This Is Our Love

This Is Our Love
Gara-Gara Berita



Makan malam terasa cukup hening. Hanya ada Bella, Ken, dan beberapa pelayan yang berada tak jauh dari meja makan, menunggu Tuan dan Nona Muda Ketiga mereka selesai makan malam. Dylan sendiri sudah makan sebelum keduanya turun dan kini berada di ruang belajar. 


Bella enggan memulai obrolan dengan Ken, malas jika ujungnya Ken menyinggung mengenai terapi untuknya. Sedang Ken bingung untuk memulai obrolan dari mana. Melihat raut datar Bella membuatnya sedikit takut. 


Tiada obrolan hanya denting alat makan yang saling beradu memenuhi ruang makan. Dua pelayan yang tak jauh dari sana, bertukar pandang, heran dengan keheningan yang tercipta. Biasanya pasti ada bahasan yang dibicarakan oleh Tuan dan Nona Muda Ketiga mereka itu. 


Apa mereka bertengkar? Itulah arti tatapan keduanya kemudian mengendikkan bahu.


"Aku selesai." Bella berucap lalu memejamkan matanya, berdoa setelah makan. Makan malam Ken masih tersisa separuh sebab sedari tadi ia mencuri pandang ke arah Bella.


"Aku ke kamar duluan," ucap Bella, berdiri dan meninggalkan meja makan. 


Aru benar-benar tidak suka dengan ideku, gumam sedih Ken. ***** makannya mendadak hilang. Ken meletakkan sendok dan garfunya. Ia beranjak menyusul Bella.


Dua Pelayan yang menunggui mereka langsung bergerak membersihkan meja makan. "Mereka benar-benar  bertengkar?"tanya salah seorang dari keduanya.


"Ku rasa ada selisih pendapat. Sejak tadi ku perhatikan Nona Muda Bella wajahnya tetap datar. Berbeda dengan Tuan Muda Ken yang terlihat bingung," jawabnya, mengutarakan hasil penglihatannya.


"Mungkin juga. Ku harap mereka lekas berbaikan," sahut pelayan yang bertanya tadi, diangguki oleh temannya.


Ceklek!


Ken membuka pintu dengan pelan dan masuk dengan perlahan juga tanpa suara. Didapatinya sang istri tengah duduk di sofa dengan pandangan fokus pada laptop. Dilihatnya Bella sangat serius hingga tidak berpaling melihat ke arahnya. Ken menghela nafas pelan. Ia melangkah tanpa suara menuju rak buku, memilih buku yang akan ia baca kemudian duduk di sisi Bella. Kedua kakinya bersila di atas sofa, sembari membaca sesekali mencuri pandang terhadap Bella yang tetap bergeming dengan kehadirannya.


Aku diabaikan?pikirnya, memajukan kepala ingin melihat apa yang sedang Bella kerjakan. 


Wajahnya kini sangat dekat dengan Bella. Ekor mata Bella melirik Ken yang tampak bingung dengan apa yang ditampilkan pada layar laptopnya. 


"Fokuslah pada bukumu!"ucap Bella, mendorong dada Ken mundur. 


"Itu tadi pasar saham, kan?"tanya Ken serius. 


"Kau tahu?"tanya balik Bella, sedikit terkejut. Ken mengangguk. 


"Aru kau juga seorang pemain saham, investor?"terka Ken. 


"Begitulah. Sebagian pendapatanku aku sisihkan untuk investasi. Ya walaupun skalanya kecil tapi lumayan berkembang," jawab Bella, menghela nafas pelan melihat garis hijau yang terus merangkak naik. 


"Wow sahammu trending," takjub Ken saat melihat kembali layar laptop Bella.


"Kau mengerti?" Setahu Bella Ken kan baru dalam bidang bisnis. 


"Hei aku juga tidak sepicik itu! Kak El pernah menunjukkannya padaku. Jadi sedikitnya aku paham tentang pasar saham," tutur Ken dengan wajah cemberut.


"Oh jadi El juga bermain saham?" 


"Hm. Tapi kebanyakan saham yang ia beli anjlok," jawab Ken, masih cemberut. Lagi Bella hanya ber-oh-ria. 


Bella kembali fokus pada layar laptopnya. Sedang Ken kembali membaca walau aslinya perhatiannya tetaplah pada Bella. Bella menutup tab pasar sahamnya, membuka web majalah bisnis untuk melihat berita terbaru.


"XA Corp? Bukankah ini perusahaan keluarga Utomo?"tanya Bella saat melihat salah satu berita yang ada di dalamnya.


"Benar. Ada apa memangnya?" Ken meletakkan buku di atas meja. Mendekatkan dirinya pada Bella untuk membaca berita tentang AS Corp. Bella tidak menggeser duduknya. Wajah mereka kembali begitu dekat. 


"Harga saham mereka anjlok? Bagaimana bisa?" Ken menatap Bella. Wajahnya tepat berada di depan pipi Bella. Seringai tipis Ken ukir melihat wajah datar istrinya.


Cup!


Ken mencuri suasana untuk mencium pipi istrinya. Bella menoleh datar. Keduanya  beradu pandang. Mata datar bertemu dengan mata sendu Ken. 


"Aku tidak akan membahas tentang terapi lagi sampai kau memutuskan hasil pertimbanganmu," ucap Ken pelan. Bella tersenyum tipis.


Cup.


Kecupan mendapat di bibir Ken dari Bella, "kalau begitu kau harus bersabar menanti keputusanku," jawab Bella. Ken mengangguk, tangannya terukur menyentuh pipi Bella.


"Asal jangan abaikan aku seperti tadi," pinta Ken penuh harap. Matanya memelas bak anak kecil yang meminta sesuatu. 


"Siapa yang mengabaikanmu?"sahut Bella. Ia berpaling kembali menatap layar laptopnya. Meraih mouse dan menggerakan kursor untuk menggulir layar ke atas. Ken tersenyum, "baiklah. Aku mengerti." Ia juga kembali melihat layar laptop.


"Ada kecelakaan di area tambang. Menyebabkan banyak korban baik tewas atau terluka. Kecelakaan diduga karena kesalahan pihak perusahaan, bukan pekerja. Itulah yang menyebabkan saham XA Corp menurun drastis," ucap Bella setelah menyimpulkan berita yang ia baca. Ken langsung mencari remote televisi lalu menyalakan televisi. Memilih channel khusus berita. 


Benar, kecelakaan tambang yang dialami oleh XA Corp masuk breaking news. Dari tayangan yang disiarkan terlihat area tambang yang bergerak pada jenis gas alam itu. Pipa-pipa besar terlihat berserakan, lubang-lubang yang tak lain adalah sumut minyak tampak lebih besar daripada ukuran aslinya dan mengeluarkan cairan seperti lumpur. Alat-alat tambang tampak ditinggalkan dan area diberi tanda police line. Masih terlihat jelas ledakan-ledakan yang menyebabkan lubang sumur semakin lebar. 


"Pantas saja," gumam Ken. Matanya menatap dalam siaran berita itu. Bella kembali melirik, hatinya merasa tidak nyaman. 


Bella yakin Ken teringat pada Cia. Dengan turunnya saham, XA Corp bisa terancam gulung tikar. Entah bagaimana kabar Cia sekarang. Namun, yang pasti Cia masih membutuhkan banyak biaya. Jika XA Corp terguncang, pasti akan berpengaruh pada pengobatan Cia. Bella tersenyum simpul. Ya siapa sih yang nyaman jika pasangan mengingat dan masih menunjukkan kepedulian pada seseorang yang berstatus mantan? 


"Aku mau tidur," ucap Bella datar, kemudian mematikan dan menyimpan laptopnya. Ken tidak menggubris. Bella yang hendak tidur menoleh singkat, tersenyum kecut kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Cinta pertama. Hm … sosoknya tidak akan pernah bisa dilupakan, gumam Bella dalam hati.


"Aru … apa menurutmu XA Corp akan gulung tikar?"tanya Ken di sela-sela sarapan.


"Jika mendapat bantuan besar mungkin tidak," jawab Bella tanpa menatap lawan bicaranya. Pandangannya tetap tertuju pada nasi goreng yang tinggal separuh lagi. Selera makan Bella terganggu mengingat tatapan Ken tadi malam. Sungguh menggusik dirinya. Beragam opsi silih berganti hinggap di pikirannya. 


"Om Bayu pasti sangat pusing sekarang," ucap Ken. Ia kembali termenung. Sarapannya sendiri tinggal sedikit. 


"Ku lihat dia orang yang punya rencana jangka panjang. Masalah ini pasti akan diselesaikan dengan baik olehnya!"sahut Bella. Ia meletakkan kasar sendok dan garfunya. Bella kemudian minum kemudian memakai jaket dan ranselnya. 


"Aku berangkat duluan. Assalamualaikum," pamit datar Bella. Langsung melangkah pergi tanpa menuju jawaban dari salamnya.


"Waalaikumsalam." Ken menjawab dengan bingung. Sepertinya ia belum mencerna apa yang terjadi. Alisnya berkerut menatap arah langkah Bella yang sudah menghilang dari pandangnya.


"Tuan dan Nona Muda Ketiga masih bertengkar?"tanya pelayan  yang tadi  malam menunggui Ken dan Bella makan dengan berbisik. 


"Sepertinya masih," jawab temannya dengan berbisik pula.


"Ku kira sudah diselesaikan tadi malam. Tuan Muda Ketiga tidak peka. Sepertinya hanya berpengalaman membujuk Nona Cia."


"Hush kau ini! Nona Muda Ketiga itu Nona Bella. Nama masa lalu jangan disebut lagi. Tapi, kau benar juga. Tuan Muda Ketiga memang tidak peka. Nona Bella keluar tadi dengan wajah seperti hendak menerkam orang. Tuan Muda Ketiga bukannya langsung mengejar malah kebingungan. Ckckckck …."


Ken mendengar gosipan dua pelayan itu walau dilakukan dengan berbisik. 


Aku kurang peka? Hanya berpengalaman membujuk Cia? 


Wajahnya semakin tidak mengerti. Bahkan ia belum sadar bahwa ia ditinggal berangkat oleh Bella. 


"Ck … hatiku sangat tidak nyaman!" Bella mengesah setelah mendaratkan bokongnya di atas kursi kebesarannya, kursi Wakil Presdir.


Wajahnya gusar. Pikiran buruk tiada henti hadir di hatinya. 


Ingin rasanya Bella berteriak bahwa hatinya kesal. Kesal karena Ken menunjukkan kepedulian terhadap keluarga Utomo. Namun, sebisa mungkin ia tidak menyatakan secara verbal bahwa ia cemburu. Bella ingin menguji seberapa peka Ken terhadap perasaannya. 


Bella menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan. Wajah gusarnya belum hilang. Helaan nafas kasar beberapa kali terdengar. Bella lantas memejamkan matanya. Ia sedang menjernihkan pikirannya untuk fokus pada pekerjaannya. 


Suara notifikasi di ponselnya, Bella membuka matanya. Sebuah email dari Helena. Bella memperbaiki posisi duduknya kemudian membaca kiriman email Helena. 


Tak lama kemudian Bella tersenyum. Jemarinya dengan cepat membalas email itu. 


"Sepertinya setelah kau selesai nyantri nanti langsung membuat film, El," gumam Bella.


Baru saja ia meletakkan ponsel, ponselnya kembali berbunyi. Sebuah email lagi. Bella mengeryit melihat siapa pengirimnya. 


Papa? Apa yang dikirimnya malam-malam begini? Jika di Paris, di sana masih sekitar pukul tiga dini hari.


Pasti hal penting. Lekas Bella membaca isi email. 


Assalamualaikum, Abel. Apa yang Papa kirimkan ini adalah salah satu perjanjian dulu. Semoga kau puas dengan ini.


Itu kaya pembuka dari Surya. Di bawahnya ada sebuah lampiran. Bella membukanya. Bella mengeryit melihat isi lampiran itu. Tak berselang lama raut wajahnya berubah. Rahang Bella mengeras, wajahnya memerah, sorot matanya begitu tajam. Terdengar bunyi gigi Bella yang saling beradu. Bella sedang dilanda amarah. 


Bella kemudian berkutat dengan laptopnya. Tangannya bergerak cepat menekan blok-blok keyboard. Sorot matanya yang dingin lagi tajam tampak serius pada apa yang sedang ia kerjakan. Tak memakan waktu lama, Bella menghentikan ketikan jarinya.


Tangannya mengepal erat, "tenyata dia!"gumamnya dingin. 


"Assalamualaikum, Aru." Ken masuk dengan wajah yang hendak protes. Ia langsung berhenti melangkah melihat wajah Bella yang  penuh amarah. Ken langsung was-was. 


Semarah itu Aru padaku?batin Ken yang hanya menduga Bella marah karena sikapnya yang menunjukkan kepedulian lebih pada keluarga Utomo. Ken sudah sadar atas apa yang membuat sikap Bella aneh tadi malam dan pagi tadi. 


"A-Aru kau masih marah padaku?"tanya Ken takut-takut. Ia tak berani mendekat. Aura suram Bella begitu menekannya. 


"Jangan ganggu aku. Kerjakan saja pekerjaanmu!" Bella menjawab dingin dengan nada tidak bersahabat. 


Ken tertegun. Wajahnya berubah murung. Dengan lesu duduk di kursinya.


"A …."


"Diamlah!"bentak Bella. 


Ken terperanjat. Ia menunduk takut. Ken meruntuki dirinya sendiri.


Awas! Jangan dirimu baik-baik! Aku akan membalas apa yang telah kau lakukan pada adikku! Biar keponakanku sudah tiada namun aku tidak akan pernah melepasmu!


Kau akan membayarnya!