
Tiga mobil dengan merk yang sama berjajar di depan teras kediaman Kalendra dengan sopir di sisinya masing-masing, menunggu sang pemilik datang dan naik. Tak lama kemudian dari dalam keluarga Kalendra menunjukkan rupa mereka. Ketiga sopir itu langsung membukakan pintu untuk majikan mereka. Setelah berpamitan, Leo, Louis, Helen, dan Key masuk ke dalam mobil. Putih untuk Louis, hitam milik Leo, dan biru adalah mobil Helen dan Key. Max dan Rose melambaikan tangan mereka saat mobil mulai melaju.
"Ayo, Rose." Max menggandeng tangan istrinya. Mereka masuk. Max menuju atau garasi sedangkan Rose menuju kamar. Di garasi, Max memanaskan mesin mobil mustang berwarna merah, warna kesukaan Rose.
Lima menit kemudian, Rose datang dan segera masuk. Wajah keduanya tampak cukup serius.
*
*
*
"Loh kenapa Kak Leo belok ke cafe?"heran Louis yang melihat mobil Leo di depannya belok ke sebuah cafe.
Sang sopir memberhentikan mobilnya di tepi jalan, telah di hadapan cafe. "Anda ingin bertanya langsung, Tuan Muda?"
Louis melihat Leo yang turun dengan membawa berkas. Louis lantas menggeleng, "sepertinya kak Leo ada meeting pagi dengan klien di cafe ini. Asistennya pasti akan menyusul di sini," gumam Louis. Sang sopir mengangguk dan kembali melajukan mobil. Beberapa menit kemudian mustang merah memasuki parkiran cafe.
Max dan Rose, itu mereka. Memasuki cafe dengan langkah tergesa. Tadi pagi, sebelum turun sarapan Max menerima pesan dari anak sulungnya, mengatakan ingin berbicara enam mata dengan dirinya dan Rose. Membaca hal itu, membuat keduanya yakin ada hal yang super penting yang ingin Leo sampaikan.
Keduanya masuk ke ruang VIP, di mana Leo telah menunggu dengan menikmati secangkir kopi, "hal penting apa yang mungkin kau katakan, Leo?"tanya Max seraya menarik kursi untuk sang istri.
"Silsilah keluarga, Dad." Papa muda itu meletakkan cangkir yang isinya tinggal setengah.
"Silsilah keluarga? Katakan dengan jelas," tegas Rose. Leo mengangguk, menyodorkan berkas yang dilihat oleh Louis tadi, setelah sebelumnya memanggil pelayan memesan minum untuk orang tuanya.
Max dan Rose saling bertukar pandang bingung melihat berkas yang masih terlihat bagus walau sudah berumur. "Apa ini? Dari mana kau mendapatnya?" Loe tidak menjawab.
Max segera membuka lembaran berkas dengan Rose di sisinya. Mata keduanya seketika melebar. Leo mengamati dengan jelas ekspresi orang tuanya. Sudah ia duga pasti orang tuanya tahu dengan arti berkas itu.
"Dari mana kau dapat ini?"tanya Max, menyipitkan matanya menatap selidik Leo. Ada ekspresi yang tidak terbaca oleh Leo.
"Gudang, di dalam brankas di meja paling sudut," jawab Leo rinci.
"Max bagaimana ini?" Rose bingung dan cemas.
"Apa kau mengenali wanita ini?"tanya Max memastikan.
Leo mengangguk, "aku tahu dia walau usianya sudah tua."
"Apa itu benar, Dad?"tanya Leo serius. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kebenaran berkas masa lalu yang ia temukan.
"Lancang!" Setelah mengatakan hal itu, Max menghembuskan nafas kasar. Ia memijat pelipisnya sendiri. Rahasia masa lalu yang seharusnya tetap tersimpan dapat di dalam brankas malah terbongkar oleh a anaknya sendiri. Salahnya juga yang tidak memindahkan brankas itu, atau seharusnya ia hancurkan brankas berikut berkasnya.
Namun, nasi sudah jadi bubur. Ada bukti yang kuat dan nyata di tangan Leo, putranya ini bukan orang yang mudah puas dengan jawaban yang tidak sesuai dengan bukti.
"Jadi apa yang kau pikirkan, Leo?" Rose tampak sudah menguasai dirinya. Ia menatap putra sulungnya dalam-dalam.
"Aku merasa itu benar." Mengingat sikap Max dan Rose pada Bella, seratus persen benar.
"Jadi setelah tahu hal ini apa yang akan kau lakukan? Memberi tahu adikmu atau Abel? Atau tetap diam?"tanya Max. Ia sudah pasrah hal ini diketahui oleh Leo. Toh ia sering berkata biarlah waktu yang menjawab.
"Daddy dan Mommy telah menyimpan rahasia ini selama puluhan tahun. Mana mungkin aku bisa mengatakannya begitu saja. Aku hanya ingin mengklarifikasi kebenaran ini. Dan aku senang karena dugaanku yang mati kembali hidup dan berbuah," jawab Leo, tersenyum.
"Jadi maksudmu?" Max dan Rose kembali bertukar pandang tidak percaya.
"Ya aku sempat menyelidikinya."
Max menghela nafas, mengaduk lalu meminum kopinya. "Rahasia itu luka lama keluarga kita. Tanpa ku jelaskan aku yakin kau tahu alasannya. Kesalahan fatal karena melanggar satu dari dua aturan tak tertulis keluarga kita. Bukan maksud untuk menyembunyikannya. Dan masing-masing sudah menjalani pilihan, tak ada gunanya lagi menyinggung hal itu. Aku yakin dia pun juga begitu," ungkap Max. Ia tersenyum tipis seraya menatap langit-langit.
"Kami pun sempat kaget dengan kebenaran. Tak kami sangka kami akan kembali bertemu dengannya walaupun lewat keturunannya," timpal Rose.
"Aku sungguh kasihan dengan keduanya. Tapi Dad, mengapa baru sekarang membuat rencana perjodohan untuk Louis? Apa alasannya?"
"Kau tahu?!" Rose setengah berteriak. Leo mengangguk.
"Astaga kau ini mengapa begitu cermat sih?! Awas jika kau memberitahu adikmu! Aku akan menenggelamkanmu di Spree!"ancam Rose yang terdengar mengerikan di telinga Leo. Spree adalah sungai yang melintasi Berlin, Jerman dengan panjang 400 km yang bermuara di Habel dan berakhir di laut utara.
"Benar juga. Jika kau …." Leo langsung terlonjak dari duduknya. Matanya menatap ngeri Max dan Rose yang menatapnya dengan senyum smirk.
"Ahh kalian menyeramkan! Aku bersumpah tidak akan mengatakannya pada siapapun. Aku akan menguburnya dalam-dalam. Keterlaluan! Hanya karena ini kalian ingin menamatkan riwayatku? Sungguh …!"ucap ngeri Leo.
"Dad, Mom berhentilah menatapku begitu! Aku merasa tercekik!"rengek Leo.
"Dad, Mom, aku masih muda. Punya anak dan istri. Karierku juga sangat cemerlang. Aku belum siap meninggalkan semua ini karena tahu rahasia masa lalu. Kalian tidak percaya padaku?" Wajah Leo pias sudah melihat orang tuanya malah menyeringai.
Bulir keringat mulai bercucuran. Setelah beberapa saat situasi menegangkan yang dirasakan Leo, Leo malah dibuat terperangah dengan tawa orang tuanya.
"Beraninya kau berpikiran buruk pada kami! Mana mungkin kami yang baik dan lembut ini mengantarmu bertemu dengan-Nya!"kesal Max. Matanya melotot kesal pada Leo.
"Kembalilah duduk. Kami hanya bercanda tadi," ujar Rose.
Huh!
Leo mendengus sebal. Ia duduk seraya mengelap keringatnya. "Kau sudah tahu alasannya mengapa bertanya lagi?"
"Ya mengapa baru sekarang, Mom?"
"Karena baru sekarang bisanya. Kau lihat sendirikan perubahan Louis setelah Abel hadir? Anak keras kepala, playboy itu mulai berubah karena Abel. Sebagai orang tua, tentu kami tak ingin Louis kembali seperti dulu lagi. Mabuk, main wanita, balap liar," jawab Rose.
"Kau akan tahu alasannya saat kita ke Bali nanti. Sekarang katakan padaku apa ada wanita yang dekat dengan Louis belakangan ini?"
"Sebentar aku ingat dulu."
"Teresa?" Kompak keduanya menyebutkan nama yang disebutkan oleh Leo. Mereka tentu kenal dengan Teresa.
"Berikan aku data tentangnya!"
*
*
*
"Eh kok malah ke rumah sakit? Bukankah ku bilang makan siang bukan menjenguk orang sakit?!"keluh Anjani saat turun dari mobil. Di depannya bukan cafe, restoran, rumah makan, tapi bangunan berlantai 5 dengan warna dominasi putih gading dan pilar berwarna hijau telur asin.
"Pak nggak salah alamat kan?"tanya Anjani pada sopirnya.
"Benar kok, Nona. Ini titik yang dikirimkan oleh Nona Bella."
"Mau makan di kantin rumah sakit kali, Non. Cari suasana baru," celetuk sang sopir melihat Anjani yang kebingungan.
"Kurang kerjaan kali, Pak! Ini tuh lokasinya jauh dari kantor Abel. Tadinya ku kira tempat makan dekat dengan kantornya ini malah … apa sih yang anak itu pikirkan?"sahut Anjani.
"Telpon saja Nona Bellanya, Non," saran sopirnya. Anjani langsung menepuk dahinya. Baru saja ia membuka ponsel, motor sport berwarna hitam berhenti di samping Anjani.
"ABEL!"teriak Anjani saat tahu itu adalah Bella.
"What's up, Jani?" Bella membuka helmnya.
"Jika kau tidak datang ku kira aku salah alamat."
"Kau pasti bingungkan?" Anjani mengangguk membenarkan.
"Ayo masuk. Ku jelaskan di jalan," ujar Bella. Ia turun dengan dua kantong plastik berwarna putih. Walau bingung nan penasaran, Anjani mengikuti langkah Bella.
"Hari ini Nesya kemo."
Ahhh
Anjani langsung paham. "Tumben tidak kau temani?"
"Jadwalku tidak mendukung. Hanya bisa menemaninya makan siang."
Keduanya masuk ke dalam lift dan menuju lantai 3.
"Suamimu mana? Biasanya lengket kayak perangko."
"Sidang skripsi."
Uh
Anjani langsung mengusap tengkuknya. "Kenapa?"
"Aku langsung panas dingin mengingat sidangku dulu," jawab Anjani. Bella terkekeh pelan.
Ceklek.
"Assalamualaikum," sapa Bella saat masuk ke salah satu ruangan, ruang rawat Nesya. Sementara Anjani mensejajarkan kakinya dengan Bella.
"Waalaikumsalam. Kak Abel!"balas riang Nesya yang tengah sibuk bermain ponsel dengan sipir menjaga di sofa. Sipir wanita itu langsung menyapa Bella kemudian izin keluar.
"Apa lagi yang kau tonton, Nes?"tanya Bella meletakkan bawaannya di atas nakas sedangkan Anjani berdiri kik-kuk di tempatnya. Bingung mau menyapa Nesya bagaimana.
"Forever and ever. Apa Kakak sudah menontonnya?"jawab Nesya, matanya tertuju pada Anjani yang tersenyum kaku padanya.
"Tidak ada waktu. Ponsel siapa itu?"
"Dokter Rey."
"Dokter Rey? Lalu bagaimana jika ada hal penting?"
"Tinggal panggil saja. Dia kok yang menawarkannya padaku. Hm kak dia siapa?"tanya Nesya menunjuk Anjani dengan dagunya. Kemarin Dylan, kali ini siapa?batinnya bertanya.
"Kau ingat dengan Kak Jani? Sahabat Kakak waktu SMA dulu?"tanya Bella.
"Kak Jani?" Dahi Nesya mengerut dalam-dalam. Anjani mendekat atas perintah Bella.
"Bagaimana kabarmu, Nes? Aku sudah tahu tentangmu sejak lama. Namun, baru sekarang punya waktu mengunjungimu," sapa Anjani, masih ada nada canggung di sana. Nesya tersenyum.
"Aku merasa beruntung ada yang mau menjenguk manusia kotor sepertiku ini," jawab Nesya, kecut.
"Nesya! Jangan katakan itu lagi!"tegas Bella.
Nesya hanya tersenyum. Ia kembali menatap Anjani. Matanya menyipit, "kakak bukankah dulu Kak Jani ini cupu dan lemah? Mengapa tampilannya sekarang seperti eksekutif muda?" Anjani tersenyum simpul mendengarnya. Nesya tetaplah Nesya, bicaranya kadang kurang difilter.
"Itukan dulu. Sekarang sudah hampir satu dekade bahkan sudah punya anak. Dan benar, dia adalah Presdir dari Diamond Corp. Kau tahu kan?"
"Benarkah? Sungguh? Daebak!"
"Terima kasih. Aku merasa kurang pantas menerima pujian itu," ucap Anjani merendah.
"Hm Kak Jani sudah punya anak, lalu kakak? Ah menikah saja belum. Eh tunggu, kemarin ada yang mengirim hadiah padaku setelah kakak pulang, katanya dari kakak ipar, apa itu pacar Kakak?"
"Hah? Apa katamu?" Bella terkejut dengan ucapan Nesya. Ingatannya langsung tertuju pada Ken.