
Tepat pukul 18.00, Ken membangunkan Bella. Bella terbangun karena panggilan berulang dari Ken. Dengan hati-hati Bella berusaha untuk duduk. Wajahnya kusam khas bangun tidur. Bella membersihkan sudut matanya barangkali ada kotoran yang tercipta.
"Jam berapa sekarang?"tanya Bella serak. Kini ia memijat bagian di antara dua alisnya.
"Jam 18.05. Apa kau merasa kurang nyaman, Aru?"
"Hanya sedikit pusing. Biasa efek tidur sore," jawab Bella, beberapa kali menggelengkan kepala mengusir rasa pusing yang menyerangnya.
"Sungguh?"
"Hm." Bella menghela nafas sesaat sebelum berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Ken menatap sendu Bella. Tatapan dan langkah yang tidak berubah walaupun tertatih sembari memegang pinggang.
No. Jangan meremehkan dirimu sendiri, Ken!
Ken menggeleng mengusir opininya yang jelas tidak disukai oleh Bella.
*
*
*
Sekitar pukul 20.00, Surya, Rahayu, Brian, dan Silvia tiba di rumah sakit untuk melihat Ken dan Bella. Keempatnya tidak terlalu lama di rumah sakit. Hanya sekitar satu jam-an, mereka sudah pulang. Meninggalkan Ken dan Bella bersama dengan makanan yang mereka bawa.
Ken sudah merebahkan tubuhnya. Sedangkan Bella masih duduk di atas sofa, menonton drama china sembari menikmati sebatang coklat ukuran kecil.
Di atas ranjangnya, Ken memcembik kesal. Istrinya itu ia anggap terlalu tenggelam dalam menonton sampai tidak menoleh sedikitpun padanya. Beragam kode sudah ia berikan, mulai dari batuk, bersenandung, hingga pura-pura kesakitan sama sekali tidak digubris.
"Ck Aru!" Akhirnya Ken berseru pada Bella. Bella yang baru menuntaskan satu episode melirik sekilas kemudian menutup laptopnya.
"Aku ingat kok, sebentar!" Bella beranjak dan duduk di kursi samping ranjang. Wajah kusut Ken berbaring terbalik dengan Bella yang mengukir senyum manis.
Bella meraih ponselnya yang berada di atas nakas, bersebelahan dengan ponsel Ken.
"Kata sandiku dalam bahasa Jerman jadi aku harap kau ingat baik-baik susunan hurufnya," ujar Bella.
"Mengapa tidak sandi pin atau pola saja? Lebih mudah ketimbang harus mengetik kata yang ribet," dengus Ken.
"Untuk ponsel zaman sekarang, baik sandi angka, pin, atau pola fungsinya bisa dikatakan hanya sebagai pelengkap, why? Karena sudah ada teknologi sandi wajah dan sidik jari. Tinggal arahkan wajah dengan ekspresi sandi sudah terbuka, nggak perlu repot lagi mengetik dan mempola sandi," ucap Bella kemudian menyembutkan sandi ponselnya. Ken yang tidak mengerti dengan apa yang Bella ucapkan hanya diam menatap polos Bella.
"Kalau begitu aku catat saja di ponselmu." Bella meletakkan ponselnya di atas ranjang dan beralih mengambil ponsel Ken, "sandinya?"
Tanpa diminta dua kali, Ken menyebutkan sandi ponselnya yang berupa deretan angka. Alis Bella langsung menaut mendengar urutan angkanya, "ini tanggal pernikahan kita, bukan?"
"Benar."
Bella tersenyum begitu juga dengan Ken yang puas dengan reaksi Bella.
"Sudah aku catat di ponselmu. Cobalah untuk mengingatnya. Karena ponsel terkadang tidak bisa digunakan saat situasi darurat seperti kemarin."
"Aku mengerti, Aru."
"Oh iya kapan aku bisa keluar dari sini? Rasanya membosankan seharian berada di sini," keluh Ken, tangannya dan tangan Bella saling menggenggam.
"Ku pikir 2 atau 3 hari lagi."
"Lama sekali!"
"Lukamu cukup serius, bersabarlah. Besok pagi aku akan membawamu jalan-jalan di taman," tutur Bella memberi pengertian.
"Hm baiklah."
*
*
*
"Assalamualaikum," sapa seseorang dari balik pintu kemudian menyembulkan kepalanya masuk. Bella yang sedang menyuapi Ken sarapan menoleh ke arah pintu begitu juga dengan Ken. Rupanya Anjani.
"Waalaikumsalam … Jani!"sahut Bella sumringah. Mangkok bubur Ken ia berikan pada Ken menyuruh Ken untuk makan sendiri.
"Ahh … Abel bagaimana keadaanmu? Apa yang terjadi pada kalian sebenarnya?"cerca Anjani dengan nada cemasnya.
"Hanya masalah kecil," jawab Bella tersenyum. Kedua tangan mereka berpegangan dengan Anjani menilik lekat Bella dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Hmhp! Masalah kecil kok sama masuk rumah sakit?!" Anjani mendengus.
"Sudahlah. Ayo duduk," ajak Bella, menunjuk sofa sebagai tempat mereka berbincang.
"Eh?" Ken mengulum senyumnya. Ia menghela nafas dan mulai menyuapi dirinya sendiri sarapan.
"Katakan padaku … apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? Kalian sedang bulan madu, malah jadi korban penusukan, itu sudah tindak kriminal tinggi, Abel!" Anjani baru mendengar kabar pagi ini, setelah Rahayu memberitahunya.
"Yayaya aku tahu. Toh kasusnya sudah ditutup. Aku juga tidak ingin membahas apa yang sudah terjadi. Yang utamakan kami baik-baik saja dan rencana bulan madu terlaksana dengan baik walau ditutup dengan hal buruk," jelas Bella, ia sengaja menyinggung topik lain agar kekhawatiran Anjani hilang. Sejenak Anjani merengut, menatap protes Bella yang enggan memberitahunya apa yang terjadi sampai harus masuk rumah sakit.
"Serius. Lihat aku sudah lepas infus sejak kemarin. Lukaku juga hanya tinggal nyeri sedikit," imbuh Bella meyakinkan.
"Benar?"selidik Anjani. Ia melirik Ken meminta pembenaran. Ken mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah. Aku mengerti." Anjani menghela nafas, tangannya tak terpisah dari tangan Bella. Sorot mata khawatir berubah menjadi penasaran.
"Lalu bagaimana dengan inti bulan madumu?"tanyanya sedikit berbisik.
"Maksudnya?" Entah memang tidak tahu atau pura-pura, Bella bertanya dengan wajah bingung.
"Belum terjadi? Keponakan kecilku belum diproduksi?"
Anjani membuang nafas kasar. Lihatlah wajah polos Bella itu. Ia malah menuntut jawaban Anjani.
"Maksudku apa kau dan dia sudah benar-benar suami dan istri yang sesungguhnya?"terang Anjani berusaha untuk tetap tenang.
"Oh itu toh. Sudah. Kan sudah aku katakan semua lancar hanya saja ditutup oleh hal buruk."
Anjani memekik senang. Ia langsung memeluk Bella. Anjani lupa dengan luka Bella.
"Sttt …."
"Ah! Astaga!"
"Maaf-maaf. Aku benar-benar lupa!"sesal Anjani.
"Tidak apa."
"Ah ya Jani apa kau tidak bekerja?"tanya Bella, melihat waktu yang menunjukkan pukul 08.30.
"Aku sudah atur waktu. Kenapa? Kau mau berdua dengannya ya tanpa gangguan?"selidik Anjani dengan senyum menggodanya.
"Oh."
"Baiklah. Aku akan pergi. Nanti sore aku akan kemari lagi bersama dengan Aka," tukas Anjani.
"Hm."
Anjani berdiri, ia menyapa Ken yang sudah selesai sarapan yang hanya dibalas oleh anggukan Ken.
"Ah hampir saja kelupaan," gumam Anjani saat hampir tiba di depan pintu. Anjani berbalik dan kembali duduk di sofa. Tentu saja Bella heran.
"Ada apa?"
"Abel minggu depan kelas kita mengadakan reuni di Aksara Hotel," beritahu Anjani.
"Reuni?"beo Bella.
"Benar. Kali ini sepertinya alumni kelas kita hadir semua. Namun yang jadi topik utama adalah kau dan aku," ujar Anjani. Wajahnya berubah kesal.
"Kau dan aku? Mengapa?"
"Tentu saja. Mereka langsung riuh saat aku memasukkan namamu ke daftar list. Mereka sangat penasaran bagaimana kau sekarang, apa pencapaianmu secara kau itu kan lulusan terbaik angkatan kita. Mereka bilang kalau jabatanmu tidak tinggi percuma saja menjadi lulusan terbaik lagi kuliah di luar negeri. Abel kebanyakan dari mereka memang sukses. Namun, sebagian hanya menggantikan posisi orang tua mereka dan sebagian lagi hanya daaaaa belum secara tak ada undangan pernikahanmu yang sampai pada mereka. Ah ya hampir lupa lagi. Reuni ini membawa pasangan."
"Oh." Hanya kata itu yang keluar dari dari mulut Bella. Ia tampak tidak tersinggung dengan apa yang disampaikan oleh Anjani, malah menarik senyum miring yang terasa menyeramkan bagi Anjani juga Ken yang mencuri dengar.
"Baiklah. Aku juga penasaran bagaimana mereka sekarang. Tapi bagaimana denganmu? Mengapa kau juga jadi topik utama?"tanya balik Bella. Anjani menyentuh lehernya, ia menunjukkan deretan giginya. Seperti canggung untuk mengatakan alasannya.
"Itu … itu karena kasus perceraianku dan Arman."
"Mengapa?" Bella merasa tidak ada yang aneh dengan hal itu.
"Huh kau tahu apa yang mereka katakan di grup? Mereka memberondongku dengan banyak pertanyaan. Dan apa kau tahu apa yang mereka katakan?" Jelas Bella menggeleng. Ia kan tidak masuk di grup itu.
"Tinggal di mana aku sekarang? Kerja apa? Sanggup tidak memenuhi kebutuhanku dan parahnya lagi mereka seakan merendahkanku dengan menawarkan pekerjaan pembantu di rumah mereka. Chatnya sih seperti candaan tapi kalimatnya itu, ckckck ingin rasanya ku remas mulut mak Lampir itu!"
"Mereka belum tahu posisimu sekarang?"
"Ku rasa belum. Tidak ada yang membahasnya di grup."
Bella kembali mengangguk, " maka itu akan jadi hal yang menyenangkan."
Sejenak suasana hening ditemani dengan senyum seringai Bella. Ken dan Anjani bertukar pandang, mereka tersenyum simpul membayangkan reaksi rekan-rekan SMA mereka yang akan tertampar oleh gosipan mereka sendiri.
*
*
*
Sesuai janji Bella tadi malam, Ken yang duduk di kursi roda didorong oleh Anjani dengan Bella yang berjalan di sisi Ken.
Keduanya mengantar Anjani sampai di lobby rumah sakit kemudian menuju taman untuk menghirup udara segar. Suasana rimbun taman yang terasa harum dan segar oleh wangi bunga yang bermekaran, membuat keduanya menarik nafas dan membuangnya perlahan.
Lima belas menit kemudian, mereka kembali ke ruang rawat. Setibanya di ruangan, Ken kembali berbaring di ranjang.
"Aru kau mau ke mana?"tanya Ken yang melihat Bella mengenakan ranselnya.
"Aku keluar sebentar, ada urusan tentang Nesya," jawab Bella yang menyiratkan bahwa tujuannya adalah ke lapas.
"Lalu kau naik apa?" Dengan kondisi Bella, Ken ragu jika Bella naik motor sendiri. Jika tidak ada trauma maka mobil beserta sopir siap untuk melayani.
"Ojek, sudah tiba di depan."
"Baiklah. Tapi hati-hati. Kabari aku jika sudah sampai," pesan Ken.
"Hm. Aku pergi ya. Assalamualaikum," pamit Bella, mengecup punggung tangan Ken.
"Waalaikumsalam. Aku titip salam untuk Nesya. Katakan padanya aku akan segera menyapanya secara langsung."
"Tentu."
Ken melepas kepergian Bella dengan hati yang sejujurnya tidak nyaman. Namun, Ken percaya bahwa apa yang Bella lakukan pasti sudah diperhitungkan. Ia lantas tersenyum tipis dan meraih buku melanjutkan bacaannya.
Sedangkan di luar, ojek online Bella sudah tiba. Bella naik dengan posisi duduk menyamping. Ia akan ke lapas untuk mendengar secara langsung kesaksian Napi satu sel dengan Nesya. Bella berharap ia bisa menemukan pelakunya sebenarnya dari kesaksian itu. Kesaksian itu sangat penting untuk menguatkan dugaannya.
Jika itu benar … aku akan menuntut semua hutang kalian!