
"Pa," sapa Bella saat memasuki ruang belajar Surya.
"Duduklah," titah Surya dengan wajah serius.
Di ruang belajar juga sudah ada Brian. Ketiganya akan membicarakan insiden yang menimpa Bella tadi. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00. Rahayu dan Silvia berada di ruang tengah, masih menikmati siaran drama korea yang tengah naik daun, hometown cha-cha.
Sedangkan Ken masih berada di luar mansion. Selepas magrib tadi, Ken berpamitan untuk berkumpul bersama teman-temannya untuk merayakan wisuda. Se introvert nya Ken, tidak mungkin ia acuh dengan teman kuliah sejurusan dan seangkatannya.
"Dalangnya ada di dalam perusahaan," ucap Bella.
Baik Brian atau Surya tidak terkejut. "Siapa yang paling kontra dengan rencana proyek pembangunan?"tanya Surya, pada Brian dan Bella selaku pencetus dan direktur keuangan. Targetnya Bella karena jika Bella celaka maka rencana proyek pembangunan akan ditangguhkan dan berpotensi besar untuk dibatalkan karena Bella lah yang paling keras dan teguh dengan proyek ini. Jika pencetusnya tumbang, pasti yang keras mendukung proyek, sekalipun itu Presdirnya, besar kemungkinan akan ditarik dari meja tender.
Namun, salahnya salah memperkirakan keteguhan dan kekuatan Bella. Bella bukan sekadar wanita karier, ia punya skill beladiri yang mumpuni. Tumbuh dan hidup bertahun-tahun di negeri orang, mana mungkin ia hanya mengandalkan kecerdasan otaknya.
"Takutnya bukan siapa yang menunjukkan penentangan paling keras. Tapi, siapa yang paling diam atau setuju namun nyatanya dia yang paling kontra dengan rencana pembangunan proyek ini," ucap Brian.
"Aku sudah mendapatkan namanya," ujar Bella, dia tampak tenang dalam menghadapi masalah insiden tadi siang.
"Who?"tanya Brian langsung. Mimiknya sungguh serius. Ada cetak kegeraman di sana.
"Secepat itu kau mendapatkan pelakunya, Abel?" Surya terhenyak, "apa kau yakin dengan hasilnya?"tanya Surya, sedikit ragu.
"Awalnya pun Abel ragu dengan siapa orangnya, Pa. Tapi, aku yakin yang ku dapatkan adalah hal yang pasti!"jawab Bella, tenang dan memberi sebuah tekanan.
"Katakan siapa orangnya?!" Brian tidak sabar.
"Mantan wakil Presdir Mahendra Group," jawab Bella. Brian dan Surya terkesiap, Mantan Wakil Presdir Mahendra Group? Seriously? Mantan wakil Presdir yang saat ini masih menjabat sebagai salah satu direktur eksekutif karena memiliki saham yang cukup besar di Mahendra Group walau tak mencapai nilai 5%. Namun, 1% saham di Mahendra Group sudahlah merupakan angka yang fantastis.
*
*
*
Di sisi lain, Bayu tidak bisa tidur karena saham perusahaannya menurun drastis dan berbahan di titik nyaris terendah. Adapun penyebabnya, Bayu yakini adalah perbuatan Surya. Bisa menahan saham di titik tersebut, dengan segala daya upaya yang ia lakukan sia-sia, Bayu sungguh tertekan.
"Pa," panggil Angkasa pelan saat masuk ke ruang kerja Bayu. Bayu mengangkat kepalanya dari yang semula menunduk pusing.
"Kak Cia … dia …." Ucapan Angkasa menggantung kala Bayu memberinya tatapan tajam.
"Cukup! Jangan katakan apapun padaku tentangnya!!"ucap Bayu dengan nada tinggi. Angkasa langsung menunduk dalam. Amarah Bayu semakin menjadi.
"Besok pagi, kau dan kakakmu harus ikut denganku ke kediaman Mahendra untuk menyampaikan dan menunjukkan rasa penyesalan!"titah Bayu kemudian.
"Tapi, Pa …."
"Kenapa?"sela Bayu langsung.
"Kak Cia, kondisinya …."
"Apa yang harus dikhawatirkan? Kau bisa dan percaya membawanya pulang dari Singapura. Sedangkan di sini hanya dalam waktu tiga puluh menit kau keberatan? Angkasa aku kepala keluarga dan aku berhak mengatur kalian! Jika menolak, silahkan angkat kaki dari rumahku!" Pikiran Bayu sudah kacau. Memikirkan nasib perusahaan dan keluarganya, mengapa harus menyinggung keluarga Mahendra? Dan apa yang keluarga Mahendra lakukan ini masih tergolong berbaik hati dan memberi kesempatan. Jika tidak, pasti perusahaan akan dibuat benar-benar hancur dibuat keluarga Mahendra.
Angkasa menunduk, tangannya mengepal dengan mimik wajah seperti hendak menyampaikan sesuatu dan sedang mengumpulkan keberanian.
"Papa! Bagaimana jika Kak Cia menggila di sana?"tanya Angkasa. Rupanya itu yang mau ia tanyakan. Bayu tertegun dengan pertanyaan Angkasa. Ia mengalihkan pandang dan melangkah mendekati jendela. Menatap suasana gelap luar ruangan.
"Maka bersiaplah untuk hancur yang sesungguhnya!"jawab Bayu dingin dengan sorot mata yang gusar.
"Tidak!" Angkasa berseru. Segera ia keluar dari ruang kerja Bayu. Bayu menghela nafas kasar. "Jika Cia masih tidak berubah juga, aku tidak tahu harus berlaku apa lagi. Mungkin saja, aku akan meninggalkan keluarga ini," gumam Bayu, lirih.
*
*
*
"Hm?" Bella membuka matanya dengan sedikit mengerang. Dilihatnya Ken masih terlelap dengan memeluk dirinya. Tubuh keduanya hanya dibalut selimut. Maklum saja, sehabis Ken pulang dari merayakan wisudanya dengan teman seangkatan yang lain, Bella dan Ken memadu kasih.
Bella menyingkirkan tubuh Ken darinya. Ken mengerang pelan, ia tampaknya merasa terganggu. Sebagai gantinya, Bella memberi Ken guling untuk dipeluk. Dirinya sendiri memakai pakaian tidurnya kembali dan memeriksa ponselnya sejenak. Bella tersenyum tipis membaca kabar tentang saham Utomo Company yang anjlok.
Namun, tak lama Bella mengeryit melihat sebuah email dari pengirim yang tidak ia ketahui siapa orangnya. Tidak ada subjek, hanya ada isinya yang menyatakan Bella harus meninggalkan Ken dan mengembalikan saham perusahaan Utomo.
"Ck!" Bella berdecak sebal. Bangun-bangun malah disambut dengan email kurang asem. Seenaknya saja menyuruh suami dan istri bercerai. Memangnya siapa sih dia? Tapi, dilihat dari apa yang ditulis di dalam isi, pasti orang yang pro dengan keluarga Utomo dan mengetahui masalah dirinya, Ken, dan Cia. Rasa penasaran menggelitik Bella. Segera ia menuju laptopnya yang berada di meja belajar untuk melacak siapa pemilik email tersebut.
Dalam waktu dua puluh menit, Bella menemukan siapa pemiliknya. Bella menyipitkan matanya melihat siapa yang mengirim email itu padanya.
"Wow." Satu decakan kagum yang mengisyaratkan Bella kenal dengan pelakunya.
"Namun, sepertinya ia salah paham. Ahh aku merasa menyesal pernah membantunya," gumam Bella, ia berdecak kesal.
Bella mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Ia sedang menimang apa yang akan ia lakukan. Tak lama kemudian, bibirnya tersenyum miring.
"Nona kau menunjukkan taring, jangan salahkan aku jika aku menganggap hal ini serius. Dan sebelumnya aku ingin menyampaikan ucapan maaf lebih dulu jika membongkar kedokmu yang sesungguhnya!!"
"Hm … Aru? Kau bekerja?" Ken yang baru bangun melihat ke arah Bella dengan wajah kusut yang masih mengantuk. Tapi, alarm sudah berbunyi di pukul 04.44.
"Tidak. Hanya mengecek sesuatu," jawab Bella berbalik pada Ken kemudian berbalik lagi menutup laptopnya.
"Tubuhku rasanya remuk. Nggak sanggup rasanya mau bangkit," aduh Ken, sembari memegangi pinggangnya. Mata Bella memicing, "mengapa?"
"Kau terlalu mendominasi tadi malam, Aru," rengek Ken.
"Terlalu mendominasi? Perasaan biasa saja dan kau menikmatinya," heran Bella, ia bersedikap tangan, menatap Ken masih dengan mimik menyelidik.
"Iya enak tapi sekarang baru terasa," sahut Ken. Ia bersungut-sungut sembari turun dari ranjang dengan berbajukan selimut.
"Oh. Bagaimana jika lagi?"tanya Bella dengan senyum menggoda. Ken terkesiap sesaat. Tak lama ia tersenyum, "gaskan lah!"
"Ckck! Dasar pembohong!"gerutu Bella, buru-buru lari ke kamar mandi sebelum gairah Ken kembali dan mereka akan olahraga pagi.
"Hei, Aru! Jangan lari!"seru Ken, menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Aku hanya menawarkan bukan menyetujuinya! Lagipula tubuhmu remuk. Jika lagi, takutnya kau tidak bisa turun ranjang!"sahut Bella dari dalam kamar mandi.
"Ahhh PHP!!"gerutu Ken. Terdengar kekehan dari dalam kamar mandi.
*
*
*
"Tidak! Aku tidak salah untuk apa minta maaf?!"tolak Cia mentah-mentah saat disuruh ikut ke kediaman Mahendra untuk meminta maaf. Angkasa dan Clara saling tatap. Penolakan Cia perlihatkan dengan jelas oleh Cia.
"Siapa yang mengatakan kita kesana untuk minta maaf?" Tiba-tiba Bayu masuk ke ruang rawat Cia dan berkata demikian. Angkasa menatap bingung papanya, "bukankah kata Papa tadi malam …."
"Kau salah dengar, Akas," sahut Bayu. Ia melangkah menghampiri istri dan kedua anaknya.
"Lalu untuk apa, Mas?"tanya Clara. Ia kini tidak paham arah jalan pikiran suaminya. Sejak Cia dan Angkasa pulang ke Indonesia tanpa izin dan mengusik keluarga Mahendra, Bayu memanggil keputusan sendiri tanpa berdiskusi dengannya.
"Tentu saja untuk memenuhi keinginan putri tercintaku," jawab Bayu, tersenyum lembut pada Cia sembari mengusap lembut rambut Cia yang sudah sangat tipis.
"Maksud Papa?" Cia bertanya dengan mengantung dan dibalas dengan anggukan Bayu.
Mata Cia, Clara, dan Angkasa membulat. Cia langsung merasa senang dan memeluk erat Bayu, "Cia tahu. Cia akan menjadi yang utama bagi Papa," ucap Cia dengan perasaan bahagia.
Clara dan Angkasa saling bertatapan, mereka merasa aneh mengapa Bayu berkata demikian. Bukankah Bayu sangat marah besar dengan apa yang Cia lakukan? Memohon untuk jadi istri kedua Ken dan kini Bayu mendukung bahkan akan meminta langsung pada keluarga Mahendra. Seriously? Entah mengapa keduanya merasa tidak yakin dengan apa yang Bayu katakan. Keraguan yang sangat besar. Dan tatapan Bayu menyimpan sebuah misteri.
*
*
*
Pukul 08.00, meeting perdana di hari selasa berakhir. Bella bergegas kembali ke ruangan dan mengenakan jaket serta memasukkan laptopnya ke dalam ransel. "Kau mau ke mana, Aru?"tanya Ken. Karena dijadwal Bella tidak ada meeting di atas jam makan siang.
"Aku tinggal dulu, ada urusan di luar," jawab Bella.
"Urusan apa itu?" Sebagai suami dan sekretaris jika di kantor, Ken harus tahu ke mana Bella perginya. Agar jika ada yang menanyakan tentang Bella, Ken bisa menjawabnya.
"Itu … tidak bisa aku beritahu. Jika ada yang bertanya, katakan saja aku ada urusan yang menyangkut urusan pribadi. Maaf aku tidak bisa mengatakan alasannya padamu," ujar Bella, memberi pesan sekaligus meminta maaf.
Ya Ken sudah paham dengan Bella, "tapi, urusan itu tidak menyangkut keselamatanmu, bukan? Jika iya, aku ikut denganmu. Tanpa aku kau tidak bisa pergi!"
"Tenanglah. Hanya saja urusan ini tidak mengenakkan. Jadi, biarlah jadi rahasia," jawab Bella menenangkan.
"Hm." Bella melangkah pergi setelah mencium punggung tangan Ken.
"Tidak mengenakkan?" Ingin rasanya Ken membuntuti Bella. Hanya saja, ia punya banyak pekerjaan.
*
*
*
Kini Bella berada di sebuah ruangan mewah. Ia duduk tenang dengan ekspresi datar. Tak lama kemudian, dua orang wanita yang sama-sama mengenakan hijab, dengan wanita yang paling muda menunjukkan wajah lugu atau polos. Berjalan dengan memegangi gamis panjang wanita yang lebih tua. Keduanya lalu duduk di hadapan Bella.
"Nona bisa kita bicara berdua, empat mata?"tanya Bella memulai pembicaraan. Wanita yang lebih tua mengeryit, "apakah itu harus? Apa yang ingin Anda bicarakan dengan putriku?"tanya wanita yang lebih tua yang merupakan mama dari wanita yang terlihat lugu dan polos itu.
"Hanya ingin saling menyapa dan berbincang dengan lebih nyaman. Tenang saja Nyonya, saya tidak akan memakan putri Anda. Lagipula ini kandang Anda, saya juga harus menjaga sikap bukan?"jawab Bella tersenyum. Wanita muda itu seperti memberi kode pada sang Ibu untuk mengizinkannya.
"Baiklah, bicaralah di gazebo. Di sana lebih nyaman," ujar Nyonya itu. Bella mengangguk dan mempersilakan Nona Muda itu melangkah lebih dulu. Kedua melangkah menuju gazebo yang terletak tak jauh dari bangunan utama. Setibanya di sana langsung duduk dan membuka laptopnya. Sedang Nona Muda itu dibalik wajah lugunya seakan tengah menguliti Bella. Bella menarik senyum tipis.
"Hentikan pura-puramu di depanku, Nona!"ucap Bella, melempar tatapan tajam pada Nona Muda di depannya.
"Hm, Kakak, apa kita saling kenal?"tanyabya dengan nada polos.
"Saya rasa kita baru saja berkenalan. Soalnya jika kita sudah mengenal lama, Anda tidak akan mengirim email menyebabkan seperti itu pada saya. Ah tidak, sebenarnya kita sudah mengenal lama, hanya saja secara virtual. Hah tidak menyangka Anda akan salah paham pada saya, Nona Azzura!!"
Ya, Nona itu tak lain adalah Azzura. Azzura terhenyak sesaat tak lama ia tersenyum tipis. "Aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat dan dengar!"
"Namun, kali ini Anda hanya mendengar tanpa melihat aslinya," sergah Bella langsung.