
Setelah serangkaian prosedur penebusan tilang, akhirnya Ken kembali mendapatkan SIM-nya serta surat kendaraan bermotor yang sudah kembali kepada Bella.
"Aru … kau masih marah?"
Bella tidak menjawab. Ia memakai helmnya.
"Aku saja yang bawa," ucap Ken sebelum Bella naik ke motor.
Tadi saat menuju pengadilan, Bella lah yang membawa motor karena SIM Ken ditahan. Bella tidak menjawab namun menuruti ucapan Ken. Ken mengulas senyum simpul.
Tiada kata yang terlontar dari keduanya saat perjalanan menuju Mahendra Group. Ken sibuk dengan mengemudi dan Bella sibuk dengan kegundahan hatinya. Namun, biar begitu Ken merasakan sedikit kelegaan karena Bella memeluknya erat.
Setibanya di ruangan Wakil Presdir, Bella tenggelam dalam pekerjaannya. Begitu juga dengan Ken. Sekarang ia tidak berani membahas masalah pribadi secara verbal dengan Bella sekarang.
Ken takut Bella akan marah besar jika ia mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan di jam kerja.
Rencananya nanti waktu makan siang Ken akan membahas hal kemarin dengan Bella. Namun, biar begitu Ken berani menyelipkan kertas notes yang berisikan kalimat permintaan maaf dan bujukan bahkan mencuri cium pada istrinya yang ditanggapi dengan lirikan tajam Bella. Sedang kertas notes yang Ken selipkan, Bella masukkan ke vas bunga yang berada di atas mejanya.
Ken yang menerima lirikan itu tersenyum manis dan menunjukan peace pada Bella.
Jam makan siang tiba. Namun, Bella masih tenggelam dalam pekerjaannya. Ken memutuskan untuk mengambil makan siang dulu dari kantin. Saat Ken masuk ke dalam lift, Brian keluar dari ruangannya dan menuju ruangan Wakil Presdir.
Tok.
Tok.
"Masuk!" Brian masuk setelah mendapat persetujuan Bella.
"Ehem." Brian berdehem menyadarkan Bella yang masih fokus pada laptopnya. Bella melirik dan mengangguk kecil, mengatakan tunggu sebentar.
Brian menunggu dengan duduk di kursi di depan meja Bella. Ia lalu meletakkan sebuah map di atas meja Bella.
"Tak heran jika kau masuk dalam catatan forbes, Abel." Kalimat pujian yang dilontarkan dengan nada datar.
"You too, Brian," sahut Bella. Pekerjaannya dalam jangka waktu sebelum makan siang baru saja usai. Bella menutup laptopnya, menatap Brian dengan senyum simpul.
"Laporan keduanya bulan ini. Papa mempercayakannya padamu untuk mengevaluasinya," jelas Brian saat Bella menunjukkan wajah tanya mengenai map di atas meja.
"Oh." Bella mengambil dan mulai membuka lembar demi lembar lembaran map.
"Bye de way, kau percaya padaku tentang hal ini?"tanya Bella, sekilas melihat Brian kemudian kembali fokus pada apa yang tercantum di dalam lembaran map.
"Apa aku terlihat tidak mempercayaimu?"tanya balik Brian.
"Ah … aku mengerti," sahut Bella.
Benar juga, jika Brian tidak percaya padanya lagi pasti sangat kesal akan perintah Surya, pasti bukan Brian yang mengantarkan laporan keuangan secara langsung.
"Kau bertengkar dengan Ken?"tanya Brian setelah hening beberapa saat.
Ken dan Silvia entah membeli makan siang di kantin mana. Sudah begitu lama namun belum juga kembali.
"Dalam suatu hubungan, tidak mungkin tidak pernah terjadi pertengkaran," jawab Bella.
"Laporan ini akan aku dalami lagi setelah makan siang. Kau tidak keberatan, kan?"
"Lagipula meetingnya esok," sahut Brian santai.
Bella menutup map dan meletakkannya di atas map lainnya yang berada di atas meja.
"Apa penyebabnya resepsi aneh malam tadi?"
Karena Brian menginap di hotel, sedikit banyaknya ia mendengar tentang apa yang terjadi pada Cia seusai resepsi., terlebih ada Silvia di sampingnya yang seperti media berjalan.
Dan ekor matanya setelah acara dansa berakhir menangkap Angkasa yang disusul oleh Cia, menuju balkon di mana Ken dan Bella berada. Terakhir sebelum naik, ia melihat perubahan raut wajah Ken yang jelas disusul dengan pesan dari Bella bahwasannya Bella dan Ken tidak jadi menginap di hotel.
"Hm."
Tanpa perlu dijelaskan, di wajar datar itu pasti sudah mengerti.
"Ya begitulah jadinya kalau mantan kembali. Tapi, aku yakin kalian akan segera bisa mengatasinya. Bukankah kalian selalu kompak?"
"Wow!" Bella berdecak takjub. "Aku tak menyangka kau bisa berkata seperti itu, Brian," lanjut Bella.
Brian menggiring pembicaraan ke arah pekerjaan saat Ken masuk ke dalam dengan membawa dua box makan siang.
"Kak," sapa Ken ramah. "Lagi membahas hal apa?"tanya Ken, sembari meletakkan dua box makan siang yang ia bawa di atas meja sofa.
"Tentang mega proyek selanjutnya," jawab Bella pada Ken. Lalu kembali menoleh pada Brian.
"Aku terlalu sibuk saat ini, mungkin selesai proyek dengan Nero Group barulah aku memikirkannya," jawab Bella pada Brian.
"Okay. Kalau begitu aku kembali ke ruanganku," sahut Brian, undur diri kembali ke ruangannya karena perutnya sudah lapar. Silvia pasti juga sudah menunggunya.
Bella beranjak dari tempatnya, duduk di samping Ken sudah kemudian menyodorkan suapan pada Bella. "Ayo makan, Aru," ucap Ken.
"Ayo kau butuh energi untuk bisa fokus bekerja dan juga marah denganku," ucap Ken lagi melihat Bella diam menatap suapan yang berisi nasi dan hati ikan itu.
Bella lalu menjawab dengan melahap suapan Ken. Selesai makan siang, Bella menatap lekat Ken. "M-mengapa kau menatapku begitu, Aru?"tanya Ken gugup.
"Kau lupa apa yang aku katakan tempo hari jika aku sedang dalam amarah atau suasana hati yang tidak bagus?"
Mata Ken menyipit, ia sepertinya tengah mengingat. "Ah tentu aku ingat," jawabnya kemudian.
"Ck!"
Sejurus dengan decakan Bella. Ken memeluk dirinya. Tak sampai di situ, Ken memangut bibir istrinya. Desert makan siang hari ini. Cukup lama kedua berciuman. Hingga saat selesai, keduanya terengah dan menghirup udara banyak-banyak.
"Kau ini!"gerutu Bella. Namun, tak mampu menyembunyikan rasa malunya. Pipi Bella merona.
"My Aru semakin cantik jika sedang tersipu," puji Ken. Dan cup! Satu kecupan mendarat di pipi Bella.
"Ken!!"
"Kau masih marah, Aru?"tanya Ken lirih. Wajahnya memancarkan harap jika Bella akan menjawab 'tidak'. Bella menghela nafas pelan.
"Sejujurnya rasa kesalku padamu sudah hilang sejak tadi pagi," ucap Bella, pelan. Ken terkesiap di tempatnya. Ia merasa tidak percayanya.
"Sungguh? Lalu mengapa kau masih mengabaikanku dari tadi pagi?"
"Karena aku merasa gusar pada hatiku sendiri. Jelas-jelas aku juga pernah mengalami, melupakan cinta pertama itu sangat sulit. Bahkan hubunganmu dengannya terbilang sangat lama. Adalah reaksi wajar jika kau merasa seperti tadi malam, kebingungan sendiri. Ya jika ku tilik sekarang, kau mengambil keputusan apapun tadi malam, pergi atau berbicara dengan Cia, sedikit banyaknya akan ada konflik juga di antara kita. Ah, tidak. Aku lah yang menyuruhmu berbicara dengannya dengan tujuan kalian benar-benar mengakhiri hubungan secara berhadapan, bukan seperti kemarin. Namun, nyatanya aku lah yang sebenarnya memicu masalah di antara kita."
Bella sudah merenung semalam. Ia berbicara dengan nada tenang. Ken menelaaah ucapan Bella. Dalam hatinya membenarkan ucapan Bella. Jujur saja, di hatinya masih ada nama Cia. Masih ada cinta untuk Cia. Namun, Ken harus menguburnya jauh di dasar hatinya.
Cia masa lalu sedangkan Bella, Bella adalah istrinya, selama dan satu-satunya. Ken sudah melepaskan Cia. Ia pun berharap Cia bahagia dan konsisten pada keputusannya untuk menjauh dari kehidupannya.
"Percayalah, aku tidak akan berpaling. Aku sangat mencintaimu." Ken menarik Bella dalam pelukannya.
"Aku lah yang salah. Aku pikir dengan begitu kau akan merasa tenang. Tapi, aku juga keliru. Sepertinya kita berdua akan memicu masalah besar."
"Aku percaya padamu, Ken. Tapi, aku ragu dengan Cia. Tatapannya kemarin menunjukkan bahwa ia masih sangat mencintaimu. Dan ketidakrelaan yang besar di matanya. Aku takut. Aku takut … aku takut nama yang telah kau kubur itu kembali naik dan bersemi."
Bella menerka pasti ada alasan penting di balik Cia yang meninggalkan Ken tanpa sepatah katapun. Dari sudut pandangnya pasti tentang kesehatan yang terus memburuk dan Cia tak ingin membuat Ken sedih berkepanjangan.
"Semua janji yang pernah aku dan Cia buat, putus mengikuti akhirnya hubungan kami. Namanya memang masih ada di sudut hatiku. Masih ada cinta untuknya memang. Namun, Aru. Seiring waktu, seiring dengan dalam dan eratnya hubungan kita. Itu akan terkikis habis. Jadi, jangan khawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Lagipula Cia bukan tipe orang yang akan menghalalkan segala cara demi kembali padaku. Aku pun tak bisa kembali padanya. Aku menjaga janjiku padamu. Aku, suamimu one and forever maka kau juga istri one and foreverku," tutur Ken lembut.
"Walau begitu, hatiku masih ragu dan takut, Ken. Hati manusia terkadang tidak bisa kita tetapkan tidak akan berubah. Manusia bisa berubah karena apa saja. Itu membuatku gusar."
"Aru, kita ini keluarga Mahendra. Seseorang tidak bisa seenaknya keluar dan masuk dalam keluarga kita. Percayalah, banyak sekali yang menjaga hubungan kita selain kita berdua. Jangan cemas, anggap saja ini cobaan untuk hubungan kita. Bukankah ini warna dalam hubungan kita? Dengan adanya konflik ini membuat kita semakin dekat dan dekat. Aru, kita ini dua raga dalam satu jiwa."
"Kau benar," jawab Bella setelah memikirkan ucapan Ken barusan.
"Jadi, kita berbaikan?"
"Cara penyelesaiannya begitu cepat. Memang benar jika mengedepankan perasaan daripada logika, urusannya akan panjang dan rumit," sahut Bella kemudian berdiri.
"Mau ke mana?"
"Shalat."
"Ayo!"
***