
Sebuah kecelakaan pesawat baru saja menimpa pesawat boeing xxx milik maskapai penerbangan A dengan tujuan Hokkaido, Jepang. Pesawat membawa penumpang sebagai 125 orang dengan 8 awak pesawat. Pesawat hilang kontak setelah mengudara selama 15 menit dan diperkirakan meledak di udara dan jatuh ke lautan. Sampai berita ini diturunkan belum ada kepastian akan keselamatan korban. Dan dari keseluruhan penumpang, dua di antaranya adalah istri dan putri dari Bayu Utomo, pemilik Utomo Company.
"APA?!"
Teriakan Ken menggema di lantai bawah.
"Ken?" Rahayu menoleh ke arah pintu. Setelah berteriak ia membeku. Rahayu beranjak dari tempatnya menghampiri Ken yang tatapannya berubah kosong. Setetes air mata mengalir di kedua pipinya.
Sementara Bella segera mengambil dan melihat ponselnya. Breaking news yang sama seperti yang Rahayu lihat.
Pyar….
Ponsel seharga satu buah sepeda motor baru itu jatuh ke lantai. Raut wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan. Mereka baru melakukan perpisahan beberapa waktu lalu dan sekarang? Kabar duka, perpisahan untuk selamanya? Rasanya tidak bisa dipercayakan. Sayonara, sialan! Itu benar-benar ucapan perpisahan. Bella menutup matanya sambil menyeka sudut mata yang berair. Saat membuka mata, matanya memerah, menyusul Ken dan Rahayu yang sudah duduk di sofa.
"Ken," panggil Bella menyentuh pundak Ken.
"Aru." Ken membalas dengan memeluk Bella. Air matanya tumpah. Tidak. Ken bukannya cengeng, hanya saja … kenangan indah, seseorang yang pernah mengisi dan menguasai hati, saat pergi untuk selamanya, mustahil untuk tidak menangis. Tidak peduli bagaimana karakternya, pasti akan meneteskan air mata. Hal itu juga berlaku pada Ken. Bella saja, yang sempat berselisih merasa sedih, apalagi Ken. Bukan hanya Ken, Rahayu ikut sangat sedih. Bagaimana tidak? Clara itu sahabatnya dan Cia, sebelum keluarga ini berselisih yang menciptakan kerenggangan, Rahayu menganggap Cia sebagai putrinya.
Tak lama kemudian, Brian dan Silvia tiba di kediaman. Mereka berdua tidak bertanya mengapa Rahayu, Ken, dan Bella tampak begitu sedih karena mereka sudah mengetahui kabar kecelakaan pesawat itu. Lagipula televisi masih menyiarkan breaking news. Ada live kondisi terkini di bandara, di mana banyak keluarga korban mendatangi pusat informasi yang baru saja dibentuk.
Brian dan Silvia mengambil tempat dan menunggui Rahayu dan Ken tenang. Jika diperhatikan dari sejak masuk, keduanya bergandengan tangan. Perubahan lagi. Biasanya, mereka hanya berjalan berdampingan. Jika ada yang mengira hubungan Brian dan Silvia akan merenggang karena Brian sebelumnya melakukan vasektomi. Silvia yang awam dengan istilah itu tentu saja langsung mencari tahu apa itu vasektomi setelah Brian menanyakan apakah ia tahu apa itu vasektomi.
Vasektomi adalah sebuah cara KB untuk pria dengan cara memutus saluran vas deferens yang menyebabkan ****** tidak bisa keluar. Hal itu tentu saja dilakukan atau dengan tujuan untuk mencegah kehamilan. Biasanya dilakukan oleh pasangan yang benar-benar mantap untuk tidak memiliki anak lagi.
Kaget? Tentu saja! Jika tidak bisa punya anak, lantas bagaimana cara mereka menyambung keturunan? Lalu apa alasan Brian melakukan vasektomi? Dia Tuan Muda yang berada. Putra sulung yang tentu saja keluarga berharap keturunan darinya. Rasa putus asa menguasai hati Silvia saat itu. Harapan cairan yang bersarang di rahimnya menjadi segumpal darah, pupus sudah. Tulang-tulangnya serasa lemas. Matanya berembun, kecewa pada Brian.
Jika begitu mengapa Brian melamar dan menikahinya? Apa tujuan dari pernikahan mereka sebenarnya apa? Pernikahan dingin selama dua tahun, menanti kepastian, dan setelah mengecap indahnya rumah tangga, Brian menjatuhkannya dengan sangat keras.
Akan tetapi, Brian menambahkan bahwa ia sudah mengembalikan fungsi alat vitalnya sebagaimana mestinya yaitu untuk sistem reproduksi.
Ingat kembali saat Brian mengatakan sebelumnya aku melakukan operasi vasektomi dan saat Brian berkata dalam hati, menghindar lagi. Lagipula aku sudah kembali mendapatkannya!
Meskipun merupakan kontrasepsi mantap atau kontrasepsi permanen, tetapi saluran vas deferens yang dipotong pada tindakan vasektomi dapat kembali disambung dengan metode operasi.
Metode ini bisa dilakukan tetapi tingkat keberhasilannya ditentukan dari beberapa faktor, seperti lama jarak dari dilakukannya vasektomi ke penyambungan kembali, ada tidaknya gangguan atau penyakit penyerta lain. Lalu faktor Usia saat dilakukan vasektomi dan saat dilakukan penyambungan kembali.
Yang keempat adalah kondisi testis dan juga ****** dan terakhir status gizi.
Beberapa bulan lalu, Brian memutuskan untuk menyambungkan kembali apa dipotong saat operasi vasektomi. Alasannya karena untuk menjadi Presdir, harus memiliki seorang anak. Lalu mengapa baru sekarang Brian melakukan tugasnya?
Ya tentu saja menunggu operasi penyambungannya sudah benar-benar sembuh.
Lalu alasannya Brian melakukan vasektomi, Brian belum menjawabnya dan Silvia cukup dengan fakta bahwa Brian sudah benar-benar pria yang akan menanamkan keturunan di rahimnya.
Keluarga tinggal menunggu kabar baik akan kehamilan Bella dan Silvia.
Tak
Tak
Tak
Suara langkah kaki menuruni tangga membuat perhatian beralih ke anak tangga. Surya diikuti Brian tiba di anak tangga terakhir.
"Mengapa kalian menangis?" Dylan baru keluar dari kamar, kebetulan berpapasan dengan Surya yang baru turun dari ruang kerjanya di lantai tiga. Makanya keduanya turun bersamaan.
Silvia menjawab dengan menunjuk televisi. Dylan terkesiap mendengar dan melihat yang disiarkan channel televisi.
"Mas." Rahayu masuk dalam pelukan Surya. Dari raut wajahnya, Surya tentu saja sudah mengetahuinya.
"Kirim orang kita untuk membantu pencarian. Lakukan dengan maksimal!"titah Surya tegas.
"Baik, Pa!" Brian dan Bella menjawab tanpa ragu dan berpikir lagi. Keduanya tahu dan paham, terlepas dari perselisihan yang telah usai, keluarga Utomo adalah sahabat keluarga Mahendra.
*
*
*
Duka menyelimuti keluarga Utomo. Ucapan dan kunjungan belasungkawa sejak diketahui Nyonya dan Nona Utomo menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat itu.
Rumah duka ramai dengan papan bunga ucapan duka cita.
Dengan serpihan pesawat yang ditemukan, sama seperti kecelakaan pesawat yang meledak dan jatuh ke lautan yang kecil kemungkinan untuk selamat, membuat keluarga tidak berharap banyak.
Hanya saja, mengapa cara perginya harus seperti itu?
Kematian memanglah hal yang mutlak untuk setiap yang bernyawa. Tapi, mengapa harus seperti ini?
Perpisahan di bandara benar-benar perpisahan terakhir. Pelukan terakhir. Senyuman terakhir. Pertemuan terakhir. Sungguh ironis.
Bahkan di saat raga sudah tidak bernyawa, keluarga tidak bisa memberikan penghormatan terakhir sebagaimana biasanya. Bahkan raga saja tidak diketahui di mana rimbanya.
Sejak kabar kecelakaan diturunkan, Bayu bagai kehilangan separuh nyawanya. Ia bagaikan mayat hidup. Hati dan pikirannya terguncang hebat.
Anggara dan Angkasa masih lebih tegar lagi. Walau hati mereka terguncang hebat akibat kepergian Clara dan Cia yang tidak pernah mereka duga-duga dan tidak ada dalam benak mereka akan secepat itu.
Hati keduanya begitu sedih. Tapi, jika mereka tenggelam dalam kesedihan juga, mau siapa yang akan menegarkan Papa mereka? Mereka tinggal bertiga, harus saling menguatkan. Segala daya upaya dikerahkan. Bantuan dari keluarga Mahendra bisa dikatakan sangat besar. Namun, hasil yang diharapkan tidak kunjung didapatkan.
"Pa," panggil Angkasa lembut pada Bayu yang menatap kosong taman saat di pagi hari. Bayu bergeming.
"Papa sarapan dulu, ya. Tadi malam Papa kan nggak makan apapun," ujar Angkasa penuh perhatian. Lagi, Bayu tetap bergeming. Sudut matanya berair. Bayu sedang teringat masa saat Clara yang membawakan dan membujuknya untuk sarapan. Sama seperti yang tengah Angkasa lakukan.
"Pa, jangan nangis, Akas minta Papa sarapan bukan nangis," ucap Angkasa dengan menahan tangis. Matanya memanas, hatinya bergemuruh sedih. Rasanya sesak. Cobaan keluarganya begitu besar.
Tidak sanggup. Angkasa tidak kuasa lagi untuk tegar di depan Bayu. Angkasa bersimpuh dan menyandarkan kepalanya pada paha Bayu. "Jika Papa begini, Mama dan Kak Cia pasti sangat sedih dan nggak bakal tenang di sana," isak Angkasa.
"Jika Papa tenggelam dalam kesedihan begini, memendamnya sendiri, bagaimana dengan kami, Pa? Akas dan Angga juga sedih. Kami kehilangan seorang ibu dan kakak. Kami hanya punya Papa sekarang!"lirih Angkasa. Pandangan Bayu tetap lurus ke depan, berubah sayu. Tangannya bergerak mengusap rambut putra bungusnya. Bibirnya masih terkatup rapat.
Bayu memejamkan matanya, bibirnya terbuka, "Papa tidak sanggup, Akas," ucap lemah Bayu. Bayu kehilangan separuhnya, ia begitu rapuh. Dan ucapan Bayu itu seketika menyulut emosi Angkasa. Angkasa berdiri, mundur beberapa langkah. Wajahnya begitu kesal, sisa-sisa air mata ia hapus kasar.
"Papa pikir aku dan Angga sanggup? Kami belum siap, Pa! Kami tidak sanggup. Tapi, apa kita harus tenggelam dalam ketidaksanggupan itu? Papa yang mengatakan kita harus menerima takdir. Tapi, Papa sendiri! Jika Papa tidak kuat, bagaimana kita bisa kuat? Atau kita menyusul Mama dan Kak Cia saja?!"
Bayu menatap putranya. Putus asa dan kesedihan yang tercetak jelas di wajah Angkasa menyadarkan Bayu. "Tidak!"jawabnya.
Bunuh diri? Itu konyol dan Bayu hampir melakukannya.
"Maafkan Papa." Bayu berdiri dan memeluk putranya. Angkasa langsung menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan Papa, Nak," ucap Bayu lagi.
"Maafkan Mas, Clara. Maafkan Papa, Cia," ucap Bayu dengan melihat langit.
*
*
*
Seminggu sudah pencarian dilakukan. Namun, tak ada satu korban pun yang ditemukan. Puing-puing pesawat pun tidak ditemukan lagi. Seakan ditekan oleh dalamnya lautan. Pencarian untuk korban dihentikan genap setelah seminggu. Penumpang dan awak pesawat dinyatakan tewas semua.
Pencarian masih diakukan untuk menemukan kotak hitam pesawat. Keluarga korban mau tak mau harus merelakan dan mengikhlaskan kepergian keluarga mereka yang turut menjadi korban kecelakaan pesawat.
Di hari kedelapan setelah kecelakaan keluarga korban berkumpul di tepi pantai yang merupakan tepian dari laut yang menelan keluarga mereka. Mereka membawa lentera dan bunga mawar putih sebagai penghormatan terakhir untuk para korban.
Acara itu tidak hanya diikuti oleh keluarga korban tetapi juga diikuti oleh sanak saudara, perwakilan pemilik maskapai penerbangan, perwakilan dari pihak bandara, tim sar, dan ulama untuk memimpin doa untuk para korban.
Pakaian mereka serba hitam. Tepi pantai terlihat terang di malam hari akibat lentera dan flash yang dihidupkan.
Di antara mereka, keluarga Mahendra ada di dalamnya. Ken dan Bella melepaskan lentera ke langit, begitu juga dengan yang lainnya. Dalam hati meramalkan doa agar para korban tenang di alam sana.
Damai dan tenanglah di sana. Jika Allah berkehendak, jika seandainya di dunia mereka tidak ditakdirkan untuk bersama, mungkin Allah menyiapkan rencana yang lain. Mungkin, kelak Cia akan menjadi bidadari Ken bersama dengan Bella.
Selamat jalan, Cia dan Clara. Terima kasih telah mengisi cerita ini dengan peran kalian. Terima kasih telah pernah menjadi bagian dari kisah Ken. Terima kasih telah pernah memberi warna untuk Ken. Allah menyayangimu dengan cara begini. Sebaik-baiknya takdir, adalah kehendak yang Kuasa. Ia lebih tahu, apa yang terbaik untuk mahkluknya karena ia Sang Maha Tahu.
Dan dalam dunia pernovelan, inilah definisi tokoh yang berencana, author yang menentukan.