This Is Our Love

This Is Our Love
Kediaman Desya



Ken menceritakan apa yang sebenarnya terjadi secara runtut. Ken sudah menceritakan hubungan Bella dengan Tuan Adam. Tentu saja kedua hal itu membuat Surya dan Rahayu terkejut. Tak lupa Ken juga memberitahu jika Brian dan Silvia sudah tahu akan Bella yang merupakan pewaris Tuan Williams. Cerita Ken didukung oleh Tuan Adam. Ia juga turut andil. 


Terkejut, rasa kagum bercampur cemas. Yang pasti, pikiran mereka kini bulat, secepatnya menemukan Bella. 


"Hiks … hiks bagaimana dan di mana sekarang Abel? Mongolia itu jauh. Kita tidak tahu siapa penculiknya. Abel juga tengah hamil. Bagaimana jika … jika …." Pikiran negatif tetap tidak bisa dilupakan. Rahayu tergugu dalam pelukan Surya. Surya tidak banyak berkomentar. 


"Percayalah, Nyonya Rahayu. Nona akan baik-baik saja," ucap Tuan Adam dengan penuh keyakinan. 


"Aku seorang ibu … bagaimana aku tenang saat putriku entah di mana dan bagaimana kabarnya? Mas … cepat temukan dan selamat Abel!" Rahayu memegang kerah kemeja Surya. 


"Tenanglah, Yu. Calm down. Mas sudah memerintahkan tim terbaik untuk terbang ke Mongolia juga. Okay …." Surya mendaratkan kecupan lembut di dahi Rahayu. 


Rahayu mengangguk lemah. "Tidurlah. Ini sudah malam. Jika sudah tiba nanti, Mas akan membangunkanmu," ujar Surya. Meminta Rahayu untuk tidur di kamar. Rahayu menurut. 


"Kau juga, Ken. Papa tahu kau sangat cemas. Tapi, kau harus tetap fit untuk bisa mencari Abel," titah Surya.


"Aku tidak bisa tidur, Pa," jawab Ken. Sungguh … matanya sangat sulit untuk terpejam. Benaknya selalu berputar akan di mana dan bagaimana Bella sekarang. 


"Tidurlah. Kita akan segera menemukan Abel. Abel juga tidak mau melihatmu seperti ini. Setidaknya baringkan saja tubuhmu," bujuk Surya lagi. Penampilan Ken bisa dikatakan berantakan. Wajahnya sungguh tidak bersemangat. Gurat-gurat kecemasan tidak lepas darinya.


"Benar, Tuan. Sebagai seorang suami, tentu Anda paham karakter Nona," timpal Tuan Adam. Ken terdiam. Matanya kemudian terpejam.


Jangan panik, tetap tenang. Selesaikan dengan kepala dingin. Jangan terbelenggu dan tercebur dalam kekalutan. Karena kalau kalut sudah menguasai hati maka sulit untuk berpikir jernih apalagi mendapatkan ketenangan hati. Jika kegusaran dan kekalutan itu tidak kunjung reda juga, ada Tuhan. Rukuk dan bersujudlah kepada-Nya. Mudah-mudahan ketenangan hati itu bisa didapatkan. Ken … aku tidak akan pernah jauh darimu. Karena aku ada di sini … di dalam hatiku. Begitu juga sebaliknya. Kita dua raga satu jiwa. Jika kau sakit atau dalam bahaya aku bisa merasakannya. Dan sebaliknya. Kecuali, jika aku tidak ada di dalam hatimu.


Kau ada di dalam hatiku, Aru. You are the owner of my heart!


Ken membuka matanya. Tatapannya sudah sedikit berubah. Sudah ada ketenangan di dalamnya. 


"Aku akan ke kamar," pamit Ken. Surya dan Tuan Adam mengangguk. Ken beranjak. Di kamar, Ken tidak tidur melainkan membaca ayat suci al-Qur'an agar reda kecemasan dan kekalutannya. 


Di ruangnya, Surya dan Tuan Adam berbincang. "Kemungkinan besar adalah mafia. Saya sudah mencari tahu mafia mana saja yang punya pengaruh dan kekuasaan besar di Rusia. Kami juga tengah mencocokkan nomor pesawat dengan aset masing-masing mafia tersebut. Namun, sepertinya itu akan butuh waktu karena … Anda tahu, mafia bukan lawan yang mudah. Mereka punya keahlian. Markas mereka tidak mudah untuk ditemukan," terang Tuan Adam. 


Surya mengangguk kecil. Ia paham duduk masalahnya. Mafia? Yes, lawan mereka adalah mafia yang belum diketahui identitasnya. Bagaimana kekuatannya? 


"Saya sudah menurunkan tim terbaik. Saya dengar juga jika Tuan Williams punya tim elite sendiri … apa Anda menurunkan mereka?"


"Off course! Itu bentukan Nona, tentu saja mereka turun," jawab Tuan Adam.


"Bandara itu … boleh saya lihat lokasinya?"tanya Surya. Tuan Anda mengambil tabletnya kemudian menunjukkan foto bandara.


"Bandara swasta?"terka Surya. 


"Benar. Itu memang bandara swasta."


"Sepertinya kita benar-benar menemukan lawan yang sulit," ucap Surya. 


"Anda benar!" 


*


*


*


Sebuah mobil memasuki sebuah gerbang yang terbuka lebar. Setelah mobil tersebut masuk gerbang tinggi itu kembali tertutup. Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah. Pengemudi mobil tersebut turun, seorang wanita yang tidak lain adalah Irene. 


Irene membuka pintu bagian Desya. Tuannya masih tidur. "Tuan, kita sudah tiba," panggil Irene pelan seraya menepuk lembut bahu Desya. 


Dalam sekali panggilan dan tepuk Desya sudah bangun. Pria itu mengerjap beberapa kali kemudian melihat keluar. Tanpa sepatah kata, Desya langsung turun sementara Irene membereskan membawa tas kerja Desya.


Desya membuka pintu mobil bagian Bella. Bella sendiri terlelap dalam tidurnya. Wajah Bella yang polos, dan begitu nyenyak, membuat Desya tersenyum lembut. Irene tercengang sesaat. Namun, kembali ia mengingat saat berinteraksi dengan Bella di pesawat, telah telah banyak tersenyum.


"Kamarnya sudah disiapkan, bukan?" Desya menatap Irene. 


"Sudah, Tuan," jawab Irene. 


Desya kemudian merunduk. Tebak yang ia lakukan. 


Desya menggendong Bella. Entah karena ia menggendong Bella dengan lembut atau karena Bella yang terlalu nyenyak, Bella tidak terbangun karenanya. 


Kepala Bella bersandar pada dada Desya. Dadanya bidang. Desya melangkah memasuki kediaman. Ini bukan sebuah mansion, ini sebuah istana. Saat memasuki bangunan, ada lorong yang cukup panjang, sekitar 25 meter. 


Lorong itu sangat indah. Dindingnya dilukis dengan mozaik atau pecahan keramik. Begitu juga dengan lantai yang membentuk pola. Polanya adalah mawar. Ya, pola mozaik itu adalah setangkai mawar berwarna hitam. Hitam? Itu kesan yang misterius.


Bagaimana dengan dinding! Itu mozaik rumpun mawar. Seperti taman mawar berwarna hitam. 


Saat tiba di ujung lorong, Desya berbelok ke kanan. Istana ini terdiri atas empat bangunan. Dengan sisi pusat berdiri sebuah tiang dan di sana berkibar sebuah bendera dengan lambang mawar hitam. Sepertinya lambang mafia ini adalah mawar hitam sebab di laptop dan pesawat Desya juga tertera lambang tersebut. 


"Tuan, Anda sudah kembali?" Seorang pria paruh baya menyapa. Sepertinya dia adalah kepala pelayan di istana ini. Desya mengangguk singkat. 


"Wanita ini?" Kepala Pelayan itu menatap Bella yang masih tidur dengan mata tertutup sehelai kain. 


"Dia adalah pendampingku," ucap Desya sebelum melanjutkan langkahnya. Kepala pelayan tersebut tertegun. Ia kemudian menatap Irene yang belum melangkah menyusul Tuannya.


"Apa maksud Tuan? Wanita itu mendampinginya? Wanita itu wanita asing bukan? Di mana Tuan menemukannya?"tanya kepala pelayan kepada Irene. Irene menggeleng. 


"Sepertinya akan terjadi perubahan besar istana ini," ucap Irene sebelum melangkah menyusul Desya. 


Kepala pelayan tersebut mengeryit. Apa maksud ucapan pengawal pribadi Desya itu?  Akan terjadi perubahan besar?


Bukan dirinya saja, setiap yang berpapasan dan melihat Desya menggendong Bella, hati mereka juga diliputi dengan rasa terkejut dan penasaran.


 Irene membuka sebuah pintu kamar. Desya melangkah masuk. Kamar yang luas nan mewah. Ranjang ukuran king size yang dilengkapi dengan kelambu. 


Suasana kamar begitu lembut dan menenangkan dengan perpaduan warna coklat dan lilac. 


Lilac atau warna ungu identik dengan kemewahan harus para bangsawan. Dipadukan dengan warna coklat yang mematikan menenangkan. Suasana kamar lebih kontras lagi dengan pencahayaan yang lembut. 


Desya membaringkan Bella dengan pelan dan hati-hati di ranjang. Sebelum menarik selimut untuk Bella, Desya lebih dulu membuka penutup mata Bella. 


"Kau temani dia," titah Desya. 


"Tapi, Tuan … bagaimana dengan Anda?" Irene tampak ragu. 


"Mengapa? Apa yang kau takutkan? Kita sudah di rumah," tanya Desya. Bibirnya tersenyum tipis.


"Rumah?" Irene bergumam. 


"Aku baik-baik saja. Aku akan melanjutkan tidurku," lanjut Desya. 


"Mengapa tidak tidur di sini saja, Tuan? Ranjang ini lebih dari cukup untuk Anda berdua." 


"Apa kau kira aku tidak mendengar percakapan kalian tadi?"


 Irena terkesiap. Ternyata Desya mendengar percakapannya dengan Bella sebelum Bella tertidur.


"Sudahlah kau tinggal di sini. Aku akan keluar," tukas Desya kemudian keluar dari kamar ini. 


"Apa Tuan mengerti apa yang disampaikan oleh Nona?"gumam Irene. 


Ia lantas menatap Bella sejenak sebelum duduk di sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya. Namun, Irene tidak bisa meminjamkan matanya. 


Ia khawatir dengan Tuannya. Namun, ia harus mematuhi perintah. 


"Ah sial!" Irene langsung bangun dan meninggalkan kamar. 


*


*


*


Desya membuka sebuah pintu kamar dan masuk ke dalam. Itu adalah kameranya. Kamar dengan nuansa gelap, didominasi warna hitam.


"Tuan kau sudah kembali?" Suara seorang wanita yang nada menggoda dan sedikit serak menyapa pendengaran Desya. 


Desya mengeryitkan dahinya. Ia tampak tidak suka. Wanita itu berada di ranjangnya dan mereka terhalang oleh kalambu ranjang. Desya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Siapa yang mengijinkan mau masuk ke dalam kamarku?"tanya Desya dingin.


"Apa aku butuh izin untuk masuk ke kamar suamiku sendiri?"balas wanita itu diikuti dengan sepasang kaki turun dari ranjang. Kaki yang begitu mulus dan indah. Jari yang lentik, rambut pirang bergelombang, dan seksi. Ia mengenakan lingerie berwarna hitam yang tampak transparan. 


"Aku merindukanmu," ucap wanita itu, mendekati Desya dengan tatapan sayu. 


"Kami juga merindukanmu, Tuan." God! Ternyata tidak hanya satu, melainkan ada dua orang lain. Semua mengenakan lingerie yang seksi, menunjukkan lekuk tubuh mereka. 


"Enyah sebelum aku melempar kalian keluar!!"ucap Desya dingin. Tatapannya tajam. 


"Hm? Ada apa denganmu, Tuan? Mengapa kau tampak berbeda?" Ketiga wanita itu menatap tanya Desya.


"Kau sudah meninggalkan istana hampir sebulan. Apa kau tidak merindukan kami? Apa Anda tidak merindukan kehangatan istri-istrimu ini, Tuan?" Seorang wanita yang mengenakan lingerie merah tergugu. 


"Aku lelah. Tidak ada waktu untuk kalian! Keluar!" Desya menunjuk pintu.


"Lancang! Apa yang kalian lakukan?!"seru Irene. 


"Tidak ada yang diizinkan masuk ke kamar Tuan. Bahkan saat kalian bersama! Cepat keluar!" Irene sepertinya marah besar. 


"Tidak!" Desya mengangkat tangannya. 


"Karena kalian suka kamar in, silakan tinggal di sini!" Desya berbalik dan melangkah keluar.


"****! Dasar wanita tidak taat aturan!"maki Irene pada ketiga wanita itu.


"Kau hanya pelayan, Irene. Kami adalah wanita Tuanmu!"sengit wanita lingerie hitam.


"Memangnya kenapa jika aku adalah pelayan? Akulah yang mengatur keperluan Tuan. Aku juga yang ada di sisinya kemanapun dia pergi! Jangan bandingkan posisiku dan posisimu karena kita jauh berbeda!" Irene menunjuk dengan telunjuknya.


"Jangan lancang lagi atau aku tidak segan mematahkan kaki kalian!"ancam Irene sebelum menyusul Desya.


Ada apa dengan mereka? Itu yang menjadi pertanyaan ketiga wanita itu. 


"Tuan, Anda akan tidur di ruang kerja?"tanya Irene setelah menyusul langkah Desya.


"Tidak."


"Lantas?"