
Sejak Kenzo pergi, Zhafira yang melihat mansion yang begitu besar namun tidak ada orang sama sekali di dalam ya. Bahkan pelayan sudah tidak ada. Hanya beberapa orang yang berjaga di luar pada setiap pintu yang di lihat Zhafira melalui jendela. Zhafira yang bosan hanya di kamar dan di ruang tamu dan juga di ruang makan. Dia terlihat bosan sehingga membuatnya berfikir untuk bergelut di dapur.
"Bagaimana jika membuat beberapa makanan di dapur?" tanya Zhafira yang jiwa memasaknya selalu muncul ketika sedang bosan.
"Tapi belum meminta izin Kenzo? Apa dia tidak akan marah jika aku memakai dapur ya?" tanya Zhafira dalam hati.
"Tidak apa-apa yah itu." Jawab Zhafira sendiri kemudian bergegas dari sofa berjalan ke arah dapur. Karena sejak tadi Zhafira hanya berada di depan TV menonton siaran drama.
Zhafira bergegas ke dapur dan melihat ada bahan apa saja di kulkas. Setelah dirinya melihat bahwa ada beberapa bahan yang bisa di buat oleh Zhafira.
"Termasuk berisi lengkap." Jawab Zhafira tersenyum melihat isi kulkas.
Kulkas yang di miliki Kenzo adalah kulkas yang memiliki 4 pintu dengan tinggi 2 meter. Zhafira membuka kulkas miliknya yang tersusun rapi bahan masakan maupun minuman. Bersih dan benar-benar rapi.
Zhafira langsung mengambil beberapa bahan dari dalam kulkas untuk di keluarkan. Memilik dan kemudian menutup kulkas kembali setelah semua bahan yang di butuhkan olehnya di ambil.
"Kenapa ada cake di dalam lemarinya?" tanya Zhafira dalam hati mengingat kembali isi dalam kulkas ketika melihat semua bahan yang ada di meja dapur.
"Ah sudahlah, untuk mengisi kekosongan dan kebosanan ini lebih baik memasak." Jawab Zhafira.
Beberapa jam bergelut di dapur untuk memasak makanan yang enak. Saat Zhafira sudah selesai. Ia menikmati masakannya sendiri dan menyisakan untuk di makan bersama dengan Kenzo. Ia meletakkan hasil masakannya di dalam kulkas penghangat yang akan mengikuti suhu makanan.
Zhafira yang sudah menyimpan beberapa masakan dan cemilan yang di buat olehnya di dalam kulkas hingga dalam kulkas lebih penuh dari sebelumnya. Zhafira kembali ke dapur dan membersihkan dapur seperti sediakala setelah memasak. Hal ini membuat dirinya sedikit lelah . Zhafira membuka celemek yang digunakan olehnya kemudian pergi berjalan ke arah kamar ya dan membersihkan tubuhnya.
"Lelah juga?" Jawab Zhafira membaringkan dirinya di atas kasur. Tidak menunggu lama, Zhafira ketiduran hingga sore hari. Saat ia terbangun ia mencuci wajahnya dan kembali bingung apa yang harus dia lakukan.
"Kenapa Kenzo menyuruhku tetap di dalam. aaaaaa bosan." Jawab Zhafira melemparkan bantal.
"Kenapa aku tidak mengelilingi mansion ini saja?" tanya Zhafira dalam hati.
"Ia, sejak pertama kali di bawa di dalam mansion ini aku tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan." Jawab Zhafira tertawa kecil.
Memang ia, dia hanya melihat ada beberapa kamar setelah dari pintu utama dan ruang tamu. Ia juga hanya mengetahui kamar Kenzo yang di atas dan kamar Bella yang ada di sampingnya. Dan saat ini Zhafira berada di kamar lantai bawah dekat ruang tamu. Dan selama ini ia tidak mengetahui seberapa lebar mansion ini walaupun dari depan sudah terlihat pasti luas.
Zhafira berjalan mengelilingi seluruh mansion.
"Eh jangan terlalu jauh deh, nanti aku bingung kembalinya ke kamar tadi." Ucap Zhafira yang melihat ke arah belakang.
Zhafira yang sudah berfikir seperti itu setelah sadar bahwa dia sudah berjalan terlalu jauh. Karena menikmati ruangan yang di desain dengan begitu cantik, desain klasik. Setiap sudut memiliki ukiran sebuah naga. Ada yang kecil, ada juga yang besar. Namun juga ada beberapa tulisan Arab yang berada di setiap ujung sudut ruangan.
Zhafira menikmati hal itu, karena ukiran yang benar-benar baru pertama kali dia lihat. Menurutnya itu adalah ukiran yang tidak pernah ia lihat selama ini. Tapi entah mengapa semakin di lihat semain membuat hati Zhafira tenang dan juga damai.
Hal itu yang membuat Zhafira tidak menyadari bahwa dia sudah berjalan dengan jauh dari kamarnya.
"Aku di mana?" tanya Zhafira dalam hati dan berhenti melangkah.
Zhafira melihat ke sekeliling dirinya, namun dia tidak ingat sudah berjalan ke mana saja. Zhafira juga tidak melihat ada orang yang ada di sekitarnya.
"Di rumah besar ini tidak ada orang sama sekali? Bahkan pembantu dan pelayan tadi ke mana?" tanya Zhafira dalam hati.
"Lalu aku bisa ke mana?" tanya Zhafira dalam hati.
Saat ini Zhafira berada di sebuah lorong mansion paling belakang. Memang tidak ada orang yang berjaga di situ. Karena tidak ada orang yang di perbolehkan untuk di area itu. Zhafira melihat ke kanan dan ke kiri.
Ia hanya melihat dari lorong itu sekitar 30 Meter dari posisinya ada sebuah cahaya yang begitu terang. Zhafira yang melihat hal itu berjalan ke arah sana. Saat dirinya semakin dekat dengan cahaya itu ternyata Zhafira menuju ke sebuah taman bunga yang begitu luas.
Hamparan bunga mawar menjadi jalan di setiap sudut lapangan itu. Yah, seperti sebuah garis yang memisahkan. Bunga mawar yang berwarna warni, sebagian ada bunga anggrek yang berjajar dengan pot berwarna cokelat berukuran diameter 10 cm. Bunga anggrek yang berada di kiri Zhafira. Sedangkan di sebelah kanan hanya sebuah lapangan yang lebar dengan rerumputan.
Dan di depan sana ada sebuah tembok besar dengan memisahkan antara mansion Kenzo dengan pohon Pinus yang berada di belakangnya. Namun ada sebuah pintu di tembok itu. Dan sebelum tembok itu ada kolam teratai di kanan dan kiri yang luasnya 20 m² persegi panjang.
"Indah sekali?" tanya Zhafira yang melihat keseluruhan tempat dari kanan kiri dan depan.
Cahaya matahari yang menyoroti taman dan lapangan rerumputan yang tertata rapi di hadapannya. Bunga mawar yang berjajar indah dengan warna-warni, begitu juga dengan bunga Anggrek.
Zhafira yang mengenai dirinya pada cahaya yang memancarkan ke arah tempat itu. Yah, jelas bahwa itu adalah cahaya yang di pancarkan oleh matahari sore hari. Lebih tepatnya adalah matahari yang akan segera tenggelam. Dari sela-sela pohon Venus menembus ke arah Zhafira.
"Benar-benar sangat indah." Jawab Zhafira yang melihat. Langkah kaki Zhafira turun dari keramik yang ada di mansion menuju ke sebuah alas rerumputan.
Zhafira melangkah kakinya menggunakan sendal di dalam rumah. Dia mengikuti sinar matahari itu yang mengarah ke depan. Sambil menikmati udara yang bersih dan wangi dengan bunga mawar yang mekar di sepanjang jalan kanan dan kiri yang sudah seperti pagar di samping jalan.
"Kenapa ada tempat indah seperti ini di mansion?" tanya Zhafira dalam hati, ia melupakan bahwa dia ingin kembali ke kamar dengan menemukan salah satu penjaga.