This Is Our Love

This Is Our Love
Anugrah dan Musibah



 Sementara itu, Ken dan Bella masih menikmati sate kacang di stand yang berjualan di pinggir jalan.


Sate ayam yang dipadukan dengan bumbu kacang sungguh memanjakan lidah keduanya.


Wangi khas bumbu kacang ditambah dengan bawang goreng dan cabai giling sungguh


menambah nafsu makan.


Bella bahkan sampai menghabiskan dua porsi sedangkan Ken sendiri satu porsi saja sudah lebh dari cukup.


Ken yang sudah menghabiskan bagiannya, menyangga dagunya memandangi Bella yang masih makan.


“Nafsu makanmu sudah seperti Dylan,” ledek


Ken melihat pipi gembung istrinya.


Bella menatap Ken sekilas dan tampak acuh. Ia


hanya fokus makan.


“Berat badanmu juga bertambah, apa tidak takut gendut nanti?”beritahu Ken yang kini mengambil ponselnya dan membuka kamera, mengabadikan moment malam ini dan menggunggahnya ke instagram story.


“Darimana kau tahu, Ken? Aku merasa beran badanku normal-normal saja. Dan aku tidak akan gendut walaupun makan lebih banyak dari ini,” sahut Bella dengan mengelap bibirnya dengan tisu karena Bella sudah selesai, menghabiskan dua porsi sate kacang. Ken mengangguki nya.


Bella tetap membuat waktu untuk olahraga walaupun itu hanya lima belas menit sehari.


Jika hari libur biasanya akan nge gym dan olahraga renang, atau olahraga lainnya misalkanya badminton dan bola golf.


“Aku setiap hari memboncengmu, Aru. Perubahan berat badanmu pasti terasa jelas olehku,” terang ken.


“Tapi, aku merasa ini normal. Dengan tinggi badanku, berat badan naik beberapa kilo itu wajar. Jika berat badanku semakin menurun, itu baru yang harus kau khawatirkan. Seharusnya kau senang berat badanku bertambah, artinya aku bahagia menikah denganmu,” sahut Bella dengan sedkit


bersungut-sungut.


“Iya sih ....”


“Atau kau nanti akan merasa malu punya istri gendut?”tuduh Bella dengan tatapan tajamnya.


Ken seketika merasa horor dan langsung


menyilangkan keduanya tangannya mengatakan tidak.


“But, selagi masih dalam batas wajarnya,” gumam Ken yang terdengar oleh Bella.


“Siapa juga yang mau obesitas? Oh ya bagaimana nanti jika aku hamil? Makin besar sampai begini.”


Bella menggerakkan tangannya di depan perutnya, membuat bentuk saat hamil besar.


“Aru, bagaimanapun rupamu, di mataku kau tetap sangat cantik,” tukas Ken yang mencari aman.


Bisa-bisa Ken tidur di luar jika terus


berargumen dengan Bella. Bella tersenyum lebar, ia puas dengan jawaban Ken.


“Kita pulang,” ajak Bella dengan menyimpan ponselnya. Namun, saat Ken hendak bangkit, ponselnya berdering. Sebuah panggilan video dari Rahayu.


“Dari siapa, Ken?”tanya Bella.


“Mama,” jawab Ken.


“Mama? Cepat jawab!”


Bella yang sudah berdiri kembali duduk.


Jika tadi keduanya duduk berhadapan maka kali ini mereka duduk berdampingan.


“Assalamualaikum, Ma,” jawab Ken dan Bella dengan menyapa Rahayu yang sepertinya berada di balkon bersama dengan Surya yang tengah menikmati secangkir kopi dan roti khas Perancis, croissant, dengan latar


belakang goresan senja karena di Paris masih menunjukkan sekitar jam 17.30.


“Waalaikumsalam, Ken, Abel, kalian belum pulang?”tanya Rahayu setelah memperhatikan di mana Ken dan Bella berada.


“Loh Mama kok tahu kita belum pulang? Mama cenayang ya?”heran Ken.


“Hush!! Sembarangan!! Istri Papa secantik ini kamu bilang cenayang!”ketus Surya.


Ken tertawa.


“Kamu kan tadi masukkan story IG, Ken. Makanya Mama tahu kalian belum pulang,” jelas Rahayu.


“Ah ... hahaha Ken lupa, Ma.”


Ken menepuk dahinya sendiri.


“Tumben malam-malam begini Mama video call kita. Ada apa, Ma, Pa?”tanya Bella penasaran.


“Tentu saja mau ngobrol sebentar sana menantu Mama yang lagi ngidam,” jawab Rahayu dengan antusias.


“Ngidam?”beo Ken dan Bella, mereka saling bertukar pandang.


“Iya, ngidam. Malam-malam begini keluar cari makanan sama porsi makanya banyak, kalau lagi hamil termasuk ngidam itu. Calon cucu Mama kayaknya anak baik deh, ngidamnya nggak susah-susah. Tapi, Mama malah berharap dapat moment ngidam yang nggak bakal dilupain,” lanjut Rahayu dengan wajah yang berseri-seri.


Bella menyentuh lehernya, merasa tidak enak. Sedangkan Ken tersenyum canggung.


“Jadi, Aru lagi ngidam ya, Ma?”tanya Ken, pura-pura memastikan.


Rahayu mengangguk dengan semangat.


“Duh Mama jadi ingin pulang deh. Sayangnya urusan Papamu belum selesai juga,” ungkap Rahayu dengan menoleh sekilas pada suamina.


“Beberapa hari lagi kita bakal berkumpul di kediaman Kalendra, Yu,” ujar Surya.


“Eh iya ya? Mama lupa,” tawa Rahayu


“Cucu Mama dan Mamanya sehat kan?”


“Alhamdulillah, Ma. Dedek bayinya nggak rewel. Anteng banget, kayaknya tahu Mamanya sibuk deh,” jawab Bella.


“Alhamdulillah kalau begitu. Tapi, kamu sendiri harus lebih menjaga dan bisa membatasi diri ya, Abel. Jangan sampai kelelahan. Kau juga Ken, jangan biarkan Abel kelelahan. Harus dijagain dengan baik! Jangan lupa minum


susu hamilnya. Ken juga jangan keseringan jenguk, ntar cucu Mama bosan,” ucap


Rahayu mewanti-wanti anak dan menantunya. 


Ken dan Bella tersenyum canggung mendengar kalimat terakhir Rahayu.


Jika nggak dijenguk gimana mau jadi, Ma?batin Ken dan Bella.


Surya sendiri menggeleng mendengar apa yang istrinya katakan.


“ Ya sudah. Kalau begitu kalian cepat pulang. Di sana pasti sudah larut," pamit Rahayu.


“Mama sama Papa sehat selalu di sana. Papa harus jagain Mama!”peringat Ken pada Surya.


“Kau juga, Ken,” balas Surya.


“Titip salam untuk yang lain ya. Assalamualaikum,” pamit Rahayu.


“Iya, Ma.”


“Waalaikumsalam,” jawab Ken dan Bella.


Panggilan video selesai. Ken dan Bella sama-sama menghela nafas kasar.


“Bagaiamana jika aku cek saja?”tanya Bella meminta pendapat Ken.


“Belum ada gejala umumnya, takutnya nanti kita malah kecewa,” takut Ken.


“Jika tidak dicoba  bagaimana kita tidak tahu.  Untuk hasilnya, aku fear-fear saja,” jawab


Bella meyakinkan.


Ken memikirkannya sebentar. Ada benarnya juga.


“Baiklah. Kita beli alatnya di apotek,” putus Ken, menganguk kecil.


Setelah membayar dan memesan satu porsi lagi yang varian sate padang, Bella dan Ken pulang ke mansion keluarga Mahendra.


Di perjalanan, keduanya singgah sebentar di apotek yang buka 24 jam. Membeli beberapa alat tes kehamilan untuk Bella gunakan besok pagi.


***


 Keesokan paginya, alarm kamar Ken tepat berbunyi di pukul 04.30. Bella segera bangun. Begitu juga dengan Ken. “Morning, Aru,” sapa Ken dengan menggeliat kemudian duduk.


“Aku merasa gugup,” ucap Bella pelan dengan pandangan ke arah nakas di mana alat tes kehamilan yang dibeli kemarin ada di atas sana.


“Jangan gugup. Ada  aku,” bisik Ken sembari mencium pipi Bella.


“Semoga saja  hasilnya


sesuai harapan,” harap Bella, turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar


mandi dengan membawa alat tes.


Ken menunggu di luar dengan mondar-mandir. Ia sangat tegang. Ini adalah pertama kalinya mereka melakukan tes. Semoga hasil ya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Bella keluar dari kamar mandi. “Bagaimana, Aru?"tanya Ken.


Dalam hatinya langsung merasa tidak


yakin melihat wajah Bella yang terlihat murung.


“Hasilnya ....” Bella menatap Ken yang menunggunya memberitahu hasilnya. Bella perlahan menunjukkan hasil tes yang ia sembunyikan di belakang badan.


“Ini? Apa maksudnya?” Ken sepertinya kurang mengerti.


Dan wajah murung Bella perlahan berubah, “selamat Ken, kau akan jadi seorang Ayah!”


*


*


*


Saham Nero Group masih berada di titik kemarin, belum ada perubahan. Hal itu membuat keluarga Nero semakin ketar-ketir.  Mereka kini sibuk mempertahankan investasi


yang ada sembari  mencari investor di


pasar saham.


Hanya saja, para investor menunjukkan keengganan m ereka untuk membeli saham di Nero Group. Walau sudah dipampangkan bukti bahwa perusahaan tidak mengalami masalah yang berarti,  para investor tetap menolak.


Walaupun ada bukti perusahaan dalam keadaan baik, namun saham Tuan Williams ditarik total.


Padahal sebelumnya ahli waris Tuan Williams dalam waktu empat tahun berhasil menambah jumlah saham hingga 50% dari yang awalnya hanya sekitar 30%.


Jika ditarik tiba-tiba tanpa penjelasan, kemungkinan besar masalah bukan terletak pada operasional perusahaan melainkan pada keluarga Nero. Tentu saja mereka tak mau ambil risiko dengan ikut berdiri di sisi Nero Group.


Marco sungguh pusing tujuh keliling, roda berputar, kemarin lusa, nilai saham Nero Group menjadi yang teratas kini menjadi yang terendah. Suatu hal yang tidak pernah disangka-sangka.


Dan masalahnya tidak berhenti sampai di sana, ada yang klien yang ingin membatalkan kerja sama. Aldric dan putranya berusaha keras untuk menahan para klien yang ingin membatalkan kerja sama.


***


Tawaran ahli waris yang kemarin ditolak mentah-mentah oleh Marco terlintas kembali dalam ingatan Marco.


Jika tidak akan perkembangan lagi, maka tidak mustahil jika Nero Group akan benar-benar runtuh. Marco tentu tidak akan rela hal itu terjadi. Perusahaan yang ia lihat perkembangannya dari masa


ke masa kepemimpinan hancur begitu saja.


Dan segila-gilanya dirinya, Marco


masih memikirkan keluarga dan karyawan yang bernaung di bawah Nero Group.


Namun, jika ia menjual semua saham yang dimiliki keluarga Nero pada ahli waris Tuan Williams, artinya mereka akan kehilangan hak atas Nero Group dan ahli waris sebagai  pemilik saham tertinggi yang akan menjadi pemilik Nero Group. Itu bisa menjadi solusi


terakhir, menjadi sebuah tanda menyerah.


Namun, sebelum itu, mereka akan


berusaha agar pilihan terakhir itu tidak dilakukan. Marco juga tidak bisa


melepaskan perusahaan turun menurun keluarganya. Ia pasti akan berusaha untuk


mempertahankan perusahaannya.


Bagaimana pertanggung jawabannya nanti pada leluhurnya jika di masa ia hidup keluarganya Nero jatuh?


Marco masih memerintah Aldric untuk mendesak orang kepercayaan Tuan Williams untuk bisa bertemu dengan ahli waris Tuan Williams.


Itu adalah yang paling utama, jika bisa mendapat penjelasan maka semua masalah akan selesai.


Hanya saja sampai saat ini kesempatan itu belum datang dan sulit untuk didapatkan. Marco merasa bahwa ahli waris Tuan Williams ini tengah mempermainkan Nero Group. Ia geram namun tidak bisa  berbuat banyak, karena dia sendiri tidak tahu


siapa ahli waris Tuan Williams itu.


***