Junior Sandreas

Junior Sandreas
Jack dan Caca di Ruang Kepsek



Kriss dan Zhafira


Sedangkan Kriss selesai dengan ujiannya menoleh ke arah Caca dan Jack dengan tersenyum.


"Memang anak ku." Jawab Jack


"Tetapi sepertinya dia masih belum mengeluarkan semua kekuatannya." Jawab Caca.


"Tentu saja. Tapi tidak seharusnya di keluarkan di hadapan semua orang. Anak kita cerdas dalam mengontrol kekuatannya mylotus." Jawab Jack.


"Yang terpenting dia tidak melukai terlalu parah pada teman-teman ya." Jawab Caca.


"Sepertinya dia ada sedikit dendam dalam pukulan tadi itu." Jawab Jack yang merasakannya.


Disisi lain, William yang masih kesal atas kekalahan Gibrel. Perkiraan yang direncanakan olehnya tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada saat ini. Dan saat ini Gibrel yang dibawa oleh teman-temannya ke ruang UKS sedang mengamuk atas kekalahan yang ia dapatkan.


"Brengsek." Ucap Gibrel yang mendorong kedua temannya ketika ia sadar di atas ranjang UKS.


Semua barang-barang yang berada di dekat dirinya dicampakkan ke lantai sehingga semuanya berserakan. Dokter yang menangani Gibrel tidak bisa menghentikannya karena Gibrel sudah seperti hilang kendali.


"Lakukan yang kau mau, tapi jangan rusak ruangan ku." Ucap dokter dengan nada yang tinggi kemudian Gibrel menghentikan kelakuannya dan berdiri berjalan dengan sempoyongan keluar dari ruang UKS.


"Aku akan menggantinya." Ucap Gibrel dengan sombong.


"Sudah sepantasnya kau ganti." Ucapnya kemudian mengumpulkan barang-barang yang terjatuh di lantai.


"Dasar, anak-anak kaya yang sombong." Ucapnya dalam hati.


"Anda mau kemana?" tanya Kelvin.


"Diam, tinggalkan aku sendirian." Ucap Gibrel.


Kedua temannya itu sudah lama mengenal Gibrel, jadi mereka membiarkan Gibrel pergi begitu saja tanpa mengejarnya.


Beberapa jam setelah pertandingan itu, ujian beladiri taekwondo telah selesai untuk tingkat 2. Semua semua hadirin yang melihat ujian itu segera keluar begitu pula dengan para siswa yang mengikuti maupun tidak mengikuti ujian itu.


Jack dan Caca yang menunggu Kris keluar dari ruang ganti kemudian mereka sedikit berbicara di depan lorong sekolah itu, kemudian dilihat oleh Samuel dan para guru lainnya.


"Kau melakukan dengan baik. Dan menyembunyikan dengan baik. Ingat jangan terlalu menonjol." Ucap Jack.


"Iya, benar kata Daddy. Sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan semua kemampuan mu karena itu bisa membahayakan mu sendiri sayang." Ucap Caca yang mengelus pundak Kriss dengan kasih sayang.


"Siap bunda." Jawab Kriss yang berbisik di telinga Caca dengan memeluknya.


Kriss tidak berani untuk terlalu manja di depan umum. Karena saat ini banyak mata yang sedang memperhatikan dirinya sedang berbicara dengan Jack dan Caca.


"Tenang Bunda, kami akan menjaga Kriss dengan baik." Ucap Farel.


"Iya." Jawab Kyler.


"Kalian berdua." Jawab Caca tersenyum.


"Apakah ini orangtua Kriss?" tanya Daniel.


"Iya." Jawab Caca dengan spontan atas kedatangan Daniel.


Daniel yang datang bersamaan dengan Gerry dan juga guru-guru lainnya. Jack hanya terdiam tanpa kata dan memperhatikan mereka saja.


"Bagaimana jika kita membicarakan tentang Kriss kepada kedua orangtuanya?" tanya Daniel kepada Gerry.


"Kau benar." Jawab Gerry.


"Apakah Anda berdua ada waktu untuk bertemu dengan kami? Ada sedikit hal yang ingin kami bicarakan." Ucap Gerry kepada Caca dan Jack.


"Ada apa dengan Kriss? apakah dia melakukan sebuah kesalahan?" tanya Caca yang khawatir.


"Tidak-tidak bukan seperti itu. Ada hal yang ingin di bicarakan saja." Jawab Gerry.


"Oh, boleh." Jawab Caca.


"Baiklah ikut kami." Ucap Gerry.


"Tentu." Jawab Caca.


"Aku menunggu di taman Bunda, Daddy." Jawab Kriss.


Caca tersenyum. Jack dan Caca mengikuti Gerry. Saat semua orang sudah lebih dulu masuk ke ruangan kepala sekolah, Caca berbisik pelan dengan Gerry.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Caca.


"Bunda sepertinya telah melahirkan anak yang tidak biasa." Jawab Gerry sebelum masuk ke dalam ruangan lalu mempersilahkan Jack dan Caca masuk.


"Terima kasih telah menerima undangan kami orangtua Kriss. Baiklah langsung saja pada intinya, rapat pada sore ini karena akan membahas kembali tentang Kriss. Tentang profesor yang akan kita undang ke sini. Sekaligus memberitahukan kepada Anda berdua bahwa Kriss mendapatkan semua nilai sempurna kecuali matematika." Jawab Gerry.


"Namun, kemungkinan matematika juga mendapatkan nilai sempurna karena kami meminta izin untuk mencoba mengecek kecerdasan Kriss beberapa hari kedepan setelah selesai ujian." Jawab Gerry yang menjelaskan terus kepada Jack dan Caca.


"Tentu saja anakku itu..." Jack berhenti berbicara yang di tahan oleh Caca dengan mencubit perutnya.


"Cerdas." Jawab Jack.


"Ia maksud suamiku adalah kecerdasan Kriss itu berasal dari dirinya. Dia hanya selalu belajar dengan giat ketika di rumah. Dan hidupnya selalu dengan buku-buku yang berada di toko kami. Mungkin itu menjadi pemicu dia mudah mengerjakan soal-soal disini." Jawab Caca yang memberikan alasan yang cepat.


"Iya. Karena hal itu juga yang menjadi dirinya pantas di terima di sekolah ini." Jawab Jack.


"Bolehkah saya mengetahui dengan jelas bagaimana Kriss bisa dipindahkan kesini?" tanya Samuel.


"Saat itu ada seorang yang datang ke toko kami dan melihat Kriss. Entah apa yang terjadi, lelaki tua itu memberikan sebuah surat rekomendasi untuk Kriss bisa bersekolah disini suatu saat. Dan karena kami tidak sanggup membayar uang pendidikannya, aku mengingat lelaki tua itu dan memberikan surat itu ke sekolah ini." Jawab Jack.


"Iya karena kami tidak ingin Kriss putus sekolah " Jawab Caca.


"Pantas saja aku mendapatkan surat dari ketua." Jawab Samuel.


Para guru yang baru mengetahui alasan yang jelas mengapa Kriss bisa di terima di sekolah ini sebagai murid pindahan. Cerita yang dinyatakan oleh Jack dan Caca sebenarnya adalah kenyataan bukan kebohongan. Karena saat itu kepala sekolah terdahulu memang pernah berkunjung ke toko buku pribadi Jack dan Caca di sebuah kota A di ujung perbatasan kota A dengan kota B.


"Jadi, Kriss tidak pernah dicoba berapa IQ yang di milikinya?" tanya Gerry.


Caca dan Jack saling memandang dan menggelengkan kepala bersamaan.


"Tidak mungkin belum pernah, apa jangan-jangan Bunda dan Uncle sedang menutupi sesuatu. Baiklah aku akan mengikuti permainan mereka." Jawab Gerry dalam hati.


"Jadi bagaimana jika kita mengadakan percobaan itu?" tanya Gerry.


"Kami setuju." Ucap Daniel kemudian di ikuti semua guru dan terakhir di ikuti Wilson.


"Bagaimana dengan ...?" tanya Gerry menatap wajah Jack dan Caca kemudian di potong oleh Caca.


"Kami selalu setuju untuk kebaikan Kriss. Kami tidak paham dengan hal-hal seperti itu, jadi kami menyerahkan seluruhnya kepada pihak sekolah." Jawab Caca.


"Baik persetujuan sudah lengkap. Dua hari lagi akan kita adakan." Jawab Samuel.


"Terima kasih telah menerima Kriss disini." Jawab Caca ketika rapat itu telah selesai.