This Is Our Love

This Is Our Love
Andry



"Hei, Nona! Mengapa kau berdiri di sana! Keluarlah, ini bukan area wanita. Di sini berbahaya. Kau bisa terkena panah nyasar!"seru seorang anggota yang melihat Bella.


Bella menoleh pada sumber suara.


"Kau berbicara padaku?"tanya Bella dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Memangnya siapa lagi? Cuma kau wanita di sini!"


CK!


Bella berdecak. Cara bicaranya cukup kasar. Bella sedikit menilik penampilannya. Rambutnya agak gondrong dengan kepala memakai head band yang menutupi dahi atasnya.


Kulitnya terkesan lebih ke kuning langsat, wajahnya tergolong tampan, dan tubuhnya tinggi semampai. Tangannya menenteng sebuah busur panah dan di pundaknya menggendong quiver yang berisi beberapa anak panah. Dan tubuhnya terlihat sexy dengan keringat mengalir dari pelipisnya.


Tatapannya tajam pada Bella. Berani menegur dan bicara seperti itu, Bella tersenyum. 


Teman yang sempurna!


"Memangnya kenapa jika aku wanita? Aku tidak boleh berada di sini?"balas Bella. 


"CK! Kau itu wanita Tuan. Bagaimana jika kau terluka di sini? Nyawa kami bisa melayang!"balasnya dengan nada tegas dan masih terdengar sedikit menyebalkan di telinga Bella. 


Ternyata sudah menyebar. Hmhp! gerutu Bella dalam hati. 


"Calm down. Aku tidak akan terluka. Jangan khawatir. Aku ingin memanah," ucap Bella, memberitahu maksudnya kemari. 


Terhenyak. Para pria itu saling memandang dan agaknya menatap remeh Bella, terutama yang menegurnya tadi. 


Tubuhnya sih tinggi. 


Tapi, dia terlihat lemah. 


Aku takut tangannya patah saat memegang busur. 


Gayanya seperti tidak pernah olahraga berat. Aku tidak mau kena amuk Tuan. 


Hei Andry, cepat suruh dia pergi sebelum Tuan melihatnya.


"Jadi, namanya Andry?"gumam Bella.


Tapi, tekadnya menyakinkan. Bagaimana jika kita beri kesempatan berlatih dengan kita? Aku penasaran dengan kemampuannya hingga Tuan membawanya!


Benar, Andry. Berikan saja panah wanita padanya. 


Jika dia terluka, kita bisa memberi alibi karena dia memaksa. 


Menurut kalian seperti itu? 


Bella mendengar diskusi mereka. 


Pria yang dipanggil Andry tadi menoleh pada Bella. Bella dengan cepat memasang wajah berharap. 


Andry kembali memalingkan wajahnya. "Baiklah." Senyum Bella mengembang lebar. 


"Baiklah. Kau dapat berlatih bersama kami," ucap Andry. 


"Kau ambilkan dia busur," ucap Andry pada salah satu rekannya.


"Eh tidak perlu," tahan Bella. 


"Apa maksudmu?" Andry mengeryit, wajahnya terlihat tidak suka.


"Aku pakai busur itu saja," ucap Bella dengan menunjuk jajaran busur yang ditempatkan pada sebuah rak. 


"Bukan aku melarang. Namun, kau tidak akan bisa menggunakan busur itu. Itu sangat berat!"ucap Andry. Nadanya tidak mengandung kebohongan atau untuk menakuti Bella. 


"Really?" Dan itu semakin membuat Bella penasaran. 


"No problem," ucap Bella.


"Hei Nona, kau tidak takut tanganmu patah?" Sedikit mencibir. 


"Busur ini sangat berat. Ku sarankan kau memakai busur untuk wanita," ucap Andry. 


"Apa karena kalian berotot hingga meremehkan kekuatanku, hah?" Bella menggerutu. 


"Ya. Itu salah satunya. Lihat, otot kami besar. Ototmu, ku rasa kau hanya pandai memegang pena!" Lagi-lagi Bella diledek. Bella mengepalkan tangannya. Mungkin jika Bella mengatakan ia pernah membunuh, pasti akan ditanggapi dengan tertawaan. 


"Fine. Aku gunakan busur wanita. Tapi, setelah itu aku akan memakai busur itu!"pungkas Bella. 


"Hanya jika kau berhasil menggunakan busur itu dan memanah dengan baik!"


"Deal!" Bella dan Andry berjabat tangan. Mereka membuat kesepakatan. Rekan Andry kemudian pergi untuk mengambil busur panah untuk Bella. Selagi menunggu, Bella merasa sedikit risih menjadi pusat perhatian. Mereka seakan menyelidik dan menilai Bella. 


"Nona, kau yakin? Kami tidak tanggung jika kau terluka loh," ucap Andry, ingin memastikan lagi. Masih ada tatapan ragu di sana. 


"Tenang saja. Jikalau pun aku terluka, kalian tidak akan ku seret karena … aku tidak akan melibatkan orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang aku perbuat," jelas Bella, sedikit panjang. 


"Kami memegang kata-katamu, Nona!"ucap rekan Andry yang diangguki oleh Bella.


"Silahkan."


"Yang lain kembali berlatih. Biar aku yang mengawasinya," ucap Andry pada rekan-rekannya. Dan itu dilakukan oleh mereka. Agaknya posisi Andry adalah sebagai ketuanya di sini. 


Andry kemudian menuju rak busur panah, kembali dengan membawa quiver yang berisi anak panah juga sarung tangan khusus pemanah. 


"Gunakan ini agar tanganmu tidak terluka," ucap Andry dengan menyodorkan sarung tangan tersebut pada Bella. 


"Thanks," ucap Bella.


Panahan termasuk olahraga keras. Untuk menarik tali busurnya dibutuhkannya tenaga yang cukup besar agar panah bisa melesat menuju target. Selain itu, tali busur panah itu pasti kasar dan keras, oleh karenanya dibutuhkan alat pelindung diri yang memadai. 


Bella segera memakai sarung tangan tersebut. Sarung tangan berwarna hitam itu pas di tangan Bella.


"Andry, ini," ucap rekan Andry tadi yang sudah kembali dengan busur panah.  


Andry menerimanya kemudian menyodorkannya pada Bella. "Meskipun ini busur panah untuk wanita ini tetap berat."


"Aku mengerti." Bella menerima busur panah tersebut. Namun, Andry belum melepaskan pegangannya pada busur. Mungkin ia khawatir. 


"Awas jatuh." Andry melepaskannya dengan perlahan. 


Hm?


Andry tertegun saat Bella tidak bereaksi kesulitan memegang busur tersebut. 


"Tidak berat. Aku coba ya," ucap Bella dengan menarik satu anak panah dari quiver yang masih dipegang oleh Andry. 


Andry terkesiap. Tidak berat? Padahal saat anggota wanita yang menggunakan panah itu mengeluh berat. Butuh waktu untuk menyesuaikan diri.


Andry semakin penasaran. 


Gerakan Bella begitu cepat. Gerakannya saat memutar tubuh dan menarik busur panah seperti seorang yang terlatih. 


Bella memposisikan dirinya, siap untuk memanah. Memperkirakan arah angin, dengan mata fokus pada sasaran. Ditariknya ujung panah, matanya menyipit, dan anak panah ditembakkan.


Hening beberapa saat. Sementara Bella menarik senyum. 


Prok.


Prok.


Prok.


Tepuk tangan dari Andry yang diikuti oleh rekan-rekannya. Tidak sekadar omong kosong. Tembakan Bella tepat mengenai target. Di lingkaran ke sepuluh, perfect!


"Bagaimana? Masih meremehkanku?"tanya Bella. 


"Luar biasa. Anda melebihi ekspektasiku," balas Andry. 


"Kalau begitu kesepakatan kita?" Bella menagih. Andry tertawa. Tampaknya begitu senang. 


"Karena kau begitu memaksa, silahkan gunakan busurku," ucap Desya, memberikan busur panahnya pada Bella.


"Tapi, sebelum itu aku beritahu kau bahwa berat panah ini dua hingga tiga kali lipat dari yang sebelumnya," ucap Andry memberitahu. Bella mengangguk kecil.


Tidak ada rasa takut, yang ada adalah rasa penasaran yang semakin membumbung tinggi. 


Dengan percaya diri Bella, Bella menyentuh dan menggenggam busur tersebut.


Memang berat. Namun, Bella tidak urung. Andry perlahan melepaskannya tangannya. Tangannya siaga, takut Bella tidak kuasa menahan berat busur panahnya. 


"Uhh!" Bella sedikit mengeluh. 


"Tidak. Aku hanya perlu menyesuaikan diri," tolak Bella kala Andry ingin kembali mengambil busur panahnya. 


Bella memperkuat kuda-kudanya. Mengatur nafas dan pandangan fokus ke depan. Fokus pada target. 


"Bisa tidak?"tanya Andry tak sabar, ia gelisah. 


"Wait." Bella memejamkan matanya.


Memasangnya pada tali busur. 


Meskipun nantinya tidak tepat sasaran, setidaknya ia pantas dipuji karena kekuatannya. 


Busur Andry yang terbaik. Bisa menyentuh dan mengangkatnya adalah sebuah kehormatan. 


Mari bertaruh. Dia akan meleset atau tepat sasaran?


Bella mendengar bisik-bisik di belakangnya. Menarik senyum miring dan mulai menarik panahnya. 


Syuutt


Panah melesat. Semua perhatian tertuju, mengikuti arah panah. 


Tap!


Lagi, semua terpana. Termasuk Andry. Sementara Bella menghela nafasnya. Panahnya tepat sasaran, malah menembus panah yang telah lebih dulu ia tembakkan tadi. 


"Bagaimana bisa? Kau wanita …." Andry berkata dengan bertepuk tangan. 


"Kenapa? Memangnya kenapa tidak aku wanita? Apa karena aku wanita kalian bebas menyepelekan diriku?"tanya Bella.


Ia meletakkan busur Andry di tempatnya kemudian berkacak pinggang. 


"Mengagumkan!" Tepuk tangan meriah untuk Bella. 


"Terima kasih." 


"Tapi, bagaimana bisa kekuatan fisikmu begitu kuat?"tanya Andry, penasaran.


Pria saja akan kesulitan mengangkat busurnya. Dan Bella hanya dalam hitungan singkat bisa mengangkatnya, bahkan memanah dengan sempurna. Hal itu tentu menggelitik hati Andry dan juga rekan-rekannya. 


"Aku pernah mengikuti kursus," jawab Bella. 


Jawaban yang tampaknya kurang memuaskan. "Dan berlatih sendiri. Kalian tahu, aku ingin juga kaya, sangat kaya malah," lanjut Bella, sedikit menyombongkan dirinya. 


"Ambil," ucap rekan Andry, melemparkan sebotol air minum pada Bella. 


"Thanks." Bella menerimanya kemudian berjalan menuju bangku yang tersedia. 


"Kalian lanjut berlatih. Tiga puluh menit lagi kemudian kita berangkat." Andry kembali memberi arahan untuk rekan-rekannya. 


"Okay!"


Sementara Andry sendiri menghampiri dan duduk di sebelah Bella. Ujung dan di ujung. Andry tetap menjaga jarak karena tahu siapa Bella dalam pandangan Desya. 


"Tanganmu baik-baik saja, kan?"tanya Andry dengan melirik telapak tangan Bella. 


"Tidak." Bella berbohong. Ia menggenggam erat busur tadi.


Tentu saja akan ada rasa sakit dan tidak nyaman yang rasa. Untunglah sarung tangan membantu untuk menetralisirnya.


Bella kemudian membuka sarung tangannya dan memberinya pada Andry. "Tanganmu tampak kasar," komentar Andry. 


"Hm." 


"Selain memanah kau bisa apa lagi?"tanya Andry. Mulai tertarik pada Bella.


Kemampuan apa lagi yang dimiliki oleh wanita Tuannya ini? Itulah yang ada dalam pikirnya. 


"Sebentar. Kau mengobrol santai seperti ini, apa tidak takut ditegur Tuanmu?"


"Kau sendiri tidak keberatan, bukan?"balas Andry.


"Yeah. Terserahmu saja," sahut Bella. 


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Aku bisa menembak dan sedikit seni pedang," jawab Bella. 


"Sungguh?"


Memicing tidak percaya. Usianya terlihat terlalu muda untuk bisa melakukan banyak hal dengan hebat.


"Apa kau seorang inkarnasi?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir Andry yang membuat Bella terkesiap. Kemudian terkekeh. 


"Inkarnasi?" 


"Are you seriously? Apa ada inkarnasi di dunia ini?"


"Ya mungkin saja. Bukankah masih banyak misteri di dunia ini?"balas Andry. 


"Hahaha. Lucu sekali. Aku hanya melalui banyak hal, bukan seorang inkarnasi. Jangan konyol."


"Lalu, bagaimana dengan kaum alchemist?"


Bella tersedak mendengar terkaan Andry. Mengapa melebar sampai sana? Dan andai kata benar, apa Bella akan mengakuinya? Jelas tidak, bukan?!


"Kau terlalu banyak membaca novel," cibir Bella. 


"Aku hanya melalui banyak hal, dan aku juga punya ingatan yang bagus. Jika kau menganggap aku punya ingatan fotografis, aku akan lebih senang."


"Aku sudah selesai. Terima kasih untuk waktunya," ucap Bella berdiri. 


"Jika ingin berlatih lain kali, silahkan saja," ucap Andry.


"Okay. See you."


"See you too."


"Hei Andry dia itu wanitanya Tuan!"sentak rekan-rekan Andry begitu Bella meninggalkan lapangan. 


"Aku tahu," sahut Andry. Mengambil busurnya dan kembali memanah. 


"Aku dengar dia memang menarik. Ternyata memang benar." Itu diangguki oleh semuanya. 


*


*


*


"Kau lihat, Ale. Tidak tanya IQ, fisiknya juga kuat," ucap Dimitri pada sang istri.


"Kau benar." Rupanya kedua orang tua itu melihat Bella berlatih dan balkon kamar mereka. Mereka melihat jelas dengan menggunakan teleskop. 


"Aku jadi ingin bertanding dengannya," ujar Dimitri.


"Setiap manusia pasti punya kekurangan, apa kekurangannya?"


Aleandra mengabaikan keinginan Dimitri dan memikirkan apa kekurangan Bella. 


"CK. Kau ini!"gerutu Dimitri dengan memeluk Aleandra. 


"Uh, hentikan Dimitri. Jangan sekarang …." Aleandra mengesah saat lehernya dijelajahi oleh Dimitri. 


"Tidak sekarang, Ale!"tolak Dimitri dengan kemudian menggendong Aleandra dan menutup balkon. 


*


*


*


Sedikit bersenandung, Bella melangkahkan ringan kakinya untuk kembali ke kamarnya. Hatinya senang. Keinginannya terpenuhi. 


"Nona!" Bella terkejut saat Irene tiba-tiba memangilnya. Bella sudah berada di depan pintu kamarnya.


"Ah, ya? Ada apa, Irene?"tanya Bella, merubah ekspresinya menjadi datar. 


Kok balik datar, sih? gumam Irene dalam hati. 


"Irene?"


"Ah begini, Nona." Irene tergagap. 


"Tuan memanggil Anda ke kamarnya untuk berdiskusi," ujar Irene. 


"Ke kamarnya?" Bella mengeryit. Kemudian tersenyum menyelidik. "Apa Tuanmu tidak bisa jalan?"


"Katanya masih sakit. Tuan mengeluh Anda menendangnya terlalu kuat."


"Hahaha!"


Pasti menyenangkan melihat wajah menyedihkannya lebih lama, batin Bella. 


"Baiklah. Tunggu sebentar. Aku mandi dulu," ucap Bella, bergegas masuk ke dalam kamarnya. Sementara Irene menunggu di depan kamar.