This Is Our Love

This Is Our Love
Keputusan



Setelah berpamitan dengan Anjani dan juga Arka, El langsung menuju bandara. Di sana sudah menunggu pesawat pribadi keluarga Mahendra. Tak menunggu lama, El langsung naik dan pesawat tersebut terbang menuju Jerman. 


Di lain sisi, kini Surya, Brian, Silvia, dan Ken berada di ruang rapat untuk meeting umum. Surya memimpin jalannya rapat. Rencana ke depannya, hambatan, dan masalah yang dihadapi perusahaan dibahas dalam rapat ini. Peserta rapat juga menyampaikan hasil kerjanya belakangan ini. 


Dan yang seharusnya Bella sampaikan, disampaikan oleh Ken sebagai wakil Presdir yang baru. Sebagai mantan sekretaris Bella, Ken pastinya tahu pencapaian Bella. 


Ken menjelaskan secara detail dan rinci. "Sejauh ini semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Jika ada yang ingin menyampaikan pertanyaan, dipersilahkan," ujar Ken, setelah menyelesaikan presentasinya. 


"Lantas bagaimana dengan ke depannya?"tanya seorang peserta meeting dari bagian direksi. 


"Ke depannya?"


"Sejauh ini proyek itu memang lancar. Bagaimana ke depannya? Bukankah proyek ini berada dalam waktu jabatan Nona Bella dan seharusnya proyek ini masih tanggung jawabnya. Beliau tidak bisa lepas tangan begitu saja. Proyek ini adalah proyek beliau. Saya rasa karena penggagas proyek ini sudah hengkang, lebih baik ditangguhkan saja," ucap dewan direksi tersebut, menyampaikan pikirannya. 


Dan ucapan itu langsung mengundang diskusi banyak orang. Ken menyipitkan matanya. Ia ingat, yang menyampaikan itu adalah pihak yang menentang rencana pembangunan tempo hari. Dan ini adalah kesempatan untuk menangguhkan perusahaan. 


Ken masih diam. Ia belum menjawab. Menunggu apakah direksi itu masih ada ucapan lagi atau tidak. 


"Proyek itu memiliki resiko besar. Yang bersikeras sudah hengkang dengan tidak bertanggung jawab. Dia pergi mengurus perusahaan sendiri dan meninggalkan masalah di perusahaan lama. Apakah proyek peninggalan dari orang seperti itu harus kita teruskan?" Dia bahkan berdiri dan menggiring opini semua orang agar setuju dengannya. Jelas sekali, ia tengah menjelekkan Bella. 


Ken mengumpat kesal dalam hati. Memangnya itu kesalahan mereka? Baik Ken ataupun Bella tidak menginginkan hal ini bukan? Ini sebuah kecelakaan. Kejadian tidak terduga. 


Mafia sialan! Aku akan pasti akan memberimu pelajaran karena telah menculik Aruku! geram Ken dalam hati. 


Jika jabatannya kecil ia bisa langsung memukul wajah pria itu. Akan tetapi, sebagai seorang wakil Presdir ia harus tetap tenang. Hadapi dengan kepala dingin. Balas setelah ia selesai bicara. 


"Presdir Surya, mohon bertindak rasional. Jangan nepotisme! Saya yakin Anda tahu seberapa besar resiko proyek tersebut. Siapa yang akan menggantikan tanggung jawabnya? Siapa yang berani memikul proyek seperti itu? Selagi masih tidak begitu jauh, harap segera Anda hentikan!"ucapnya lagi, sembari menatap lawan bicaranya satu persatu. 


Brian belum menanggapi, ia sibuk memainkan bolpoinnya. Surya juga begitu, ia diam saja dan memperhatikan direksi tersebut. 


"Saya tahu Anda akan merasa tersinggung, Tuan Muda Ken. Tapi, pikirkan juga nasib perusahaan ini!" Direksi tersebut dengan beraninya menunjuk Ken, menegaskan Ken jangan membela Bella. Juga seakan, keputusan Ken menjadi penentu nasib perusahaan ini. 


Dan inilah yang membuat Ken tegang. Ia harus bisa mengambil keputusan yang paling tepat. Ia tahu, proyek ini memiliki resiko yang sangat tinggi. Terlebih setelah Bella tidak ada di tempat. Namun, proyek sudah berjalan dan untuk mencapai hal ini, Bella telah banyak mengalami hal sulit. Salah satunya adalah penyerangan tempo hari. 


Jika Ken membatalkan, maka Bella akan kecewa. 


Ken, tidak ada yang tahu cara kerja Bella dengan baik selain kau. Kau pernah menjadi sekretarisnya. Kau juga mengenal bisnis karenanya. Kau yang paling tahu karakter, harap, dan citanya. Aku yakin, kau pasti bisa melakukannya!


Ken teringat ucapan El tadi malam. 


Benar!


Bahkan Ken dijadwalkan menjadi kepala proyek yang memantau pembangunan apartemen di Papua. Namun, itu dibatalkan karena keadaan. 


Ken memegang rancangannya. Ia tidak boleh gentar. Sama seperti Bella. Sekalipun mengancam nyawa, Bella tetap memperjuangkannya. 


Ken menghela nafasnya. "Apa Anda sudah selesai bicara?"tanya Ken. 


"Apa?"


"Saya akan menjawab pertanyaan dan kekhawatiran Anda."


"Silahkan duduk," ucap Ken, mengulurkan tangannya, meminta direksi tersebut kembali duduk di kursinya. 


Dengan wajah terkejut, direksi tersebut duduk. Batuk beberapa kali, "silahkan," ucapnya pada Ken.


Sebelum berbicara, Ken mengedarkan pandangannya lebih dulu. Ken menatap cukup lama Surya dan Brian. Pancaran mata keduanya mengandung rasa penasaran juga semangat. 


Kau bisa.


Ken menangkap gerakan bibir Brian. 


Ken tersenyum. "Baiklah. Saya rasa ini juga menjadi kecemasan bersama. Saya sadar, proyek ini memiliki resiko yang tinggi. Terlebih setelah penggagas proyek ini mengundurkan diri dengan alasan yang tidak bisa diganggu gugat." Ken membuka jawabannya dengan baik. 


"Tapi, menangguhkan proyek yang telah berjalan juga bukan keputusan yang baik. Anda sebagai direksi mungkin tidak tahu ada berapa perusahaan yang tergabung dalam proyek ini. Selain Mahendra Group, juga ada Kalendra Group juga GAMA Corp. Selain itu, dana ini yang dikeluarkan juga bukan sedikit. Menangguhkan proyek ini, itu adalah kerugian yang nyata!" 


Semua peserta meeting tampaknya terhenyak dengan jawaban Ken. Tidak menyangka, Ken akan menjawab demikian. Apa ini seorang pemula, atau hanya mencoba bermulut besar?


Namun, benar juga. Tidaklah rasional menangguhkan proyek ini. It's mega proyek. 


"Lantas siapa yang akan bertanggung jawab?" Direksi itu melayangkan pertanyaan pada Ken. Mungkin baginya itu adalah sebuah pertanyaan sulit untuk Ken. 


"Saya. Saya yang akan bertanggung jawab!" Ken berkata dengan lantang dan penuh dengan keyakinan.


"Kau? Kau masihlah pemula!"sergah Direksi tersebut. 


"Saya memang masih pemula. Tapi, saya yang tahu cara kerja dan rancangan proyek ini ke depannya. Selain itu, apa Anda semua adalah orang yang hanya bermain di zona nyaman? Apa perusahaan ini kekurangan orang berbakat? Apa Anda tidak berkaca pada seorang wanita yang berani sedangkan Anda yang merasa berpengalaman, ketakutan? Apa ini sudah saatnya mempensiunkan Anda?" 


Tatapan Ken lekat, menatap wajah-wajah yang dulu dan sekarang kembali menentang jalannya proyek tersebut. 


Daebak!batin Silvia dalam hati. 


Kata-katanya hampir mirip Abel, gumam Brian dalam hati. 


Sepertinya Abel mendidiknya dengan baik. Surya tersenyum simpul.


"Tuan Muda Ken! Jangan bicara sembarangan!"


"Saya bicara sebagai wakil Presdir. Proyek yang ditinggalkan oleh wakil Presdir sebelumnya, saya yang akan menanggung jawabinnya! Saya yang akan menanggung resikonya!"tegas Ken. 


Begitu berani. Itulah tatapan peserta meeting lainnya kecuali keluarga Mahendra. 


"Aku juga akan bertanggung jawab!" Lebih mengejutkan lagi, Brian mengangkat tangannya, mengajukan diri. Itu dibalas dengan senyuman Ken. 


"Aku juga ikut bertanggung jawab!" Surya menimpali. Senyum Ken menjadi lebar.


"Nepotisme? Aku membawa keluargaku bekerja di perusahaanku sendiri!"


"Lantas, bagian mana lagi yang menjadi kekhawatiran Anda?" 


*


*


*


"Nona Bella!" Seseorang memanggil namanya juga menggedor pintu kamarnya dengan keras. 


Bella yang baru saja selesai menggunakan hijabnya, sedikit kesal. Dari suaranya itu seorang wanita. Bella menajamkan pendengarannya untuk mengetahui siapa itu. 


"Lucia?" Bella bergumam. 


Dari nada memanggilnya terdengar kesal. Sembari langkah menuju pintu, Bella memikirkan alasan di balik kedatangan Lucia itu.


"Ya?"jawab Bella. Menaikkan alisnya melihat Lucia dengan wajahnya yang memerah. 


"Kau! Kau wanita sialan! Pasti kau yang menyuruh Desya mengirimku ke Italia, kan?! Kau wanita sialan, tidak berperasaan, teganya kau memisahkanku dari suamiku. Juga anak dari ayahnya. Jika Lesta tahu, dia pasti akan sangat membencimu!"hardik Lucia dengan menunjuk wajah Bella.


Ia marah karena perintah Desya.


"Persiapkan dirimu. Dua Minggu dari sekarang kau akan pergi ke Italia."


Mendengar itu, Lucia membulatkan matanya. 


Pergi ke Italia?


"Tapi, Tuan untuk apa?"


"Aku sudah membeli perkebunan anggur di sana. Dan kau akan menjadi penanggung jawabnya. Kau bersedia bukan, Lucia?"


Lucia tidak langsung menjawab. Terlalu mendadak. Dan Lucia tidak tahu memberi jawaban apa. 


"Bagaimana dengan Lesta?"tanya Lucia. 


"Terserah. Mau ikut bersamamu atau tetap di sini, tidak masalah," jawab Bella. 


"Boleh saya pikirkan lebih dulu?"


"Lucia apa kau tidak mendengarnya dengan jelas?" 


Lucia terhenyak. 


Ini bukan sebuah permintaan. Tapi, sebuah perintah. Ia setuju atau tidak, Lucia akan tetap pergi. 


Lucia sedikit kalut. Tanpa menjawab lagi, Lucia segera meninggalkan kamar Desya. 


Ah … rupanya Desya setuju dengan saran itu. 


Bella menghela nafasnya. Sedikit menyunggingkan senyum. "Yo untuk apa marah-marah begini?" Bella bersandar pada pintu dengan bersedekap tangan.


"Tidak perlu marah-marah dan memakiku seperti ini, Nyonya Lucia," imbuh Bella. Mata Lucia masih melotot dengan dada yang naik turun. 


"Silahkan duduk," ucap Bella, mempersilahkan Lucia untuk masuk ke dalam kamarnya. 


"Come on. Aku punya alasan mengatakan hal itu pada Desya," timpal Bella. Wajah Lucia berubah ragu. 


Bella semakin memperlebar persilaan masuknya. Wajahnya meyakinkan Lucia untuk bicara. "Ayo." Sekali lagi Bella mengajak dan akhirnya digubris oleh Lucia. 


Ia masuk ke kamar Bella. Sedikit kaku, melihat isi kamar ini. Kamar ini sangat luas dan mewah. Desya benar-benar memperlakukan Bella dengan baik. Dan itu membuat Lucia terserang rasa takut. 


Takut hadir di hatinya. 


Bagaimana? Bagaimana jika Desya mengetahui ia melabrak Bella?


"Duduklah …." Bella menyuruh Lucia untuk duduk seraya menyajikan minuman dingin dan beberapa snack.


Lucia duduk kaku. Keberaniannya seakan meluap. Ia yang bagai harimau tadi seakan menjadi seekor kelinci. Sementara Bella yang ibarat seorang singa, tidak berubah sama sekali.


"Jadi, Anda kemari untuk memprotes saya karena hal itu?"selidik Bella yang dibalas anggukan pelan dari Lucia.


Aku sudah memperkirakannya. 


"Maaf jika saran tersebut membuat Anda marah dan merasa tersingkirkan. Akan tetapi, saya tidak bermaksud demikian. Saya menyarankan hal itu juga untuk keuntungan Anda sendiri," ucap Bella. 


"Maksudnya?" Lucia tidak mengerti. 


"Posisi Anda adalah istri kedua bukan istri pertama. Artinya posisi Nyonya di rumah ini dipegang oleh Nyonya Ariel. Bukan membandingkan, tapi saya rasa Anda tahu seberapa jauh perbedaan Anda dengan istri pertama Desya."


Lucia merenung. Benar. Posisinya kalah jauh dengan Ariel. Ariel adalah wanita yang dijodohkan dengan Desya sejak lama. Sementara dirinya adalah adik dari orang kepercayaan Desya yang tewas karena melindungi Tuannya. Singkat saja, Desya menikahinya karena balas budi. Harusnya ia merasa bersyukur, bukan menuntut lebih. 


"Lucia …." Bella mengakhiri sesi  pembicaraan dengan sapaan formal. "Kau tahu seberapa besar perkebunan anggur itu?"


Lucia menggeleng. "Dengan harga 10 juta dollar, kau pasti bisa membayangkannya bukan?"


Lucia melongo. 


10 juta dollar? 


Itu harga yang fantastis!


"Dan kau ditunjuk sebagai pengelola. Bukankah artinya kau berarti dan mampu di mata Desya? Dengan itu, kau tidak akan dihormati sebagai nyonya saja, tapi dihormati karena kemampuanmu!"


Benar-benar! 


Bagaimana bisa Bella memikirkan hal tersebut? Lucia terpana dibuatnya. 


"T-tapi bagaimana dengan anakku, Lesta?" 


Jika ia sendiri, Lucia tidak akan keberatan lagi untuk berangkat. Namun, bagaimana dengan putrinya?


"Bebas."


"Kau bisa membawanya, atau tetap meninggalkannya di sini. Mana yang kau percaya, dirimu sendiri atau suamimu?"


Ah … mengapa ia tidak berpikir sampai sana? 


Seorang penanggung jawab, pasti Lucia akan lama di Italia. Jika meninggalkan Lesta di sini, tidak!


Lesta bisa dalam bahaya! Sekalipun di bawah perlindungan Desya, ada banyak cara untuk menyakiti putrinya. 


Baiklah.


Sudah diputuskan. "Aku akan pergi dengan Lesta bersamaku!"tegas Lucia yang membuat Bella mengembangkan senyumnya. 


"Keputusan yang tepat!"