
Hubungan lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Sudah banyak asam manis yang dilewati bersama. Begitu juga dengan hubungan Ken dan Cia. Dimulai dari bangku SMA hingga kuliah. Impian setelah tamat kuliah bisa menikah dan hidup bahagia harus ditangguhkan saat Cia divonis kanker darah dan kini sudah mencapai stadium akhir.
Pasangan itu tidak menyerah dengan vonis dokter. Cia berhasil melewati masa vonis dokter tentang umurnya. Karena hal itu juga, semangat bisa menikah, walau haruspun ditentang oleh keluarganya, Ken berniat untuk menikahi Cia setelah ia tamat kuliah. Namun lagi-lagi halangan besar datar. Keluarganya mengatur sebuah pernikahan untuknya dengan wanita lain. Mau tak mau, di bawah tekanan keluarganya, Ken menikah dengan Bella.
Menjalin pernikahan yang awalnya berlandaskan kesepakatan dan mulai bergerak ke arah saling membuka hati sama lain, tidak membuat cinta Ken untuk surut, malah terus menjadi. Melihat sikap yang tidak keberatan dengan hubungannya dan Cia, keinginannya untuk menikahi Cia kembali bangkit. Namun kini, harus kembali ditangguhkan karena Cia dibawa pergi oleh orang tuanya entah ke mana.
***
Bella, Surya, dan Rahayu berada di dalam kamar, menanti Ken sadar. Waktu menunjukkan pukul 20.00. Sudah hampir 3 jam Ken pingsan. Surya menghela nafas berat, sungguh banyak yang ia pikirkan, terutama tentang El dan Ken.
Rahayu mengusap punggung Surya. Surya menoleh ke arah Rahayu, "apa yang Mas pikirkan?"
"Apa pesantren benar-benar bisa mendidik El?"tanya Surya lirih dan ragu.
"Insya Allah, Mas."
"Lalu apa menurutmu keputusanku menikahkan Ken dengan Abel salah?"
Rahayu menggeleng, "tidak, Mas. Kamu hanya mau yang terbaik untuk anak kita. Mas pasti tahu kan kalau tidak ada yang mudah di dunia ini? Dan sekarang adalah masa sulit untuk Ken, Cia, dan Abel."
"Lalu apa menurutmu aku harus mengirim orang mencari keberadaan Cia?"tanya Surya.
Rahayu diam sejenak. "Sepertinya jangan dulu, Mas. Ini bisa jadi waktu yang tepat untuk Ken dan Cia lebih dekat," jawab Rahayu kemudian.
"Baiklah. Mas mengerti."
Emmm
"Ma, Pa Ken sudah sadar!" Bella yang sedari tadi menunggu di samping Ken dengan tangan menggenggam jemari Ken.
Surya dan Rahayu mendekat. Netra hitam itu mengerjap dan mulai terbuka. Ken menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.
"Cia!" Satu kata itu langsung membuat wajah Surya menjadi masam.
"Ken tenangkan dulu dirimu," ucap Rahayu. Bella memilih duduk di sofa, membiarkan orang tua dan anak itu waktu berbicara.
"Ini semua karena Mama dan Papa!" Lihatlah wajah kesal Surya dan wajah terkejut Rahayu.
"Apa maksudmu, Ken? Sungguh tidak pernah kami menyuruh Cia untuk pergi. Apa salah kami, Ken?"
"Kalau saja Mama dan Papa tidak menyuruh dan menekan aku untuk menikah dengannya pasti Cia tidak akan dibawa pergi dariku! Cia tidak akan sedih, perjodohan konyol ini hanya menimbulkan luka, Ma, Pa! Apa kalian tahu apa yang aku rasakan? Berat!!"
"Aku lebih dulu merasakannya!"sahut Surya dingin.
"Itu Papa bukan aku!"ketus Ken.
"Dan kalian ingkar janji! Bukankah kalian mengizinkanku untuk tetap berhubungan dengan Cia?!" Suara Ken kembali meninggi.
"Cukup Ken! Jangan keterlaluan!"bentak Surya.
Rahayu bingung menyikapi pertengkaran anak dan ayah itu. Ia memilih untuk menenangkan Surya tanpa bicara. Rahayu menggenggam jemari Surya, menatapnya mengisyaratkan untuk tidak emosi.
"Tidak Sayang. Malam ini semua masalah ini harus clear!"tolak Surya, ia menatap sang anak yang berani menatapnya tajam.
"Ken sekarang kamu seorang suami dari Abel, bukan Cia. Aku rasa sudah berulang kali kita membahas hal ini. Aku memang tidak melarangmu tentang berpacaran dengan Cia, hanya saja tidak bisa sedekat waktu kalian pacaran dulu apalagi sampai bermalam di sana. Ken … kamu sudah dewasa dan dari keluarga terdidik, harusnya paham maksud ucapanku ini!"
Ken tidak menjawab, wajahnya yang masam menatap Surya yang hendak melanjutkan ucapannya. Rahayu yang kini duduk di sampingnya, menyuruh Ken untuk tetap diam tanpa menjawab ucapan Surya.
"Aku sudah gagal mendidik El. Aku tak mau gagal juga dalam mendidikmu. Awalnya aku merasa hal itu tidak masalah, akan tetapi dari hari ke hari, aku menyadari janjiku hanya akan terus menjerumuskanmu dalam jurang."
Surya menjeda ucapannya, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Sejak kecil, aku tidak pernah melarangmu untuk melakukan apapun. Asalkan kau suka, aku pasti mendukungnya. Aku tidak pernah memaksakan kehendakku padamu, kecuali hari di mana aku mengatur pernikahan untukmu. Ken … semua aku lakukan bukan tanpa alasan. Tapi aku juga tidak bisa memberitahumu alasannya. Baiklah, jangan bahas hal itu. Kau tahu jelas bukan bahwa anak dan orang tua mempunyai hubungan timbal balik, ya walau sampai kapanpun seorang anak tidak akan pernah bisa mengembalikan barangkali setetes darah, keringat, dan air mata kami. Tapi bukan itu intinya, intinya adalah aku dan isteriku sebagai orang tuamu sudah melakukan tugas kami sebagai orang tua dengan baik padamu. Apakah terlalu berat untuk mengikuti satu perintah kami? Padahal perintah itu untuk kebaikanmu sendiri?"
Nada bicara Surya melemah. Matanya menatap rumit Ken. Ada gurat kesedihan, kecewa, juga rasa bersalah.
"Tapi perintah kalian itu membuatku berjanji di hadapan Allah! Perintah kalian membuatku terjebak dalam dua hal yang sama-sama berat!"bantah Ken.
Tampaknya hati anak itu masih keras, dan kini rasa benci menyelusup di hati Ken untuk Bella. Ken masih berandai-andai jika seandainya Bella tidak pernah muncul di depan Surya pasti pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.
"Berhenti bersikap kekanakan, Ken! Bersikaplah dewasa! Sekarang Cia sudah pergi, artinya sekarang bukan hanya kami yang tidak setuju dengan hubunganmu dan Cia, tapi juga keluarga Utomo. Kamu punya akal, apa kamu pikir seorang ibu rela melihat anaknya menjadi orang ketiga? Huh aku rasa kau lebih paham!"tegas Surya.
Ken diam, ia mengingat ucapan Clara tempo hari tentang hubungannya dan Cia. Apa benar ia harus melepaskan Cia daripada terus terlibat dalam hubungan segitiga? Atau haruskah ia tetap pada pendirian hatinya, tetap bersama dengan Cia, tapi tidak dengan status pacar? Tapi ahhh semua sungguh sulit!
Oh tunggu, ini tidak adil bukan? Mengapa hanya dia sendiri yang ditekan kini? Mengapa hanya dia sendiri yang disurut memutuskan hubungan dengan Cia, lalu Bella, bukankah ia juga punya hubungan dengan pria lain? Hati Ken mendadak panas saat lintasan memori Bella dan Louis kemarin.
Ken mengedarkan pandang mencari keberadaan Bella, ternyata di sofa dan tampaknya tertidur.
"Belajarlah untuk melupakan Cia. Kisah kalian sudah berakhir. Sekarang istrimu adalah masa depanmu. Dia adalah prioritasmu. Jangan kecewakan hatinya lagi karena pada dasarnya kitalah yang membutuhkan dirinya. Papa harap kamu mengerti!"tegas Surya.
"Tunggu!"
"Apa apa lagi, Ken?"tanya Rahayu.
"Kalian menyuruhku untuk melepaskan dan melupakan Cia. Tapi apa kalian tidak tahu bahwa menantu kalian itu juga punya hubungan dengan pria lain? Namanya Louis, dia adalah wakil Presdir Kalendra Group. Dan kemarin, serta yang menjadi alasanku menginap di rumah Cia karena melihat dia dan pria itu bertemu dan bermesraan! Kalian terus membelanya tapi selalu menuntut padaku. Ini tidak adil!"
Surya dan Rahayu jelas terkejut. Dari semua informasi yang mereka dapatkan, tidak ada yang menyinggung hubungan Bella dan Louis. Tapi putra mereka ini juga tidak mungkin bohong. Keduanya menatap rumit Bella yang terlelap dalam buai mimpinya.
Jadi Abel berbohong? Terbongkar sudah kebohongan Bella tentang alasan pulangnya yang cukup larut malam. Keduanya kecewa pada Bella. Tanpa sepatah kata mereka keluar. Ken diam-diam tersenyum puas. Besok pasti Bella disidang oleh Surya.
Ia kembali tidur. Tidak terbersit niat untuk memindahkan Bella ke ranjang. Rasa suka dan benci, keduanya berhadapan di hati Ken. Tapi rasa sedih karena Cia pergi lebih besar.
"Cia kamu di mana? Kamu baik-baik saja bukan?"
Ken tidak meminta Surya mencari Cia karena ia tahu pasti akan ditolak.
*
*
*
Bella terbangun saat waktu menunjukkan pukul 03.00. Ia mengerjap pelan dan melihat dirinya berada. Masih tetap di sofa, tanpa berubah posisi apalagi selimut. Bella menoleh ke arah Ken yang tidur berselimut tebal.
Mengapa rasanya ada yang hilang?
Bella memijat pelipisnya, setelah itu ia bangkit dan masuk ke kamar mandi. Bella keluar dengan wajah yang basah. Menggelar sajadah dan memakai mukenahnya kemudian menunaikan salat tahajud.
Pukul 03.30, Bella selesai berdoa dan kembali merapatkan perangkat salatnya. Pikiran besar mulai tenang. Tapi kegelisahan di hati masih ada.
*
*
*
"Non Bella, dipanggil Tuan Surya ke ruang belajar," beritahu Pelayan saat Bella keluar dari kamar.
"Baik." Dengan hati yang bertanya-tanya Bella melangkah menuju ruang belajar. Ia mengetuk pintu, "masuk!" Sahutan tegas dari Surya membuat Bella membuka pintu. Bella terhenyak seaat melihat tatapan serius Surya dan Rahayu.
"Ada apa ya Ma, Pa?"tanya Bella penasaran setelah duduk.
"Abel, Papa tahu masih banyak hal yang kami belum tahu darimu. Bolehkah Papa bertanya sesuatu padamu?"tanya Surya serius.
Bella mengangguk setelah diam sesaat.
"Apa benar kamu punya hubungan spesial dengan wakil Presdir Kalendra Group?"tanya Rahayu. Bella tertegun. Ia langsung bisa menerka pasti Ken yang mengatakannya pada orang tuanya.
"Aku tidak akan membantah. Kami memang saling mencintai walaupun sadar tidak akan pernah bersatu."
Surya dan Rahayu paham alasan di balik kata 'tidak akan pernah bersatu' itu.
"Lalu apa benar kamu semalam pulang telat bukan karena makan malam dengan teman lamamu tapi dengan pria itu?"tanya Rahayu lagi.
Bella mengeryit, darimana mereka tahu?
"Ken melihatmu dan dia bersama kemarin." Surya menjawab kebingunan Bella.
Seketika Bella merasa bersalah dan malu. Ia tertangkap basah berbohong. Dan Ken melihatnya? Apa alasan Ken tidur di rumah Cia karena melihatnya dan Louis?
"Maaf."
"Tidak penting sekarang kata maaf itu, Abel. Sekarang yang paling penting adalah jelaskan pada kami hubunganmu dan dia."
"Hubungan tanpa status."
"Hubungan tanpa status tapi kalian saling mencintai?" Rahayu memastikan. Bella mengangguk.
"Abel boleh Papa minta sesuatu dirimu?" Bella menatap Surya.
"Lepaskan dan lupakan pria asing itu. Perbedaan di antara kalian terlalu jauh. Jelas-jelas tidak bisa bersama, untuk apa cinta itu tetap kau pertahankan?"
Bella terdiam. Ia menyerap ucapan Surya.
"Benar, Abel. Sekarang kau istri dari Ken. Kami juga sudah meminta Ken untuk melepaskan dan melupakan Cia. Sekarang prioritasmu adalah mendapatkan hati Ken sepenuhnya. Pernikahan dibuat untuk menghadiri kemaksiatan, jadi lepaskan hubungan apapun itu hanya hukumannya haram, Abel."
Bella menatap Rahayu. Batinnya sungguh dilema.