This Is Our Love

This Is Our Love
Setitik Titik Terang



Penutup weekend bareng Bella, Ken, dan Cia adalah menikmati senja di tepi pantai. Menatap swastamita kembali ke peraduannya. Kelimanya hanyut dalam pesonanya. Terlebih Bella, setelah sekian lama akhirnya ia bisa menikmati matahari terbenam di tepi pantai.


Bella tersenyum lebar, mengingat kenangan indah saat menghabiskan waktu senja bersama dengan Louis. Senyum, canda, dan tawa kenangan itu  memenuhi relung hati Bella. Rasa rindunya kian membuncah, tersenyum tipis saat mengingat Louis yang tiada kabar. 


Senja, berhasil mengobati juga menambah rasa rindu di hati Bella pada Louis. 


*


*


*


Sekitar pukul 20.00, Bella tiba di kediaman Mahendra. Sementara Ken sendiri masih dalam perjalanan usai mengantarkan Cia, Anggara, dan Angkasa pulang.


"Assalamualaikum," ucap Bella. 


"Waalaikumsalam," jawab segenap yang ada di ruang keluarga. 


"Sepertinya kalian sangat menikmati pikniknya hingga pulang semalam ini. Katakan ke mana saja kalian?"ujar Rahayu, menyuruh Bella duduk di sampingnya.


Bella tersenyum, duduk di samping Rahayu. "Sepertinya, padahal cuma ke taman sama pantai saja, nggak nyangka juga pulang selama ini," sahut Bella.


"Haha sepertinya hubungan kalian bertiga harus Papa beri tepuk tangan. Papa benar-benar tidak menyangka bahwa kalian bisa akur satu sama lain, berbagi Ken. Luar biasa juga anak kita diberikan dua bidadari," tawa Mahendra dengan wajah yang tampak sangat lega.


"Huh bukankah turunan dari Mas," ledek Rahayu.


"Kok turunan aku? Bedalah, Sayang," kilah Surya.


"Jadi turunan siapa? Aku?"


Mata Rahayu mendelik kesal pada Surya.


"Ya suruh siapa kamu dulu pergi nggak bilang-bilang? Untung kamu belum nikah sama orang lain jadi aku masih bisa miliki kamu lagi," sahut Surya tak mau kalah.


"Ya namanya naas, Mas. Untung aku selamat, ya walau lupa amnesia sementara, anggap saja ujian cinta," balas Rahayu lagi, malah tersenyum mengingat masa lalunya dan Surya.


Surya dan Rahayu saling tatap, senyum manis mereka sunggingkan, keduanya lantas berpelukan.


"So Ken mirip siapa?"tanya Bella yang sontak membuat keduanya melepas pelukan.


"Papa/Mama!"ucap keduanya serentak dengan saling tunjuk. 


"Kompak banget sih. Satu hati memang beda," goda Bella. 


Dan ya keduanya salah tingkat. Surya batuk-batuk tak jelas sementara Rahayu melihat ke arah lain.


"Mirip Papa lah. Kan Papa yang punya dua istri," sungut Rahayu tanpa menatap Surya.


Bella menggeleng pelan. Jika diteruskan sampai larut pun tak akan selesai, ya untuk pasangan tua itu saja. 


"Oh ya, yang lain kemana?"tanya Bella yang tidak mendapati Brian, Silvia, dan El. 


"Mereka ya? El tadi pamit entah kemana kalau Brian sama Via tadi pamit dinner," jawab Rahayu.


"Dinner?"


Bella heran dengan Brian dan Silvia. Setahunya Brian itu sikapnya cuek sama Silvia. Apakah Brian termasuk tipe orang yang dingin di luar hangat di dalam? Dinner berdua, bukanlah itu sweet?


"Ahh Abel mengerti. Ya sudah, Abel pamit ke kamar dulu ya Ma, Pa," pamit Bella.


Tubuhnya terasa lengket dan ia belum salat Isya. Setelah diangguki oleh Surya dan Rahayu, Bella beranjak menuju kamar.


"Ah Abel, jika kau sudah selesai, Papa tunggu di ruang belajar Papa. Ada hal penting yang ingin Papa sampaikan, mengenai kasus keluargamu," ucap Surya.


Bella otomatis menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Surya memastikan pendengarannya. 


Surya mengangguk, "baiklah." Jantung Bella berdebar, ia tak sabar mengetahui kebenaran akan kasus yang menimpa keluarganya.


*


*


*


"Assalamualaikum."


Itu suara Ken, ia masuk dengan wajah yang gembira. Ken mengecup punggung tangan Rahayu sebelum duduk, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Macet?"tanya Rahayu menyelidik mengingat ini hampir pukul 21.30.


"Iya, Ma. Biasa orang-orang pulang weekend," jawab Ken.


"Sungguh? Bukan karena kamu singgah dulu di rumah Cia?"selidik Rahayu lagi, menatap Ken tajam.


"Ya sebentar, Ma. Lima belas menitan gitu," jawab Ken jujur.


Rahayu mengembuskan nafas pelan.


"Lalu apa kamu tadi adil sama mereka berdua? Kamu nggak berat ke Cia kan?"


Ken menatap Rahayu dengan mata memelas. Ayolah, ia lelah apakah harus diinterogasi lagi? Mata tak terbantahkan Rahayu, meminta jawaban pasti dan Ken bukan tipe anak yang melawan, membuat Ken mendengus.


"Iya. Ken lebih berat ke Cia tapi Aru nggak masalah kok. Orang Aru sibuk main game sama adik-adik Cia," jawab Ken.


Wajah Rahayu berubah, ia tampak tidak senang dengan jawaban Ken.


"Orang kamu nya sibuk sama Cia, wajar jika Abel cari kesenangan lain. Huh! Memangnya ada wanita yang mengatakan cemburu terang-terangan? Kamu sudah dewasa, belajar adil dan peka. Jangan kecewakan keduanya!"tegas Rahayu.


"I-iya, Ma. Ken paham."


Ken menunduk, merasa bersalah pada Bella.


"Ya sudah sana. Mandi, terus salat kalau belum," ujar Rahayu.


Ken mengangguk, mengecup pipi Rahayu kemudian melangkah menuju kamarnya.


Akan tetapi baru saja naik ke anak tangga pertama, Ken berbalik, "Ma, yang lain mana?" Biasanya kalau Surya di rumah, pantang pisah dari Rahayu.


"Kakak-kakakmu keluar. Papa dan Abel di ruang belajar."


"Ruang belajar?"


Ken penasaran dengan apa yang dibicarakan istri dan papanya itu.


Hal penting apa?


*


*


*


"Abel, Papa memang belum bisa memecahkan semuanya. Sejak Papa mulai menyelidik sampai sekarang, Papa berani menyimpulkan bahwa semua kasus yang dituduhkan terhadap Papamu adalah ulah sekretaris Papamu sendiri," papar Surya serius.


Dahi Bella mengerut, "Om Wisnu maksudnya?"


Ada nada ketidakpercayaan di sana. Surya tetap tenang menghampiri tatapan tajam Bella.


"Tidak mungkin," gumam Bella tidak dapat mempercayai ucapan Surya itu.


"Mustahil, Pa. Om Wisnu itu kepercayaan Papaku. Bahkan sudah seperti saudara sendiri. Bagaimana mungkin tega menghianati Papaku?! Papaku yang menyelamatkan nyawa Om Wisnu waktu kecelakaan, Pa. Bahkan Papaku juga mendonorkan darah untuk Om Wisnu. tidak percaya!"


Mata Bella bergerak tidak percaya, ragu, kaget, juga bingung. Tangannya terlihat menggepal, matanya menatap Surya menuntut penjelasan lebih lanjut. Bella ingat jelas saat pertemuan pertama Papanya dan juga dirinya dengan sekretaris itu.


Surya menghela nafas pelan. Sudah ia duga bawa tidak semudah itu Bella percaya hasil penyelidikannya. 


"Abel, kadang kala orang yang paling dekat dengan kita adalah musuh yang paling berbahaya. Maaf jika Papa membuatmu kaget dan terpukul, tapi dapat Papa yakinkan bahwa sekretaris Papamu itu adalah musuh dalam selimut. Katakan pada Papa, apa kau atau keluargamu tahu latar belakangnya?"


"Yang ku tahu, Om Wisnu itu sebatang kara, datang dari luar pulau untuk mencari pekerjaan. Sungguh aku tidak dapat percaya bahwa Om Wisnu berkhianat," jawab Bella getir.


Tatapan kecewa, amarah, sedih bercampur pada pancaran mata Bella. 


"Abel, dengarkan Papa. Dia tidak berkhianat karena sejak awal ia memang orang yang dikirim masuk ke Chandra Group untuk menghancurkan kalian. Tuannya bukan kalian, baktinya bukan pada kalian. Ia telah memiliki Tuan saat masuk ke dalam Chandra Group. Dan apa kau tahu siapa Tuannya?"


Bella menggeleng, ia masih mencerna semua ucapan Surya. 


"Selain itu, pria yang kau panggil Om Wisnu itu punya kesempatan emas untuk melakukan sesuatu yang merugikan kalian. Terlebih ia kepercayaan Papamu. Bukan hal mustahil, malah terbilang mudah. Hanya saja ia menunggu kesempatan yang tepat untuk membungkam kalian dalam sekali tarik," lanjut Surya.


"Dan Tuannya adalah Nero Group!" Mata Bella terbelalak. 


"N-Nero Group?"


Apa hubungan keluarganya dengan perusahaan besar asal Inggris itu? Seingatnya tidak pernah sekalipun keluarganya bersinggungan dengan mereka, bertemu saja tidak pernah. Sungguh ini sebuah teka-teki yang rumit.


"Ya awalnya aku juga tidak percaya. Tapi lihatlah data ini. Nama asli sekretaris Papamu itu adalah James. Ia orang Inggris, wajah asianya datang dari ibunya yang orang Indonesia."


Bella membaca kertas yang disodorkan Surya. Benar, itu wajah sekretaris Papanya, lengkap dengan keterangan singkat dan jelas. Ketidakpercayaannya tidak bisa diekspresikan dengan kata dan wajah, kini Bella menatap dingin kertas tersebut. Tangannya meremas kertas, matanya memancarkan sejuta amarah.


"Kurang ajar!"geram Bella.


"Apa Papa tahu alasan mereka?"


Surya bergidik mendengar nada sedingin kutub Bella.


"Papa belum tahu apa alasan Nero Group menghancurkan kalian. Tidak ada petunjuk seakan sudah dimusnahkan. Tapi Papa akan berusaha keras untuk menemukan alasannya. Papa akan menepati janji Papa sampai tuntas!"jawab Surya.


"Menurutku tidak ada bukti fisik yang tersisa. Hanya menanyakannya langsung pada keluarga Nero barulah akan jelas."


Surya setuju dengan pemikiran Bella. Keluarga besar nan terpandang yang dikatakan masih kerabat keluarga kerajaan Inggris itu pasti selalu melakukan sesuatu dengan perfeksionis. 


"Akan tetapi, aku juga tidak bisa bertindak gegabah. Menanyakannya langsung sama saja mencari mati," lanjut Bella.


Walau nadanya masih dingin, tapi Bella sudah bisa mengendalikan emosinya yang menggebu.


"Papa setuju padamu, Nak. Papa akan tetap berusaha mencari alasan tersebut."


Bella mengangguk, "Papa juga jangan gegabah bertindak. Keluarga Nero bukan keluarga sembarangan. Aku tidak ingin nantinya keluarga Mahendra ikut terlibat dalam masalah keluargaku dengan mereka," tegas Bella.


"Papa mengerti."


Saat ini Mahendra Group tengah menjalin kerja sama dengan Nero Group. Sebagai Presdir, tentu saja Surya harus bersikap profesional, tidak bisa mencampuradukkan urusan pribadi dan bisnis. Setidaknya sampai kerja sama mereka selesai.


Untuk Bella, Surya percaya bahwa Bella pandai mengambil sikap terbaik. Bukan hanya memikirkan amarahnya, tapi juga akibat dari amarahnya yang bisa membuatnya bertindak gegabah.


"Nak, Papa juga minta satu hal padamu, ya," ucap Surya. 


"Apa itu?"


"Tolong jangan terbawa amarah jika saat kamu masuk ke Mahendra Group nanti bertemu dengan salah satu keluarga Nero."


"Aku paham, Pa. Aku tidak akan bertindak gegabah. Ah ya, apa Papa tahu di mana keberadaan Om Wisnu sekarang?"


"Di dalam tanah," jawab singkat Surya.


"Dalam tanah? Maksudnya sudah meninggal?


"Yap, makanya sekarang jawaban atas semua pertanyaanmu adalah pada keluarga Nero."


Bella menghela nafas berat. 


*


*


*


"Aru, apa yang kau dan Papa bicarakan? Mengapa lama sekali baru keluar?"


Ken langsung memberondong Bella yang masuk dengan wajah datarnya.


"Masalah pekerjaan," jawab singkat Bella.


"Seserius itu sampai harus bicara di ruang belajar?" Ken menyelidik.


"Tentu saja. Urusan pekerjaan sangat penting karena menyangkut masa depan perusahaan!"


Bella berbaring di ranjang. 


"Mengenai apa?"


Ken ikut berbaring, menatap langit-langit kamar.


"Hal vital perusahaan, kenapa? Ingin tahu?"


"Tidak. Hanya bertanya."


Ken memiringkan tubuhnya, menatap punggung Bella.


"Aru lagi marah?"tanya Ken hati-hati.


"Hanya lelah."


"Lalu mengapa membelakangiku? Aru marah kan karena sikapku waktu piknik tadi?"


"Bukan, Ken. Aku hanya lelah."


Bella berbalik, tidur berhadapan dengan Ken.


Tangan Ken kini berada di pinggang Bella.


"Kalau begitu tidurlah."


Ken merapatkan tubuhnya pada Bella. Bella membalas pelukan Ken.


"Ya."


"Maaf, ke depannya pasti aku akan adil," ucap lirih Ken.


"Tidurlah."


*


*