
Pukul 20.00, Bella, Ken, Brian, dan Silvia baru meninggalkan Mahendra Group. Jadwal Brian memang padat hari ini dan baru selesai pukul 19.30, lebih cepat daripada Bella.
Ken melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan malam yang ramai dengan kendaraan. Meninggalkan Brian dan Silvia karena perbedaan kendaraan yang mencolok.
Silvia berdecak kagum melihat cara Ken mengemudi. Baru sebulan namun sudah begitu fasih.
Brian melirik, ia sedang sibuk dengan tabletnya, "kau kenapa?"tanya Brian.
"Kita ketinggalan," jawab Silvia, tetap melihat ke depan. Ken dan Bella sudah hilang dari pandangnya. Brian ikut melihat ke depan.
"Mereka naik motor, wajar."
"Aku tahu," sahut Silvia. "Cara Ken mengemudi bagus ya. Padahal kemarin pas belajar jatuh bangun," imbuh Silvia. Brian berdecak pelan mendengarnya. Pria itu menyimpan tabletnya. Sejurus kemudian ia menyuruh sopir mempercepat laju mobilnya.
"Mas apa kau bisa naik motor? Maksudku bawa motor?"tanya Silvia antusias. Selama ia bersama dengan Brian, belum pernah sekalipun melihat Brian mengendarai sepeda motor. Mobil mewah dari beberapa seri yang menjadi tumpangannya sehari-hari, hal lumrah untuk seorang Tuan Muda keluarga terpandang. Lain hal dengan Silvia yang sudah merasakan beragam kendaraan, dari sepeda, motor, angkutan umum, dan kendaraan pribadi.
Brian tidak menjawab. Silvia mencembikkan bibirnya. Padahal ia sangat penasaran, dijawab dengan ketidakpastian.
Sudut bibir Brian terangkat tipis, Silvia tidak melihatnya. Ia melihat jalanan dari jendela mobil yang dibuka tiga perempat.
"Berhenti, Pak!"ucap Silvia tiba-tiba yang membuat sopir mengijak rem mendadak.
"Auh!" Brian meringis kala dahinya terbentur kursi kemudi. Ia menatap kesal Silvia. Pak Sopir menepikan mobil.
"Ada apa?!"
"Hehehe … beli buah, Mas! Baru ingat kalau kita tidak bawa apa-apa," jawab Silvia cengengesan. Ia menyentuh lehernya, merasa canggung sekaligus takut yang ditutupi dengan cengirannya. Brian melihat ke tepi jalan. Tak jauh dari tempat mereka berhenti memang ada penjual buah.
"Apa itu perlu?" Brian memperbaiki posisi duduknya, mengusap dahinya kemudian merapikan tatanan rambut bagian depan.
"Hm sebenarnya tidak harus. Tapi, dalam tata krama menjenguk orang sakit, membawa buah tangan termasuk sebuah kebiasaan. Jika dulu saat masa sekolah, saat menjenguk teman, walau hanya gula, teh, kopi, roti, itu tidak ditinggalkan. Apalagi kita menjenguk adiknya adik ipar sekaligus perkenalan keluarga, jadi buah tangan itu penting!"terang Silvia.
"Ah begitukah?" Silvia mengangguk. Dahi Brian mengerut tipis. Ia sedang mengingat kala ia menjenguk klien atau direksi perusahaan yang sedang sakit. Ia melenggang tanpa membawa apapun. Namun, sekretarisnya, sepertinya membawa bingkisan yang ia sendiri tidak tahu isinya.
"Okay. Belilah buah tangan untuknya," ucap Brian, mengambil dompetnya dan menyodorkan beberapa lembar Silvia.
Silvia hanya mengambil selembar. "Hanya satu?" Lagi Brian menunjukkan wajah bingung yang segera dialihkan ke wajah datarnya.
"Waktunya tidak mendukung untuk membeli buah tangan yang berarti. Dan untuk beli buah, ini sudah cukup!"jawab Silvia. Ia segera keluar mobil.
"Ah itu sangat murah," gumamnya. Sang sopir tersenyum simpul mendengar gumaman Tuan Mudanya itu. Bagi Tuan Muda seperti Brian, beli buah di pinggir jalan dianggap sesuatu yang mudah.
"Tuan Muda nilai suatu hadiah tidak berdasarkan nilai belinya, melainkan berdasarkan ketulusan pemberi hadiah itu sendiri," ujar Pak Sopir.
"Begitu ya?" Pak Sopir mengangguk mengiyakan. Disambut dengan anggukan kecil Brian.
Tak lama kemudian Silvia kembali dengan membawa beberapa macam buah. Anggur, apel, dan sebuah buah naga. "Hanya segitu?"
"Ruang VVIP punya pelayanan khusus, ini sudah lebih dari cukup," jawab Silvia.
"Ah … simple sekali," gumam Brian lagi.
"Jalan, Pak!"ucap Silvia. Mobil kembali membelah jalanan kota.
*
*
*
Di lain sisi, Bella dan Ken sudah tiba di rumah sakit. Mereka menunggu Brian dan Silvia di depan lobby. Keduanya paham jika mobil yang ditumpangi kakak dan kakak ipar mereka itu pasti akan tiba lebih lama.
Di saat menunggu, ponsel Bella bergetar diikuti dengan nada dering dalam bahasa jerman.
"Siapa?"tanya Ken.
"Papa."
"Papa?"beo Ken. Ia menyimak ucapan Bella dan Surya setelah menyuruh Bella untuk mengaktifkan loudspeaker.
"Assalamualaikum, Pa," jawab Bella.
"Waalaikumsalam, Abel. Bagaimana kabarmu dan yang lain?" Terdengar jawaban ringan dari Surya.
"Alhamdulillah, kami baik semua, Pa. Papa dan Mama sehat kan di sana?" jawab Bella.
"Kami baik. Bagaimana dengan perusahaan?"
"Lancar, Pa."
"Syukurlah. Papa lega mendengarnya. Kalian memang dapat diandalkan. Ah ya apa kau sudah mengambil keputusan tentang email yang Papa kirim pagi tadi?"tanya Surya, nadanya berubah serius.
"Email?" Bella menoleh bingung pada Ken yang menatapnya dengan tanda tanya.
"Kau belum membukanya?"sahut Surya tak kalah bingung.
"Ah mungkin email dari Papa tenggelam di bawah email lainnya," jawab Bella.
"Astaga, Abel! Papa juga baru ingat jika kau pasti sangat sibuk!"
"Kalau begitu sebentar Abel lihat dulu."
"Baiklah. Nanti Papa hubungi lagi," putus Surya.
"Hem. Assalamualaikum, Pa."
"Waalaikumsalam."
Selesai panggilan, Bella segera membuka emailnya. Menggulirkan layar ke bawah mencari email dari Surya.
Wajah Bella berubah serius membaca isi email yang Surya kirimkan.
"Apa yang Papa kirimkan?"tanya Ken penasaran saat Bella menyimpan ponselnya.
"Donor sumsum tulang Nesya, sudah ada," jawab Bella. Ada kelegaan sekaligus kegundahan dari mimik wajahnya.
"Itu kabar baik! Nesya bisa cepat sembuh!"ucap Ken sumringah. Jika Nesya sembuh total, maka beban pikiran dan hati Bella tentang Nesya akan terangkat total.
"Nesya sudah sadar. Aku akan bicarakan hal ini dengannya nanti."
"Itu lebih baik."
"Aru …," panggil Ken lembut yang melihat Bella tenggelam pada pemikirannya sendiri.
"Hm ada apa?"
"Jangan terlalu stres. Nanti bisa mengganggu proses kehamilan," ujar Ken.
"Peluk aku."
Ken segera membawa Bella dalam pelukannya. Memberikan kecupan hangat pada kening Bella. Bella memejamkan matanya, kepalanya bersandar pada dada Ken.
"Tidak ada aturan yang melarang bermesraan di tempat umum, bukan?"sahut Ken.
"Tidak ada sih. Hanya saja kalian membuat para single gigit bibir," sahut Silvia.
"Hahaha …." Tawa renyah Ken dan Bella.
"Ayo," ucap Brian, melangkah masuk lebih dulu.
"Eh, Mas! Tunggu aku!"panggil Silvia, bergegas mengejar langkah Brian.
"Kak Via lebih ceria dan berani setelah kau masuk rumah, Aru," ucap Ken. Keduanya menyusul dengan saling bergandengan tangan.
"Aku melihatnya. Dan Kakak pertamamu itu, tidak sedatar yang terlihat. Ia pribadi yang menyenangkan asal bisa memahami sikapnya," sahut Bella.
"Dari mana kau tahu, Aru? Apa kau pernah berinteraksi dengan kak Brian tanpa sepengetahuanku? Aku saja yang adiknya, jarang berinteraksi dengannya selain saat sarapan atau makan malam. Itupun hanya sekadar saling sapa," ungkap Ken. Ucapan Bella begitu menggelitik hatinya.
Memang benar, dengan Brian si Kakak berwajah datar itu. Tidak ada pembicaraan panjang lebar atau bertukar cerita layaknya saudara pada umumnya. Dengan El, hampir jarang mereka bertemu. El bangun setelah ia berangkat kuliah, pulang larut malam.
Dalam hati Ken baru membenarkan bahwa El tak seburuk yang ia dengar atau lihat.
"Hanya beberapa kali, pembicaraan ringan yang menyenangkan di rooftop. Saat itu kau tenggelam dalam pulau kapukmu itu!"ucap Bella.
"Wow hati-hati jika nanti kalian dikira selingkuh!"ucap Ken.
"Ckck ... memangnya Brian itu serendah itu? Dan apa kau kira aku ini tukang selingkuh hah? Dan jika aku selingkuh untuk apa aku memberitahumu tentang ini?"
"Hei-hei! Aku mengatakan orang lain, bukan aku. Aku sangat percaya padamu."
"Jadi jangan saling mengkhianati kepercayaan masing-masing," ucap Bella.
"Of course!"
*
*
*
"Assalamualaikum," sapa Bella saat masuk ke ruang rawat Nesya diikuti oleh Ken, Brian, dan Silvia.
"Waalaikumsalam, Kakak," jawab Nesya yang tengah menatap layar televisi, menonton siaran dengan tetap berbaring. Sepertinya Nesya sudah tersadar dari shock ringannya. Ia menoleh sumringah pada Bella. Namun, mengeryit saat melihat dua wajah baru yang masuk setelah Ken. Satu pria dengan wajah datar, satu wanita cantik yang tersenyum ramah padanya.
"Malam, Nona Bella," sapa Perawat Winda yang baru keluar dari kamar mandi.
"Malam, Winda," sahut Bella.
"Mengapa belum makan?"tanya Bella yang melihat mangkuk makan Nesya masih penuh di atas nakas.
"Menunggu Kakak," jawabnya tanpa memalingkan wajah dari dua wajah baru itu.
Bella berdecak kesal. Ia duduk di bangku samping ranjang dan mengambil mangkuk bubur yang masih terlindungi dengan plastik.
"Maaf, Nona. Saya gagal membujuk Nona Nesya untuk makan dan minum obat. Bahkan saat Dokter Rey turun tangan, Nona Nesya tetap menolak dan menunggu Anda datang," terang Perawat Winda, ia menunduk merasa bersalah. Bella tersenyum, "tidak masalah. Adikku memang keras kepala. Winda, kau boleh pulang. Saya akan menemani Nesya malam ini," ujar Bella. Ken yang mendengarnya memalingkan wajahnya, kemudian mengangguk kecil.
Perawat Winda mengangguk, "kalau begitu saya permisi, Nona. Selamat malam, semuanya," pamit Perawat Winda kemudian melangkah keluar.
"Kakak … mereka berdua siapa?"tanya Nesya menunjuk Brian dan Silvia dengan telunjuknya.
"Oh mereka ya …." Bella memalingkan wajahnya ke arah Brian dan Silvia yang berdiri di ujung ranjang. Silvia tampak mengamati Nesya dan Brian, tetap dengan wajah datarnya. Ken sendiri duduk di sofa.
"Kau pasti tahu tentang keluarga Mahendra, bukan?"tanya Bella.
Nesya mengangguk, "mereka memiliki tiga Tuan Muda. Eh tunggu, aku ingat Tuan Muda Pertamanya sudah menikah. Hmm … apa itu mereka berdua?"tanya Nesya, ia sendiri terkejut dengan apa yang katakan.
"Benar. Dia Tuan dan Nona Muda Pertama keluarga Mahendra. Kak Brian dan Kak Via, ayo sapa mereka," tutur Bella.
"Ahh sungguh? Tapi, dia dan suami Kakak tidak ada kemiripan apapun." Brian menaikkan alisnya mendengar ucapan Nesya.
Orang sakit biasanya penglihatannya kurang jelas, tapi anak ini bisa melihat siaran televisi dengan baik. Dan anak ini cukup berterus terang, batin Brian.
Sedang Silvia mulai membandingkan wajah Brian dan Ken.
Bella tersenyum canggung. Ia lupa dengan sikap terus terang adiknya ini. "Kau melupakan satu hal, mereka memang lain ibu," jelas Bella.
"Oh lain ibu." Nesya mengangguk walau wajahnya masih merayu.
"Hallo, Kakak ipar," sapa Nesya, mengukir senyum ramah pada bibirnya.
"Hai, Nesya. Bagaimana kondisimu sekarang?"tanya Silvia penasaran. Brian hanya mengangguk kecil dan beranjak duduk di sofa. Silvia beralih menjadi di samping ranjang, di depan Bella. Buah yang ia bawa, diletakkan di ujung ranjang.
"Sudah lebih baik. Tapi, dokter mengatakan aku harus bedrest dulu," jawab Nesya.
"Ayo, ngobrol sambil makan. Kau harus minum obat setelah ini," ujar Bella, menyodorkan sendok berisi bubur.
"Hambar," keluh Nesya. Indera perasanya sudah kembali.
"Besok Kakak belikan hati panggang, bagaimana? Tapi, malam ini sampai besok pagi harus makan bubur. Dokter lebih tahu daripada calon dokter apa yang terbaik untuk pasiennya," ujar Bella. Nesya mencembik kemudian mengesah pelan.
"Ah aku ingin menyelesaikan kuliahku, Kak," harap Nesya.
"Nesya mahasiswa kedokteran, ya?"tanya Silvia. Matanya menunjukkan rasa takjub.
"Sebelumnya," jawab Nesya, tersenyum kecut.
"Asalkan kau cepat pulih, kuliah bukan masalah," ujar Bella, kembali menyuapi Nesya.
"Itu benar. Kau berhenti kuliah kan bukan karena kemauanmu. Jadi jangan patah semangat! Itu sangat dilarang! Kau tidak sendiri, ada kakakmu, dan kami, keluargamu," ucap Silvia. Jiwa seorang kakak ia tunjukkan, rasa rindu dengan adiknya yang berada yang koma di benua Amerika sana memenuhi relung hati Silvia.
"Kau sangat ceria, sembuh bukan hal mustahil," imbuh Silvia dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak mengapa dia mendung?"tanya Nesya heran.
"Adiknya juga sakit, koma dan sekarang berada di Amerika," beritahu Bella.
"Wow, kasihan."
"Kau ini," gerutu Bella, mendengar nada kasihan dengan wajah datar. Nesya mengendikkan bahunya singkat.
"Ah maaf-maaf. Aku teringat adikku," ucap Silvia, malu dan mengusap sudut matanya.
"Lalu di mana Tuan Muda Kedua dan mertua Kakak?"tanya Nesya. Merasa aneh dengan pertemuan antara dirinya dengan keluarga mertua Bella. Mengapa harus pisah-pisah?
"El lagi belajar di pasantren, sedang Papa dan Bunda berada di Paris," jawab Silvia.
"Wow Tuan Muda dengan citra buruk itu masuk pesantren? Luar biasa."
"Errr?" Silvia terpana sendiri. Bella menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa canggung dengan cara bicara Nesya yang blak-blakan.
"Sepertinya dalam waktu dekat adikmu ini akan keluar dari rumah sakit," ucap Brian yang walaupun terlihat acuh sebenarnya mendengarkan perbincangan tiga wanita itu.