This Is Our Love

This Is Our Love
Pertemuan (2)



Cia tertunduk lemas setelah Rahayu keluar dari kamarnya. Matanya memerah, tak lama tangisnya pun pecah. Hati Cia begitu sakit. Sangat sakit ketika mendengar kabar tentang perjodohan Ken dan Rahayu yang meminta izinnya. Terlebih, Cia begitu hancur ketika ia mengizinkan hal tersebut. 


Hal itu sedikit banyaknya berdampak pada kesehatan Cia. Pandangan Cia mulai mengabur, rasa sakit kembali menghujam kepalanya, diikuti dengan aliran darah segar dari hidungnya.


"CIA!" Kedua orang tua Cia begitu cemas melihat kondisi Cia.


"Mama … Papa …," ucap Cia lirik sebelum akhirnya kembali tak sadarkan diri. 


"CIA, BANGUN SAYANG!"pekik Clara panik. 


"Kita ke rumah sakit, Ma!"ucap Bayu, segera menggendong Cia.


Keluarga Mahendra! Aku tidak akan melepaskan kalian jika hal buruk terjadi pada Cia!batin Clara geram.


*


*


*


Rapat mingguan yang dipimpin langsung oleh Surya berlangsung dengan kondusif. Semua peserta meeting menyampaikan laporan mereka secara bergilir. Surya tampak begitu cermat dan teliti mendengar semua laporan.


Saat mendengarkan laporan Brian selaku direktur pemasaran, sekaligus putra pertama Surya, tiba-tiba ponsel Surya berdering. Brian refleks menghentikan laporannya, semua tatapan tertuju pada Surya yang kini menggenggam ponselnya dengan senyum mengembang. 


"Sebentar, saya angkat telepon dulu," ucap Surya. Semua mengangguk, Brian kembali duduk dan menatap lekat Surya yang tampak begitu senang.


"Baguslah." Brian mengangkat alisnya mendengar ucapan Surya. 


"Baiklah, Sayang. Bersiaplah, Mas juga akan secepatnya pulang." 


Dari Bunda Ayu?batin Brian, menarik senyum penasaran.


"Iya. Waalaikumsalam …." Panggilan berakhir. Surya kembali meletakkan ponselnya, mengedarkan pandang. Surya mengeryit tipis melihat senyum Brian. 


Ehem.


 


Surya batuk pelan.


"Lanjutkan laporanmu tadi, Direktur Brian!"ucap Surya. Brian terkesiap, tanpa sadar ia melamun. Brian berdehem pelan kemudian berdiri. 


"Baik, Presdir," ucapnya tegas, lanjut menyampaikan laporannya.


*


*


*


"Jani kau sudah siap?"tanya Bella yang keluar kamar dengan menggunakan celana kulot berwarna putih dipadukan dengan loose blouse dan hijab berwarna senada. Pakaian yang cukup formal dan juga bersahabat untuk bertemu dengan orang yang cukup penting. Tas selendang berwarna senada juga menyampir cantik di pundak Bella. 


"Sudah, Bel!"sahut Anjani tak lama kemudian keluar dari kamar bersama dengan Arka. Anjani juga tampil cantik dengan celana panjang yang di double dengan rok tutu berwarna peach dipadukan dengan baju bergaris-garis hitam dan pashmina berwarna hitam.


"Ya sudah, ayo." Bella mengambil helm dan kunci motornya. 


Setibanya di basement, Bella memanaskan sejenak motornya setelah itu barulah Anjani naik setelah menaikkan Arka. 


Arka berpegangan erat pada Bella, begitu juga dengan Anjani, "pelan-pelan saja ya, Bel," pinta Anjani.


Bella mengangguk, melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tiba di tempat yang Bella tentukan, terlihat sebuah mobil sport mewah berwarna merah yang tak lain adalah sebuah mobil ferrari. Anjani turun, Arka masih berada di atas motor. Anjani mengedarkan pandang, ia pikir akan bertemu di sebuah cafe ataupun restoran, tapi malah di sebuah tempat makan kaki lima yakni warung ayam penyet. 


"Bel, serius ketemuan di sini?"tanya Anjani memastikan.


"Ya, benar. Itu mereka," jawab Bella, menunjuk salah satu meja yang diisi oleh dua orang. Anjani melihat ke arah tersebut, matanya menyipit.


"Pak Surya?"gumam Anjani tidak percaya. Anjani menatap Bella meminta penjelasan. Bella cuek dan turun, lalu menurunkan Arka.


"Aunty, Aka mau ikan lele ya," ucap Arka seraya memegang lengan Bella.


"Aka bebas mau makan apa saja," jawab Bella.


"Yeah! Makasih, Aunty!"ucap Arka bahagia.


"Ayo," ajak Bella yang melihat Surya melambaikan tangan padanya. 


"Ya …."


Surya dan Rahayu langsung berdiri saat Bella, Anjani, dan Arka mendekat.


"Assalamualaikum, Pak, Bu," sapa Bella dan Anjani ramah. Keduanya menyalami Surya dan Rahayu, begitu juga dengan Arka.


"Waalaikumsalam, Nona Nabilla, dan …." jawab Surya dan Rahayu bersamaan.


"Anjani, Pak, Bu," ujar Anjani memperkenankan dirinya. 


"Ah ya Anjani." Anjani tersenyum lebar, sungguh tak menyangka. Anjani jelas mengenal Surya, karena suaminya, ah tidak calon mantan suaminya itu bekerja di Mahendra Group sebagai seorang manager, bawahan dari Brian. 


"Saya kira Anda tidak datang, Nona," ucap Surya. Bella memang terlambat datang karena sempat terjebak macet, belum lagi Anjani yang merengek ketakutan jika Bella menambah sedikit kecepatannya.


"Yayaya saya percaya. Ah ya kenalkan ini istri tercinta saya, calon ibu mertuamu, Rahayu!" ujar Surya seraya merangkul pinggang Rahayu.


"Ternyata lebih cantik dari yang di foto ya," tutur Rahayu lembut. Anjani yang mendengarnya, refleks menyemburkan air yang belum ia telan. Dan itu mengenai pakaian Surya. 


"Calon ibu mertua? Abel?"


Anjani menatap tajam Bella, sedangkan Bella menatap pakaian Surya yang basah dimana Rahayu sibuk membantu mengeringkannya. Wajah Surya terlihat kesal, begitu juga dengan Rahayu. Bella menghembuskan nafas pelan, "nanti aku jelaskan, sekarang lihat akibat semburan mautmu!"ucap Bella. 


Anjani tersadar, astaga!batinnya panik. Segera Anjani membungkuk dan meminta maaf.


"Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya kaget mendengar ucapan Anda tadi," sesal Anjani.


"Mama ngapain bungkuk gitu?" Arka yang masih belum tahu apa yang terjadi, bertanya polos pada Anjani. Rahayu yang melihat hal itu, kekesalannya mendadak sirna. Senyumnya mengembang.


"Ya sudah, nggak Papa. Saya paham kok. Pasti Nabilla belum memberitahu kamu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Surya.


"Benar. Terima kasih, Pak!" Anjani bernafas lega. 


"Ayo silakan duduk, nggak capek apa berdiri terus?"ajak Rahayu ramah. Bella dan Anjani mengangguk. 


"Ah ya, Anjani apa boleh anak kamu duduk di dekat saya?"tanya Rahayu penuh harap. Surya mengernyit tipis mendengar itu, begitu juga dengan Bella. Anjani terkejut, melihat wajah memelas Rahayu, Anjani membolehkannya.


"Aka Sayang, kamu duduk di dekat Ibu itu ya," bisik Anjani.


"Tapi Aka nggak kenal sama Ibu itu, Ma," ucap Arka.


"Ya sekarang memang Aka nggak kenal, tapi Ibu itu calon Oma Aka," bujuk Anjani menyelipkan sebuah kebenaran yang baru akan terjadi.


"Calon Oma? Tapi nggak jahat kayak Oma Laras kan?" Anjani tertegun mendengar Arka yang tahu kelakuan ibu mertuanya padanya. 


"Nggak. Oma Rahayu itu baik, buktinya tadi waktu Mama nyembut Oppa dengan air, Oppa sama Oma nggak marah," jawab Anjani. Bella, Surya, dan Rahayu tersenyum mendengar bujukan manis Anjani yang sebenarnya terlalu melewati batas. 


"Ohh okay, deh." Arka dengan gesit berpindah dan kini duduk di antara Surya dan Rahayu. Surya tersenyum senang melihat Rahayu yang tampak suka dengan Arka. Ia tahu jelas bahwa Rahayu mengidamkan cucu, tapi sampai kini belum juga tercapai. Ia juga heran dengan Brian dan menantunya, sudah menikah dua tahunan masih belum dikaruniai anak. Padahal keduanya sama-sama subur. Belum rezeki mungkin.


"Oh iya, Bapak sama Ibu belum pesan makanan atau sudah makan duluan?"tanya Bella yang disambut kekehan Surya.


"Tentu saja belum. Kita pesan sekarang, saya juga sudah lapar sekali," jawab Surya, memanggil pelayan. 


"Oma, Aka lele goreng sama hati goreng ya. Minumnya jus jeruk ya," ucap Arka yang sudah nyaman dengan Rahayu.


"Baiklah, Aka …."


Menunggu pesanan datang, mereka kembali berbincang. Bella merasa calon mertuanya ini orang yang baik dan tidak memandang status seseorang untuk berteman. Terlebih Rahayu yang terlihat sangat santai dan nyaman berada di tempat seperti ini. Biasanya kan seorang Nyonya keluarga ternama, pasti sangat pemilih dan serba mewah dan mahal. Bella semakin penasaran dengan keluarga Mahendra.


Rahayu sendiri, sebelum bertemu dengan Bella saja sudah tertarik dengan Bella. Dan setelah bertemu, ia yakin dengan Bella menjadi menantunya. Gayanya tidak menggunakan gaya barat, penampilan yang sopan, cakap, dan juga tidak suka mencari perhatian. Sikapnya wajar, dan perilakunya juga tidak dibuat-buat, semua natural. 


Mungkin sebaiknya aku kasih tahu saja tentang Cia, batin Rahayu.


"Ehem Nabilla, ada yang ingin saya katakan pada kamu, ini penting dalam hubunganmu dengan Ken kelak," ujar Rahayu. Bella menautkan alisnya, penasaran dengan apa yang akan disampaikan Rahayu. Begitu juga dengan Surya. Sedangkan Anjani sendiri, tenggelam dalam pemikirannya. 


"Apa itu, Bu?"tanya Bella.


"Sebenarnya … Ken itu punya seorang kekasih yang sangat ia cintai, namanya Cia. Sebelum Cia divonis kanker, Cia adalah calon menantu kami. Tapi setelah itu, walaupun mereka tetap berhubungan tapi hubungan untuk menyatukan dua keluarga masih digantung, dan itu tidak akan pernah terjadi," jelas Rahayu. Mata Bella membulat.


"Sayang?!"protes Surya tidak suka. Menurutnya ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu hal itu.


"Biar Mas! Cia juga diberi tahu sebelum mereka menikah! Harus adil!"ucap Rahayu.


"Jadi secara tak langsung, saya adalah orang ketiga dalam hubungan mereka? Dan hanya karena dia menderita kanker, kalian ingin memisahkan mereka dengan menikahkan Ken dengan saya?"ucap Bella dengan nada sinis.


"Bukan! Bukan begitu!"bantah Rahayu.


"Jadi?" Bella memberikan tatapan tajamnya.


"Tidak ada yang orang ketiga karena pada kenyataannya kamulah yang akan menjadi istri sah Ken! Sedangkan untuk Cia dan Ken, keluarga Mahendra tidak akan menghalangi hubungan mereka. Lagipula umur Cia sudah tidak lama lagi, jadi kamu tidak perlu khawatir," jelas Surya. Bella tertawa sinis. Kini ia mengerti sedikit alasan di balik perjodohan yang diajukan padanya. 


"Harus aku akui, kalian itu egois!!"ucap Bella dingin. Bella yang kesal langsung meraih helmnya.


"Ayo Jani, Aka, kita pulang!"ucap Bella datar.


"Abel?" Anjani menatap cemas Bella yang tampak sangat kesal.


"Tunggu Nabilla! Jangan terlalu impulsif! Kamu hanya tahu sebahagian kecil, belum seluruhnya!"cegah Surya.


"Dari awal sudah saya katakan bahwa saya tidak tertarik untuk masuk ke keluarga Anda! Tapi Anda datang lagi dengan membawa sebuah kesempatan yang sangat saya butuhkan. Dan sekarang, saya butuh waktu untuk memikirkan semuanya lagi!"


"Dan pertemuan saya dengan putra Anda kelak, juga menanti penentu hubungan ini!"tegas Bella.


"Saya pamit, Assalamualaikum." Bella langsung melangkah pergi.


Anjani menghela nafas pelan, "kami juga pamit, Assalamualaikum. 


Anjani menyusul Bella dengan menggendong Arka.


"Bagaimana ini, Mas? Anak itu tidak mudah ditebak. Bagaimana jika ia membatalkan hubungan ini?"cemas Rahayu.


"Ini resiko dari keputusanmu. Kita hadapi saja," sahut Surya dengan menghela nafas berat.