This Is Our Love

This Is Our Love
Izin?



Sudah seminggu berlalu, semua berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Ya kecuali untuk Gio dan Pak Surya yang terus menerus meneror pesan dan panggilan  pada Bella. Jengah dengan suara ponsel yang sering berdering dan mengganggu dirinya, Bella memblokir nomor dan email kedua orang itu. 


Di sisi lain, Anjani yang tahu alasan Bella menolak penawaran dari Mahendra Group hanya bisa mendukung dan menggeleng pelan akan keputusan Bella. Anjani juga kagum dengan alasan Bella, sangat menyayangi adiknya. 


Bella hanya tersenyum simpul mendengar reaksi orang terdekatnya mengenai alasan ia menolak tawaran itu. Walaupun tidak sepenuhnya benar, setidaknya tidak merugikan siapapun. 


Selama seminggu ini, Anjani terus belajar keras untuk bisa segera memahami apa yang Bella ajarkan, yakni cara memimpin sebuah perusahaan. Arka, anak itu hanya bisa mendukung sang ibu dengan bersikap baik.


Ya walaupun masih sekuku yang Anjani kuasai, itu sudah membuat Bella puas. Bella sendiri masih tidak memberitahu yang sebenarnya di mana adiknya berada. Hanya mengatakan Nesya sedang PKL di luar pulau. 


Seminggu ini, Anjani dan Arka tetap berada di apartemen Bella. Sering, Anjani masih menangis pilu, membayangkan suami dan madunya tengah bermesraan tanpa diganggu olehnya. Bahkan seminggu kepergiannya, tidak sedikitpun suaminya mencari keberadaan dirinya. Hanya sebuah pesan, meminta dirinya pulang dengan cara yang kasar. Siapa yang mau? Pulang untuk menabung duka lagi? Anjani langsung saja mengganti sim cardnya dan memblokir media sosial suaminya atas dirinya. 


Anjani merasa bersyukur, ada Bella, sahabat sejatinya yang selalu membantu dirinya. 


Pagi ini, Bella telah siap untuk menjemput Nesya dari lapas untuk kemoterapi perdana di rumah sakit. Dengan setelan berwarna kalem, Bella keluar dari kamar lengkap dengan jaket biru dan helm hitamnya. Tas ransel tergendong manis di punggungnya.


"Aunty Bella? Aunty mau ke mana?"tanya Arka yang melihat Bella mendekati ruang tamu.


"Sudah rapi saja, Bel. Ada agenda penting ya?"imbuh Anjani.


"Hm. Ada agenda penting, sangat penting," jawab Bella tersenyum.


"Apa itu Aunty?"tanya Arka penasaran, matanya menatap lekat Bella.


"Hm kasih tahu nggak ya?"sahut Bella dengan nada menggoda. 


"Kasih tahu dong, Aunty." Arka membalas dengan nada yang sama lengkap dengan mata memelas. Bella tertawa ringan, "rahasia deh."


"Ah Aunty!"rajuk Arka. Arka langsung memayunkan bibirnya. Bella semakin mengeraskan tawanya. Arka bisa mengobati kerinduan Bella terhadap Key. Anjani tersenyum lebar melihat interaksi tersebut. Arka yang mendengar tawa Bella, semakin kesal dan kini bersedikap tangan di dada. "Aunty jahat. Malah ngetawai Aka,"ketusnya. 


"Ih makin gemes deh!" Bella mengacak-acak rambut Arka dengan tangan kanannya. "Aunty!!"seru Arka, melindungi rambutnya dengan kedua tangan. "Hahahaha," tawa Bella, berganti mencubit gemas hidung Arka.


"Huwah Mama! Aunty nidas Aka!"aduh Arka, langsung memeluk Anjani yang tersenyum geli. 


"Eh kok malah nangis sih?"heran Bella yang mendengar tangis Arka.


"Aunty jahat. Aunty nidas Aka. Aka kesal sama Aunty!"ucap Arka dengan nada imutnya.


"Eh?" Bella menatap Anjani. Anjani mengedikkan bahunya. Aku tidak tanggung jawab ya. Itulah arti tatapan Anjani.


Hah Key tetaplah Key. Arka tetaplah Arka. Semua manusia itu berbeda. 


"Aka … Aunty minta maaf ya. Aunty nggak maksud buat Aka nangis. Aka maukah maafin Aunty?"ucap Bella dengan nada menyesal, duduk di samping Arka yang masih memeluk Anjani.


"Aka kesal sama Aunty. Aka nggak mau maafin Aunty!" Bella tersenyum lembut mendengarnya. Ya menghadapi Key yang tengah kesal padanya dirinya jauh lebih sulit daripada Key. Setidaknya Arka masih menanggapi ucapannya sedangkan Key, diam seribu bahasa dan berubah menjadi anak yang dingin.


"Aka nggak boleh ngomong begitu. Aunty Bella sudah minta maaf loh. Maafin gih, ntar kita diusir loh." Bella membulatkan mata kesal mendengar bujukan Anjani yang mengandung sebuah ancaman.


"Hah?" Arka melepas pelukannya.


"Beneran Aunty?" Mata Arka berubah cemas pada Bella.


"Hm gimana ya? Kan nggak mungkin satu rumah nggak akur. Jadi kalau  Arka …."


"Arka maafin Aunty!"potong Arka cepat. Senyum Bella dan Anjani mengembang. "Anak baik!"


"Sebenarnya kamu mau ke mana Bel?"tanya Anjani penasaran. 


"Rumah sakit," jawab Bella.


"Rumah sakit? Kau sakit?"


"Aku mau menjenguknya. Sudah lama sekali aku tidak menemuinya. Sudah bertahun-tahun lamanya," jawab Bella.


"Menjenguknya?" Bella mengangguk, "apa kau masih ingat?"


Anjani diam, "ah menunggumu mengingatnya, lebih baik aku berangkat. Assalamualaikum," pamit Bella, langsung melangkah keluar.


"Dia? Siapa dia?"gumam Anjani dengan tatapan menerawang jauh ke masa lalu.


*


*


*


Perjalanan menuju rumah sakit seusai menjemput Nesya dari lapas terasa begitu tidak menyenangkan. Nesya yang sibuk dengan beragam pertanyaan dan Bella yang sibuk memikirkan jawabannya. Semua pertanyaan Nesya nggak lepas dari mau kemana? Apa yang terjadi? 


Tak tahan lagi dengan pertanyaan Neysa yang tidak kunjung berhenti, Bella menghentikan motornya di pinggir  jalan, di samping mereka adalah sebuah taman. Nesya yang keheranan langsung turun kala Bella menyuruhnya turun. Bella meletakkan kasar helm nya lalu turun dan mengajak Bella di bundaran tempat duduk dekat mereka. Ini hari kerja jadi taman masih sepi akan pengunjung, terlebih di pagi hari.


Sebuah motor ikut berhenti di belakang motor Bella. Dua orang dengan seragam lapas menatap heran Bella dan Nesya.


"Ada apa Mbak? Kok berhenti?"tanya salah seorang dari mereka.


"Ini Pak ada sesuatu yang penting yang harus saya bicarakan dengan adik saya," jawab Bella.


"Oh iya Mbak."


"Maaf ya Pak, nggak lama kok." Bella berucap dengan nada merasa bersalah.


"Nggak papa kok, Mbak. Santai saja." Bella tersenyum, kemudian menatap lekat wajah Nesya yang sudah memunculkan segala jenis pertanyaan.


"Kakak tidak bermaksud untuk menyembunyikan apapun darimu. Hanya saja, waktu itu kondisimu begitu lemah dengan kenyataan kau hamil." Nesya diam mendengar ucapan Bella yang terasa amat serius. Ia mengusap perutnya yang belum menunjukkan perkembangan berarti.


"Anggap saja Kakak ini egois. Tapi itu semua demi keselamatanmu sendiri. Semua punya resiko yang tinggi. Aku dituntut untuk menemukan jalan terbaik untuk masalahmu," lanjut Bella. Nesya menunjukkan wajah tak sabar menanti ucapan Bella selanjutnya. Hatinya berdebar kencang dengan perasaaan tak karuan. 


"Sebenarnya … kau mengidap Leukemia stadium 2."


Jeder!


Bak petir di siang bolong, Neysa terkejut bukan main atas ucapan Bella. Nesya membeku dengan mata mencari kebenaran pada ucapan Bella. 


Kini ia di lapas.


Kemudian hamil tanpa suami.


Lalu sekarang, leukemia? Stadium 2? Hukuman ini? Rasanya terlalu berat untuk Nesya. Tapi dengan apa yang Nesya rasakan selama ini, itu memang benar adanya. Apalagi dengan obat-obatan yang katanya untuk vitamin kehamilan. Rasanya terlalu banyak, tapi Nesya tidak banyak tanya mengingat pesan Bella.


"Ka-Kak, i-itu bohong kan?" Biarpun hatinya berteriak itu benar, tapi akal Bella menolak mengakuinya. Ia masih berharap, ini adalah sebuah prank.


"Hari ini adalah kemoterapi pertamamu, kita akan ke rumah sakit," jawab Bella dengan mata menatap iba Nesya, dengan cepat Bella membawa Nesya dalam pelukannya.


"Mengapa Kak? Mengapa ini semua terjadi padaku? Apakah kesalahanku begitu besar hingga hukuman yang aku terima begitu berat?"tangis Nesya, pecah pada pelukan Bella.


"Kau adikku yang kuat. Kau pasti bisa melalui semua ini, Nesya. Kakak percaya padamu," tutur Bella. 


Nesya tidak menjawab, menangis pilu dalam pelukan Bella. Dua petugas lapas yang melihat hal itu, saling tatap dan tersenyum prihatin atas yang terjadi pada adik dan kakak itu.


Kasihan, batin keduanya seraya menghela nafas pelan.


Cukup lama Nesya menangis, selama itu pula kata semangat dan motivasi Bella terus mengalir untuk Nesya. Kini, Nesya melepas pelukannya, menghapus air mata, "Kakak, resiko hamil dan leukemia secara bersamaan sangatlah besar. Aku tidak yakin untuk mempertahankan anak ini," ucap Nesya serius. 


"Kakak akan mendukung keputusanmu, apapun itu," jawab Bella.


"Kakak serius?" Bella mengangguk pelan, Neysa diam sejenak. Mencari kepastian pada mata Bella. Hari itu, saat Nesya ingin menggugurkan anaknya, Bella melarang hingga menamparnya. Amarah Bella terlihat jelas kala itu. Akan tetapi, hari ini Bella mengubah keputusannya?


"Jalan apapun yang dipilih, semua memiliki resiko besar. Menggugurkan anak itu, akan memperkecil resikomu, Sya. Maafkan kekerasan hati Kakak. Kakak tidak ingin kehilanganmu." Biarpun Bella telah membaca banyak artikel mengenai ibu hamil dan leukemia, kebanyakan memang mengatakan leukemia berdampak buruk bagi ibu dan anak, bisa mengganggu tumbuh dan kembang janin, lahir dengan cacat bahkan meninggal saat lahir, dan sebagian lagi mengatakan bahwa kemoterapi untuk ibu hamil tidak akan membahayakan ini dan janin, kemungkinan hanya efek samping ringan. 


"Tidak Kakak. Seharusnya akulah yang meminta maaf. Semua ini terjadi …."


"Shut. Yang lalu biarlah berlalu. Jangan diungkit lagi." Bella meletakkan telunjuknya pada bibir Nesya. Keduanya beradu pandang. Tak lama Nesya mengangguk.