This Is Our Love

This Is Our Love
Lamaran di Resepsi



Setibanya di ballroom, Umi Hani, Nizam, dan Evan bergabung dengan keluarga mahendra saat ini adalah sesi melempar buket bunga pengantin kepada tamu undangan yang akan berpartisipasi. Baik dari sisi keluarga Mahendra maupun Kalendra tidak ada yang ikut berpartisipasi. Karena masing-masing dari mereka sudah punya pasangan masing-masing dan sudah merencanakan tentang sebuah pernikahan. Karena dalam kepercayaannya, siapa yang mendapatkan buket bunga yang dilemparkan oleh pengantin wanita, baik pria ataupun wanita akan segera menyusul naik pelaminan


Timotius ikut dalam sesi tersebut karena dia belum punya pasangan. Dan atas dorongan sang ibu juga kakaknya. Di saat demikian, Nizam menggoda kembarannya untuk ikut serta dalam sesi tersebut.


 Dan siapa sangka, bahwa profesor kimia itu menjabani godaan Nizam. Pria dengan setelan formal itu bergabung ke kerumunan yang siap sedia menangkap buket bunga yang sebentar lagi akan Teresa lemparkan. 


Louis dan Teresa membelakangi kerumunan dengan Teresa sedia untuk melempar buket bunga di tangannya ke belakang. MC mulai menghitung mundur.


3


2


1


Dan  buket dilemparkan ke belakang oleh Teresa.


Umi Hani dan Nizam tercengang. Evan mendapatkan bunga itu. Tubuhnya yang tinggi, dan posisinya yang sangat pas dengan arah lemparan bucket, Evan tersenyum simpul. 


Di saat Evan menatap penuh arti bucket bunga di tangannya, Bella, Calia, Tuan, dan Nyonya Arshen memasuki ballroom. Evan membalikkan badannya. Posisinya tepat berada di jalur karpet merah, dan itu segaris lurus dengan posisi Calia dan kedua orang tuanya. Bella sendiri bergabung dengan keluarganya. 


Evan dan Calia bertemu pandang. Keduanya sama-sama saling menatap lurus satu sama lain. Getaran gugup dengan jantung yang berdebar kencang kembali menghampiri Calia.


Itu juga terjadi pada Evan. Ini adalah kali pertama ia akan menyatakan perasaannya kepada wanita yang ia sukai. Sekaligus melamar Calia di depan orang tuanya kedua belah pihak  dan para saksi yang cukup banyak.


Pria lulusan S-3 itu kini mengatur nafasnya. Mengatasi rasa gugupnya dan menatap mantap ke depan. 


Seperti akan melihat hal yang menarik dan sakral, semua perhatian tertuju kepada Evan. Bahkan kedua pengantin juga melihat Evan dengan raut wajah penasaran.


Evan mulai melangkahkan kakinya mendekati Calia yang berada di ujung. langkah Evan mantap dan tatapannya penuh keseriusan.


Mata Umi Hani dan Nizam membola melihat Evan yang berlutut satu kaki di hadapan Calia dengan menyodorkan bucket bunga pengantin tadi. 


Evan sedang melamar Calia? Apa benar kebiasaan itu sangat manjur? Begitu dapat langsung akan terjadi? Para tamu yang mengenali bahwa wanita yang dilamar oleh Evan adalah putri bungsu dari Arshen Hospital, di mana Tuan dan Nyonya Arshen berdiri tepat di belakang Calia dengan senyum yang mengembang, bertanya-tanya, siapa Evan? Tuan Muda dari mana hingga berani melamar Calia? Dan tampaknya Tuan dan Nyonya Arshen akan menyetujuinya.


"Apa ini, Evan?" Walau sudah tahu, Calia bersikap seolah ia terkejut. 


"Calia." Nadanya begitu lembut namun tegas.


"Sudah lama aku menyukaimu. Namun, sebelum hari ini tiba, aku tidak berani untuk mengungkapkannya. Dan hari ini juga seseorang mendorongku untuk aku jangan menjadi pengecut. Calia … aku tahu aku hanya seorang profesor. Tapi, aku yakin dan berjanji bahwa aku bisa membahagiakan dirimu. Beri aku kesempatan itu, aku akan membuktikannya padamu. Willst du mich heiraten, Calia?"


Seseorang mendorongnya untuk memberanikan diri mengungkapkan perasaan? Ken menatap Bella dengan mengeryit, "inikah urusan pentingmu tadi, Aru?"tanya Ken dengan berbisik.


"Membantu sahabat itu penting," jawab Bella dengan tersenyum. 


"Rupanya Evan juga yang kau maksud hari itu," bisik Ken lagi.


"Penglihatanku tajam, bukan?"


"Sangat tajam, Shifu," balas Ken dengan tersenyum dan merangkul pinggang Bella.


Calia melirik kedua orang tuanya. Tidak ada reaksi penentangan. Calia kembali menatap manik mata Evan. Tatapannya yang penuh dengan keyakinan dan keseriusan.


Sejenak, memori Calia melayang ke saat-saat bersama dengan kekasihnya dulu. Sudah cukup lama, sudah lewat beberapa tahun. 


Bella sudah membantunya. Evan juga melakukannya karena benar-benar menyukai dirinya. Calia, harus membuka hati untuk pria lain dan itu Evan. 


Dengan gerakan pelan, Calia menerima bucker bunga itu pertanda kalau lamaran Evan diterima. Evan tersenyum lega. Ia berdiri, kemudian mengeluarkan sebuah kotak merah berisi sebuah cincin dengan ukiran daun dan bunga mawar dan pertama biru sebagai mahkotanya. 


Calia tidak bisa untuk tidak tercengang. Itu sebuah cincin dengan ukiran yang rumit, terlebih ada inisial namanya di lingkar dalam cincin. Pasti itu dipesan, didesain khusus, dan perlu waktu untuk menyelesaikannya. Cincin ini bukan baru dibeli namun sudah dipersiapkan sejak lama.


Calia menyentuh bibirnya. Evan benar-benar serius dengannya. Hanya saja, karena sebelumnya tidak ada keberanian namun niat sudah kuat, akhirnya baru terwujud sekarang. 


Evan meminta Calia memberikan tangannya agar Evan bisa menyematkan cincin pertunangan yang nantinya akan merangkap sebagai cincin pernikahan. Calia melakukannya. Evan menggenggam lembut telapak tangan Calia sebelum akhirnya menyematkan cincin tersebut di jari manis Calia.


"Sungguh indah!!" Nyonya Arshen berdecak kagum. Ia benar-benar merasa putrinya mendapatkan seseorang yang sungguh serius.


 Tidak ragu lagi untuknya memberi restu. Begitu juga dengan Tuan Arshen. Bahkan Bella sendiri.


Tidak ada yang menduga bahwa profesor yang dikenal dingin dan cenderung acuh, tidak pernah pacaran, bisa seromantis ini. Sungguh, dia benar-benar serius dalam hal apapun. 


Tepuk tangan meriah langsung pecah saat cincin itu sudah tersemat di jari manis Calia. Keduanya lantas berpelukan. Setelah itu, barulah Calia mengenalkan Evan dengan kedua orang tuanya. 


Umi Hani dan Nizam yang awalnya merasa ragu untuk menghampiri Nizam, sebab ada merasa akan membuat pandangan suka Tuan dan Nyonya Arshen pada Evan karena ibu dan saudara kandungnya berbeda keyakinan. Namun, atas dorongan Bella dan Rahayu, keduanya memberanikan diri. 


Evan juga tampak tidak terganggu dengan hal itu. Ia bahkan merangkul ibu dan saudaranya, "ini ibu, Mom Hani dan saudara kembarku, Nizam."


"Kau punya kembaran? Wow!" Nyonya dan Nyonya Arshen menatap penampilan Nizam yang menggenakan setelah seorang Gus, menggunakan celana panjang yang longgar dengan baju kokoh, lalu beralih menatap Umi Hani yang mengenakan gamis. "Apa keyakinanmu, Evan?"tanya Tuan Arshen kemudian.


"Saya satu keyakinan dengan Anda, Paman," jawab Evan. 


"Kalian satu keluarga beda keyakinan?" Nyonya Arshen merasa heran. 


"Seperti itu, Tante. Orang tua kami berpisah karena keyakinan yang berbeda. Saya ikut ayah saya dan saudara saya ikut dengan ibu saya. Dan siang tadi kami baru bertemu untuk pertama kalinya setelah perpisahan itu. Saya harap Anda tidak terganggu dengan hal ini," jelas Evan. 


"Ah begitu rupanya." Tuan dan Nyonya Arshen tampaknya tidak masalah dengan fakta itu, Calia menghela nafas lega. 


"Paman, Bibi, Umi, karena ini pertemuan pertama kalian sebagai calon besan, maka ada baiknya kalian punya ruang sendiri untuk berbicara. Kebetulan di hotel ini ada restoran dan saya sudah memesan meja untuk Anda sekalian." 


Bella datang lagi bak seorang mak comblang, dan seperti manajer hotel. Dalam satu hari, sudah banyak pekerjaan atau peran yang ia lakoni. Mulai dari sopir di pagi hari, menjadi seorang yang membantu dan mengatur pertemuan ibu dan anak, lalu menjadi negosiator untuk Calia, yang kemudian menjadi mak comblang berikut seperti manager hotel. 


 Rahayu memeluk Umi Hani. "Nggak disangka ya, Han. Nggak lama setelah bertemu anakmu Evan, kau akan segera menjadi ibu mertua."


"Aku juga tidak menyangka, Yu. Aku sangat bahagia dengan hal ini," balas Umi Hani.


"Eh iya, mana ayahmu, Evan?"tanya Tuan Arshen. 


"Ayah di Bremen, Paman. Jadwalnya tidak memungkinkan untuk mengambil cuti."


"Besok pagi rencananya kami akan ke sana. Apa Paman dan keluarga ingin ikut?"tawar Nizam. Ia bisa menimpali karena Evan menggunakan bahasa Inggris. 


"Lebih baik bicarakan antar kedua keluarga saja," ujar Bella. Evan mengangguk. Bella menjentikkan jarinya dan seorang pria berseragam hotel mendekat. Bella memberi tahu di mana keluarga Arshen, Umi Hani, Nizam, dan Evan akan berbincang. 


Para tamu resepsi sudah berpulangan, menyisakan keluarga inti dan kerabat. Ballroom tampak lenggang dan petugas kebersihan hotel langsung berbena, membersihkan dan merapikan ballroom. 


Setelah Umi Hani dan lainnya meninggalkan ballroom menuju restoran hotel, Bella menghela nafas lega. Ia duduk dengan wajah yang puas. Skema yang ia rancang hari ini sukses semua. Tinggal memikirkan bagaimana agar besok skema yang ia rancang sukses pula. 


Izin! 


Itulah yang tengah Bella pikirkan sekarang. Bella menatap wajah Ken, berganti pada Surya, Rahayu, Max, dan Umi Hani. 


"Ada apa, Bel?" Rose menangkap tatapan ragu Bella pada dirinya. 


"Tidak ada, Mom," jawab Bella. Ken menatap Bella dengan pertanyaan di dalam hati. 


Ada yang Bella rencanakan.


Surya yang sudah mengetahui niat Bella itu, sebenarnya juga sangat khawatir. Jika Bella tetap pada rencana awal, maka ia tidak bisa berbuat banyak selain menyertakan bodyguard untuk menemani Bella. 


Dalam pandangan Surya, Bella tidak akan mengambil sebuah tindakan tanpa memikirkan akibatnya. Setidaknya Bella sudah membuat antisipasi hingga ia berani untuk mengambil langkah. 


"Abel, sejak kapan kau tahu Evan menyukai Calia?"tanya Teresa, penasaran. Ia saja sama sekali tidak menyadarinya. Padahal sebelum Bella pulang ke Indonesia, mereka beberapa kali bertemu.


"Sejak pertama kali Evan bertemu dengan Calia," jawab Bella. 


"Itu sudah sangat lama," sahut Teresa. Itu diangguki oleh Bella.


"Eh bye de way, mengapa El dan Dylan belum kembali juga?"tanya Silvia. Sudah hampir pukul 20.00, sudah berapa lama dua Tuan Muda itu meninggalkan tempat?


Gurat raut wajah cemas langsung tercetak di wajah Rahayu. Brian dengan cepat mengambil ponselnya dan menghubungi Dylan. Tersambung namun tidak dijawab. 


Brian berdecak. "Bagaimana,  Brian?"


"Sebentar, Bun." Brian beralih menghubungi El. Sama saja, tersambung namun tidak dijawab. Wajah Brian sudah kesal. Di saat Brian ingin menghubungi lagi, terdengar suara petikan gitar. Brian dan lainnya melihat ke arah pintu masuk ballroom. 


Itu El!


Dan suara petikan gitar itu ia juga yang memainkannya. Apa yang mau dilakukan oleh El? 


Anjani menatapnya El dengan perasaan yang tiba-tiba menjadi gugup, jantungnya berdebar lebih cepat. 


Dengarlah wanita pujaan 


Malam ini akan ku sampaikan 


Hasrat suci kepadamu dewiku 


Dengarkanlah kesungguhan hati ini


Aku ingin mempersuntingmu 


Untuk yang pertama dan terakhir


El menyanyikan lagu berjudul janji suci dengan begitu menjiwai. Petikan gitar digabung dengan suaranya yang benar-benar pas, membuat siapa yang mendengarnya terpana. Ternyata ketiga Tuan Muda keluarga Mahendra mempunyai bakat di bidang musik. 


Di pertengahan lagu, Dylan masuk dengan membawa setangkai mawar merah, sebuah kotak yang cukup besar berbentuk hati. 


Jangan kau tolak dan buatku hancur 


Akulah yang terbaik untukmu ….


Lagu telah selesai. El menerima tangkai mawar merah yang Dylan sodorkan padanya. 


 Anjani terdiam kala El kembali berlutut dengan menyodorkan setangkai mawar untuknya. 


"Sekali lagi, maukah kau menikah denganku, Jani? Maukah kau menjadi pendamping hidupku untuk selamanya? Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku? Maukah kau menjadi tulang rusukku?"tanya El, dan kali ini dengan persiapan. Di hadapan Surya dan Rahayu, El kembali melamar Anjani. 


"Jawabanku tetap sama. Aku bersedia!!"jawab Anjani cepat tanpa ragu. Tidak seperti yang pertama di mana masih ada rasa takut yang membayangi dirinya. Anjani mengambil bunga tersebut. El berdiri. 


Dylan yang agaknya berperan sebagai asisten El, kembali menyerahkan sebuah kotak bersama biru. Dan bisa dipastikan itu isinya adalah sebuah cincin. 


Sebuah cincin berwarna silver, berada di dalamnya. "Ada namamu? Dan ini produkku, kapan kau memesannya, El?" Anjani mengenali model cincin itu dari perusahaannya.


"Yang pasti setelah aku melamarmu dan sebelum kita berangkat kemari," jawab El dengan menyematkan cincin tersebut pada jari manis Anjani. Di dalam kotak itu ada dua cincin, cincin pasangan. Anjani gantian memasangkan cincin itu ke jari manis El. 


"Happy engagement yang kedua kali," ucap El dengan memberikan kotak berbentuk love itu pada Anjani. Isinya coklat dan itu disusul dengan tepuk tangan meraih. 


 Louis dan Teresa saling pandang. Sungguh mengagumkan! Acara resepsi mereka menjadi tempat lamaran untuk dua pasangan, Wow!