This Is Our Love

This Is Our Love
Memberi Pengertian



Pelayan yang membawa makan untuk Anggara tercengang sesaat kemudian tersenyum lebar melihat Tuan Mudanya sudah mau makan, lahap pula. Pelayan itu senang bercampur bingung. Wajah Anggara masih terlihat lesu, namun makannya begitu lahap. Apa efek beberapa hari tidak makan dan minum dengan baik?batinnya. 


Anggara makan dengan cepat. Ia sangat penasaran dengan siapa yang menelponnya tadi. Ia berusaha keras mengingat suara wanita itu namun tidak berhasil ia temukan. Entah karena memang ia benar-benar lupa atau karena banyaknya masalah yang membuatnya melupakan hal-hal penting. Terlebih ucapan wanita itu yang tak lain adalah Bella yang mengatakan bisa membantunya keluar dari masalah yang ia hadapi. Benaknya bertanya-tanya, bagaimana caranya? Sedang Papanya saja menolak bantuan keluarga Mahendra secara mentah-mentah. Terlambat! Jika dipikirkan memang benar. Bayu tipe orang yang kekeh pada satu keputusan. Sulit untuk dirubah. Lagi, benar. Masalah akan semakin runyam dan panjang.


"Ekkkk…." Anggara bersendawa setelah menghabiskan makanannya. Buru-buru ia meraih gelas berisi air minum, meminumnya hingga tandas dalam beberapa tenggukan. Anggara mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Wajahnya sedikit berseri dan tampak lebih segar. 


Bergegas ia meraih ponselnya yang sempat kehabisan daya. Mengaktifkan ponselnya lalu mencari nomor wanita yang menelponnya tadi. 


"Hallo," sapa Anggara dengan nada datarnya.


"Waalaikumsalam. Bagaimana? Sudah selesai mengisi energimu? … singkat sekali. Makan berapa suap dirimu?"


"Eh?" Anggara tertegun sendiri. Ia terkekeh lirih yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. "Assalamualaikum, Kak," sapa Anggara. Memanggil Kakak karena dari suara sudah dewasa di atas dirinya. 


"Waalaikumsalam. Sepertinya kau sangat bersemangat."


"Tentu saja! Aku sudah makan banyak!"sahut Anggara. Nadanya begitu bersemangat. Mengobrol dengan wanita yang belum ia ketahui namanya itu terasa begitu riang dan melegakan hatinya. Entahlah, mungkin karena belakangan ini ia hanya menerima telpon yang menyampaikan bahwa ia harus tegar dan menerima dengan ikhlas pernikahannya dengan nada yang sedih. Lain dengan Bella yang berbicara dengan nada santai dan tenang. 


"Lalu apa yang kau rasakan sekarang? Merasa lebih baik?"


"Ya ku rasa," sahut Anggara, nadanya berubah sayu. 


"Loh? Kok ku rasa? Ahh kau ini!" Dari nadanya, wanita itu terlihat kesal. Anggara menjawabnya dengan tertawa canggung. 


"Kak kita sudah mengobrol cukup lama, apa aku boleh tahu siapa kau sebenarnya?"


"Aku ragu jika aku memperkenalkan diriku, kau akan langsung membanting ponselmu. Berjanjilah untuk tetap tenang dan mendengarkan apa saja yang aku katakan!"


Anggara semakin penasaran. Dan rasa penasaran itu membawanya untuk mengucapkan janji, "aku berjanji!"jawabnya dengan penuh keyakinan.


"Laki-laki harus memegang janjinya, okay?"


"Yes!"


"Baiklah. Dengan baik-baik, ya! Perkenalkan namaku Nabilla Arunika Chandra. Kau bisa memanggilku Kak Bella. Aku adalah wakil Presdir Mahendra Group!"


Mata Anggara melebar. Gemuruh amarah yang terpendam untuk Bella naik ke permukaan. Wajahnya menggelap seketika. "Dari mana kau tahu nomorku?"tanyanya dingin, mengandung kegeraman. Anggara ataupun Angkasa, juga Cia telah mengganti nomor ponsel mereka. 


"Itu tidak penting. Yang penting kau harus menepati janjimu!"sahut Bella santai namun penuh penekanan.


"Kau!" Anggara terjebak janji dan rasa penasaran. Ia mengepalkan tangan dengan menatap penuh amarah vas bunga di meja sofa. 


Pyarrrr! 


Vas itu ia banting untuk melampiaskan emosinya. "Mau apa kau menelponku? Mengejek keadaaan keluarga kami?" Pikiran Anggara kembali dipenuhi kekalutan dan rasa marah. Ia tidak ingat ucapan Bella sebelumnya. Terdengar tawa ringan di sana. Anggara mengertakkan giginya, berpikir bahwa benar Bella membenarkan pertanyaannya. Ingin rasanya Anggara mematikan ponselnya. Namun, itu akan menodai janji yang ia buat.


"Enjoy, Angga! Sudah ku katakan jangan tertawa emosi dulu!" Lagi nada yang santai namun berisi penekanan.


"Santai kau bilang?! Jika bukan karenamu kami tidak akan seperti ini! Kak Cia tidak perlu meninggalkan tanah air dan aku tidak perlu menikah dengan gadis idiot itu!"teriak Anggara penuh emosi. Nafasnya memburu. Ia begitu marah, wajahnya terlihat menakutkan.


"Salah siapa? Salahku? Are you seriously?"tanya Bella tak percaya. Ia pun tampak terkejut.


"Ya tentu saja salahmu! Jika kau tidak menikah dengan Kak Ken, pasti ini semua tidak akan terjadi!"jawab Anggara, berteriak keras pada Bella. Ia bahkan sampai berdiri.


"BOCAH TENGIL!" Anggara terdiam mendengar seruan keras Bella itu. Ia terdiam dengan nafas yang belum beraturan. 


"Jangan bahas lagi masa lalu karena itu tidak akan merubah apapun. Kau menyalahkan diriku, sampai kapanpun tidak akan merubah fakta bahwa aku dan Ken sudah menikah. Dan ingat! Kakakmu lah yang meninggalkan Ken tanpa mengatakan apapun! Satu lagi! Aku ingatkan lebih awal pada kalian, termasuk kakakmu! Ken sudah jadi milikku jadi jangan pernah kembali lagi ke kehidupan kami! Maaf … aku memang orang yang egois, tak masalah jika kau dan keluarga Utomo membenci diriku. Namun, pokok bahasan kita bukanlah hubunganku dengan Ken juga kakakmu akan tetapi mengenai dirimu!"lanjut Bella dengan nada lembut. 


"Apa yang kau katakan tadi?"


"Lepaskan dan relakan, itu yang terbaik untuk kakakmu!"


Anggara terduduk lemas di atas sofa. Nafasnya mulai teratur. Hatinya melemah mendengar apa yang Bella katakan.


Apa yang dia katakan ada benarnya. Lagi, kondisi kakak sudah cukup stabil. Benar, aku harus selesaikan dulu tanggung jawabku. Tapi, apa harus mendengarkan ucapan wanita yang tidak aku sukai?gumam Anggara dalam hati. 


"Kau diam artinya membenarkan ucapanku," tukas Bella. Anggara mengangkat kepalanya, melihat ke lurus ke depan.


"Bagaimana caranya?"tanya Anggara to the point. Ia rasa cukup sudah basa basi mereka yang takutnya nanti tidak akan menemui ujungnya. 


"Kau masih main game?"tanya Bella.


"Game? Mengapa?"tanya Anggara, dahinya mengeryit.


"Kita bicara sambil nge game. Follow aku agar kita bisa ambil pertarungan dua versus dua. Jangan lupa nyalakan micmu!"titah Bella.


"Katakan saja sekarang! Aku tidak mood main game!"tegas Anggara. 


"Mengobrol sembari melakukan hal yang biasa kita lakukan itu menyenangkan, kawan! Cepatlah aku harus meeting setengah jam lagi!"


"Aku sudah mengorbankan waktuku untukmu. Kau tidak menghargai itu?"


"Aku tidak pernah memintanya! Jika bertele-tele seperti ini lebih baik aku matikan saja panggilan tidak berguna ini!"sarkas Anggara.


"Uhhh kata-katamu menusuk hatiku!"aduh Bella. 


"Baiklah jika kau tidak bersedia mengikuti pengaturanku. Aku akhiri saja. Semoga kau bahagia, sobat!"


"Ck!" Anggara berdecak. Bella benar-benar mempermainkan emosinya. 


"Tunggu!" 


"Ada apa lagi?"tanya Bella dengan nada datar.


"Aku setuju. Aku log in dulu," putus Anggara.


*


*


*


Di kursi kebesarannya, Bella tersenyum puas. Ia menimang-nimang ponselnya dengan sorot mata penuh kemenangan. Ken yang melihatnya sudah tahu apa yang membuat istrinya itu senang. Bella mendapatkan apa yang ia mau. "Anak seusia Anggara, masih begitu mudah dikendalikan. Memberi sugesti, menarik rasa penasaran, dan memberi harapan di tengah keputusasaan, itu akan diterima olehnya walau harus mengalah pada egonya!"ucap Bella. Ia berhenti memutar kursi kebesarannya. 


"Apa kau yakin akan berhasil, Aru?"


"Harus!"jawab Bella, matanya berkilat tajam mengartikan sebuah keyakinan yang mutlak. 


"Aku sudah menganggapnya sebagai adikku. Kami pernah dekat kemudian menjauh. Aku juga iba melihat anak yang begitu energi berubah menjadi pemurung dan pendiam. Aku tak ingin hanya karena masalah tanggung jawab yang ia emban harus membuatnya meninggalkan sifat aslinya," jawab Bella, ia sedang log in ke dalam game. Ken mengangguk paham. Ia kembali fokus pada pekerjaannya. Bella memang memberitahu Ken untuk mengosongkan waktunya selama satu jam untuk berbicara dengan Anggara. Masalah darimana Bella mengetahui nomor Anggara, itu bukan hal sulit baginya. Bella memiliki kemampuan mencarinya berdasarkan user id dan nick name game yang Anggara mainkan. Sebagai seorang gamer, Anggara pasti tidak akan meninggalkan gamenya.


Begitu masuk, Anggara sudah memfollownya. Segera Bella menfollback akun Anggara dan mengundangnya untuk battle dua versus dua.


Beberapa menit permainan, tiada pembicaraan yang terjadi. Bella sibuk mengendalikan heronya. Sedang Anggara terdengar beberapa kali berdecak, mengesah, dan menghela nafas, bertanda ia sedang mengeluh. 


"Aahh Kak Bella!" Seruan itu bernada mengeluh.


"What's up?"sahut Bella santai. Ia bermain dengan apik, matanya bergerak mengamati bidang permainan. Sesekali mengecek berapa kill yang ia torehkan. Kill sudah banyak, belum dead, dan tidak pernah membantu hero yang dimainkan Anggara untuk kill lawan.


"Semua kill kakak libas! Giliranku kapan? Apa aku hanya menjadi pemeran pendukung?"keluh Anggara. Bella tertawa renyah.


"Kau ingin aku mengalah?"


"Beri aku kesempatan untuk mengekill!"


"Okay. Aku hanya akan jadi pendukung sekarang!"


Bella melakukan ucapannya. Ia bertarung dengan lawan dan hanya menyisakan sedikit darah lawan untuk dihabisi oleh Anggara. 


"Yes!" Anggara berseru senang saat jumlah killnya hampir sama dengan Bella. Bella terkikik geli. Permainan pertama sukses dan Anggara meraih gelar MVP. Terdengar seruan penuh kemenangan. Anggara bahkan tertawa puas. Bella tersenyum tipis mendengarnya.


"Sekali lagi?"tawar Bella.


"Tapi, kali ini Kakak jangan mengalah lagi!"


"Lah?"


"Aku ingin mendapat hasil sesuai kemampuanku!"


"Okay!"


Babak kedua dimulai. Bella memulai obrolan dengan mata tetap fokus pada layar ponselnya. "Apa kau merasa keputusan yang diambil orang tuamu tidak adil?"


"Ya." Jawaban itu keluar cukup lama. 


"Merasa kecewa? Sedih? Hancur? Takdir buruk? Kau hanya melihat dari sisi buruknya saja bukan?"


"Maksud Kakak?"


"Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidak ada juga yang terburuk di dunia ini. Semua saling berpasangan. Jika kau berpikir menikah dengan gadis itu adalah nasib buruk maka agaknya kau keliru." Ken berkerja sembari menyimak pembicaraan Bella dan Anggara. 


"Keliru?"


"Benar."


"Keliru dari mana? Aku akan menikah dengan gadis idiot. Di mana sisi baiknya? Itu adalah mimpi buruk yang jadi kenyataan!"dengus Anggara.


"Aku pernah berada di posisiku, Angga."


"Kita berbeda, Kak!"tukas Anggara cepat.


"Jelas kita beda. Jika kita sama berarti aku atau kau tidak normal," sahut Bella dengan kekehan khasnya.


"Hah?" Anggara sepertinya belum paham apa yang barusan Bella ucapkan. Sedang Ken menoleh pada Bella. Bella mengedipkan matanya pada Ken. Ken menggeleng pelan, dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Ada-ada saja, batin Ken dalam hati.


"Lupakan saja. Di mana bedanya? Coba katakan?"tanya Bella.


"Kakak menikahi pria normal dengan aku akan menikahi gadis idiot. Jelas itu tidak sama!"


"Tapi, alasannya pada awalnya adalah sama. Karena membutuhkan bantuan untuk mengatasi suatu hal. Angga, kau kita aku begitu enak masuk ke keluarga Mahendra? Awalnya aku pun merasa mempertaruhkan masa depanku menikah dengan Ken yang dulu jelas-jelas mencintai Kakakmu. Aku mengambil resiko besar atas diriku sendiri. Namun, kini. Semua itu bukan lagi masalah. Aku tahu apa yang menjadi intinya? Keikhlasan, kerelaan, dan rasa percaya yang besar bahwa apa yang kita jalani adalah jalan yang ditetapkan oleh yang kuasa pada kita. Ahh aku tahu, tentu ucapan tak sedikit praktik. Maka dari itulah aku di sini untuk memberi gambaran dan saran untukmu!"


Ken tersenyum simpul mendengarnya.


Aru kau bahwa punya lebih banyak cabang pekerjaan yang bisa kau jalani selain bekerja kantoran seperti ini, gumam Ken dalam hati.


"Gambaran? Saran? Artinya aku akan tetap menikah dengan gadis idiot itu?"


"Hei jangan terus mengatainya seperti itu! Dia punya nama, Azzura. Nama yang begitu indah jangan kau nodai dengan kata menyakitkan itu!"tegur Bella. Terdengar decakan dari Anggara.


"Orangnya secantik namanya. Jangan karena satu kekurangan kau memandangnya buruk dan hina. Hah tahu, dia juga tidak ingin hidup seperti itu. Namun, sudah jalannya begitu. Lagi, kau pria yang beruntung mendapatkan dirinya."


"Beruntung? Dari segi mananya?"


"Hampir menyeluruh. Kau mau tahu?"


"Ya."


"Pertama, kondisi keluarga Utomo akan terjamin. Kedua, kau mendapatkan istri cantik seperti bidadari. Ketiga, kau mendapatkan istri yang berbakat dalam melukis ...."


"Tunggu! Melukis?" Anggara setengah berseru menanyakan hal itu. Ken kembali menoleh pada Bella. Apa yang Bella katakan itu benar? Tidak ada informasi tentang itu di publik. 


"Benar. Ia sangat berbakat di dalamnya. Selain itu, jika kau berhasil mendapatkan hatinya maka kau akan mendapatkan keluarga Adhitama!"


"Semua yang kakak katakan itu bukan sekadar omong kosong kan?"


"Untuk apa aku omong kosong? Hanya saja kau butuh kesabaran ekstrak untuk itu. Itu adalah modal terbesarmu. Jangan berkecil hati dan mudah menyerah. Jangan pernah menyalahkan takdir dan orang tuamu. Jalani dengan baik dan sepenuh hati."


"Hingga pada akhirnya kau akan mendapat kemenangan sama seperti sekarang!"


Bella tersenyum penuh arti melihat kata victory di layar ponselnya. 


"Aku kill terbanyak? Tanpa dead?"


"Di saat kau memiliki ketenangan hati maka disitulah letak kemenangan. Congrats."


"Kakak terima kasih. Aku sudah merasa lebih nyaman," ucap tulus Anggara. 


"Kau beruntung mendapatkan berlian yang sangat langka!"


Tidak ada sahutan. Mereka keluar dari game. Bella menghela nafas lega. Ia yakin Anggara mengerti apa yang ia katakan. "Keluarga Adhitama memang merahasiakannya dari publik. Apa yang aku katakan adalah kebenaran. Kita akan melihatnya cepat atau lambat!"ujar Bella yang menerima tatapan tanya dari Ken.