This Is Our Love

This Is Our Love
Meluruskan



Bella menyeka sudut matanya. "Kurang lebih seperti itu awalnya, Ken."


"Ya. Aku mengerti, Aru."


"Apa kau tidak ada perasaan marah, kesal, atau semacamnya, Ken?" Bella menatap Ken dengan mata sedikit menyipit. Ken menoleh sekilas pada Bella.


"Mengapa aku harus marah atau semacamnya?"balas Ken, santai.


"Karena aku merahasiakan hal ini dariku, maybe," jawab Bella dengan mengendikkan bahunya.


Ken tertawa renyah mendengar jawaban Bella. "It's your right, Aru."


"Itu terjadi jauh sebelum kita menikah. Jadi, kau mau memberitahu atau tetap menyimpannya rapat, itu bukanlah suatu hal mengecewakan bagiku. Justru, aku terkejut, kagum, dan tidak pernah menyangka kalau kau lebih menakjubkan dari yang terlihat," imbuh Ken lagi.


Marah? Adakah haknya untuk marah pada Bella karena hal ini? Atau kecewa? Awal mulanya sudah berlalu sangat lama. Dan apa yang rahasiakan bukanlah suatu hal yang merugikan pihak manapun.


Sejujurnya, ada rasa kecewa dan marah di hati Ken atas rahasia Bella itu. Apa yang membuatnya marah? Apa yang membuatnya kecewa?


"Hanya saja …." Ken menggantung ucapannya.


"Hanya saja?" Bella menantikan lanjutannya. Ekspresi santai Ken berubah, wajahnya sedikit muram, tatapannya berubah  dingin. Bella merasakan aura tidak mengenakkan.


"Hanya saja jika sedari awal kau memberitahunya, mungkin kita tidak duduk berdua seperti ini. Mungkin saja kita tidak bersama." Ken berujar datar. Bella terhenyak. Hanya saja jika? Itu pengandaian, itu kata yang saat seseorang kecewa atau menyesal. Andai saja, hanya saja, jika ….


Bella menerka kemana arah bicara Ken ini. Bella yang lebih banyak menggunakan akalnya menyipitkan matanya, tajam dan menghunus seperti melihat isi hati Ken.


"Dari ucapanmu itu, kau ingin mengatakan bahwa jika aku menunjukkan siapa diriku yang sebelumnya, jauh atau sebelum kita menikah, artinya kau dan Cia tidak akan berpisah dan mungkin yang duduk di sisimu saat ini adalah Cia. That's what your mean, Ken?"selidik Bella.


"Ya. Tapi, itu cuma andai, bukan? Tidak akan pernah terwujud. Ini semua adalah suratan takdir. Manusia berencana, Allah yang menentukan. Aku tidak bisa marah padamu. Mau kecewa … semua telah terjadi … dan ya … memang sudah begini. Bukan … aku tidak marah padamu, sungguh! Aku hanya tidak bisa menahan perasaaan di hatiku. Aku harap kau mengerti, Aru."


Ken berkata dengan terbata di akhir. Dari samping, Bella dapat melihat ada air mata yang menetes dan mengalir di pipi Ken.


"Hentikan mobilnya, Ken!"ucap Bella. Suasana hati Ken tengah buruk. Ken memejamkan matanya sekilas dan menyalakan lampu send tanda hendak berbelok atau menepi.


"Aku yang akan menyetir," ucap Bella, kemudian keluar dari mobil.


"Keluar dan pindah ke sana," ucap Bella setelah membuka pintu bagian kemudian.


"Jangan membantah!" Ken mau tak mau menurut. Ia turun dan berpindah tempat duduk. Bella masuk dan kembali melajukan mobil. Keduanya saling diam, Ken menatap bangunan kota sedangkan Bella fokus mengemudi.


"Mengapa kita berhenti di sini?"tanya Ken saat Bella menepikan mobil di sebuah taman. Bella tidak segera menjawab. Ia melaut dari mobil. Melihat itu, Ken juga keluar dari mobil dan menyusul langkah Bella yang memasuki taman.


Bella berhenti dan duduk di sebuah bangku taman. Suasana yang sudah sore, membuat sinar matahari tidak terasa panas melainkan hangat, terlebih sinarnya sedikit terhalang dengan dedaunan pohon.


Bella menepuk bagian di sebelahnya. "Kita perlu bicara agar tidak ada perpecahan," jawab Bella.


Taman, memiliki pemandangan yang indah dan menyejukkan mata. Udaranya juga tergolong segar. Cocok untuk membicarakan hal yang akan menguras hati dan emosi.


Ken menatap Bella kemudian duduk.  "Apa kau ingin tahu mengapa aku tidak menunjukkannya?"tanya Bella pelan.


Tidak masalah mengingat hal itu, mereka berdua saling melengkapi.


Ken mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia sedari tadi ingin menanyakan hal tersebut namun tidak kunjung tersampaikan.


"Karena itu bukan hasil kerja kerasku sendiri. Itu adalah sebuah warisan. Dasarnya bukan keringatku sendiri. Aku tidak ingin menggunakan harta orang lain untuk menunjukkan siapa diriku. Aku tidak ingin menggunakan tangan orang lain untuk membangun kembali keluargaku ataupun menbalaskan dendamku. Aku ingin … tanganku sendiri, keringatku sendiri, dan darahku sendiri untuk mencapai tujuan yang aku tetapkan."


Bella memberi penegasan dengan menatap dan mengepalkan tangan kanannya. Sorot matanya menujukkan sebuah keteguhan. Dan memang itu adalah prinsip yang ia pertahankan.


"Ya anggap saja aku ingin angkuh. Anggap saja aku terlalu keras pada diriku. But, Ken … itu semua aku lakukan karena aku punya tanggung jawab yang besar di pundakku. Kau tahu bukan, aku ini anak sulung, sebelum ini nama keluargaku tercemar dan sekarang aku lega, lebih lega lagi karena orang yang membuat nama keluargaku tercemar sudah menerima balasannya."


Ken mendengarkan dalam diam. Sudut hatinya berdenyut. Sedikit banyaknya ia tahu seberapa berat beban yang Bella tanggung.


"Aku bukan dirimu, Ken. Aku bukan dirimu yang sebelum kita menikah bebas memilih mau menjadi apa, bahkan kau kuliah mengambil jurusan sains. Ya … itu tidak salah."


Bella menghela nafas. Apa yang Bella katakan sejauh ini, begitulah nyatanya.


"Namun , aku tidak bisa seperti itu, Ken. Aku harus mengasah diriku, mengasah kemampuanku untuk melindungi keluargaku."


Masa kecil mereka sama, hidup dalam keluarganya yang lebih daripada kecukupan. Namun, saat dari remaja beranjak ke dewasa, jalan hidup kedua berbeda.


"Jika dalam benakmu sekarang berpikir mengapa aku harus keras mengeraskan diriku sendiri padahal aku perempuan? Saat waktunya tiba toh perempuan akan menikah dan suaminyalah yang akan melindunginya."


Ya masih ada anggapan demikian di luar sana. Yang paling sering terdengar adalah untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi? Toh ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga?


But, apa hanya karena itu seorang perempuan tidak perlu sekolah tinggi?


Apa hanya kaum pria saja yang boleh, berhak, atau semacamnya untuk  mengenyam pendidikan tinggi?


Perempuan juga punya mimpi dan cita. Sekarang sudah zaman modern, zaman kesetaraan genre. Tidak ada lagi diskriminasi terhadap perempuan.


"Dan kau tahu aku, aku tidak suka bergantung pada orang lain. Jika selama ini, kau merasa aku mendominasi, it's okay. Kau tak salah berpikir demikian. Jika kau merasa kau seperti suami yang tidak bisa ku andalkan, jangan berpikir seperti itu. Selama aku bisa, selama aku mampu, aku tidak akan melibatkan orang lain."


Ya, sudah cukup bagi Bella untuk menyimpulkan dari awal sampai saat ini jalannya rumah tangannya dengan Ken. Suka dan duka, dalam waktu singkat banyak hal yang mereka lalui bersama.


Sorot mata Ken berubah sendu. Ia mengerti hal itu.


Sekali lagi, manusia hanya bisa berencana. Tuhanlah yang menentukan. Jodoh setiap insan telah diatur. Perjalanan hidup adalah sebuah takdir. Dan sebagai makhluk, sudah diberi petunjuk untuk menjalani takdir itu. Jika tidak mengikuti petunjuk, maka itu adalah jalan yang ia pilih dan menjadi takdirnya.


Begitu juga dengan jalan hidup Bella, Ken, dan orang-orang di sekitar mereka. Dua orang yang tidak pernah saling mengenal, tiba-tiba disatukan dalam ikatan perjodohan dan pernikahan.


"Ya. Tadi aku memang merasa kecewa dengan kau yang tidak sedari awal menyadarinya. Namun, mendengar semua ini, mengingat apa yang telah kita lalui bersama, itu adalah suatu ketetapan. Seandainya pun kita tidak bersama, aku mungkin tidak akan bersama dengan Cia juga. Dan kesempurnaan itu adalah milik-Nya. Jika ditanya, aku lebih suka sekarang. Aku bahagia dengan kehadiranmu. Aru, kehadiranmu membuat banyak perubahan baik dalam keluargaku. Dan sekarang rasa kesal atau ataupun itu, sudah sirna."


Ya. Maut adalah juga suatu ketetapan.


Ken menggerakkan tangannya, menyentuh dan menggenggam jemari Bella. "Maafkan aku. Aku membuatmu tidak nyaman dengan sikapku tadi. Percayalah, aku benar-benar tulus padamu. Aku sangat mencintaimu." Ken kemudian merangkul dan memeluk Bella.


"Sungguh? Tidak ada lagi kedongkolan di hatimu?"


"Kau tahu aku bukan?"


Bella tersenyum, "ya kau langsung berterus terang," jawab Bella.


Ken lalu mengecup pucuk kepala Bella. "Tapi, ada satu hal lagi."


"Hm? Apa itu?"tanya Ken dengan melihat Ken.


"Dengan menggunakan saham untuk menaklukan keluarga Nero, bukankah sama saja kau menggunakan tangan Tuan Williams itu?"


Mendengar itu, Bella tersenyum lebar. Ia melepaskan diri dari Ken kemudian berdiri. Bella meletakkan kedua tangannya ke belakang. Pandangannya lurus ke depan. Ken tetap duduk. Ia menanti jawaban Bella.


"Sampai saat ini, aku berhasil mengembangkan saham yang diberikan Tuan Williams menjadi dua kali lipat bahkan lebih, Ken. Dan pengembangan itu adalah hasil keringatku. Bahkan jika aku menarik jumlah saham yang aku kembangkan, Nero Group juga akan terguncang. Daripada setengah-setengah lebih baik seluruh saham aku tarik, bukan?"


"Perbedaan kita semakin jauh bukan, Aru?" Ken memeluk Bella dari belakang.


"Maka kau harus berusaha keras, my husband," sahut Bella.


"Sepulang dari sini aku akan mendaftar kuliah lagi."


"Aku sarankan kau ambil kelas di akhir pekan saja. Setelah proyek selesai, baru ambil jadwal lain," ucap Bella, memberi saran.


"Aku juga berencana seperti itu."


Setelah sekian sekon Ken memeluk Bella, ponsel Ken berdering. Segera Ken mengambil ponselnya di balik saku jas. Dari Brian.


"Assalamualaikum, Kak," jawab Ken.


"Waalaikumsalam, kalian di mana? Sudah selesai belum? Aku lihat berita tadi, si kakek tua itu ditangkap oleh polisi."


"Kami dalam perjalanan ke rumah sakit, Kak. Kau dan Kak Via masih di sana, kan?"


"Oh. Ya, kami masih di rumah sakit. Cepatlah kemarin, adik Silvia sudah sadar."


"Hah? Serius?" Ken terkesiap dan sekaligus merasa senang.


"Iya. Cepatlah kemari. Aku tutup, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Panggilan berakhir.


"Ada apa?"tanya Bella langsung.


"Adik Kak Via sudah sadar, Aru," jawab Ken.


"Sungguh?"


"Ayo kita segera ke rumah sakit," ajak Ken. Bella mengangguk. Dengan bergandengan tangan, keduanya kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.