This Is Our Love

This Is Our Love
Sidang Cerai Anjani



Pagi harinya Bella telah bersiap untuk menemani Anjani ke pengadilan agama, tentu saja untuk sidang perceraian Anjani dan suaminya. Ken juga sudah siap untuk berangkat ke kampus, pagi ini ia ada bimbingan skripsi. 


Saat sarapan, Bella dan Ken mengeryit heran dengan El yang sepertinya tengah merayu Surya. Semakin mendekat ke meja makan, mereka tahu bahwa El tengah merayu Surya agar mengizinkannya untuk membawa mobil mewah milik Surya. Entah apa alasannya, padahal mobil El sendiri sudah termasuk mewah. Surya tampak jengah dengan rayuan El. 


Terakhir, atas bantuan Rahayu, Surya mengizinkan El membawa lamborghini venemo miliknya.


"Mau ke mana memangnya, Kak?"tanya Ken.


"Rahasia."


El tersenyum lebar, Ken mendengus sebal. Bella menyipitkan matanya, sepertinya Bella tahu El hendak ke mana.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya Ma, Pa, Ken, Abel," pamit El seraya menyalami Surya dan Rahayu.


"Hati-hati kau bawa mobilnya. Lecet sedikit saja uang bulananmu akan aku potong!"peringat Surya yang diangguki oleh El.


Surya memang masih memberi uang bulanan untuk El. Alasannya adalah karena El belum menikah. Bagi Surya, anak yang belum menikah, masihlah tanggung jawab dirinya.


"Kak Brian sama Kak Via mana? Kok belum turun?" Bella sesekali melihat ke arah tangga.


"Oh mereka sudah berangkat duluan ke kantor. Ada meeting penting katanya," jawab Surya. 


"Kak Via ke kantor?" Ken menatap Surya heran, untuk apa? Apa Silvia ada jadwal menemani Brian dinas ke luar kota atau negeri?


"Iya, Ken. Sekarang Via jadi sekretaris Brian. Kan sekretaris Brian resign karena hamil," jelas Rahayu. Ken dan Bella ber-oh-ria.


***


Kurang lebih pukul 09.30, Bella tiba di pengadilan agama tempat sidang perceraian Anjani dan suaminya akan berlangsung. Tak berselang lama, sebuah mobil berwarna hitam ikut masuk dan parkir di bagian mobil. Bella mengenali pria yang turun dari pintu pengemudi, Arman, suami Anjani.


Disusul dengan turunnya dua orang paruh bayah dengan wajah yang terkesan angkuh. Mereka tampak berbicara di sisi mobil. Bella memperhatikan mereka dengan seksama sembari sesekali melihat jam tangannya. Bella mengikuti mereka yang menunggu di kursi di teras pengadilan. 


"Man, coba lihat di dalam, istrimu itu sudah datang atau belum!"titah mama Amran. Pria yang berparas cukup tampan itu mengangguk. 


Tak lama kemudian ia kembali, "belum datang, Ma."


"Belum? Sebentar lagi kita akan masuk ke ruangan. Gimana sih istri kamu itu? Dia yang mengajukan cerai dia juga yang telah datang. Serius nggak sih?!"kesal Papa Arman.


"Masih ngarep samaku mungkin, Pa," celetuk Arman dengan percaya dirinya.


"Huh Mama enggak mau punya menantu kayak dia! Cukup Citra saja menantu Mama!"sungut Mama Arman. Wajahnya kesal.


Bella mengirim pesan pada Anjani, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Bella juga sedikit cemas karena pesannya tidak dibalas dan kini panggilan masuk untuk Anjani dan Arman sudah dipanggil untuk masuk ke ruangan. 


"Gimana nih, Ma? Anjani belum juga datang. Aku nggak mau ada sidang ditunda. Sakit kepalaku mendengar pertanyaan Citra nanti!"


Arman tampak cemas dan kesal. Ia mondar-mandir setelah meminta izin pengunduran waktu. Diberi keringanan lima menit. Empat menit sudah berlalu, belum ada tanda-tanda Anjani hadir.


Dan di detik terakhir, sebelum kata sidang diundurkan ke hari yang lain, sebuah mobil sport lamborghini memasuki pengadilan agama. Minum berhenti tetap di depan lobby. Bella menyipitkan matanya, mobil itu ia kenali sebagai mobil Surya yang dipinjam oleh El tadi. Tapi untuk apa El ke pengadilan agama? 


Mata Bella terbelalak saat kedua sisi pintu terbuka. Yang pertama turun adalah El, dengan gayanya menyisir rambut ke belakang lalu merapikan jasnya.


Kacamata hitam yang bertengger di hidungnya menambah kadar ketampanannya. Dan yang kedua adalah sepasang kaki yang tertutup rapat dengan rok berwarna biru tua.


Dan betapa terkejutnya keluarga Arman saat tahu siapa wanita itu, dia adakah Anjani yang turun dengan gaya anggunnya. Senyum  manis dilengkapi dengan kacamata hitamnya, melambaikan tangan pada Bella.


"Abel!"seru Anjani.


Bella langsung menghampiri Anjani. Keluarga Arman menoleh ke arah Bella, terkejut lagi bahwa yang duduk di samping mereka ternyata adalah teman Anjani.


"Hei bagaimana kau bisa dengan Kak El? Aka mana?"cercah Bella.


"Aku tak bisa menolaknya. Dia menjemputku dengan mobil ini. Dia bilang harus memberi hadiah terbaik untuk perpisahan. Dia juga yang menyuruhku mengenakan setelan ini, dan Aka, dia sebentar lagi juga tiba," jelas Anjani, melirik El yang bersandar pada bagian depan mobil dengan gaya coolnya. 


"Adik ipar, kau mendukungku bukan?"tanya El berharap.


Bella menggeleng tidak tahu. El tetap tersenyum. 


Panggilan untuk memasuki ruangan kembali diumumkan. 


"Masuklah lebih dulu. Aku akan menunggu Aka di sini," ujar Bella. 


"Baiklah, terima kasih, Abel."


Anjani dan Bella berjalan berdampingan menaiki satu demi satu anak tangga hingga tiba satu bidang dengan keluarga Arman. Wajah ketiga orang itu tampak masam.


"Wanita murahan! Belum resmi bercerai sudah jalan dengan pria lain!"maki mama Arman.


"Nggak tahan ya kamu hidup miskin terus kesepian? Untung saja kamu sebentar lagi bukan menantu saya. Malu saya punya menantu kayak kamu! Murahan!"


Anjani tersenyum simpul mendengar kalimat sinis mama mertuanya itu. 


"Oh Jani, mereka calon mantan suami dan mertuamu kan?"tanya El, melepas kacamata dan menatap mereka tajam sekilas. Melihat tiga orang itu merasa tertekan, El tersenyum tengil.


"Baguslah kamu memutuskan untuk berpisah. Berlian sepertimu tidak pantas berada di dalam kotoran!"sinis El, merangkul Anjani dan mengajaknya masuk lebih dulu. Wajah Arman merah padam.


Mama Arman masih terus saja mencerva Anjani dengan kalimat buruk.


"Pokoknya Papa nggak mau Arka diasuh oleh wanita murahan itu! Hak asuh Arka harus jatuh sama kamu!"tegas Papa Amran.


Arman mengangguk. Namun, kembali ia menggertakkan gigi saat mendengar ucapan Bella.


"Mimpi di siang bolong! Selamanya Anjani tidak akan pernah jadi gembel dan Arka akan tetap bersama Anjani."


Bella melenggang masuk dengan menggendong Arka. Arka tampak menatap dingin Arman, kakek dan neneknya.


*


*


*


Tanpa banyak hambatan, kini Anjani dan Arman resmi berpisah. Arman dan kedua orang tuanya  tersenyum puas karena ia tidak keluar sedikitpun uang untuk harta gonogini Anjani. Anjani tidak ambil pusing, toh sekarang ia memiliki harta yang lebih dari cukup. Kini ia tinggal menunggu keputusan pengadilan atas hak asuh Arka.


Arka yang duduk di antara Bella dan El menatap tak sabar hakim yang bersiap membacakan keputusan. Ia sudah tahu bahwa selain berpisah, mamanya kemari juga untuk memenangkan hak asuh atas dirinya.


Bella dan El tampak tenang. Mereka sama-sama tersenyum tipis, ah tidak hanya Bella karena El tersenyum lebar.


"Berdasarkan semua aspek pertimbangan, hak asuh ananda Arkano Pramuji jatuh pada Nyonya Anjani! Tok tok tok!"


Tiga ketiga palu, keputusan final hakim yang lansung membuat El berseru senang dan langsung menggendong Arka. Anjani sendiri sujud syukur, lain halnya dengan keluarga Arman yang tidak percaya dan langsung melayangkan protes pada hakim.


"Maaf sebelumnya Yang Mulia. Apa Anda tidak salah? Harusnya hak asuh Arka jatuh pada saya, bukan dia. Mau makan apa anak saya nanti jika diasuh olehnya? Dia tidak punya pekerjaan!"


"Benar. Wanita itu miskin dan tak bisa bekerja. Cucu saya tidak akan hidup bahagia dengannya. Yang Mulia mohon pertimbangkan lagi keputusan Anda!"timpal Papa Arman.


"Yang Mulia, lihatlah wanita itu. Sungguh tidak layak mendidik dan mengasuh anak. Dia datang ke pengadilan dengan selingkuhannya. Bahkan anaknya sendiri naik mobil yang berbeda. Wanita itu akan membawa dampak buruk bagi cucu kami!"ucap Mama Arman menatap sinis Anjani dan El.


El menatap keduanya dengan wajah santai, lain halnya dengan Anjani yang acuh. 


"Wanita murahan! Katakan saja selama ini kau menghidupi Arka dengan menjual tubuhmu!"seru Mama Arka yang langsung menyulut emosi El.


"Sembarangan! Beraninya kalian menghina Anjani! Hei apa kalian tidak sadar diri hah? Kalian yang rendah dan murahan ingin menjatuhkan sebuah berlian. Dasar tak tahu malu! Apa kalian tahu siapa Anjani sekarang? Bahkan kalian bukan tandingan. Dan ya, mengenai jual diri, itu lebih cocok untuk isterimu, manager Arman!"balas El tajam.


Arman tersentak, ia pernah melihat wajah El tapi ia lupa. 


"Dasar berondong buta. Kamu pasti dipelet sama Anjani. Dasar pasangan tak tahu diri!"hardik mama Arman.


"Cukup!"teriak Anjani.


Tatakan acuhnya berubah menjadi marah.


"Kita tidak ada hubungan lagi, tolong jangan campurin urusan saya! Jika tidak jangan salahkan saya jika saya menuntut kalian! Dan ya apa Anda tahu siapa yang Anda hina tadi?"


"Dia adalah putra kedua keluarga Mahendra, Elvano!" 


Ketiga orang itu terbelalak. Rasa cemas mendominasi. 


"Ck dasar kerupuk melempem!"gumam Bella.


Ketukan palu oleh hakim disertai dengan peringatan tegas membuat suasana kembali hening.


"Maaf, Tuan Arman. Keputusan pengadilan sudah bulat. Saya rasa apa yang Anda katakan tidak sepenuhnya benar. Nyonya Anjani bukan pengangguran melainkan Presdir dari Diamond Corp. Selain itu, Anda sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga yang membuat anak Anda takut dan trauma dengan sosok seorang ayah! Semua bukti menyatakan bahwa Nyonya Anjani lebih berhak daripada Anda!"


Bagai disambar petir di siang bolong, ketiga orang itu membeku. Terdapat rasa penyesalan di sana. 


"Sidang selesai, sidang dibubarkan!"


Dengan haru, Anjani memeluk Arka yang memeluknya dengan erat.


"Selamat, Jani." Bella memberikan pelukan hangat pada Anjani.


"Thanks, Abel. Ini semua juga karenamu."


"Hahaha santai saja. Sudah ayo kita pulang. Harus ada perayaan untuk hasil sidang ini!"


Arka digendong oleh El, sementara Anjani dan Bella saling rangkul keluar dari ruang sidang. 


"Tunggu, Anjani!"panggil Arman saat Anjani hendak masuk ke dalam mobil El. Sedangkan Arka ikut bersama Bella. 


"Ada apa lagi, Mas? Bukankah semua sudah jelas? Aku rasa kita tidak ada urusan lagi," tanya Anjani datar.


"Bukan. Bukan itu, aku mau tanya bagaimana bisa kamu menjadi Presdir Diamond Corp? Kemana semua keluargamu?"


"Keluargaku hanya Arka. Dan perusahaan itu memang milikku!"tegas Anjani.


"Tolong jangan ganggu aku. Kita sudah selesai! Selamat tinggal! Assalamualaikum, Mas!" Anjani masuk ke dalam mobil tanpa menunggu balasan salamnya. El langsung melajukan mobil meninggalkan pengadilan agama disusul oleh Bella dan Arka.


"Sialan! Mengapa dia jadi kaya setelah cerai?"gumam kesal Arman.