This Is Our Love

This Is Our Love
Who Is She?



Siapa Bella? Who is she? 


Seorang wanita dengan segala kemampuan? Perfect? Cantik? Cerdas? Plus seorang milyarder? Not, she is triliuner! 


No! Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Bella, yes. She is beautiful. 


Dia cerdas, punya kemampuan di bidangnya yakni dunia bisnis. Itu dalam kuasanya. IQ? Ya itu salah satu pendukung dia bisa sampai di tahapnya sekarang. Selain itu, jalan hidupnya, masa lalunya, juga menempah dirinya menjadi seorang yang cerdas dan tahan banting. Telah terjun dalam organisasi sejak zaman sekolah, ditambah dengan banyaknya pengalaman dan kerasnya hidup di luar negeri, alone. Ya, alone bukan? 


Ada tanggung jawab besar. Kebanyakan, saat mereka berada di ambang batas, di saat tersebut seluruh potensi dan kekuatan dikeluarkan. Ibarat seorang singa, semakin terluka semakin menggila. 


Begitu juga dengan Bella. Kaya? Sebagian besar itu adalah warisan yang ia kembangkan. Bertemu dengan Tuan Williams,  itu bisa dikatakan sebagai keberuntungan or bisa juga dikatakan sebagai takdir. Ya, yang terjadi di dunia ini telah ditakdirkan. 


Suaminya tidak setara? Jadi seseorang yang diperebutkan? Tidak sebanding? Not! 


Ken tidak cerdas? Tidak mampu? 


Tidak!


Didikan orang tua yang membebaskan Ken hidup sesuai dengan keinginannya. Terserah mau jadi apa asal tidak mengarah pada hal yang negatif. Bebas memilih kehidupan apa yang Ken inginnya. Nyatanya Ken memilih untuk tidak terlibat dalam urusan perusahaan. Dia tidak tertarik pada bisnis. Sebelumnya passion Ken adalah menjadi seorang pengajar. Namun, setelah melihat perbedaan yang cukup jauh dengan Bella, membuat ambisi Ken bangkit. 


Dia ingin menjadi Presdir Mahendra Group. Belum sebanding? Tapi, itu bisa mempersempit jarak.


Apa perusahaan itu sudah sampai pada ambang kesuksesan? 


Tidak, bukan?


 Tidak ada batasan untuk sebuah kesuksesan. Usia Ken juga masih mudah. Jika kemampuannya di bawah Bella, itu suatu hal yang tidak mengherankan.


Kemudian … mengapa dengan Ken? Mengapa tidak dengan lain? Ya seusai misalnya?


 Atau setara dengan kemampuan Bella? Ah, kemampuan itu bisa dikembangkan, bisa ditempa, bisa ditingkatkan. Seiring dengan berjalannya waktu, dengan kembali menempuh pendidikan dan juga pengalaman, cepat atau lambat jarak itu dapat diatasi. Dan tidak ada yang instan. All need time. 


Dengan Ken? Takdir? Jika sudah takdirnya, tentu tidak akan bisa ditolak atau dicegah, bukan? 


Lalu mengapa seakan jadi rebutan? Apakah sebuah berlian yang berharga tidak banyak yang menginginkannya? Terlebih itu sangat langka dan berharga? Tentu banyak yang ingin memilikinya, bukan? Namun, hanya akan ada satu orang yang akan menjadi pemiliknya. 


*


*


*


"Hm?" Bella membalikkan tubuhnya menghadap ke kanan. Gumamnya itu diikuti dengan matanya yang membuka. Mengerjap, mencerna yang ia lihat saat membuka mata. 


Di depannya, tepat wajah Desya. Wait! Desya?! Mata Bella melebar seketika.


"KAU?! KAU MENGAPA KAU DI SINI?!" teriak Bella yang terkejut. Langsung bangun dan berdiri dengan menarik selimut. 


Desya yang terganggu, membuka matanya. Ia menarik senyum melihat ekspresi Bella.


"Ini istanaku. Aku mau tidur di mana saja itu urusanku," jawab Desya dengan menyibak rambutnya ke belakang. 


Bella melotot mendengarnya. Desya malah menaikkan alisnya. "Untuk apa malu? Aku yang menggendongmu dari mobil ke dalam kamar ini. Seharusnya kau berterima kasih. Lagipula kau ada jadi pendampingmu. Kita juga akan tidur bersama."


Bella semakin membelalakkan matanya. "KAU?! APA KATAMU? TIDUR BERSAMA? ARE YOU CRAZY?!" teriak Bella dengan menunjuk Desya. 


Wajah Bella sudah memerah padam. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.  Mendapati Desya tidur di ranjang sama dengannya sudah membuat Bella shock setengah mati. Ditambah lagi dengan ternyata bisa yang menggendong dari mobil dan menidurkannya di kamar ini. Lalu apa katanya? Akan tidur bersama?


Dan Bella membenarkan pepatah yang disimpulkan dari membaca sebuah novel yakni pria dingin cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. 


"Mengapa kau menatapku seperti itu? Aku tahu aku tampan. Tidak perlu melotot seperti itu padaku," ujar Desya dengan tingkat percaya dirinya. Jelas-jelas Bella tengah kesal setengah mati hingga tak bisa berkata. 


" Aku belum setuju menjadi pendampingmu! Jadi kita tidak bisa tidur bersama. Aku masih sah istri dari suamiku. Kau tidak bisa seenak itu memutuskannya. Aku punya keyakinan. Aku punya Tuhan. Aku tidak bisa melanggar ketentuan agamaku!!"


"Lagi-lagi kau menyebut tentang keyakinan. Apa itu keyakinan? Siapa itu Tuhan? Apa itu Agama? Dan siapa 


Tuhanmu? Lalu apa agamamu? Mengapa kau begitu patuh padanya? Bahkan saat matamu ditutup kau tetap melakukan gerakan-gerakan yang sebut sebagai kewajiban kepada Tuhan. Explain to me." Itu terdengar seperti sebuah keputusasaan. Namun, bukankah itu terlalu cepat? 


"Wae?" Bella merasa pendengarannya salah. 


Seorang mafia lagi atheis menanyakan tentang agama? 


"Explain to me. Kau sepertinya tidak takut saat dipisahkan dari suamimu. Tapi, kau begitu emosi saat berhubungan dengan Tuhan. Why? Seberapa penting itu?"


Kekesalan Bella seakan mereda melihat wajah frustasi Desya. Dan Bella baru menangkap bahwa Desya melihat dan memperhatikannya shalat. 


"Apa kau merasakan getaran saat melihatku shalat?"tanya Bella. Biasanya seseorang yang bertanya akan keyakinan, pasti ada yang menggetarkan hatinya. 


"Tidak." Jawaban yang singkat dan lugas. 


"Ku jelaskan pun kau belum tentu mengerti. Namun, akan ku beri tahu sesuatu." Bella menghela nafas kasar.


"Tuhanku dia adalah zat yang menciptakanku. Zat yang Esa yang juga menciptakan kau, dan seluruh alam semesta. Di mana kau bisa mencarinya? Ia ada di setiap sisi,  dan dia ada di dalam hati. Lalu apa agamaku? Agamamu adalah Islam. Aku muslim!"


"Islam? Muslim?" Nah kalau ini Desya pernah mendengarnya. Namun, dia juga belum mengerti. "Orang tua, begitu?" Dalam benaknya, bukankah orang tua yang menciptakan seorang anak? 


"Orang tua bukan Tuhan. Namun, kedudukan orang tua itu sangat penting. Dalam agama kami, Ridha Tuhan tergantung Ridha orang tua kepada seorang anak. Dan jika orang tua tersenyum kepada kita karena dia bahagia maka kita Seperti melihat Tuhan tersenyum pada kita." Dari wajahnya, Bella yakin sedikit banyaknya Desya mengerti dengan apa yang ia katakan. 


"Aku pusing," keluh Desya. Terlalu banyak informasi yang ia terima. 


"Kau keluarlah. Aku mau shalat," usir Bella dengan menunjuk ke arah pintu. 


"Kau mengusirku? Dari tempatku sendiri?" Desya mengeryitkan dahinya. Tampak tidak suka. 


"Kau menempatkanku di kamar ini, artinya ini kamarmu!"jawab Bella. 


"CK!" Desya berdecak. Namun, ia bangkit dari ranjang dan meninggalkan kamar. Ekspresinya kembali mendingin. 


"Huh!" Bella mendengus. Bella kemudian mengamati kamar ini. Purple dicampur dengan warna coklat. Ranjang yang luas. Kamar yang luas.


"Hm?" Bella mengendus. "Aku mencium bau tidak enak," gumam Bella. Ia mencium bau badannya sendiri. 


"Aku belum mandi." Bella terkekeh sendiri. Ia lalu melihat ke arah jendela. Belum terlalu terang. Bella kembali mengedarkan pandangannya, ia mencari jam dinding. Namun, sepertinya kamar ini tidak pernah ditempati. Dilihatnya lagi … ya kamar ini cukup kosong.


Bella kemudian menuju kamar mandi. Dan seperti saat di pesawat tadi, Bella shalat subuh. 


Selesai shalat subuh, Bella termenung beberapa saat. Sekitar lima menitan Bella berdiri, membereskan sprei dan selimut. Bella kemudian melangkah mendekati jendela, membuka gorden jendela. Matahari sudah bersinar cukup terang. Sudah mengusir kegelapan. 


Bella melihat situasi di luar. Dari tempatnya, kamar ini berada di lantai 3. Bella juga dapat melihat jelas arsitektur rumah ini. Tak salah Desya mengatakan ini sebuah istana. Dan warna bangunan bahkan atap sendiri berwarna hijau. Ada empat bangunan yang saling berhadapan, membentuk sebuah pola persegi dengan tiang bendera, bendera dengan lambang mawar hitam yang menjadi pusat. "It's the real mafia," gumam Bella. Ia sendiri bahkan tidak tahu di mana ini. Apakah benar-benar di Rusia atau bukan. Dan bahkan jika di Rusia, ini di bagian mananya?