This Is Our Love

This Is Our Love
Bella Kabur, Lagi?!



Bella termangu, termenung mengingat kembali pembicaraannya dengan Max, Rose, dan Louis tadi. Bella juga mengingat kembali masa lalunya. Max, Rose, dan Louis sudah pulang ke resort, atas permintaan Bella yang ingin sendiri dulu. Walau berat, ketiga orang itu tetap menuruti permintaan Bella.


Batin Bella bergejolak, bingung mau bersikap seperti apa setelah ia tahu silsilah keluarganya. Baik Nenek atau Kakeknya tidak pernah mengungkit tentang masa lalu mereka. 


Keluarga angkat yang berubah menjadi kerabat kandung. Terlebih dengan perasaan masa lalu dengan Louis, bukankah rasanya akan canggung dan bisa jadi saling menghindar?


Bella memejamkan matanya. Terekam jelas ucapan Max yang mengatakan bahwa Neneknya telah memutuskan hubungan dengan keluarga Kalendra, dan Neneknya benar-benar memegang teguh ucapannya. Bahkan sampai tiada pun rahasia silsilah keluarga tidak akan ia ketahui. Jika bukan karena Max atau Rose yang buka mulut hari ini niscaya rahasia ini akan tetap terkunci rapat. 


Abel jangan salahkan kakek buyutmu. Sesungguhnya ia merasa sangat terpukul saat Nenekmu lebih memilih menentang keluarganya sendiri. Sebagai kepala keluarga ia memang murka, hati yang keras memegang teguh peraturan diadu dengan kekerasan hati nenekmu yang telah memilih kakekmu sebagai pendamping. Namun sebagai seorang ayah, ia merasa sangat kehilangan. Nenekmu adalah putri satu-satunya yang sangat ia sayangi. 


Ucapan Max itu terngiang di ingatan Bella. Tidak ada yang bisa disalahkan atau dibenarkan. Kekerasan hati menciptakan perpecahan dan jarak di antara seorang putri dan ayah.


 Hati tak bisa ditebak kepada siapa akan berlabuh. Cinta hadir tanpa disadari. 


Tak lama setelah Nenekmu meninggalkan keluarga Kalendra, nenek buyutmu jatuh sakit. Peristiwa itu sangat meninggalkan duka dan luka bagi keluarga kita. Kakekmu akhirnya dengan sendirinya, sebagai ayah dan kepala keluarga menemui Nenekmu di rumah kakekmu. Sayangnya pendirian Nenekmu sangat tegas. Ia tidak akan kembali dan menginjakkan kaki di keluarga Kalendra lagi. Saat itu aku ingat Nenekmu hanya menitipkan sepucuk surat untuk Nenek buyutmu. Sejak itu … semua tentang Nenekmu, dikubur dalam-dalam. Tidak ada lagi nama Marissa dalam silsilah keluarga Kalendra. Semua sudah menerima apa yang terjadi walau rasanya sangat berat. 


Bella membuka matanya. Dahinya mengerut tipis. Bola matanya bergerak seperti sedang menyimpulkan sesuatu. 


Tuan Tua Nero, matanya menyimpan amarah saat aku menyebut nama belakangku. Apa mungkin alasan mereka menghancurkan keluarga Chandra adalah karena masa lalu nenek juga? 


Jika itu benar … maka motif logisnya adalah karena cinta? 


Ya Allah jika itu benar apakah Tuan Tua Nero itu menyimpan dendam pada keturunan Kakek dan Nenek? Jika memang begitu pembunuh bayaran itu, mungkin dikirim oleh mereka. Tapi … ck jika kami tewas semalam bukan hanya dia yang senang namun ada satu orang lain. Ku harap dugaanku padanya salah!


Bella menggerakkan tubuhnya, ia berusaha untuk duduk. Bella meringis merasakan lukanya nyeri. Ia mengigit bibirnya sendiri, menyentuh lembut bagian pinggang yang terkena luka tusuk. 


Bella duduk bersandar, ia meraih ponselnya dan membuka galeri. Bella tersenyum simpul seraya mengusap layar ponselnya yang menampilkan potret nenek Marissa. Wanita yang tetap menunjukkan gurat kecantikan alami walau usianya sudah uzur, tersenyum lembut bersama dengan Nesya. Itu foto lebaran tahun kemarin. 


"Aku merindukan kalian," lirih Bella. Ia menengadah, mengerjap agar air matanya tidak tumpah. 


Hah ….


Helaan nafasnya begitu berat. 


"Semua itu bisa aku mengerti. Walaupun garis keturunannya berada dari pihak Nenek, tetap saja ada darah Kalendra yang mengalir dalam tubuhku dan Nesya. Darah lebih kental daripada air. Benar kata Mom, hubungan darah tidak bisa diputuskan. Lagipula masa itu sudah lama berlalu. Hubunganku dengan keluarga Kalendra juga termasuk sangat dekat. Rasanya sama saja, hanya labelnya saja yang berubah," monolog Bella, tersenyum kecut.


"Hanya saja …." Bella kembali mengusap foto Nenek Marissa dan Nesya. Satu hal yang Bella bingungkan. Mengapa Neneknya tidak melarang dirinya bekerja di Kalendra Group? Bukankah tidak ingin ada hubungan lagi dengan keluarga itu? Neneknya bersikap biasa saja. 


Apa karena saksi hidup sudah tiada dan saksi kecil dianggap tidak tahu apapun jadi Nenek Marissa mengganggap bukan masalah? 


Jangan terlalu lama bermain di luar. Segeralah pulang setelah kontrakmu selesai. Nenek sudah tua ingin menghabiskan sisa waktu dengan kau dan Nesya. Keluarga kita berharap banyak padamu untuk membangun dan membersihkan nama baik keluarga kita. 


Pesan Nenek Marissa muncul dalam memori Bella. Sorot mata Bella berubah datar, "masa lalu biarlah berlalu. Nenek … rahasia silsilah keluargamu sudah aku ketahui. Nenek keyakinan kita tidak membenarkan memutuskan tali persaudaraan. Sekalipun beda keyakinan hubungan darah tidaklah hilang. Nenek tenang saja. Aku tidak mengikuti jejakmu kok," tukas Bella mengakhiri kegundahan hatinya sendiri. Ia sudah menerima silsilah keluarganya. 


Dering ponsel Bella mengagetkan Bella. Dahinya mengeryit melihat siapa yang menghubunginya tengah malam begini. 


"Halo. elamat malam, Pak," jawab Bella. 


"APA?!" 


*


*


*


"Louis kau dari mana?"tanya Leo yang mendapati sang adik hendak masuk ke dalam kamarnya dengan tubuh penuh keringat. Celana pendek dan kaos hitam tanpa lengan berikut headband hitam membuat tampilan Louis menjadi eksotik dan menggoda. 


"Lari di pantai," jawab Louis. 


"Dari jam berapa?" Ini baru pukul 06.00, Leo cemas dengan kondisi adiknya ini. Kemarin saat pulang dari rumah sakit ia langsung masuk kamar dan kini ia dapati pulang dari lari pagi.


"Aku tidak bisa tidur."


"Kenapa? Begitu berat menerima fakta?" Louis tersenyum tipis. 


"Terkadang fakta memang sulit diterima. Aku mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk itu. Beruntung baik aku atau Abel tidak nekat dengan hubungan kami. Jika tidak, berapa banyak kesalahan yang kami perbuat?"sahut Louis. 


Leo menghela nafas. Ia menepuk lembut pundak sang adik. "Aku tahu kau pasti bisa. Sudahlah kembalilah tidur. Selesai makan siang kita akan pulang ke Jerman," tutur Louis.


"Pulang hari ini? Abel kan belum keluar dari rumah sakit?"


"Pekerjaan kita sudah menumpuk. Lagipula di sini ada mertuanya. Namun … jika kau ingin tidak masalah," tawar Leo.


"Tidak. Aku ikut pulang saja. Kami butuh waktu lebih lama," tolak Louis. Leo mengangguk.


"Jangan patah hati terlalu lama. Ada cinta lain yang menunggu hatimu terbuka lagi untuk cinta," ucap Leo, berbalik lagi dan kembali melangkah. Louis terkesiap dengan ucapan sang kakak. Ada cinta lain yang menunggu? Siapa yang dimaksud kakaknya ini? 


*


*


*


Surya dan Rahayu baru saja tiba di rumah sakit. Dengan bergandengan keduanya melangkah berdampingan menuju ruang rawat Bella dan Ken. Satu tangan Surya menenteng plastik putih. Itu berisi bubur ayam untuk Bella sarapan. 


Brian dan Silvia tidak ikut. Mereka berdua ke perusahaan cabang guna melakukan inspeksi dadakan. 


Pukul 07.30 mereka berdua tiba di ruangan Bella dan Ken. Keduanya mengeryit heran melihat ranjang Bella yang kosong. Infus berada di tempatnya. 


"Abel?"panggil Rahayu cemas. Terlebih saat melihat perekat dan jarum infus berada di atas ranjang tanpa pengguna. 


"Abel kamu di mana?" Rahayu mengecek kamar mandi. Sedangkan Surya mendekati ranjang Bella. Ia memeriksa setiap barang. Ransel Bella tidak ada, malah ada secarik kertas.


"Semua aku kembali duluan ke Jakarta."


"Ck … anak itu!"geram Surya, meremas kertas tersebut.


"Mas Abel tidak ada!"ucap cemas Rahayu. 


"Dia sudah kembali ke Jakarta."


"Kembali ke Jakarta? Dia masih sakit, Mas! Bagaimana mungkin kembali seorang diri! Lagi tidak ada penerbangan ke Jakarta semalam itu!" Surya tidak menjawab. Ia menyerahkan kertas yang sudah lusuh pada Rahayu. Surya lantas mengusap wajahnya kasar.


"Menantumu kita itu … apa yang terjadi sampai tidak bisa menunggu pagi? Pasti ada hal yang sangat penting!"


Surya lekas menghubungi Bella. Namun, di luar jangkauan. Surya lantas menghubungi kediamannya, Bella belum ke rumah. Segera ia memerintahkan orang-orangnya di Jakarta untuk mencari keberadaan menantunya itu. Terakhir Surya memijat pelipisnya. 


"Kita kembali ke Jakarta saja, Mas! Ken kita bawa pindahkan ke Jakarta," ucap Rahayu. Surya mengangguk menyetujui.


"Mas urus dulu," ucap Surya, bangkit dan keluar dari ruang rawat. Rahayu menghampiri putra tersayangnya. Bibirnya melengkungkan senyum tipis.


"Isterimu itu, kabur dari rumah sakit tapi menitip pesan. Sepertinya Abel memang berpengalaman kabur dari rumah sakit." Rahayu duduk dan menggenggam jemari Ken. Ken masih belum sadar juga. Matanya tetap terpejam. 


"Mama penasaran bagaimana caranya ia pulang. Ke bandara naik apa dan bagaimana caranya bisa keluar rumah sakit. Bagaimana kondisinya sekarang? Abel di mana kamu sekarang?"


"Mama harap Bella tiba dengan selamat di sana dan cepat pulang ke rumah."


"Good Morning." Rahayu menoleh ke arah pintu. Max dan Rose datang.


"Mana Abel?"tanya Rose yang tidak mendapati Abel di ranjang.


"Pulang lebih dulu ke Jakarta."


"Apa? Apa alasannya?" Max dan Rose jelas terkejut. Raut wajah khawatir tercetak jelas.


Rahayu menggeleng. Ia menunjukkan secarik kertas yang ia terima dari Surya tadi. Max langsung berdecak sebal. 


"Anak itu! Selalu saja tidak bisa betah di rumah sakit!"gerutu Max. 


"Kita susul ke Jakarta saja," ucap Rose.


"Benar. Kami juga akan segera kembali ke Jakarta, Ken akan dipindahkan ke rumah sakit sana," sahut Rahayu.


"Baiklah. Kami kembali dulu. Kita bertemu di bandara," balas Rose. Segera Max dan Rose kembali ke resort. 


"Sayang cepatlah sadar," ucap Rahayu mengusap lembut pipi Ken.


*


*


*


Max tersenyum lebar yang mengandung kekesalan yang teramat pada Bella. Ternyata Bella kembali ke Jakarta dengan pesawat pribadi keluarga Kalendra. Tidak, bukan karena menggunakan pesawat tanpa izin tapi pergi dalam kondisi yang masih sakit. Max yang Bella anak yang kuat dan cukup keras kepala akan tetapi tidak bisakah tidak menambah buruk lukanya?


Sedangkan yang lain, mendengar Bella yang kembali tengah malam seorang diri ke Jakarta tak bisa berkata. Mereka menggeleng pelan dan mengacungkan jempol mereka. It's amazing!


Pukul 11.00, pesawat pribadi keluarga Mahendra dan Kalendra lepas landas menuju Jakarta.