintinya saja.” Jawab Kenzo.


“Hmmm, Begini.” Ucap Zhafira yang kembali duduk dan mulai serius untuk mengungkapkan pertanyaannya.


“Iya.” Jawab Kenzo dengan wajahnya yang lebih serius menatap wajah Zhafira.


“Mengapa kau menelongku hingga seperti ini, apakah karena aku adalah temannya Bella atau karena alasan lain?” tanya Zhafira.


“Menurutmu?” tanya Kenzo yang kembali merenggangkan kedua tangannya dan mengambil berkasnya kembali.


“Aku kan sedang bertanya mengapa dia balik bertanya?” tanya Zhafira dalam hatinya.


“Jika karena semua ini dikarena Bella, sepertinya aku tidak pantas untuk mendapatkan semua pertolongan kalian. Tapi, jika ini karena alasan lain aku hanya ingin mengetahuinya dengan jelas agar aku tidak terlalu banyak berfikir.” Jawab Zhafira.


“Maka jangan difikirkan, bersyukur saja atas segala nikmatnya. Mungkin aku adalah perantaraan tuhan yang menolongmu.” Jawab Kenzo dengan singkat.


“Tapi..?” tanya Zhafira yang belum puas dengan jawabannya Kenzo.


“Jangan pakai tapi-tapi. Apakah kau mau tidur di jalanan dan jadi gelandangan?” tanya Kenzo yang kembali menatap Zhafira dengan tatapan yang menyeramkan menurut Zhafira.


“Bagaimana aku akan membalas kebaikan kalian kepadaku?” tanya Zhafira.


“Apakah aku terlihat kekurangan sesuatu?” tanya Kenzo.


“Benar juga, aku melihat kau dan Bella tidak kekurangan apapun. Harta, keluarga harmonis, pekerjaan yang baik walaupun kalian terlalu misterius bagiku.” Ucap Zhafira dalam hatinya.


“Maka katakanlah jika kau membutuhkan apapun dariku. Aku akan berusaha untuk membantumu.” Jawab Zhafira.


“Kau terlalu banyak berfikir. Sekarang fokus saja dengan kesehatan dan pekerjaanmu.” Jawab Kenzo.


“Baiklah. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku berjanji akan bekerja dengan sangat keras dan sebaik mungkin untuk tetap tidak melakukan hal yang akan merugi bisnismu.” Jawab Zhafira dengan berdiri dan bersemangat mengangkat tangannya dengan percaya diri memberikan pernyataan itu kepada Kenzo.


“Apakah dia sedang tersenyum kepadaku?” tanya Zhafira yang baru pertama kali melihat Kenzo tersenyum kepadanya walaupun senyumannya sangat tipis dan hanya selama 3 detik saja.


Zhafira tebengong dan membuat Kenzo berdiri dan megelus kepala Zhafira tanpa disadari olehnya. Kenzo yang menyadari dirinya sedang memperlakukan Zhafira sama seperti dia memperlakukan Bella, menurunkan tangannya dan kembali duduk dan berfokus pada berkas-berkasnya.


“Maaf aku tidak sengaja karena sering melakukan itu kepada Bella.” Jawab Kenzo.


“Tidak apa-apa. Baiklah saya akan ke pergi ke ruang administrasi.” Jawab Zhafira yang juga malu.


Zhafira dengan sangat terburu-buru untuk pergi keluar ruangan Kenzo untuk ke ruang administrasi. Zhafira pergi untuk mendaftarkan namanya kemudian langsung diberi baju koki yang wajib digunakan di dalam dapur hotel. Setelah mendapatkan seragam kokinya, Zhafira langsung masuk kedalam dapur untuk melaksanakan peran pertamanya sebagai pekerja di hotel ini.


Sedangkan Kenzo sudah selesai memeriksa semua dokumen yang perlu persetujuannya. Setelah itu dia harus pergi kembali ke tempat lain untuk mengurus bisnis lainnya.


“Atur orang-orang untuk menjadi pengawal bayangan Zhafira. Jangan sampai diketahui olehnya.” Ucap Kenzo kepada Riki.


“Baik tuan muda pertama.” Jawab Riki.


“Uncle Riki biasakan untuk memanggilku Kenzo saja jika kita hanya berdua seperti ini.” Jawab Kenzo.


“Tidak apa-apa. Aku tidak merasa keberatan.” Jawab Riki.


“Selalu seperti itu jawabannya. Jadi bagaimana kegiatan kita hari ini?” tanya Kenzo.


“Hari ini kita harus ke kantor cabang untuk mengadakan rapat mingguan pada seluruh divisi. Setelah itu, bertemu dengan client dari Jepang. Hanya tinggal itu saja.” Jawab Riki.


“Baiklah. Aku ingin makan siang buatan Zhafira. Paman pergilah kedapur untuk memerintahnya sekalian untuk melihat keadaannya. Bagaimana kinerjanya di hari pertama?” tanya Kenzo.


“Oke.” Jawab Riki yang pergi keluar dari ruangan Kenzo dan menuju dapur hotel yang berada di lantai atas.


Ada 3 dapur hotel, dimana setiap dapur itu sesuai dengan kelasnya masing-masing. Dapur yang saat ini dimasuki oleh Zhafira adalah dapur VVIP yang hanya melayani pesanan kamar VVIP di dalam hotel. Sesuai dengan kemauan Zhafira, dia hanya berstatus sebagai pembantu koki saja. Tidak sepenuhnya dia memasak atau memiliki masakan special yang dibuat olehnya.


Saat ini Zhafira hanya membantu mengupas, memotong, mencuci dan membersihkan sisik ikan atau kulit udang. Zhafira bertugas untuk menyiapkan bahan masakan. Pekerjaan yang simple namun juga sangat sulit karena terlalu banyak. Hal itu tidak masalah bagi Zhafira karena dia juga ingin belajar untuk menjadi koki yang handal dimasa depan, walaupun dia sudah bekerja selama dua tahun di hotel keluaraga yang membesarkannya.


“Nona, tuan ingin memakan masakanmu. Segera persiapkan.” Jawab Riki yang masuk kedalam ruang dapur dan mendatangi Zhafira yang masih mencuci sayuran.


“Aku?” tanya Zhafira.


“Iya.” Jawab Riki.


“Tapi?” tanya Zhafira yang tidak punya kewajiban untuk membuat makanan di dapur ini karena sudah ada koki yang bekerja.


“Ada apa tuan Riki?” tanya kepala chef yang ada di dapur itu.


“Bos ingin dia membuatkan makanan?”  jawab Riki.


“Kerjakan saja chef baru.” Jawabnya memerintah Zhafira.


“Baiklah aku tinggal. Segeralah untuk mengantarkan ke kantor bos jika sudah selesai. Kau tau sendiri bagaimana temperament tuan muda pertama


hampir sama dengan bos besar.” Jawab Riki.


“Aku mengerti. Jadi dialah orangnya?” tanya kepala kepala chef.


“Iya.” Jawab Riki.


“Aku mengerti, aku akan menjaganya.” Jawabnya.


Di dapur itu tidak ada satupun chef wanita. Hanya Zhafira sebagai wanita satu-satunya dan menjadi sejarah. Selama ini tidak ada dan tidak diterima chef wanita di dapur VVIP.