This Is Our Love

This Is Our Love
Diskusi



Yang disebutkan namanya segera mengikuti Surya. Meninggalkan Rahayu, Ken, Silvia, dan Fajar. Ken semakin lemas.


"Tidak perlu seperti ini, Ken. Jangan menyalahkan dirimu sendiri! Kau harus kuat! Inj bukan salahmu!"ucap Silvia.


"Tapi, ini terjadi karena aku yang lemah, Kak." Parau.


"Maka kau harus menjadi kuat agar hal ini tidak akan terulang lagi. Ingat, kau bukan hanya seorang suami melainkan juga calon ayah!"


"Jika Kak Abel diculik, bagaimana cara memberi tahu adiknya, Nesya?"tanya Fajar.


Nah. Inilah yang menjadi masalah selanjutnya. Bagaimana cara memberitahu Nesya bahwa Bella diculik?


*


*


*


Perasaan campur aduk. Itu yang dirasakan oleh keluarga Kalendra setelah mengetahui Bella diculik. Lewat sebuah email dari Surya, berhasil membuat seluruh keluarga khawatir. 


Perasaan marah, cemas, khawatir, bercampur menjadi satu. 


Setelah membaca email itu, Max langsung memanggil anak dan menantunya pulang ke rumah. Memberitahu kabar diculiknya Bella dan mereka bergegas ke bandara untuk terbang ke Indonesia. 


Sepanjang perjalanan, suasana begitu hening. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. 


Kesal dan marah terhadap Ken? Jelas! Mereka menganggap Ken lemah nan tidak berdaya. Kendati demikian, orang yang menculik Bella juga bukan orang sembarangan. Mereka tidak bisa menyalahkan Ken sepenuhnya. Karena itu juga di luar kendali Ken. 


"Lupakan! Jangan menyalahkan siapapun!! Kita harus bersatu dan bekerja sama untuk menyelamatkan Abel!"tegas Max. 


Wajah Louis masih masam namun tidak menghilangkan gurat kecemasannya. Apalagi dengan Teresa. Padahal mereka belum terlalu lama berpisah. Kabar tak mengenakkan datang pada mereka. 


Leo dan Helena, mereka lebih dingin, sama seperti Max dan Rose. Key yang dijemput dari sekolah, bertanya-tanya dalam hati, mengapa hening? Ada apa dengan ekspresi keluarganya? 


Awalnya ia senang karena akan ke Indonesia. Akan tetapi, melihat situasi, rasa curiga memenuhi hatinya.


 Key anak cerdas. Ia tahu ada yang salah. Niat ingin bertanya ada apa ia urungkan. Nanti, juga ia akan tahu. 


"Bagaimana bisa Abel terlibat dengan mafia Rusia?" Leo tidak habis pikir. 


"Jika melihat ke belakang. Anak itu memang senang berurusan dengan bahaya," sahut Rose, menyangga dagunya. 


"Kan kali ini bahayanya sangat besar. Jika tidak pandai-pandai mengambil keputusan, dampaknya akan sangat fatal," timpal Louis. 


"Desya Volcov, apa yang membuatnya menculik Abel? Daddy tidak yakin dia tidak tahu identitasnya Abel. Artinya ia tidak takut dengan keluarga kita ditambah dengan keluarga Mahendra." Max menarik kesimpulan.


 "Anak itu begitu angkuh dan sialnya itu setara dengan kekuatannya," ujar Max. 


"Tapi, Mom yakin kita bisa menaklukkannya," sahut Rose, begitu yakin. Dua keluarga, mereka bukan keluarga yang lemah. 


"Dia punya pasukan. Kita punya taktik. Aku tahu dia hebat. Namun, bukan berarti kita tidak bisa menang!" Louis berapi-api. Tampaknya, jika ia berhadapan langsung dengan Desya, mereka akan berduel. 


"Aku tidak berpikir seperti itu." Semua menatap Helena. 


"Maksudnya? Kita tidak bisa mengalahkannya?"tanya Leo, tidak senang. 


"Ah bukan begitu. Maksudku begini, kita tahu Abel, bukan? Entah mengapa aku merasa, dia akan menaklukan mafia itu sebelum kita," jelas Helena.


"Aku sangat penasaran, apa yang membuat mafia itu tertarik pada putri kita," gumam Rose. Namun, bisa didengar oleh semuanya. 


*


*


*


Setelah mengudara cukup lama, akhirnya mereka keluarga Kalendra tiba di bandara Soekarno Hatta. Mereka tiba begitu sang surya kembali ke peraduannya. Kemerahan di ufuk barat masih terlihat. 


Lampu-lampu aneka mawar dan bentuk menyala. Kendaraan masih ramai lalu lalang bahkan macet. Suara klakson bercampur dengan deru suara mesin, begitu jelas terdengar.


Magrib telah tiba. Azan magrib berkumandang. Suasana menjadi tenang dan syahdu. Perasaan tentram menyelimuti hati. 


Matahari benar-benar sudah tenggelam. Perannya menerangi bumi digantikan oleh bulan. 


Gerbang tinggi dan megah kediaman Mahendra terbuka. Sebuah mobil memasuki kediaman. 


Berhenti tepat di depan rumah. Di teras, sudah menunggu Surya dan Rahayu dengan beberapa pelayan.


Pintu mobil terbuka, keluarga Kalendra turun. Mereka saling sapa sebentar sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tengah dan bersiap untuk membicarakan rencana. 


Pelayan yang tadi ikut menunggu, ikut masuk dengan membawa barang bawaan keluarga Kalendra. 


Ken tidak terlihat. Begitu juga dengan yang lain kecuali Brian dan Tuan Adam. 


"Key, ayo ikut dengan Oma," ajak Rahayu pada Key. 


Key menatap Helena. "Bertemu Aunty Abel?"tanya Key dengan polosnya. 


Rahayu tersenyum, pahit yang harus disamarkan dengan anggukan. Segera, Key bangkit dan meraih tangan Rahayu, "ayo, Oma."


"Aku ikut dengan kalian," ucap Rose. 


Rahayu meninggalkan ruang tengah bersama dengan Key dan Rose.  Sebelum naik ke lantai atas, Rahayu menyuruh bagian dapur untuk segera menyiapkan makan malam. 


"Tunggu, Anda?" Max, Leo, dan Louis menatap Tuan Adam. Mereka sedang mengingat-ingat. Mereka seperti pernah melihat Tuan Adam. Tap, mereka lupa kapan dan di mana. 


Tuan Adam tersenyum, "selamat malam, Tuan dan Nyonya sekalian. Perkenalan saya Adam, tangan kanan Nona Bella di USA," ujar Tuan Adam memperkenalkan dirinya. 


Bingung bercampur kaget. "Tangan kanan Abel di USA?" Sejak kapan? Apa Bella punya perusahaan sendiri? Mengapa tidak pernah mengatakannya?


"Ceritanya agak panjang. Saya rasa itu bisa di akhir. Intinya Nona Bella sekarang adalah pemilik Nero Group. Lebih baik kita berdiskusi, langkah apa yang akan kita ambil!!"


Artinya … Pewaris Tuan Williams yang selama ini menyembunyikan diri adalah Bella? Tidak terduga. Sama sekali tidak pernah terbayang. 


"Kejutan yang luar biasa!"gumam Leo. 


Teresa dan Louis saling pandang. "Sulit dipercaya," ujar Max. Tidak menyangka putrinya sehebat itu. But, ia sangat bangga. 


"Abel benar-benar! Dia pandai menyembunyikannya!" Louis bahkan sejenak seperti tidak mengenali Bella. 


Hanya sebentar. Karena Bella juga sukar ditebak. "Awalnya saya sama seperti kalian. Saya harap kalian dapat menerimanya. Karena Abel pasti punya alasan untuk tidak mengungkapkan hal itu," ujar Surya. 


Mengangguk. "Seperti kata saya tadi, tinggalkan dulu tentang itu," kata Tuan Adam. 


"Jadi, sampai di mana penyelidikan kalian?"tanya Louis, tidak sabar untuk mendengarnya. 


Mereka sudah tahu kronologinya. Tentang surat Bella untuk Ken, tidak turut serta diberitahukan. Surat itu tidak sah, tidak akan mengubah apapun baik diberitahukan atau tidak. 


Tuan Adam menceritakan hasil diskusinya dengan keluarga Kalendra tadi siang di perpustakaan. Mereka melacak posisi markas Desya. Namun, ternyata tidak semudah yang mereka kira. 


Seperti dilindungi oleh sesuatu. Benar. Lokasinya pasti sangat privat dan punya pengamanan tingkat tinggi. Mafia kelas kakak, markas adalah lokasi tersembunyi yang sulit untuk ditemukan. 


Biasanya dilengkapi dengan jebakan, antisipasi sewaktu-waktu ada penyerangan. Persenjataan yang lengkap dan jalur evaluasi yang jelas. Itu adalah hal mutlak. Dan mungkin saja, Desya memasang satelit dan memasang pengacak sinyal agar tidak ada yang bisa melacak serta mengetahui lokasinya. Itu bukanlah hal yang mustahil. 


Selain itu, motifnya adalah atas ketertarikan. Bagi seorang Desya yang merupakan seorang mafia, mencari identitas Bella bukanlah hal sulit. Latar belakang keluarga, pendidikan, karier, karakter, serta kemampuan, tidak mengherankan Desya menginginkan Bella. 


Namun, biarpun begitu Bella juga bukan orang yang mudah dihadapi. Kita lihat, siapa yang akan takluk, Bella atau Desya? Dan apakah yang akan hancur? 


Singkat dan padat, penjelasan Tuan Adam. "Tapi, Abel tengah hamil. Bagaimana jika …." Wajah Teresa pucat karena begitu khawatir pada sahabatnya. Louis segera memeluk istrinya. 


"Abel akan baik-baik saja," ucap Louis lembut menenangkan istrinya meskipun dia sendiri juga sangat khawatir. 


"Seorang ibu akan melakukan apapun demi keselamatan anaknya. Daripada mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi. Lebih baik kita mulai bergerak agar kita bisa segera berkumpul dengan Abel!"tukas Helena. 


"Kirimkan data pencarian kalian padaku," ucap Max. 


"Kita satukan tim kita, okay," lanjut Max. 


"Brian." Data pencarian ada pada Brian. Brian yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan itu, mengangguk. Mengambil tabletnya di atas meja. 


"Sudah," ucap Brian singkat. Max menatap Leo dan Louis. Yang ditatap langsung paham. Leo mengeluarkan laptopnya dan segera membuka apa dikirim oleh Tuan Adam tadi.


"Di mana Ken? Aku tidak melihatnya dari tadi?" Tadi mereka hanya fokus membahas Bella. Hingga melupakan Ken tidak ada di ruangan ini. 


"Dia di kamarnya," jawab Surya. Menggeleng pelan. Wajahnya tampak tertekan. 


"Ken begitu tertekan karena hal ini. Dia sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara akan Ken keluar dari rasa bersalah itu dan juga bangkit dari kesedihannya!!" Surya seakan sudah putus asa. Ken mengurung dirinya di kamar. Belum keluar sama sekali. Tidak menggubris siapapun. 


"Memang layak ia merasa begitu." Kesal Louis rupanya tidak hilang. 


"Hush!!" Teresa memberikan Louis cubitan. 


"Tapi, berlebihan juga tidak bagus. Menyendiri juga ada batasnya," imbuh Louis. 


Jadi? 


Mereka semua saling melempar pandang. 


Harus membuat Ken keluar kamar bagaimanapun caranya. Baik menggunakan cara lembut ataupun kasar. 


Brakkkk!!  


Baru saja mereka memikirkan cara  terdengar suara seperti pintu didobrak.


Apa itu? Siapa yang mendobrak pintu dan pintu kamar mana yang didobrak?


Bergegas. Mereka semua naik ke lantai atas.  Rupanya pintu kamar Ken dan Bella. Dan yang menabraknya adalah El dan Dylan. El tampak berseru sementara Dylan langsung masuk. 


"Apa yang kalian lakukan?"tanya Surya. 


"Ken, dipanggil tidak menyahut. Ditanya tidak menjawab. Kami takut dia kritis di dalam. Papa tolong jangan marah. Harga pintu ditambah dengan biaya tukang tidak semahal dengan harga nyawa Ken!!"jawab El. Tidak salah sih tapi mengapa sedikit melantur? Ah lupakan saja!


Surya mendelik kesal mendengar jawaban El. 


"Ayo masuk!" Tampang tanpa dosa sedikitpun, El masuk. Surya menepuk dahinya sebelum masuk ke dalam kamar Ken. 


"Nah benarkah!!"seru El melihat Dylan yang berusaha untuk menyadarkan Ken. 


Posisi Ken duduk dilantai dengan bersandar pada ranjang. Wajahnya pucat. 


"Mengapa lemah sekali?"gumam Louis. 


"Louis, kau belum pernah mengalaminya. Jika suatu saat kau merasakan apa yang Ken dirasakan. Aku tidak menjamin kalau kau bisa lebih baik darinya," ucap Helena, telinganya sangat sensitif.  


Yang anggap saja, karena ia seorang penulis jadi sering membaca dan juga menulis seberapa menyedihkan dan terpuruknya seseorang saat kehilangan orang yang sangat ia cinta dan sayangi. 


"Aku keliru, Kakak Ipar," sahut Louis. 


Brian, tanpa disuruh langsung menghubungi dokter keluarga. Leo membantu Dylan membaringkan di ranjang. 


Max, Louis, dan Teresa juga Helena, sejenak mengalihkan pandang dari Ken, mengedarkan pandang ke beberapa sudut kamar. 


Suasana kamar yang menenangkan. Ada banyak foto baik di atas nakas maupun yang digantung di dinding. Ada foto wisuda Ken. Juga foto-foto wisuda Bella. Ada medali dan piala, disatukan dalam satu lemari. Tertata rapi. 


Sofa, dengan meja kaca di mana di atasnya ada vas bunga dan juga majalah. Ada juga rak buku. Rak miniatur. Dan beberapa almari lainnya. Banyak barang namun kamar ini terasa lenggang. 


Jadi ini kamar Abel dengannya? 


Ini kamar yang bagus.