
Saat senja tiba, Bella keluar lengkap dengan jaket hitam, ransel di punggung serta helm di tangan. Mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang ramai lancar dengan goresan jingga di langit sebagai pelipur lara.
Tak butuh waktu lama, Bella berhenti di depan sebuah counter ponsel. Melangkah masuk yang segera disambut oleh pegawai counter.
"Ada yang bisa dibantu, Mbak?"tanya pegawai itu ramah. Bella mengeluarkan sebuah ponsel dari ranselnya.
"Tolong buka kunci sandi ponsel ini," ucap Bella menyodorkan ponsel di tangan pada pegawai.
Sudah Bella prediksi, tatapan pegawai itu curiga pada Bella, terlebih dengan outfit serba hitam yang Bella kenalan. Bella tersenyum manis.
"Ini ponsel adik saya. Hanya saja adik saya sedang sakit karena kecelakaan. Saya curiga kecelakaan adik saya tidak murni dan ponsel ini bisa jadi salah satu petunjuknya. Jadi mohon bantuannya ya, Mbak!"jelas Bella dengan sedikit penekanan.
Pegawai itu mengangguk paham, tersenyum malu karena hampir berburuk sangka.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Mbak. Silakan duduk dulu, Mbak," ujar Pegawai. Bella mengangguk dan duduk.
Langkah pertama adalah mencari tahu siapa kekasih Nesya, kemudian bertemu dan meminta pertanggung jawaban secara langsung. Ah tidak, bukan tanggung jawab untuk menikah karena Bella tidak akan pernah merestui adiknya menikah dengan seorang berandalan. Ya tentu saja pria berandalan. Jika pria baik-baik mana mungkin Nesya semakin terjerumus ke dalam? Hm tunggu dulu, sepertinya ada yang sesuatu yang Bella lupakan.
Bella memejamkan matanya mengingat. Terbongkarnya Nesya sebagai seorang bandar, terungkap setelah polisi melakukan penyelidikan lebih lanjut atas Nesya. Dan yang Bella ketahui, Nesya ada komplotan lagi yang kini diburu. Tapi Bella tidak terlalu peduli dengan komplotan itu, ia hanya tahu nama salah satu dari mereka. Yang ia pedulikan hanyalah adiknya seorang.
Tertangkap atau belum, Bella juga tidak tahu. Apakah komplotan itu memang kekasih Nesya atau bukan, akan terbuka setelah sandi ponsel Nesya terbuka.
Suara azan membuyarkan ingatan Bella.
"Mbak, ponsel Anda sudah selesai. Silahkan dilihat." Pegawai tersebut melambai pada Bella. Bella segera mendekat.
Melihat ponsel Bella yang sudah menyala dan terbuka dengan wallpaper bertema gelap. Hati Bella terenyuh melihat hal itu.
Tak berselang lama kemudian, ragam notifikasi memenuhi jendela ponsel. Bella sampai malu karena suaranya notifikasi yang keras dan tak kunjung berhenti mengangguk penghuni counter. Saat mode diam diaktifkan barulah ponsel tersebut diam walaupun notifikasi belum juga berhenti.
"Hehe maaf ya, Mbak," ucap Bella malu.
"Iya nggak papa kok, Mbak. Gimana Mbak, aman kan?"
"Aman, Mbak."
Bella melangkah keluar setelah membayar dan mengucapkan terima kasih. Bella tersenyum misterius kala sebuah rencana sudah tersusun rapi di otaknya.
Sebelum melancarkan rencananya, Bella lebih dulu rukuk dan sujud kepada Sang Pencipta.
Kini ia tengah berada di sebuah warung makan kaki lima. Ayam penyet dan nasi uduk menjadi menu makan malamnya. Segelas teh manis hangat menemani malam yang dingin.
Dan prediksinya ada yang tepat. Kekasih Nesya yang bernama Reyhan Budiono adalah komplotan Nesya juga. Dilihat dari kegiatan mereka berbalas pesan, Bella simpulkan bahwa kekasih Nesya itu masih aman dan belum tahu bahwa Nesya sudah ditahan. Maklum saja, penahanan Nesya memang tidak diumbar ke publik.
Sebuah rencana lagi, melengkapi rencana yang telah ia buat. Bella tersenyum smirk membayangkan jalannya rencananya.
Sembari menikmati daun kemangi sebagai lalapan, Bella menghubungi orang BNN, orang yang menghubunginya tadi pagi.
"Selamat malam, Pak."
"Malam, Nona Bella. Ada apa ya malam-malam begini menghubungi saya?" Bella suka dengan orang yang to the point.
"Sebelumnya maaf mengganggu waktu Bapak. Hanya saja ada yang penting yang harus saya sampaikan kepada Bapak."
"Hal penting apa ya?"
"Tentang komplotan adik saya!"jawab Bella penuh penekanan.
"Komplotan adik Anda? Apa yang Anda ketahui? Ah tidak begini saja, saya akan menemui Anda. Hal sepenting ini tidak nyaman dibicarakan lewat telepon," ujarnya dengan nada serius juga senang.
Bella mendengus senyum.
"Baiklah kalau begitu. Saya ada di warung makan ayam penyet surabaya di jalan xxxxx."
"Saya segera meluncur." Panggilan terputus.
Bella kembali melanjutkan makannya.
*
*
*
"Apa yang Anda ketahui, Nona Bella?"
"Komplotan adik saya adalah kekasih adik saya, Reyhan Budiono bukan?"
"Benar! Benar sekali!"jawabnya serius.
"Tapi bagaimana bisa Anda tahu?"
"Dari ponsel adik saya. Silakan cek sendiri, Anda akan tahu lebih banyak!" Bella menyerahkan ponsel Nesya pada Pak Gio.
Pak Gio menerima dan segera memeriksanya. Senyumnya mengembang lebar, kasus kali ini akan cepat tuntas.
"Tapi menurut chat yang terakhir kali, apakah ini Anda yang membuat janji temu dengan mereka?"
"Haha mana mungkin adik saya, Pak," sahut Bella tertawa kecil.
"Senang rasanya bisa bekerja sama dengan Anda." Pak Gio tersenyum tulus. Bella hanya tersenyum tipis, pujian yang sudah biasa ia dengar.
"Seperti yang Anda ketahui, bahwa kami akan melakukan pertemuan di Star Club. Mohon instruksikan anggota Anda seperti yang saya instruksikan."
"Star Club? Aneh sekali," heran Pak Gio.
"Aneh?"
"Kami sudah sering melakukan razia di sana, hanya saja tidak pernah ada yang tertangkap. Semua negatif dan bersih dari narkoba."
"Hm sepertinya memang ada rahasia di club tersenyum."
Pengalaman menjadi seorang GM di luar negeri yang sudah sering berhadapan dengan berbagai macam tipe manusia, juga kondisi, membuat Bella langsung menebak apa yang ada di club tersebut.
"Entahlah." Pak Gio minum teh di depannya.
"Eh? Pak itu minum saya!"ucap Bella dengan mata terbelalak.
"Ah? Astaga!" Pak Gio terkejut dan langsung tersipu malu.
"Maaf. Maaf Nona, saya benar-benar tidak sengaja!" Pak Gio terus melontarkan ucapan maaf. Bella jengah, "tidak masalah."
Itu ciuman tak langsung bukan? Telinga Bella terasa panas, menetralkan hatinya yang malu.
"Begini saja, sebagai permintaan maaf saya, makan malam Anda biar saya yang membayarnya," ujar Pak Gio dengan raut wajah yang masih tidak enak Bella.
"Hm, boleh." Malas membahas lebih jauh, Bella langsung menyetujui.
"Dan Nona, bisakah saya memanggil Anda tanpa embel-embel Nona? Anda juga bisa memanggil saya tanpa awalan Pak. Rasanya kurang nyaman berbicara formal padahal kita seukuran," tawar Pak Gio. Bella menyipitkan matanya. Pak Gio, bukanlah pria berumur melainkan seorang pria yang usianya Bella prediksi tak jauh darinya.
"Hm."
"Saya anggap Anda setuju." Gio mengulurkan tangannya. Bella membalas jabatan tangan itu, tersenyum tipis. Sesaat kemudian, Bella dan Gio membahas rencana lebih lanjut, hingga tak terasa sudah lewat waktu isya.
"By the way Bella, mengapa kamu sangat berniat untuk menemui orang itu?"tanya Gio saat mereka telah berada di atas motor masing-masing.
"Menagih hutang!" jawab Bella, langsung memakai helm nya dan melaju pergi.
Wanita tegas yang punya pendirian. Benar-benar sempurna. Andai saja aku tidak dijodohkan pasti aku sudah memepetnya, batin Gio, tersenyum kecut.
*
*
*