
Ken menyampaikan keputusannya dan Bella pada keluarga Mahendra dan Kalendra saat sarapan. Sesaat, kecuali Surya semua tertegun karena menurut mereka itu diambil secara tiba-tiba. Rahayu, Rose, dan Max langsung menunjukkan wajah keberatan. Dan yang menjadi titik beratnya adalah kehamilan Bella.
Namun, dengan segala alasan yang dikemukakan Bella dan juga Ken, pada akhirnya ketiga orang itu mengizinkan walaupun masih tampak keberatan.
"Abel, walaupun kondisi Nero Group tengah menurun, mereka tidak akan mudah untuk digulingkan," ucap Louis.
"Aku tahu, Kak. Namun, jika tidak di saat seperti ini, kesempatan emas akan hilang dan itu tidak akan datang dua kali!"jawab Bella.
"Dan aku tidak akan memberi kesempatan untuk Nero Group bangkit!"imbuh Bella.
"Seharusnya masalah ini Daddy yang menyelesaikannya. Akar masalah ini adalah dari keluarga ini. Daddy mohon maaf padamu, Abel," ucap Max dengan menundukkan kepalanya. Bella tersenyum seraya menggeleng.
"Keluarga Chandra lah yang mengalaminya. Nenek sudah melepas nama Kalendra, maka itu sudah terbebas dari kalian. Jangan merasa bersalah, aku dan keluarga Chandralah yang merasakannya, maka aku yang akan membalasnya." Ya walaupun begitu, Bella berkata dengan nada datar.
"Abel," panggil Rose, pelan saat melihat Bella mengepalkan tangannya yang berada di atas meja.
"Jaga emosimu, Aru," bisik Ken sembari menyentuh tangan Bella, menggenggam tangan yang mengepal itu.
Bella menghela nafas kasar. "Masa lalu tidak perlu diungkit lagi," ujar Bella dengan tersenyum.
"Jika begitu … Abel, Ken, gunakan pesawat Kalendra untuk terbang ke Los Angeles," ujar Leo. Jika ditanya apa ia ingin ikut membantu Bella, maka jawabannya ingin. But, Helena tengah hamil, tidak mungkin ia pergi.
Begitu juga dengan Louis. Ia baru saja menikah, tidak mungkin meninggalkan istrinya dan pergi bersama dengan Bella ke Los Angeles.
Anjani? Dia harus segera kembali ke perusahaan dan Bella melarangnya untuk ikut. Anjani punya tanggung jawabnya sendiri.
El?
Dia juga harus segera kembali ke pekerjaannya. Naskah yang ditulis oleh Helena telah selesai dan itu akan segera digarap menjadi sebuah film.
Dylan? Walaupun ada sangkut pautnya dengan keluarga Buana, Dylan terlalu labil dan menurut Bella akan menimbulkan masalah baru.
Surya dan Rahayu juga harus segera kembali ke Paris. Rose akan menjaga menantunya, Helena selama Leo bekerja. Max, Bella juga melarang Max ikut. Bella ia meyakinkan semuanya bahwa Bella bisa mengatasinya tanpa bantuan yang lain, tidak juga dengan Ken.
Brian dan Silvia? Mendengar Bella dan Ken akan ke Los Angeles, Silvia langsung teringat dan ingin mengunjungi adiknya yang dirawat di salah satu rumah sakit Los Angeles. Terlebih sudah jadwalnya. Brian tidak bisa menahan keinginan Silvia.
Beberapa hari belakangan ini pun, Silvia sering mengatakan ingin menjenguk adiknya. Namun, karena belum ada waktu luang yang cukup, mereka belum bisa pergi ke LA.
"Pergilah. Papa memberi kalian cuti tiga hari. Ah ya, Brian sekalian lakukan sidak mendadak di sana," ucap Surya saat Brian menyampaikan keinginannya. Brian menyanggupinya.
Sekitar pukul 09.00, Umi Hani, Nizam, dan Evan berkunjung ke kediaman Kalendra untuk menyampaikan ucapan terima kasih serta berpamitan pada kedua keluarga yang telah membantu mempertemukan mereka.
Kebetulan juga ketiganya akan langsung ke bandara setelah dari sini. Begitu juga dengan keluarga Mahendra. Mereka sudah selesai memasukkan barang ke dalam mobil.
Rahayu dan Umi Hani berpelukan. Begitu juga dengan El yang berangkulan dengan Nizam juga Evan.
"Bahagia untuk pernikahan kalian," ucap Bella dengan memeluk Silvia.
"Yang terbaik untukmu, Abel," balas Teresa.
"Jaga sahabatku dengan baik, Louis," pesan Bella pada Louis.
"Jaga dirimu dengan baik, dan juga suami kecilmu itu," balas Louis dengan bahasa Jerman. Bella terkekeh pelan. Ken menatap datar Louis. Dalam hatinya yakin pria itu tengah mengejeknya.
"Ah ya, jangan jadikan aku sebagai sumber jika kalian bertengkar. Kita sudah punya hidup masing-masing, maka jalani hidup itu tanpa sandungan dari masa lalu," pesan Bella pada Louis dan Tetesa. Bella mengacungkan jari telunjuknya pada Louis dan Teresa sebagai peringatan dan penegasan.
"I'm promise," jawab Louis dengan mantap.
"I'm too," timpal Teresa.
"Jaga Abel dengan baik!"ucap Louis dengan menepuk bahu Ken.
"I know," sahut Ken.
"Abel …."
"Yes, Dad?"sahut Bella. Bella sedikit tergagap menerima sebuah lemparan dari Max. Bella membukanya.
"Apa ini?"tanya Bella dengan menatap bingung kunci mobil di tangannya.
"Hadiah untuk kesembuhanmu. Daddy tidak bisa membantu dalam menagih hutang. Jadi, Daddy berikan itu agar kau bisa mengejar ataupun kabut dengan cepat," jawab Max dengan tersenyum. "Daddy tidak menerima penolakan!"tambah Max.
Bella tidak tahu harus berkata apa selain, "terima kasih, Dad." Lalu Bella memeluk Max.
"Jaga dirimu dengan baik, my princess. Daddy akan sering mengunjungimu nanti," bisik Max.
"Daddy juga."
"Ambil mobilmu," ucap Max dengan kepalanya ke arah garasi. Bella mengangguk.
"Wow!" El langsung berdecak saat mobil yang dikemudikan Bella keluar dari garasi.
Mercedes Maybach S680, brand terbaru dari sub mercedes benz itu yang menjadi hadiah Max untuk Bella. Warna hitam, elegan dan mewah, sangat cocok dipadukan dengan Bella sebagai pemiliknya.
"Kau suka?"tanya Max saat Bella keluar dari mobil.
"Aku suka, Dad. Thank you," jawab Bella.
Ken tidak mengatakan apapun selain tersebut. "Penerbangan kita hampir tiba. Sudah saatnya berangkat," ucap Brian mengingatkan.
"Kalau begitu kami sekeluarga pamit pulang, Max," ucap Surya dengan berjabat tangan dengan Max.
"Hati-hati."
Bella memberikan kunci mobil pada Ken. Ken masuk lebih dulu. Diikuti oleh Arka dan Anjani. Mereka memutuskan tidak jadi ke kota Aachen, tidak lengkap tidak akan seru.
Umi Hani, Nizam, dan Evan juga berpamitan dengan keluarga Kalendra.
Keluarga Kalendra melambaikan tangan saat satu persatu mobil meninggalkan halaman kediaman.
*
*
*
Tiba di bandara, mereka langsung berpencar menuju penerbangan masing-masing. Ken, Bella, Brian, dan Silvia menuju pesawat pribadi keluarga Kalendra untuk terbang menuju Los Angeles.
El, Anjani, Dylan, dan Arka menuju pesawat komersial sesuai dengan tiket yang telah mereka pesan. Surya dan Rahayu menuju pesawat pribadi keluarga Kalendra, mereka akan bertolak menuju Paris.
Sementara Umi Hani, Nizam, dan Evan menuju yang telah ditunggu oleh Calia sebelumnya langsung menuju pesawat pribadi keluarga Arshen untuk berangkat ke kota Bremen.
Ken juga sibuk, yang seharusnya hari ini ia bertolak ke Papua, berubah menjadi ke Los Angeles menemani Bella. Hal itu membuatnya sementara harus memantau secara virtual selama tiga hari ke depan. Ia juga harus mengatur kembali jadwal Bella. Ken masihlah sekretaris Bella.
Hal yang sama juga terjadi pada Brian. Silvia juga bekerja sesuai dengan jam yang tekah Brian atur. Alhasil keempat orang itu tenggelam dalam dunia pekerjaan mereka yang sudah menjadi tuntunan posisi dan tanggung jawab.
Saat fokus pada pekerjaannya, Bella teringat pada suatu hal. Segera ia membuka email. Menulis dan mengirimkan sebuah email kepada seseorang.
10 jam bukan? Bella menarik senyum tipis.
*
*
"Merasa sedih karena tidak jadi ke Aachen?"tanya El, menoleh ke arah Dylan melihat ke arah jendela di sampingnya.
"Tidak. Itu hanya ditunda sebentar dan aku punya kesadaran besar untuk menunggunya," jawab Dylan dengan tersenyum lebar.
"Ya kau memang punya kesabaran yang besar," sahut El.
"Ku dengar kakak akan langsung syuting di Aachen untuk film comeback nanti, aku bisa ikut dan berkeliling sepuasnya, bukan?"
"Ah telingamu tajam sekali." El menepuk lengan Dylan.
Ya. Naskah yang ditulis oleh Helena memang berlatar di dua negara, Indonesia tepatnya Yogyakarta dan Jerman, terutama di kota Aachen dan beberapa kota lainnya.
Rencananya syuting akan dilakukan tanpa green screen. Akan memakan banyak biaya? Ya itu sudah pasti. Dan El bersiap untuk menjadi sponsor dan investor untuk filmnya itu.
Di belakang kursi Anjani dan Arka mulai tertidur karena efek perjalanan.
*
*
*
Pesawat pribadi keluarga Kalendra mendarat di bandara Internasional Los Angeles pukul 10.00 waktu Los Angeles. Selagi menunggu mobil keluar dari cargo, Ken mencari mesin penjual minuman dan makanannya ringan. Brian mengikut.
"Kau akan langsung ke rumah sakit?"tanya Bella.
"Ya," jawab Silvia yang sudah tak mampu menyembunyikan binar rindu di matanya.
"Itu searah dengan tujuanku," ucap Bella.
"Okay," sahut Silvia. Tak lama kemudian, mobil telah keluar dari cargo, Ken dan Brian juga telah kembali dengan masing-masing membawa cukup banyak makanan dan minuman ringan. Mungkin mereka kekurangan cemilan di pesawat. Atau, baru terasa laparnya kerena hanya fokus pada laptop.
Ken kembali mengambil posisi pengemudi. "Ikuti mapsnya," ujar Bella yang telah memasukkan ke tujuan ke GPS mobil.
"Alright," jawab Ken dengan tersenyum. Di belakang, Brian dan Silvia duduk dengan mengemil makanan yang Brian beli di bandara tadi. Sedangkan Bella membuka sebungkus roti karena perutnya terasa sendiri lapar dan sebentar lagi jam makan siang, lebih baik mengganjal dulu.
Setelah menempuh perjalanan sekian menit, GPS mobil berhenti di depan pintu masuk rumah sakit Ronald Reagan UCLA Medical Center, salah satu rumah sakit terbaik di Amerika Serikat dan tempat di mana adik laki-laki Silvia, Fajar dirawat.
"Kami akan menjenguk adikmu nanti ya, Kak."
"Selesaikan dulu urusan kalian," jawab Silvia sembari mengangguk.
"Kami lanjut, assalamualaikum," pamit Bella.
"Waalaikumsalam, hati-hati." Brian dan Silvia melambaikan tangan saat Ken kembali melajukan mobil.
"Ayo, Via," ajak Brian, menggenggam jemari sang istri. Silvia mengangguk dan keduanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Kita ke Nero Group, Aru?"tanya Ken melihat tujuan dari GPS mobil.
"Benar, itulah tujuan kita," jawab Bella.
"Ku kira kita akan ke kediaman Nero."
Bella tersenyum tipis mendengarnya. Ia duduk menunggu tiba di tujuan dengan memainkan ponselnya. Di saat demikian, ponsel Bella berdering.
"Ya, aku sudah tiba," jawab Bella singkat dan panggilan berakhir.
"Itu siapa?"tanya Ken.
"Bisa dikatakan sebagai orangku," jawab Bella.
"Kau punya anak buah di sini?" Ken terhenyak.
"Kau akan tahu nanti, Ken." Ken semakin penasaran dengan senyum misterius yang Bella sunggingkan.
*
*
*
Di Nero Group, seluruh dewan direksi telah berada di ruang meeting untuk menyaksikan acara penjualan saham Nero Group kepada ahli waris Tuan Williams. Kepercayaan Tuan William yang bernama Adam itu berdiri di belakang kursi yang akan menjadi tempat duduk ahli waris Tuan William.
Semua sudah menunggu dengan raut wajah tegang bercampur penasaran. Acaranya dipukul 11.00, itu artinya sepuluh menit lagi. Mereka begitu ingin tahu, siapa dan bagaimana rupanya ahli waris Tuan Williams yang mampu membuat keluarga Nero tidak berkutik dan akan kehilangan kuasa atas Nero Group.
"Tuan Adam, apa Nona Anda ingat akan hari ini?"tanya Marco, dengan nada dingin.
"Beliau akan hadir tepat waktu," jawab Tuan Adam singkat.
"Santai saja, Tuan Marco. Jangan tidak sabaran begitu." Sebuah kalimat dengan nada menyindir dilepaskan oleh seorang dewan direksi yang memiliki saham cukup besar di Nero Group.
Marco tidak menjawabnya. Mereka menunggu, waktu tinggal 2 menit lagi menuju pukul 11.00.
"Tiga, dua, satu." Tuan Adam menghitung mundur dan melihat ke arah pintu masuk yang terbuka.
"Nona." Tuan Adam langsung menyapa siapa yang memasuki ruang meeting, seorang wanita yang mengenakan hijab dan seorang pemuda tampan di belakangnya.
"Saya belum terlambat, bukan?"
Mata Marco dan Aldric terbelalak. "Kau? Untuk apa kau di sini? Bagaimana bisa kau ada di sini?!"
"Tentu saja untuk membeli saham Anda, Tuan Marco yang terhormat," jawab wanita itu yang tak lain adalah Bella.
Ken?
Ini menunjukkan raut wajah bingung. Apa ini?