
Sedikit bersenandung, Bella melangkahkan ringan kakinya untuk kembali ke kamarnya. Hatinya senang. Keinginannya terpenuhi.
"Nona!" Bella terkejut saat Irene tiba-tiba memangilnya. Bella sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Ah, ya? Ada apa, Irene?"tanya Bella, merubah ekspresinya menjadi datar.
Kok balik datar, sih? gumam Irene dalam hati.
"Irene?"
"Ah begini, Nona." Irene tergagap.
"Tuan memanggil Anda ke kamarnya untuk berdiskusi," ujar Irene.
"Ke kamarnya?" Bella mengeryit. Kemudian tersenyum menyelidik. "Apa Tuanmu tidak bisa jalan?"
"Katanya masih sakit. Tuan mengeluh Anda menendangnya terlalu kuat."
"Hahaha!"
Pasti menyenangkan melihat wajah menyedihkannya lebih lama, batin Bella.
"Baiklah. Tunggu sebentar. Aku mandi dulu," ucap Bella, bergegas masuk ke dalam kamarnya. Sementara Irene menunggu di depan kamar.
*
*
*
Nuansa hitam dan putih mendominasi kamar Desya. Bella melangkah masuk dengan Irene di belakangnya. Kedua tangan Bella berada di belakang pinggang.
Melihat sekeliling.
Desya berada di balik kelambu itu. Tidak ada pergerakan darinya. Irene maju untuk mengecek.
"Silakan duduk, Nona. Tuan akan bangun sebentar lagi." Rupanya Desya tertidur. Bella mendengus dan mengambil tempat duduk.
"Bangunkan saja," ucap Bella pada Irene.
Irene menggeleng. Ia tidak berani membangunkan Desya. Bella kembali berdecak.
"Tuan begini juga karena Anda, Nona. Jika Anda tidak menendang 'anu' Tuan …."
"Oh. Dia pantas mendapatkannya. Minggir, biar aku yang membangunkannya!"balas Bella.
"Tidak boleh, Nona! Silahkan duduk dan menunggu saja!" Irene merentangkan tangannya. Menahan langkah Bella. Melihat tatapan Irene, Bella menghela nafasnya, mengurungkan niatnya.
"Okay. Aku akan menunggu." Bella kembali duduk. Irene kembali mengecek Desya.
Desya masih terlelap dengan posisi tidur duduk berbaring. Di tangannya memegang sebuah berkas. Kemungkinan itu yang hendak didiskusikan dengan Bella.
"Tuan?" Irene memanggil pelan. Desya bergeming. Malah terdengar dengkuran halus.
Irene menghela nafasnya. Diam-diam tersenyum. Desya begitu pulas, mana tega ia membangunkannya.
"Anda ingin minum, Nona?"tawar Irene pada Bella.
"Bisa buatkan aku jus, mangga?"sahut Bella.
Irene mengangguk dan bergegas keluar. Bella kemudian mengedarkan pandangnya.
Tidak begitu banyak furniture. Desain kamar yang berkelas, yang menunjukan kesan misterius seperti pemiliknya.
Bella menguap. Tiba-tiba saja kantuk menyerangnya. Bella mengangkat kedua kakinya, dinaikkan ke atas sofa dan mencari posisi nyaman untuk tidur.
Matanya mulai terpejam dan tidak butuh waktu lama, Bella terlelap.
Beberapa menit kemudian Irene kembali dengan membawa jus mangga.
"Tertidur?"
Irene meletakkan jus mangga di meja. "Akan lebih baik jika mereka seranjang." Irene benar-benar mendukung Tuannya dengan Bella.
"Hehehe … maaf, Nona Bella!" Irene merencanakan sesuatu.
*
*
*
"Erggh!" Bella mengerang pelan sembari membuka matanya.
Ia kemudian mengerjap, mengernyit dalam. Ada yang berbeda.
Langit-langit putih. Sekeliling juga warna putih. Sebuah ruangan yang didominasi warna putih dan ada aroma obat.
Bella segera duduk.
Apa ini?
Di mana aku?
Ruangannya sangat terang.
Bella kebingungan. Apa yang terjadi padanya?
Pakaian rumah sakit?
Dengan infus di tangan?
Bukankah tadi ia mengantuk dan tidur sofa kamar Desya? Mengapa bisa terbangun di tempat ini?
It's dream?
Bella mencubit lengannya.
Sick!
"Auh!"
Kurang yakin. Bella menampar pipinya sendiri.
"Auh. Ini sakit. Apa yang terjadi?" Semakin bingung.
Dahinya berkerut-kerut.
"Hallo? Ada orang?" Bella memutuskan untuk memanggil seseorang. Barangkali bisa menjawab kebingungannya.
Ceklek!
Bella menoleh ke arah pintu. Matanya terbelalak.
Itu Ken, suaminya!
Pria itu tersenyum di ambang pintu, menambah kadar ketampanannya.
Bella mengucek matanya.
Mengecek apakah itu ilusi?
Tidak. Dia melangkah menghampiri dirinya dengan membawa buket mawar.
What this? Bella kembali bertanya-tanya.
"Aru." Panggilan yang sudah lama tidak Bella dengar kini terdengar kembali. Begitu lembut seraya memeluk Bella.
Rasa rindu. Kerinduan yang begitu dalam meluap. Bella membalas pelukan itu. Matanya yang berkaca-kaca, kini mengeluarkan air mata.
Bella menangis. Menumpahkan isi hatinya selama jauh dengan Ken.
"Mengapa kau menangis, Aru? Apakah masih sakit?"tanya Ken dengan nada penuh cemas. Buket bunga ia letakkan di ranjang, menangkup kedua pipi Bella.
Keduanya beradu pandang. Tatapan Ken begitu lembut dan dalam.
"K-kau benar-benar Ken, kan? Aku tidak berhalusinasi, kan?" Bella dengan ragu dan sedikit gemetar menyentuh pipi Ken.
Hangat. "Tentu saja tidak, Aru. Mengapa kau menangis? Apa kau mimpi buruk selama tidur tadi?"tanya Ken. Gurat-gurat kecemasan masih ada padanya.
Bella terdiam.
Mimpi buruk?
Apa selama ini ia hanya mimpi? Ia tidak benar-benar diculik? Dan Desya? Irene? Mereka cuma mimpi? Tapi, mengapa begitu jelas?
Atau apa ini yang mimpi? Namun, mengapa juga begitu nyata?
Bella kebingungan.
Cup.
Bella tertegun kala Ken mencium bibirnya sekilas. "Apa yang kau pikirkan, Aru? Kau tampak kebingungan."
Namun, Ken tidak memperpanjangnya. Pria itu tersenyum manis kemudian mendaratkan kecupan hangat pada dahi Bella dan turun sebentar ke bibir.
"Tapi, Ken. Mengapa aku berada di sini?"tanya Bella.
Ken tampak terhenyak.
"Aku sudah banyak membaca artikel dengan ibu hamil juga melahirkannya. Namun, aku tidak menemukan kasus bahwa ibu hamil akan hilang ingatan setelah melahirkan."
"Melahirkan?" Bella membeo. Dilihat perutnya. Dalam ingatannya ia masih hamil sekitar 3 atau 4 bulan. Dan kini perutnya sudah kempes.
"Apa aku sudah melahirkan? Kau serius?"
"Serius, Aru. Untuk apa aku berbohong, hm?"
Meskipun masih dihantui rasa tidak percaya dan nyata, Bella begitu senang mendengarnya. "Terima kasih, Aru. Kau telah memberikan hadiah pernikahan yang luar biasa," ucap Ken, dengan kembali mendaratkan kecupan pada pucuk kepala Bella yang tertutupi oleh hijab. Kemudian turun ke dahi dan mengecup bibir. Kali ini cuma lama dan mereka saling membalas.
Manis, hangat, dan lembut. Bella sangat merindukannya.
"Ingin bertemu dengan anak-anak kita?"tanya Ken.
"Anak-anak?"
"Oh Aru, jangan katakan kau lupa bahwa anak kita kembar?"
Bella menyengir, sedikit meringis. Sesungguhnya ia memang sama sekali tidak ingat. Bahkan sama sekali tidak merasakan momen melahirkan. Mungkin ia tidur terlalu lama hingga saat bangun tidak ingat hal apapun.
"Sebentar, biar aku bawa dulu mereka," ucap Ken, bergegas keluar.
"Rasanya antara mimpi dan nyata. Mana yang harus aku percaya?" Bella bergumam dengan meraih buket bunga yang dibawa oleh Ken tadi.
Wangi. Dan aroma itu mengingatkan Bella pada Desya, sang pencinta mawar. "Jika benar itu mimpi, tidak begitu buruk," gumam Bella tersenyum.
Tak berselang lama Ken kembali dengan menggendong seorang bayi dan satu bayi lagi digendong oleh perawat.
Bella refleks menggerakkan tangannya, meminta Ken memindahkan gendongan bayi yang ada pada Ken padanya.
"Hati-hati," ujar Ken.
Bella memperhatikan raut wajah bayi dalam gendongannya itu. Begitu mungil dan imut. Dari wajahnya, Ken menebak itu adalah bayi laki-laki.
"Tampan, sepertimu," ucap Bella, memuji rupa bayinya.
"Dia juga cantik sepertimu," balas Ken dengan memperlihatkan rupa bayi dalam gendongannya.
"Kau sudah memberi mereka nama?"tanya Bella.
"Belum. Aku menunggumu. Tapi, aku sudah mempersiapkan nama untuk mereka," jawab Ken.
Bella menatap Ken, bertanya.
"Nayan Chandra Mahendra untuk putra tampan kita. Lalu Nazira Chandra Mahendra untuk putri cantik kita, bagaimana?"tanya Ken, meminta pendapat Bella.
"Nayan? Nazira? Boleh aku tahu artinya?"tanya Bella. Jujur saja, Bella dalam mimpi atau apapun itu memang belum mempersiapkan nama untuk calon anak mereka, ralat calon anak-anak mereka.
"Nayan, artinya cahaya. Aku berharap kelak ia akan membawa kejayaan bagi keluarga kita. Menjadi cahaya atau penerang untuk keluarga dan sekitarnya. Aku berharap, kelak ia akan melindungi keluarganya dari kegelapan. Lalu Nazira, artinya namanya adalah buah pir, seperti atau sama, sebanding, dan adil. Aku berharap putri kecil kita ini akan tumbuh menjadi perempuan yang cantik, manis, jujur, dan adil serta disukai banyak orang."
"Jika menurutmu kedua nama itu kurang cocok, kau bisa mengatakannya. Kita akan mencari nama yang cocok sama-sama," ujar Ken setelah memaparkan arti nama dari kedua anak mereka.
Bella yang masih manggut-manggut sontak langsung menggeleng. "Tidak, aku setuju dengan nama itu."
Arti nama yang begitu indah. Dan dalam kedua rangkaian nama tersebut telah memuat dua keluarga, Chandra dan Mahendra. Tentu Bella puas dengannya.
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya."
"Lihat, keduanya tersenyum. Pasti sangat menyukai nama yang Papa mereka berikan, benarkan?"seru Ken ketika melihat kedua bayi beralis tebal itu tersenyum.
"Ah … imutnya," gemas Bella dengan kemudian mencium pipi sang putra.
"Aru, putri kita cemburu nih," beritahu Ken.
"Duduklah," ujar Bella. Ken duduk di ranjang dan Bella bisa mencium pipi kedua anaknya.
Tak lama kemudian, putra mereka yang diberi nama Nayan itu menangis. Ken dan Bella saling tatap, "Ken mengapa Nayan menangis?" Bella sama sekali tidak ada pengalaman. Ia juga tidak ada membaca artikel tentang ibu hamil dan setelah melahirkan. Ada, tapi tidak sampai setelah melahirkan.
"Menurut artikel yang aku baca, bayi menangis karena beberapa hal. Kalau tidak lapar, ya ia buang kotoran, kalau tidak ya merasa tidak nyaman akan sesuatu."
"Dari ketiga itu yang mana?" Bella panik karena Nazira juga ikut menangis.
"Aku rasa mereka lapar," sahut Ken dengan berusaha menenangkan Nazira.
"Mereka minum ASI," imbuh Ken.
"Menyusu dariku?" Ken mengangguk.
Dengan ragu, Bella membuka dua kancing atas kemeja rumah sakitnya. Ken menatapnya serius. "Jangan macam-macam!"peringat Bella saat mengeluarkan satu ***********.
Ken tertawa. Bella kemudian mendekatkan bibir Nayan pada payudara.
Benar saja. Nayan langsung menyusu dan tangisnya berhenti.
Bella meringis. Ia belum terbiasa. "Sakit?"
"Lumayan," jawab Bella. "Berilah Nazira padaku. Dia juga lapar," ujar Bella dan Ken menurut.
Menyusui tandem adalah menyusui dua bayi sekaligus di saat bersamaan. Biasanya dilakukan oleh ibu yang memiliki bayi kembar ataupun dua anak dengan usia yang berdekatan.
Lagi, Bella kembali meringis saat Nazira mulai menyusu. Ia belum terbiasa.
Ken duduk di samping Bella dan merangkul bahu sang istri. "Bukankah ini sangat luar biasa? Kita akan merayakan hari anniversary kita bersama dengan hari lahir kedua anak kita."
"Ya, it's amazing."
"Ken."
"Hm?"
"Sejujurnya aku bermimpi, kita berpisah …."
Sebelum Bella melanjutkan ucapannya, bibir Ken sudah membungkam dirinya. "Sstt … jangan bahas apapun tentang perpisahan. Ingat, kita tidak akan pernah berpisah karena kita adalah satu!"tegas Ken.
Bella menatap sendu Ken. Kata-kata Ken mengusir kegelisahannya.
"Ya, kita ada satu," balas Bella dengan bersandar pada Ken kemudian memejamkan matanya.
*
*
*
Bella menggerakkan matanya. Mulai mengerjap dan membuka mata.
Apa lagi sekarang? Mengapa saat kembali membuka mata, langit-langit yang ia lihat berubah?
Jika tadi putih maka sekarang adalah hitam. Bella menghela nafasnya.
Sebenarnya apa yang terjadi?
"Tadi kau tersenyum. Setelah bangun kau menghela nafas. Apa yang kau mimpikan?"
Bella menoleh ke samping. Matanya terbelalak. "Ahhgghh!!"
Bugh!
"Aduh! Auh!"
"Tuan?!"
"Kau kenapa lagi? Mengapa menendangku?"
"K-kau? Mengapa kau di ranjangku?!"teriak Bella, menarik selimut.
"Kau gila? Bukankah kau yang tidur di ranjangku?"balas Desya.
"Aku?"
"Ya, kau!" Desya tampak tidak berbohong.
Tapi, apakah ia tidur berjalan dan pindah dari sofa ke ranjang Desya?
Lalu pertemuan dengan Ken? Ia yang sudah melahirkan Nayan dan Nazira? Itu semua mimpi?
Mimpi yang indah.
"Hei-hei, mengapa kau tersenyum lagi?"
"It's my business!"
Dan yang benar menjadi korban adalah Desya. Dalam satu hari, ia sudah menerima dua tendangan dari Bella. Turut berduka untuk 'anu' dan pinggangnya.