This Is Our Love

This Is Our Love
Rusia or Mongolia 2



Irene membuka pintu pesawat. Mereka disambut dengan suasana malam bandara. Bella mengernyit saat melihat keluar. Hanya ada beberapa pesawat di parkiran. Gedung bandara yang lain tidak terlalu besar. Dan tidak ada banyak petugas. Dari tempatnya, Bella bisa melihat bandara sangat sepi. Ini bukan seperti bandara umum apalagi bandara bertaraf internasional. 


Bella menoleh pada Desya yang tersenyum. Wajahnya terlihat bercahaya karena pantulan cahaya.  "It's Russian?"tanya Bella. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh.


"Apa kau pernah ke Rusia?"tanya Desya. Pertanyaan itu seakan meremehkan Bella. Menyatakan bahwa Bella belum pernah ke Russian, lantas tahu apa Bella tentang Russia? 


Bella mencebikkan bibirnya. "Aku hanya bertanya. Jangan-jangan kau mengatakan kita akan ke Russia tapi malah entah ke mana. Lihat itu, bahasa apa itu? Itu bukan bahasa Rusia!!" Bella menunjuk salah satu rambu-rambu di area bandara di mana di sana ada dua bahasa. Satu bahasa bisa Bella mengerti. Itu bahasa Inggris. Sementara yang satu lagi, itu di luar pengetahuan Bella.


"Dan ini juga seperti bukan bandara umum. Apa ini bandara pribadi?" Bella menerka. Dalam suasana malam, Bella menyimpulkan pengamatannya.


"Kau memiliki mata yang tajam. Ini memang bandara pribadi." Desya menjawab pertanyaan terakhir Bella. Bella berdecak. Seberapa kaya Desya hingga memiliki bandara pribadi. Ah … tunggu! Dia kan mafia. Dan mafia identik dengan kaya raya. 


But, Bella menatap Desya menyelidik. 


"Mengapa kau menatapku seperti itu?"tanya Desya, merasa terganggu dengan tatapan selidik Bella yang tajam itu. 


"Kau juga bermain narkoba?"tanya Bella. Tatapan Desya yang tadi sedikit melembut kembali mendingin. 


Ia tidak menjawab, melainkan menuruni tangga yang sudah dilengkapi dengan eskalator itu. Bella yang masih berdiri di tempat menarik senyum tipis. "Sudah ku duga dan ini adalah tugas yang sulit. Membahagiakan diri sendiri saja sulit, bagaimana cara membahagiakan orang lain? Ckckck." Bella berdecak menggunakan bahasa Indonesia.


"Mari, Nona," ajak Irene, sedikit membungkuk mempersilakan Bella untuk turun lebih dulu. Irene sendiri membawakan koper Andrean. Agaknya ia bukan hanya sekadar pramugari.


 Irene tampak multitalenta dan bisa mengerjakan sesuatu berdasarkan situasi dan kondisinya. Bella juga baru menyadari bahwa Irene sudah tidak mengenakan pakaian pramugarinya. Ia mengenakan pakaian seperti seorang sekretaris. Rok di atas lutut dengan blazer serta rambut disanggul rapi. 


"Sepertinya tidak semudah yang aku bayangkan," gumam Bella lagi. Menuruni tangga dengan tidak bersemangat. 


Mobil sudah turun dari kargo. 


"Maaf, Nona." 


"Eh, apa ini?"tanya Bella saat Irene mendekat dan memakaikan secarik kain menutupi matanya. Bella meraba penutup mata berwarna hitam itu. 


"Ah. I know. Tidak perlu dijelaskan." Tentu saja matanya harus ditutup guna mencegahnya melihat dan menghafal rute perjalanan. 


Irene kemudian menuntun Bella untuk masuk ke dalam mobil. Bella duduk di samping Desya sementara Irene menjadi sopir. 


Bella duduk dengan mengarahkan pandangnya ke arah jendela. Walau ia tidak bisa melihatnya sekarang. Namun, tadi Bella sudah melihat dengan jelas jika langit begitu terang dengan bulan dan bintang yang menggantung indah. 


Bella menarik senyum. Satu indera ditutup, indera lain menjadi semakin peka. Bella dapat mendengar jelas suara mengetik. Sudah pasti Pria itu sibuk dengan laptopnya. Apa pria itu tidak mengenal yang namanya tidur? Saat Bella melihatnya, pasti selalu mendapati Desya tengah melakukan suatu hal.  


"Apa kau tidak lelah?"tanya Bella. Bella menolehkan wajahnya ke arah Desya.


"Ini belum jam tidurku," sahut Desya. Sepertinya pria itu punya hari yang serba telah ditetapkan dan cenderung monoton.


"Kau sendiri? Bukankah Ibu hamil harus banyak istirahat." Desya menghentikan sejenak aktivitasnya, menoleh pada Bella.


"Aku tidak mengantuk," jawab Bella. 


"Boleh aku menyanyikan sebuah lagu?" 


Bella meminta persetujuan. 


"Jika itu membuatmu senang, lakukan saja." Desya kembali pada pekerjaannya.


"Aku ingin pulang?"


"Kecuali meninggalkanku!" Desya memberi penegasan. 


Bella tidak membalasnya lagi. 


Kemanapun aku pergi


Bayang-bayangmu mengejar


Bersembunyi di manapun


Selalu engkau temukan


Bella menyanyikan lagu dari musisi Indonesia yakni Ebiet G. Ade. Desya dampak menikmati nyanyian itu walaupun tidak mengerti artinya. Lagu itu menggambarkan sebuah kerinduan akan rumah. Juga mengandung kesan bahwa sebuah masalah atau sesuatu yang bertentangan dengan hati tidak akan hilang. Walaupun kita pergi ke kemana saja. Karena masalahnya ada pada diri kita, pada hati kita, maka kemanapun kita pergi dia kan tetap ikut. 


Bella mengungkapkan isi hatinya melalui lagu tersebut. Kemanapun ia pergi, di manapun ia berada, Ken akan selalu bersama dengannya. Jarak bukanlah pemisah di antara dua hati yang telah menyatu. 


Aku ingin pulang …. Itu adalah lirik terakhir yang Bella nyanyikan. 


Bella tersenyum. Menyanyi membuat perasaan Bella lebih baik. Setidaknya kerinduannya dapat diobati meskipun sedikit. 


Bella menghela nafas pelan setelah bernyanyi. "Apa ini masih jauh dari rumahmu?"tanya Bella, ia merasa sudah duduk terlalu lama dan sekarang kantuk menghampiri dirinya. 


Desya menggeleng pelan, "tidurlah. Perjalanan masih lama lagi," jawab Desya.


Bella tidak lagi bertanya. Masih lama lagi? Bella memutuskan untuk menunaikan shalat isya di mobil saja. 


Melihat Desya yang fokus pada pekerjaannya, Bella melakukan tayamum. Kemudian shalat dalam posisi duduk. Kebetulan tadi, Bella membawa sprei ranjang bersamanya. Dan sprei itu menutupi dari paha sampai kaki. 


Desya bukannya tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Bella. Inderanya sangat tajam. Ia diam karena ingin melihat apa yang Bella lakukan. 


Gerakan apa lagi itu? Awalnya sama tapi di tengah dan akhir berbeda. Sebenarnya apa itu? Mengapa dia melakukannya berulang dalam jangka waktu yang berbeda? Apa itu kewajiban kepada Tuhan? Dan siapa itu Tuhan? Di mana dia berada? Seperti apa wujudnya? 


Rasa penasaran memenuhi relung hati Desya. Namun, ia tetap diam tanpa menanyakannya. 


"Aku ingin mandi," gumam Bella setelah selesai shalat. Ia kemudian menolehkan wajah lagi kepada Desya. Tidak lagi terdengar suara mengetik. 


"Hei?" Bella memanggil. Desya tidak menggubris.


"Irene, apa ini sudah jam tidur Tuanmu?"tanya Bella. 


"Iya, Nona. Tuan akan tidur begitu jam tidurnya dimulai," jawab Irene.


"Pukul 03.00, Nona." Jam 09.00 sampai jam 03.00, itu sekitar 6 jam. Wow, waktu tidur yang cukup lama untuk seorang bos besar seperti Desya. 


"Oh." Bella mengangguk kecil. 


"Apa kau tidak lelah, Ren?"tanya Bella. 


"Saya selalu siap sedia untuk Tuan, Nona."


"Kau pasti punya kemampuan sehingga bisa berdiri di belakangnya." Bella melemparkan pujian. 


"Kemampuan Anda lebih jauh lagi daripada saya, Nona. Sehingga Anda dapat berdiri di sisi Tuan," sanggah Irene. 


"Benarkah? Aku takut kalian akan kecewa denganku. Dari sekarang aku sarankan jangan berharap terlalu banyak padaku," sahut Bella dengan bertopang dagu. 


"Dan aku juga belum setuju untuk berdiri di sisinya. Irene tidakkah kau sadar ada banyak perbedaan di antara aku dan Tuanmu?"tanya Bella kemudian.


"Perbedaan bisa diatasi, Nona," sanggah Irene lagi. Tampaknya wanita itu sangat setuju Bella bersama dengan Tuannya. 


Bella terkekeh pelan. "Apa kau tahu, Irene? Keyakinan adalah perbedaan yang paling sulit untuk diatasi di dunia ini," ujar Bella.


 "Butuh perjalanan panjang dan pengorbanan besar untuk itu. Kadang kala … hasilnya juga tidak seperti yang diharapkan," imbuh Bella lagi. 


"Bisa terangkan dengan jelas, Nona? Saya sama sekali tidak mengerti dengan apa Nona katakan," tanya Irene. Dalam hatinya merasa senang karena ada teman bercerita.


Keyakinan? Itu hanya sentral dan cukup sensitif. 


"Aku mengantuk. Kau juga harus fokus menyetir," sahut Bella. 


"Ah baiklah, Nona. Saya mengerti," balas Irene. Setelahnya? Tentu saja Bella tidur. 


*


*


*


Tuan Adam berlalu untuk menyiapkan penerbangan. Ken segera bersiap. Setelah Ken menutup kopernya, ponsel Ken berdering. Sebuah pesan dari Rahayu. "Bagaimana ini?"gumam Ken setelah membaca pesan dari Rahayu itu. 


"Paman!" Ken bergegas mencari Tuan Adam. Tuan Adam tengah mempersiapkan beberapa hal untuk dibawa pergi ke Mongolia.


"Ada apa, Tuan?" Tuan Adam ikut cemas melihat wajah panik Ken.


"Bagaimana ini?" 


"Apanya??"


"Ini!" Ken menunjukkan sebaris pesan singkat dari Rahayu yang mengatakan bahwa Rahayu sudah tiba di bandara Los Angeles. 


"Astaga!" Tuan Adam terkejut. Ia ikut panik seketika. Rumit ceritanya jika Rahayu dan Surya tahu jika Bella diculik. Bisa-bisa Ken didudukkan oleh anggota keluarganya.


"Bagaimana ini? Bagaimana? Paman kau yang memberiku ide untuk mengatakan hal itu, bagaimana sekarang?"tanya Ken. 


"Apa boleh buat?" Sepertinya Tuan Adam tidak menemukan jalan keluarnya. Sudah tiba, kecuali jika masih mau berangkat.


"Ada bantuan … ada kemungkinan kita akan cepat menemukan Nona," tambah Tuan Adam lagi. Ken mengangguk pasrah.


"Paman sudah selesai? Kita langsung ke bandara saja. Tidak akan menunda keberangkatan ke Mongolia," ujar Ken. Ia kemudian membalas pesan Mamanya.


"Baiklah."


Tak lama kemudian, keduanya meninggalkan kediaman Tuan Williams menuju bandara. 


Di bandara, Rahayu menunggu dengan tidak sabar. Surya yang lebih tenang daripada Rahayu, menarik lengan Rahayu agar berhenti mondar-mandir. 


"Duduk. Jangan lelahkan dirimu sendiri," ucap Surya.


"Aku merasa aneh dan cemas, Mas! Abel tengah sakit namun Ken mau menjemput kita. Padahal kita kan bawa mobil?"


"Kita punya kecurigaan yang sama. Lebih baik tunggu Ken datang dan kau bisa menanyakan langsung."


Rahayu tidak menjawab. Ia kembali berdiri dan mondar-mandir. Surya menghela nafas kasar. Hari sudah gelap. Sudah memasuki waktu Isya. 


Sekitar sepuluh menit kemudian, Ken tiba bersama dengan Tuan Adam dan anggota Tim yang ikut. "Assalamualaikum, Ma, Pa," sapa Ken, kemudian mencium bergantian punggung tangan Surya dan Rahayu. 


"Waalaikumsalam."


"Ken … mengapa kau membawa koper? Dan siapa mereka?"tanya Rahayu dengan menatap bingung orang-orang yang ikut dengan Ken.


"Apa yang terjadi, Ken?"tanya Surya dengan nada beratnya. Surya tampaknya mengenali rupa Tuan Adam. 


Ken menghela nafasnya sebelum menjawab. "Sebenarnya … Aru …."


"Abel kenapa, Ken?"tanya Rahayu tidak sabar. Ia bahkan mengguncangkan bahu Ken. Ken menunduk.


"Aru … diculik, Ma," jawab Ken dengan nada lirih. 


"APA??!!" Sudah bisa ditebak bukan bagaimana reaksinya Rahayu juga Surya? Tentu saja kedua kaget dengan hati seketika diliputi kecemasan. 


"Istriku diculik, Ma. Dan sekarang Ken mau ke Mongolia untuk menemukan Aru!" Ken memberikan penegasan.


*B-bagaimana bisa?" Rahayu lemas seketika.


"Lebih baik kita jelaskan saja di dalam perjalanan," ucap Tuan Adam. "Kita harus meminimalisir waktu," lanjutnya.


Surya mengangguk. Ia segera menggendong Rahayu yang tampak begitu shock. Malam itu juga, mereka terbang menuju Mongolia.