Junior Sandreas

Junior Sandreas
Gagal Menyelamatkan Erik



Episode Kenzo Sandreas


"Waktunya tidak cukup. Lebih baik kalian semua keluar." Jawab Erik dalam ketikkan pesan di ponsel Kenzo yang di minta olehnya.


Riki yang saat ini sedang membaca tablet yang diberikan oleh Kenzo dan sebentar lagi selesai. Saat dirinya selesai membaca dan melihat jam tangan yang digunakan olehnya. Secara tiba-tiba Riki menarik tangan Kenzo untuk berdiri dan menjauh dari sisi Erik.


"Tuan kita harus segera tinggalkan ruangan ini." Jawab Riki yang langsung menarik Kenzo keluar dari ruangan itu secara paksa.


"Lepaskan Uncle." Ucap Kenzo.


"Tapi..." Ucap Riki


"Aku tau betapa bahayanya itu." Ucap Kenzo.


Di sisi lain, Erik memukul Kenzo untuk keluar dari ruangan menggunakan tangan kanan yang bisa bebas dari ikatan tali di kursi karena telah di buka.


"Tidak Erik, jangan menahan ku." Jawab Kenzo dengan memberikan tatapan kejam.


"Apa yang kau lakukan?" Ucap Riki.


"Jadi benar apa yang di katakan oleh Ho. Ternyata Kenzo adalah orang yang memiliki tatapan yang sama seperti dirinya." Ucap Erik dalam hati dan berhenti memukul Kenzo dengan tangannya. Dan ia juga di tahan oleh Riki untuk memukul tubuh Kenzo.


"Aku tau hanya memiliki waktu dua jam lagi dari jadwal yang di berikan olehnya?" tanya Kenzo.


"Tapi tuan muda." Ucap Riki untuk memastikan Kenzo tidak akan kenapa-kenapa.


"Tunggu Uncle Max datang." Ucap Kenzo.


Sambil menunggu kedatangan Max, Kenzo mempertanyakan kejelasan dari apa yang di maksud dari semua kalimat yang di tuliskan oleh Erik dengan jawabannya. Erik hanya perlu menggelengkan kepalanya jika tidak dan menganggukkan kepalanya jika ia.


Mereka melakukan hal itu hingga satu jam lebih sampai Max datang ke ruangan itu. Max membawa beberapa peralatan yang di perlukan sebagai barang pribadi miliknya itu. Dan saat itu juga Kenzo sudah memerintah anggotanya menyiapkan ruang operasi.


Jangan heran jika ada ruang operasi di dalam markas mereka. Karena hal itu sudah menjadi hal biasa yang ada di dalam markas Sandreas. Semua hal mungkin bisa ada di dalam markas itu seperti ruang operasi.


"Apa yang terjadi?" tanya Max yang tiba di sana.


Kenzo berdiri dan menarik Max untuk menjelaskan situasi sesingkat mungkin. Dia juga memindahkan Erik ke ruang operasi. Kenzo menjelaskan apa yang terjadi pada Max dengan berjalan menuju ruang operasi.


".... Jadi seperti itulah situasinya Uncle." Jawab Kenzo.


"Jadi aku hanya ada waktu kurang lebih 30 menit lagi?" tanya Max.


"Iya." Jawab Kenzo.


"Aku akan berusaha." Ucap Max.


"Aku tergantung kepada mu Uncle."Jawab Kenzo.


Max masuk ke dalam ruang operasi dan memulai pekerjaannya. Erik tidak ingin di berikan bius total. Dia hanya meminta memberikan dosis bius yang rendah agar dia tetap sadar saat perutnya akan di bedah. Dan Max mencoba hal terbaik untuk menuruti kemauan Erik.


"Selamat tinggal Tuan Kenzo. Maaf karena telah berkhianat kepada mu." Jawab Erik dalam hati di saat Max sudah membedah perut Erik dan mengambil sebuah bom.


Suara monitor elektrokardiogram berbunyi dan menandakan detak jantung yang melemah dan garis lurus terlihat di layar.


"Ada apa ini?" tanya Max yang terkejut dan mengambil sebuah alat AED (automated external defibrillator) untuk memicu detak jantung Erik yang terus melemah. Namun hanya dua kali di tekan, Max tidak berhasil menyelamatkannya.


"Tuan semuanya keluar sekarang. Serahkan kepada kami." Ucap salah satu dari ketika orang penjinak Bom itu.


Kedua orang yang membawa sebuah kotak terbuat dari baja dan terlihat seperti brankas. Mereka membuka kotak itu dan salah seorang yang memegang bom kecil berukuran 5cm × 7cm itu memasukkannya kedalam kotak. Kemudian mereka menutup ya.


Bom itu adalah sebuah bom dengan teknologi canggih yang baru pertama kali dilihat oleh mereka dan sulit untuk digunakan karena waktu yang ada di dalam bom itu sudah menuju ke 30 detik terakhir. Dengan cepat juga suara ledakan yang tidak terlalu besar membuat kotak itu tetap bersuara.


"Apa yang terjadi?" tanya Kenzo, Max dan Riki kembali masuk dengan bersamaan kepada mereka.


"Saya baru pertama kali melihat bom rakitan seperti itu." Ucap mereka dan menjelaskan dengan singkat agar mereka lebih paham.


"Siapa mereka?" tanya Max dalam fikiran yang penuh dengan tanda tanya.


"Maksud Uncle?" tanya Kenzo.


"Aku sudah melakukan yang terbaik saat membedah perutnya. Bahkan saat mengeluarkan bom itu lalu menutup kembali dalam jahitan yang hampir selesai. Hal ini juga tidak menyita pendarahan yang banyak, tapi kenapa dia meninggal?" tanya Max yang menjelaskan menurut pengetahuan medisnya.


"Kalian semua keluar dulu. Aku akan mencari tahu ya." Jawab Max memeriksa kembali mayat Erik.


Max mengambil beberapa sampel baik dari darah hingga dengan memeriksa seluruh anggota tubuh dengan teliti. Max yang sudah memeriksa seluruh anggota tubuh Erik namun tidak menemukan hal yang mengganjal lainnya.


Hingga akhirnya Max menemukan sebuah kapsul yang terbelah. Kapsul ini seperti terbuat dari plastik. Hal itu di dapat dari kulit perut Erik yang di bedah oleh Max. Max mengambil sampel itu yang menurutnya itu mencurigakan. Lalu ia merapikan kembali jahitan yang sudah setengah di tutup olehnya.


"Kau akan di kuburkan dengan selayaknya." Ucap Max melakukan yang terbaik untuk membersihkan tubuh Erik.


"Apa yang Uncle temukan?" tanya Kenzo.


"Aku akan membawa ke laboratorium. Setelah mengetahui hasilnya aku akan segera memberitahu." Ucap Max dan pergi begitu saja dari markas.


"Terima kasih paman." Jawab Kenzo.


"Maaf aku tidak bisa menyelamatkan mu." Jawab Kenzo yang melihat keadaan Erik dengan mengepal kedua tangannya.


Riki memerintahkan orang-orang ya untuk melakukan pemakaman yang layak untuk Erik. Dan mereka melakukan hal itu sesuai dengan ke ingin Kenzo.


"Siapa kau sebenarnya Ho?" tanya Kenzo dalam hati di saat berdiri di depan makam Erik.


"Berapa banyak lagi yang akan menjadi korban?" tanya Kenzo dalam hatinya yang satu persatu orang-orangnya terbunuh.


Selesai beberapa jam dalam pemakaman singkat itu, Kenzo dan Riki kembali berbincang.


"Apakah ini adalah kelakukan tuan Ho?" tanya Riki.


"Apa yang menjadi asumsi Erik itu mungkin saja." Jawab Kenzo.


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Riki.


"Bagaimana dengan keberadaan Ho?" tanya Kenzo.


"Orang-orang kita terus mencarinya, namun sepertinya dia sudah tidak berada di dalam negara ini." Jawab Riki.


"Bagaimana dengan semua yang berkaitan dengan dirinya?" tanya Kenzo.


"Aset atas namanya sudah terjual oleh orang lain di tanggal yang sama di saat kita bertemu dengannya untuk menandatangani kontak dengannya." Jawab Riki yang baru saja mendapatkan informasi.