This Is Our Love

This Is Our Love
Pertemuan (3)



"Mana El dan Ken?"tanya Surya yang tak mendapati dua putranya lagi di meja makan. 


Brian mengendikkan bahunya sedangkan istrinya hanya menggeleng pelan. Rahayu menatap Tio meminta jawaban.


"Tuan Muda El masih berada di kamarnya, Tuan, Nyonya. Sepertinya masih tidur sedangkan Tuan Muda Ken, belum pulang, Tuan, Nyonya," ucap Tio tegas. Surya menunjukkan wajah masamnya. Sedangkan Brian menaikkan satu alisnya, penasaran. 


Apa Ken menginap di rumah Cia?batin Brian. Sedangkan sang istri, tidak begitu peduli.


Rahayu menghela nafas pelan, "bangunkan El!"titah Rahayu yang langsung diangguki oleh Tio.


"Sudahlah, Pa. El pasti lelah tadi malam Papa suruh pulang berjalan kaki. Jangan masam gitu dong, nggak baik loh," bujuk Rahayu. Surya menatap datar Rahayu.


"El pulang jalan kaki? Kenapa, Bun?"tanya Brian yang memang tidak tahu menahu. 


"Tidak apa, hanya hukuman kecil, Brian," jawab Rahayu tersenyum lembut.


"Hukuman kecil?" Brian mengeryit, setahunya sekesal dan semarah apapun Surya pada El, palingan hanya marah-marah saja, belum pernah menghukum El baik hukuman kecil atau besar. Brian hendak bertanya lagi, akan tetapi Surya dengan cepat memotongnya.


"Sudah! Dia memang pantas mendapatkannya! Kalau tidak dia akan lebih melunjak lagi! Biarkan dia menanggung akibat perbuatannya! Ayo makan!"ucap Surya mengakhiri obrolan pagi itu.


Brian mengulum senyum, semakin penasaran dengan hukuman El dan alasan Surya berubah. Brian diam-diam mencuri pandang terhadap Rahayu yang sibuk mengambilkan sarapan untuk Surya. 


Apa saran dari Bunda?pikirnya.


"Mas!"bisik Silvia. Brian menoleh, "hm?"


"Piring kamu," ucap Silvia. Brian lekas menyodorkan piringnya pada Silvia. 


Keadaan hening, hanya ada suara alat makan yang beradu. Saat hampir selesai sarapan, Ken datang dengan penampilan yang cukup kacau. "Assalamualaikum," sapanya dengan nada datar.


"Waalaikumsalam," jawab Surya, Rahayu, Brian, dan Silvia bersamaan.


"Kok penampilan kamu kacau gitu, Ken? Kamu bukannya habis dari rumah Cia?"heran Brian menyipitkan matanya menyelidik Ken. Ken hanya menatap sekilas Brian, kemudian menatap Surya dan Rahayu bersamaan.


"Aku setuju!"ucap Ken datar yang seketika mengembangkan senyum Surya dan Rahayu. 


"Kalau begitu Papa akan segera atur pertemuan kalian," sahut Surya senang. 


Ken tersenyum kecut, "ya terserah kalian saja!"ucapnya kemudian pergi.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada El dan Ken?"tanya Brian.


"Papa dan Bunda sepakat mau menjodohkan Ken," jawab Rahayu gembira. 


Mata Brian membulat, "APA?!"


*


*


*


Ken dengan penampilan serba hitam turun dari mobilnya, menatap dingin bangunan cafe bernama Starlight Cafe tersebut. Parasnya yang tampan seketika menarik perhatian para pengujung cafe yang dominan adalah wanita. Langkah Ken begitu tegas, masuk dengan wajah angkuh. Para wanita itu sudah sedia dengan kamera ponsel, mengabadikan gambar Ken. 


Ken acuh, ia mengeluarkan ponselnya kemudian mengedarkan pandang. 


"Itu dia!"ucapnya seraya melengkungkan senyum sinis. Ken kembali melangkah, menatap lurus wanita yang sedang membaca majalah dengan secangkir latte di meja. 


"Kau Nabilla?" Bella yang sedang membaca sontak menaikkan pandangannya. Matanya menyipit melihat pria di dekatnya ini. Alis tebal, wajah angkuh, Bella seperti pernah bertemu dengannya.


"Anda?"tanya Bella.


"Aku Ken sekaligus orang yang pernah kau tabrak di rumah sakit tempo hari! Aku harap kau punya ingatan yang bagus!"ucapnya datar, penuh dengan nada arogan. 


Bella hanya sedikit melebarkan matanya, "ternyata dunia ini sempit ya, Ken!"ucap Bella tanpa ragu memanggil Ken secara langsung. Ken menunjukkan raut wajah tidak suka.


"Dan aku lebih tua darimu, tolong lebih sopan sedikit memanggilku!"balas Bella dingin. Ken terkejut, raut wajah dinginnya berubah menjadi heran.


Siapa sebenarnya wanita ini? Mengapa begitu berani? Tidak ada rasa takut di matanya, ia bersikap santai seolah Ken adalah orang biasa. Apa latar belakangnya? Itulah sederet pertanyaan yang bersarang di benak Ken.


"Langsung saja. Aku sudah mendengar semua tentangmu dan kekasihmu itu. Aku turut prihatin dengan kondisinya," ucap Bella mengawali pembicaraan. 


"Ada baiknya kau duduk dulu!" Bella menunjuk kursi di depannya. Ken duduk dengan gaya angkuhnya, "lantas mengapa masih Anda terima perjodohan ini?"tanya Ken dingin.


"Ada beberapa alasan. Dan ku yakin kau tahu salah satunya. Aku tahu ini berat untukmu yang sangat mencintai kekasihmu. Kita dua orang yang akan menikah tanpa pernah saling mengenal. Tapi Ken, jangan hanya pikirkan perasaanmu sendiri ataupun hanya kekasihmu. Apa kau kira aku begitu senang bisa menikah denganmu dan masuk ke dalam keluargamu yang penuh dengan bahaya?"


Ken menaikkan alisnya menatap Bella yang tersenyum kecut.


"Tapi itu adalah pilihan yang terbaik. Aku hanya manusia biasa, yang butuh bantuan dan juga akan kalah dengan tekanan. Jadi aku harap kau bisa berkerja sama denganku melalui rumah tangga kita kelak!"sambung Bella. Ken diam mencerna ucapan Bella. 


Dari sikap Bella yang tegas begini, Ken yakin calon istrinya ini punya karakter yang tegas dan sepertinya sulit untuk jatuh hati. Tapi bukankah itu bagus? Jadi Ken ke depannya tidak perlu merasa bersalah kalau ia tetap berhubungan dengan Cia. Ah ya untuk apa ia merasa bersalah?


"Tidak mungkin juga memisahkan kalian. Jadi kau tetap bisa berhubungan dengannya. Kita jalani saja apa yang akan terjadi kelak. Di samping menjadi isterimu aku juga sebagai pendampingmu di perusahaan. Aku adalah calon wakil Presdir Mahendra Group yang baru, dan kau akan menjadi asistenku!"


"APA?!" Mata Ken terbelalak lebar mendengar ucapan Ken. 


"Ini tidak mungkin! Ini gila! Mustahil posisi itu di isi orang baru yang entah dari mana asalnya!"


Bella tersenyum tipis. "Itulah kenyataannya. Dan ya aku memang orang baru di Mahendra Group tapi aku adalah orang yang berpengalaman di berbagai bidang bisnis. Ah ya, sepertinya kau tidak membaca biodataku dengan lengkap. Baiklah, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Nabilla Arunika Chandra, lulusan terbaik jurusan Management universitas Stanford angkatan ke-XX. Dan aku adalah mantan General Manager perusahaan Jerman, Kalendra Group. Aku rasa dua hal ini bisa menutupi keraguan hatimu akan kemampuanku, Ken!"


Ken sudah tak mempedulikan lagi Bella yang memanggil namanya tanpa embel-embel Tuan Muda. Yang ada di pikirannya sekarang adalah pantas saja Surya memilih Bella. Dari kepribadian dan pendidikan, Bella cocok untuk masuk ke keluarga Mahendra. Ia orang yang cakap dan tegas. Ia tidak takut dengan orang yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan. 


Dari segi penampilan juga sopan. Dalam hati berdecak kagum dengan keteguhan hari Bella. 


"Aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan. Giliranmu, Ken!"ucap Bella. Ken tersadar dari lamunannya, ia tersentak pelan kemudian batuk kecil. 


Ken tidak langsung menjawab ucapan Bella, melainkan memanggil pelayan dan memesan minuman dan cake. Bella mengamatinya, memesan latte yang sama dengannya dan cake blackforest.


Ehem.


Ken berdehem. Bella mengangkat satu alisnya. 


"Karena ini sebuah perjodohan maka aku ingin melakukan pernikahan kontrak denganmu. Aku punya kekasih dan tidak mungkin selamanya menikah denganmu," ucap Ken. Bella tersenyum tipis. Tak lama ia terkekeh pelan.


Ya apakah ia menganggap ini dunia novel? 


"Aku menolak," jawab Bella.


"Mengapa? Setelah kau dan aku mendapatkan tujuan kita, kita tidak ada urusan lagi! Ah apa kau mengira aku akan jatuh cinta padamu? Nona Nabilla, aku tegaskan padamu, tidak ada cinta dalam hubungan kita. Hanya ada kesepakatan kerja. Dan aku ingatkan juga jangan jatuh cinta padaku karena selamanya aku tidak akan pernah mencintaimu!"


Bella kembali terkekeh mendengar peringatan Ken. Baginya itu lucu. Ia saja masih belum bisa terlepas dari hubungan tanpa status dengan Louis. Louis masih bertahta di dalam hatinya. Rasanya sangat sulit untuk melepas dan membunuh cinta itu. Terlebih rasa rindu yang kian membuncah. Bella tersenyum kecut mengingat hal tersebut. Dan apa, jatuh cinta pada anak bau kencur yang belum lulus kuliah? Anak ini terlalu percaya diri!


"Apa kau tidak pernah belajar tentang pernikahan dalam Islam, Ken? Oh atau kau lupa?"


"Apa maksudmu?"


"Nikah kontrak itu dilarang sampai hari kiamat kelak! Dan aku tidak mau melanggar larangan itu!"tegas Bella. Ken terperangah. Benar-benar berpendirian! 


"Dalam hidupku, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup walaupun bukan dengan orang yang aku cintai. Aku juga benci sebuah perceraian. Jikapun berpisah biarlah maut yang memisahkan. Jadi … jangan sebut nikah kontrak dan perceraian di depanku. Satu lagi, aku nanti kebohongan dan penghianatan. Dan untuk hubunganmu dengannya itu sebuah pengecualian karena pada dasarnya akulah orang ketiga dalam hubungan kalian!"


Ken tidak bisa berkata-kata lagi. Ia diam mencerna ucapan Bella. 


Bella acuh melihat Ken, ia menatap jam tangannya. Sudah hampir masuk waktu Zuhur. 


"Aku harus pergi. Dan saat bertemu lagi denganku, aku harap kau sudah ada nama panggilan yang lebih sopan daripada memanggil namaku langsung!"ucap Bella. Ken tidak menjawab.


"Assalamualaikum," pamit Bella kemudian melangkah keluar. 


"Waalaikumsalam." Ken menjawab dan matanya mengikuti arah langkah Bella. Ken terperangah melihat Bella menaiki motor besar dan menghilang dari pandangannya.