This Is Our Love

This Is Our Love
Calia Dijodohkan?



Menjelang ashar, mereka meninggalkan taman Garten der Welt. Umi Hani dan Nizam ikut dengan Evan, menuju asrama Evan yang disediakan oleh pihak laboratorium. Sementara Bella dan lainnya kembali ke kediaman Mahendra. 


Masalah Bella yang ingin menemani Dylan ke Aachen, itu akan dilakukan besok. Mereka akan terbang besok pagi setelah subuh. 


Dan besok, Umi Hani, Nizam, dan Evan juga akan terbang ke Bremen. Nantinya mereka akan satu mobil, transit di Aachen untuk Bella dan yang lain kecuali Umi Hani, Nizam, dan Evan. 


Dan sebenarnya jadwal Bella berubah. Tadinya, nanti malam Bella akan menuju Los Angeles. Namun, karena Dylan ingin mengunjungi Bremen, maka itu ditunda. Bella kembali menjadwalkan dirinya akan terbang ke Los Angeles besok siang. 


Dan masalah apakah ia pergi sendiri atau ditemani oleh Ken, atau bahkan oleh semuanya? Memikirkan hal itu membuat Bella memijat dahinya. Mau ditunda berangkat ke Los Angeles. Namun, inilah saat yang terbaik sebelum Nero Group kembali ke puncak. Lagipula jika ditunda artinya Bella akan membuat masalah menjadi berlarut-larut. 


Bella bukan tidak senang dengan kehamilannya. Namun, kehamilannya ini akan membuat rencana tindak-tanduk yang telah ia rencanakan ada perubahan. Masalahnya bukan pada dirinya tapi pada orang di sekitarnya. Bella percaya dirinya mampu. Namun, rasa khawatir keluarganya juga tidak bisa ia abaikan. Terutama Ken dan Rahayu. Untuk hal menyetir seperti tadi saja, Ken sudah melarangnya. 


Bukan tidak suka. Namun, rasa bahagia itu bercampur dengan rasa kesal. Ia memang ingin diperlakukan sebagai sesuatu yang berharga namun bukan berarti ia adalah vas kaca yang rapuh. She's strong women.


Tapi, ya begitulah. Namanya juga suami dan istri sedang hamil. Itu merupakan hal wajar, mengingat ini juga kehamilan pertama, dan momen pertama. 


Bella dan lainnnya menunaikan shalat ashar di kediaman Kalendra. Di dalam kediaman ini, ada satu ruangan yang dikhususkan untuk shalat dan membaca al-Qur'an. Ruangannya cukup luas, cukup untuk menampung Bella, Keluarga Mahendra, Anjani, Arka.


Sama seperti waktu di masjid agung tadi, Key menunggu mereka selesai shalat di sudut ruangan. Jika di sana tadi Key menunggu dengan mengamati gaya arsitektur masjid. Maka di sini Key menunggu dengan menghabiskan susu yang berada di dalam dot. 


Leo dan Helena masih berada di resepsi Louis dan Terasa, maka di rumah ini sebelum mereka pulang hanya ada pelayan.


Selesai shalat, Bella langsung mengambil kunci mobil. "Mau ke mana, Aru?"tanya Ken.


"Ke depan sebentar. Ada yang mau aku beli," jawab Bella.


"Aku temani," ucap Ken. 


"Aku sendiri saja. Tidak lama kok," tolak Bella.


"Aku pergi, assalamualaikum," ucap Bella, mencium punggung tangan Ken lalu melangkah pergi.


"Aunty Abel mau ke mana?"tanya Key.


"Ke depan katanya. Memang di depan ada apa?"tanya Ken penasaran.


"Di depan?" Key bergumam. Tak lama berlari keluar, "Aunty ikut!" Sayang mobil yang dikemudikan Bella sudah keluar dari gerbang. Ken menyusul dan Arka yang melihat itu mengejar Ken. Sedangkan yang lainnya bersiap untuk ke resepsi pernikahan Louis dan Teresa. 


"Di depan ada apa?"tanya Arka. 


"Toko coklat," jawab Key. 


"Coklat?" Ken bergumam. Membeli coklat dengan wajah seserius itu? Ken yakin tidak sesederhana ini alasan Bella keluar. Apa yang membuat Bella keluar tanpa ingin ia temani, walaupun Ken sudah menawarkan diri? Hal apa yang mau Bella lakukan tanpa sepengetahuannya? 


Apa mungkin alasan mood Bella tadi waktu saat di dalam masjid, yakni saat Bella berkata ketus pada Brian?


*


*


*


Bella menghentikan laju mobilnya di depan gerbang sebuah rumah. Bella kemudian turun dari mobil. 


"Paman," sapa Bella kepada penjaga gerbang. Posisinya ada di luar gerbang dan mereka berbicara lewat sebuah celah berhenti segi empat yang hanya cukup untuk menampakkan wajah saja.


"Ada yang bisa dibantu, Nona?"tanya penjaga gerbang itu sopan. 


"Saya ingin bertemu dengan Nona Calia," jawab Bella. 


"Sebelumnya maaf dengan siapa?"


"Nabilla Arunika Chandra, Bella, atau Abel, itu saya." Penjaga gerbang itu mengecek sebuah buku, seperti buku catatan.


"Silahkan masuk, Nona. Nona Calia sudah menunggu Anda," ucap Penjaga gerbang. Diikuti dengan gerbang berwarna orange itu terbuka. Bella mengangguk dan kembali masuk ke dalam mobil. 


Gerbang orange dengan logo tanda tambah berwarna merah sebagai lambang rumah sakit itu adalah milik keluarga Calia, Keluarga Arshen. 


Bella kembali turun dari mobilnya. Menatap mansion keluarga Arshen yang dikatakan mewah namun masih lebih mewah lagi kediaman Kalendra. 


Mansion ini hanya dua lantai namun luas. Bella melangkahkan kakinya masuk. "Sore," sapanya dalam bahasa Jerman saat memasuki rumah. 


"Sore, dengan siapa?" Seorang pria paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tengah menjawab sapaan Bella sekaligus menanyakan identitas Bella. Bella tersenyum.


"Saya Bella, Paman. Sahabat Calia," jawab Bella sopan. Pria itu adalah Tuan Arshen, ayah Calia sekaligus kepala keluarga Arshen. Tuan Arshen mengeryit. Matanya memeta penampilan Bella. 


Sahabat Calia? 


Berhijab, pakaian tertutup, hanya ada satu sahabat anaknya yang seperti ini. Segera Tuan Arshen duduk tegak. "Abel? It's you?!"


Bella melengkungkan senyumnya. Ia memang mudah dikenali dari penampilannya. Tuan Arshen berdiri, kemudian berjabat tangan dengan Bella.


"Kau kembali ke Jerman, Abel?"tanya Tuan Arshen, mengajak Bella untuk duduk.


"Hanya menghadiri pernikahan Louis, Paman. Besok saya akan kembali ke Indonesia," jawab Bella. 


"Lantas apa kegiatanmu sekarang? Calia sudah pulang, artinya traumamu sudah sembuh?"tanya Tuan Arshen penasaran. 


"Calia tidak mengatakannya pada Anda?"tanya balik Bella. Dengan kepribadian Calia, kecil ia tidak bercerita tentangnya pada keluarganya. 


Lalu mengapa tadi Tuan Arshen menanyakan siapa Bella?


Wajar saja. Pertemuan terakhir Bella dengan Tuan Arshen adalah sekitar enam bulan lalu. Enam bulan bukan waktu yang singkat, lagipula Tuan Arshen itu seorang Presdir Arshen Company. 


Wajah Tuan Arshen berubah. Ia seperti tertekan, gelisah, raut wajah bersalah, dan juga kesal, bercampur menjadi satu. 


Bella tersenyum, "karenanya saya datang kemari."


"Calia sudah memberitahumu, Abel?"tanya Tuan Arsen. Bella mengangguk menjawabnya.


"Sebelumnya kami sepakat untuk bertemu di resepsi pernikahan Louis dan Teresa. Akan tetapi, kabar mengejutkan datang kepada saya. Paman, saya tahu Anda khawatir dengan Calia. Saya juga khawatir dengannya. Namun, melakukan hal tanpa sepengetahuannya, yang bukan keinginannya, itu akan membuatnya semakin menderita," ujar Calia. Tuan Arshen memejamkan matanya, tampaknya setuju dengan apa yang Bella katakan.


"Jika tidak dengan cara seperti ini, Calia tidak akan pernah bisa melupakannya! Calia harus memulai lembaran baru. Dia tidak bisa stuck dengannya!" Tuan Arshen memberikan alasannya.


"Tapi, tidak seperti ini juga, Paman. Memutuskan sebuah pernikahan tanpa sepengetahuan dan persetujuannya itu tidak bisa dibenarkan!"tegas Bella. 


Bella terlalu ikut campur urusan orang lain? Calia adalah sahabatnya! Dan Calia telah mengadu padanya. Bagaimana bisa ia diam? Setidaknya ada yang ia lakukan! 


"Paman tahu, Abel. Kami tahu. Tapi, jika ini tidak kami lakukan, maka Calia akan terperangkap terus dalam kesedihan! Setidaknya setelah menikah nanti, suaminya perlahan akan mengobati dan membuat Calia membuka hati lagi. Kami tahu ini adalah perjodohan dan rencana pernikahan paksa." Tuan Arshen tidak menyangkalnya. Namun, ia juga memberikan alasan. 


"Sebagai orang tua, sudah cukup kami bersabar dan melihatnya terjebak dalam perasaaan bersalah. Sudah saatnya untuk Calia keluar. Nak Abel, tolong bantu kami meluruskan hal ini pada Calia. Dia mengurung diri di dalam kamar." Nada bicaranya melemah. Dan Bella tercenung sesaat. Dahinya mengeryit, seperti sedang mencari sebuah sebuah jalan keluar. 


Tadi siang, Calia mengirimkan sebuah pesan padanya. Bahwasannya keluarga Arshen memutuskan sebuah pernikahan untuk Calia dengan salah seorang Tuan Muda di kota Berlin. Dan Calia menolaknya. Meminta bantuan pada Bella agar rencana itu dibatalkan. Bella sesaat tadi, hatinya menjadi kesal. Namun, sekarang mendengar alasan Tuan Arshen, Bella tidak bisa membenarkan ataupun menyalahkan keputusan yang diambil.


Kapan pernikahan itu akan dilakukan? Dua hari lagi secara tertutup. Calon mempelai untuk Calia tidak ingin ada acara resepsi jika calon mempelai wanita belum bisa menerimanya. Cukup pernikahan terlaksana itu sudah cukup. 


Calia, apa yang membuatnya dikatakan menderita? Dikatakan terjebak dalam kesedihan padahal ia adalah orang yang ceria dan aktif? 


Sudah pernah disebutkan sebelumnya. Kekasih hati Calia pergi karena kesalahpahaman. Penyesalan yang tidak bisa ditebus oleh Calia. Karena kekasihnya itu tewas, keduanya dipisahkan oleh jarak yang tidak bisa digapai. Dan itu menjadi sebuah sandungan dalam hati Calia.


Bella menghela nafas kasar. 


Paman, boleh aku tahu siapa calon Calia itu?tanya Bella. Tuan Arshen mengangguk. 


"Dia Tuan Muda dari keluarga Anthony. Nate Anthony," jawab Tuan Arshen. 


"Boleh aku mengecek profilnya dulu?"tanya Bella, meminta izin lebih dulu.


Tuan Arshen kembali mengangguk. Kebetulan di atas meja ada sebuah laptop yang sudah terkoneksi dengan internet. Segera Bella berselancar dalam mencari dan mengecek semua profil tentang Nate Anthony itu. 


Dalam waktu sepuluh menit, Bella selesai dan menutup laptopnya. Ia melempar pandang pada Tuan Arshen yang menanti apa yang akan ia sampaikan. 


"Paman, aku setuju dengan caramu ini. Tapi, apa calonnya bisa diganti? Aku punya calon yang lebih baik untuk Calia."


Tuan Arshen terhenyak. Calon yang lebih baik?


"Aku dan Calia sama-sama mengenalnya. Jadi, aku rasa dia pilihan yang baik," lanjut Bella. 


"Jika itu bisa membuat Calia lebih baik, saya setuju," jawab Tuan Arshen. Bella tersenyum. Ia yakin Calia akan menerima sarannya. 


Bella kemudian pamit pada Tuan Arshen untuk menemui Calia di kamarnya.


Tok


Tok


Ini bukan kali pertama Bella bertandang ke kediaman Arshen. Jadi, Bella tidak harus menanyakan lagi yang mana kamar Calia.


"Calia. It's me," panggil Bella sembari mengetuk pintu kamar Calia.


Pintu kamar terdengar langsung dibuka. "Abel!" Calia langsung memeluk Bella. Ia kembali menangis. Bella diam, sembari menepuk-nepuk punggung Calia. Calia menumpahkan kekesalan harinya pada Bella.


"Calia ... aku rasa itu adalah yang terbaik untukmu."


"Apa maksudmu, Bel?"tanya Calia tidak percaya.


"Jika tidak begini, kau tidak akan bisa keluar dari kesedihanmu. Orang tuamu tidak tega terus-terusan melihatmu pura-pura seperti ini. Kau tersenyum di depan tapi kau menangis di belakangan. Tidak bisa, Lia. Aku setuju dengan apa yang dilakukan orang tuamu!!" tegas Bella.


"Tapi, Abel. Aku tidak mengenalnya!"


"Kalau begitu ganti dengan yang kau dan aku kenal."


"Who?"


Bella tersenyum, lalu membisikkan sesuatu pada Calia. Calia terbelalak mendengarnya.


"Kau serius?"


"Aku sangat yakin."