
Pagi hari ini tidak seperti suasana biasanya. Seluruh murid dari gerbang awal sampai ke dalam kelas semuanya memiliki buku yang ia pegang dan dibacanya. Seluruh murid sedang belajar untuk menghadapi ujian awal bulan pertama bagi mereka. Hari ini adalah ujian Matematika, Bahasa dan Sastra.
3 mata pelajaran dalam satu hari yang akan dihadapi oleh mereka semua. Tapi tidak dengan Kriss, ia berperilaku seperti biasanya. Dan seperti tidak akan mengalami kejadian apapun pada hari ini. Farel, Kyler dan Kriss berjalan menuju kelas setelah meletakkan sepedanya dari parkiran.
"Seperti biasa, bersikap biasa setelah itu luar biasa." Ucap Farel bergurau kepada Kriss.
"Dia belajarnya cukup sejam pada malam hari sementara kita harus mengulang kembali pada pagi hari ini untuk tidak ada yang lupa saat ujian nanti." Jawab Kyler yang sedang mengambil buku matematika.
"Sudah jangan terlalu banyak komentar. Belajar dengan baik untuk menghasilkan hasil yang baik juga. Selamat berjuang saudara ku." Jawab Kriss merangkul mereka berdua.
"Hahah." Mereka bertiga tertawa sambil berjalan.
"Ternyata sejak tadi kita memasuki lingkungan sekolah hingga saat ini terlihat jelas bahwa seluruh siswa sedang memegang buku untuk belajar mempersiapkan ujian hari ini." Ucap Farel.
"Tentu saja. Suasana ketegangan saat ujian, ini yang aku rindukan." Jawab Kyler yang sedang menikmati ekspresi orang-orang yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian.
"Sejak dulu kau sama saja seperti uncle Billy. Sangat menyukai ekspresi manusia yang sedang panik dan ketakutan." Jawab Kriss.
"Hahahha. Dasar psikopat." Jawab Farel.
"Kalian saja yang tidak mengerti bagaimana rasanya melihat ekspresi orang orang itu dan membuat hati kalian senang." Jawab Kyler.
"Tidak baik jika terus di lanjutkan." Jawab Kriss.
"Seperti pepatah mengatakan bahwa senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang." Jawab Farel.
"Terus menurut mu aku yang membuat mereka susah?" tanya Kyler.
"Tidak." Jawab Farel.
"Maka pepatah mu itu tidak berlaku untuk ku. Aku hanya menyukai ekspresi orang-orang yang sedang panik ketika sedang berjuang untuk dirinya sendiri dalam proses kehidupannya." Jawab Kyler.
"Baiklah di jangan bertengkar. Sekarang kalian bersiap-siaplah untuk mengikuti ujian hari ini dan lakukanlah yang terbaik untuk mendapatkan nilai yang sempurna. Sesuai dengan pembicaraan kita tadi malam kalian harus mendapatkan posisi yang pertama." Jawab Kriss.
"Tentu saja." Jawab Kyler.
"Ais, aku paling tidak menyukai pelajar matematika. Tapi apa boleh buat, baiklah aku akan berusaha." Jawab Farel.
"Hahaha dasar trauma matematika." Jawab Kyler kembali bergurau dengan Farel dengan berlari ke arah kelas setelah mengatakan hal itu.
"Kau?" jawab Farel dengan wajah melotot dan ikut berlari untuk mengejar Kyler.
"Haha. Dasar kalian berdua." Jawab Kriss tertawa.
Farel yang merupakan anak dari Jimmy. Sejak kecil iya sudah diajarkan banyak rumus matematika yang membuat dirinya sangat muak. Buku-buku matematika, akutansi dan bisnis merupakan makanan keseharian Farel.
Jimmy dan Siska mendidik dengan tegas membuat Farel muak akan seluruh pelajaran yang di pelajari ya. Termasuk matematika yang membuatnya bosan. Bukan tidak menyukai tapi memang Farel sangat bosan tentang matematika.
Jika jawabnnya salah, maka Siska dan Jimmy akan menghukum Farel dengan berlari 20 m setiap 1 soal yang salah. Atau menghukumnya dengan mengurangi jatah uang bulanan milik ya. Atau bahkan akan menarik semua kartu dan fasilitas Farel.
Itulah yang di katakan oleh Kyler tentang trauma yang dimiliki oleh Farel. Walau sebenarnya itu adalah suatu pembelajaran yang menjadikan Farel lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu.
Kriss berjalan menuju kelas dengan suasana yang hening karena semua murid yang ada di dalam kelas sedang menghafal rumus dan juga membaca beberapa soal yang ada di buku mereka masing-masing. Tidak ada yang peduli atau bahkan melirik siapapun yang baru datang dari pintu kelas. Termasuk Kriss, mereka tidak menyadari bahwa Kriss masuk kedalam kelas seperti biasanya tanpa memegang satu buku pun di tangannya.
"Kenapa gak setiap hari saja begini?" tanya Kriss yang menurutnya selama ini jika masuk ke dalam kelas selalu dalam suasana yang ribut. Ada yang sedang bergosip, ada yang sedang bertengkar makan ada yang sedang memamerkan dirinya ke suatu tempat atau membeli suatu barang mahal.
"Dia belum datang." Jawab Kriss melihat kursi Ella yang masih kosong.
Kriss duduk di kursinya dengan meletakkan tasnya di kursi kemudian mencari posisi untuk tidur di dalam kelas. Saat semua orang sedang sibuk mempersiapkan ujian Kris malah bersikap seperti biasanya dan tidur di dalam kelas untuk mencari kesempatan sebelum bel berbunyi dan waktu ujian segera dimulai.
***
Bu Mita sebagai guru matematika sedang bersiap-siap untuk memberikan paket soal yang sudah ia persiapkan untuk disebarkan ke seluruh kelas dalam mengikuti ujian mata pelajaran matematika. Bu Mita memberikan soal itu kepada para wali kelas masing-masing.
Begitu juga dengan pak Gerry sebagai guru mata pelajaran Bahasa. Ia sudah mempersiapkan semua kertas ujian yang siap di bagikan kepada para wali kelas dan di kerjakan oleh seluruh siswa JS.
Dan Bu Celly sebagai guru Sastra sudah menyiapkan seluruh soal untuk dibagikan oleh para wali kelas.
Bu Mita, Pak Gerry dan Bu Celly sudah melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan soal-soal yang akan mereka bagikan kepada para muridnya.
Sebelum melakukan pengawasan terhadap ujian pada pagi hari ini. Seluruh guru mengadakan rapat sejenak untuk melakukan beberapa perbincangan yang diperlukan untuk peraturan dalam pengawasan.
"Bagaimana Bu Mita? Apakah ada kendala atau hal yang perlu di laporkan?" tanya Samuel.
"Tidak ada pak. Semuanya sudah siap." Jawab Bu Mita.
"Baguslah." Jawab Samuel.
"Bagaimana dengan Pak Gerry dan Bu Celly?" tanya Samuel kembali karena jadwal ujian selanjutnya adalah bahasa dan juga sastra.
"Tidak ada pak, semuanya beres." Jawab Bu Celly.
"Saya juga begitu. Hanya ada satu yang ingin saya katakan." Ucap Gerry.
"Silahkan?" ucap Samuel.
"Ada satu murid yang selalu tidur di jam pelajaran saya tapi ketika saya bertanya dia terbangun dan bisa menjawab ya." Ucap Gerry.
"Apakah yang bapak maksud adalah Krissta?" tanya para guru yang kompak.
"Iya. Saya sudah berusaha untuk menegurnya. Namun terkadang dia melakukan lagi. Apakah kita tidak akan menghukum ya?" tanya Gerry.
"Iya, seharusnya kita menghukum ya karena untuk memberikan contoh kepada yang lainnya." Ucap Wilson yang memberikan pendapat.
"Aku juga setuju. Tapi seperti ya tidak masalah jika pada akhirnya dia mengerti pelajaran yang kita coba tanyakan kepadanya. Apakah kalian tidak melihat bagaimana dia menyelesaikan soal-soal kita ketika pertama kali masuk?" tanya Bu Celly
"Iya. Tapi dia tidak perlu bersikap sombong." Ucap Mita.
"Dia bukan sombong, tapi itulah kemampuannya. Jika aku berpendapat itu bukan masalah." Jawab Daniel.
"Bagaimana pak Samuel?" tanya Gerry.
"Kita lihat kemampuannya kembali pada bulan ini. Setelah itu kita akan membahasnya kembali." Jawab Samuel.