
"Kau yang berencana aku yang terkena bencana. Bukan hanya dia yang sakit, pinggangku juga sakit. Tenaganya begitu kuat!"
"Saya siap menerima hukuman dari Anda, Tuan!"
"Hah. Sudahlah. Niatmu baik. Meskipun ditendang, aku sangat senang. Entahlah, tidurku jauh lebih nyenyak saat di dekatnya."
"Akan tetapi, Irene, apakah tadi kau tidur?"
"Errrr…."
Desya menarik senyum smirk. "Lari 20 kali keliling lapangan!"
Mata Irene sedikit membola. 20 kali keliling lapangan? Itu setara dengan 8 km. Akan tetapi, ia memang lalai.
Irena sedikit membungkuk, "baik, Tuan." Kemudian melangkah keluar.
*
*
*
Menunggu Bella kembali ke kamarnya, juga Irene menyelesaikan hukumannya, Desya menghabiskan waktu dengan tersenyum.
Hampir tidak ada bedanya dengan orang yang sedang kasmaran. Ya meskipun ada dampak yang harus ditanggung.
Sikap Bella tadi meskipun ketus tidak seperti tadi pagi. Saat kesal, di mata Desya Bella malah semakin cantik dan imut.
Wajahnya memerah kala mengingat Desya menunjuk bagian vitalnya. "Dasar seperti tidak pernah melihatnya saja." Ia menggerutu sekaligus tersipu.
Ah aku tahu. Dia malu. Bagaimana jika menggodanya lebih jauh lagi? pikir Desya, merencanakan sesuatu.
*
*
*
Setelah shalat ashar dan berganti pakaian, Bella segera menuju kamar Desya. Ada urusan, ada yang mau didiskusikan, itulah yang membuat Bella bergegas.
Meskipun begitu, Bella tetap menjaga langkahnya. Kesan elegan tidak hilang dari dirinya. Tatapan tajam dan wajah datarnya setia menemani hingga membuat penjaga atau siapapun yang berpapasan dengannya menunjukkan rasa hormat.
Kecuali, untuk yang menganggap dirinya terlalu tinggi dan Bella tidak terlalu mempedulikan hal tersebut.
Setelah berjalan kurang lebih lima menit, Bella tiba di kamar Desya.
Mengetuk pintu, "masuk!" Sang pemilik kamar menyahutinya. Bella membuka pintu, lebih dulu memasukkan kepalanya, mengecek kamar.
Dari pengamatan Bella, Desya masih berada di ranjangnya, di balik kelambu berwarna gelap itu.
Dan Bella tidak mendapati Irene. Dalam benaknya bertanya-tanya ke mana Irene, biasanya kan bak perangko dengan Tuannya.
Masuk dan menutup pintu dengan pelan. Sedikit gugup, mereka hanya berdua di kamar ini? Dan perasaan Bella sedikit lega karena ingat bahwa ia telah menendang anu Desya dan pasti akan butuh waktu untuk sembuh. Setidaknya saat ini masih nyeri atau ngilu.
Hehehe hihi, mikir apa sih aku ini? Bella terkekeh sendiri dengan pikiran buruknya.
"Apa yang ingin kau diskusikan denganku?"tanya Bella, jaraknya dari ranjang sekitar dua meteran.
"Kau sudah datang?"
"Bukankah kau sudah menyuruhku masuk?"balas Bella, dengan memutar bola mata malas.
Desya malah tertawa renyah menanggapi balasan Bella. "Mendekatlah. Ayo mulai berdiskusi," ujar Desya.
Bella memicingkan matanya, curiga. Kelambu itu sangat gelap. Bella tidak dapat melihat aktivitas Desya di dalamnya. Tubuhnya langsung bereaksi waspada, "tidak. Aku akan duduk di sofa." Lisannya langsung menolak dan kakinya melangkah menuju sofa.
"Apa ada orang berdiskusi dengan jarak yang begitu jauh?" Bella tidak jadi duduk, matanya kembali memicing tajam ke arah ranjang, mencari maksud perkataan Desya.
Desya ingin dia mendekat? Ya itu tadi yang Desya katakan. But, jika seperti ini, bukankah kesannya memaksa?
"Tidak. Aku menolak. Lagipula suaramu terdengar jelas. Dan jarak bukanlah penghalang untuk berdiskusi. Andai saja laptopku ada bersamaku, aku bisa menjangkau apapun!" Bella duduk. Wajahnya berubah acuh.
"Cepat katakan apa yang mau didiskusikan!"
Di ranjangnya, Desya mendengus pelan mendengar ucapan Bella.
Desya menatap lembaran yang ada di sebelahnya. Tersenyum, "ada datanya, bagaimana aku menunjukkannya jika kau duduk jauh di sana?"
Desya menantikan jawaban. Tidak ada jawaban atau sanggahan cepat. Desya mengangkat alisnya, "hei, kau masih di sana?"
Masih tidak terdengar sahutan. Akan tetapi, beberapa detik kemudian terdengar suara seperti gesekan antar dua benda.
"Kau itu bukan kaisar, jangan terlalu memerintah!" Rupanya itu Bella yang berpindah duduk menjadi di sisi ranjang.
"Aku memang bukan kaisar. Aku Desya!"
Terdengar decakan. "Yes, kau Desya! Now, katakan apa yang mau didiskusikan!"
"Okay." Desya mengerakkan tangannya. Menekan tombol di sudut ranjangnya.
"Astagfirullah!!"
Reaksi yang sesuai dugaan Desya. Bella terkaget melihat kelambu yang tiba-tiba tersingkap dan menampilkan Desya yang berpose bak model majalah dewasa. Ia membelakangi Desya dengan mata terpejam.
Damn! Ternyata ini arti firasatku tadi, gumam Bella dalam hati.
Bagaimana tidak?
Penampilan Desya begitu seksi. Hanya menggunakan mantel mandi yang mengekspos bagian perut hingga dada.
Dengan pose kaki lurus sejajar dan batas mantel mandi itu di atas paha. Alhasil, paha atas Desya hingga mata kaki terlihat begitu nyata.
Walau sekilas dan langsung berbalik, Bella melihat jelas tubuh Desya, meskipun tidak semuanya. Setidaknya dia masih punya malu.
Tangan yang tidak terlalu besar dan kecil namun berisi. Perut yang sixpack. Tubuh yang putih bersih nan mulus.
Kaki yang jenjang dan begitu padat. Dihiasi dengan bulu-bulu tipis. Tubuh yang begitu sempurna. Jika matanya liar, pasti itu sudah menjadi pemandangan yang menggiurkan. Sayangnya, tidak bagi Bella terjaga dan tidak tergoda dengan hal tersebut. Akan tetapi, bagaimanapun Bella seorang wanita yang memiliki rasa malu.
"Kau! Dasar tak tahu malu!"hardik Bella, tanpa berbalik melihat Desya.
"Anuku sakit, aku harus menggunakan pakaian longgar. Dan ini yang paling nyaman. Mengapa? Kau merasa malu? Bukankah yang sudah pernah melihat yang lebih dari ini? Full naked dengan suamimu?"
Astaga! Satu sifat lagi tentang Desya. Ternyata ia bisa menggoda. Dan juga pintar berkilah. Dan juga membandingkan.
Bella tak habis pikir. "Kau!" Bella berbalik tanpa membuka matanya.
Tangannya meraba, matanya sedikit terbuka. Mencari selimut dan cepat menariknya menutupi tubuh setengah polos Desya.
"Kau?!"
"Ini lebih baik. Sudah musim dingin dan kau sakit. Alangkah baiknya jika tetap hangat," pungkas Bella, menorehkan senyum lebar.
"Akan lebih baik jika kau yang menghangatkanku," sahut Desya dengan tersenyum mesum.
Dibalas dengan senyum geram Bella, "sepertinya kau minta ditendang lagi, ya?" Dengan gerakan yang siap untuk menendang.
Desya sedikit takut. "Alright." Memperbaiki selimutnya.
"Kau turunkan kakimu dan duduklah. Tatapanmu itu jangan begitu, kau seperti mau memakanku hidup-hidup!"ucap Desya dengan mata menatap lurus ke depan.
"Mungkin sebentar lagi aku akan memakanmu hidup-hidup!"
Hening. Tidak ada balasan tadi Bella maupun tambahan dari Desya.
Beberapa saat kemudian, keduanya saling lirik. Persis seperti Tom and Jerry. Bella mengalihkan pandangan ke arah jendela. Matahari sudah condong ke barat. Tanda sebentar lagi akan terbenam dan hari akan berganti menjadi gelap.
"Ah sudahlah. Cepat, apa yang mau dibahas?"putus Bella. Mulai jengah.
"Ini." Untunglah Desya bisa diajak kerja sama.
Bella menerima lembaran kertas yang Desya berikan. Tulisan di dalamnya dalam bahasa Inggris.
Bella membawa sekilas bagian atas salah satu kertas tersebut. "Itu adalah beberapa perkebunan yang akan aku beli. Bagaimana menurutmu? Mana yang harus aku prioritaskan?"ucap Desya.
Bella menoleh singkat pada Desya. Bella ragu, seorang Desya tidak mungkin tidak bisa menentukan mana yang akan ia beli. Ini hanya sekadar meminta pendapat atau sebuah tes?
"Perkebunan anggur di Italia?"
"Keluarga Ivanov dalam kondisi yang kurang baik. Mungkin mendekati bangkrut. Jadi, mereka menawarkan itu padaku. Bagaimana menurutmu? Mereka menawarkan, aku bebas menentukan harga, bukan?"
Perkebunan anggur yang sangat luas. Dilengkapi dengan pabriknya. Di tengah perkebunan juga ada sebuah vila dan jalan masuk yang cantik. Itu sebuah perkebunan yang sangat strategis. Industri di bidang anggur, tidak akan pernah mati.
"Melihat data ini, apakah perkebunan anggur itu salah satu aset terbaik mereka?" Desya mengangguk singkat. "Mengapa dijual? Bukankah ini sangat strategis dan menjanjikan?"
Sebagai orang yang berpengalaman dan tidak hanya seperti katak dalam tempurung, dan juga ia pernah tinggal di kawasan Eropa, tentu saja bisnis seperti ini cukup menjanjikan. Bella tentu saja heran dengan hal itu.
"Apalagi kalau bukan kurang modal? Bahkan sebelum menawarkan perkebunan ini mereka menawarkan pernikahan padaku. Tapi, aku menolaknya." Desya sedikit bercerita.
"Ya kau sudah memiliki tiga istri," sahut Bella.
"Tidak. Kau salah," sergah Desya dengan cepat. Bella mengeryit, "why?"
Bella terdiam untuk beberapa saat. Lagi-lagi melontarkan kata-kata seperti itu.
Bohong jika Bella tidak terpana. Bohong jika ia mengatakan tidak tersentuh. Kata-katanya terdengar begitu tulus. Namun, Bella segera menguasai perasaannya. Bella mengalikan pandang kembali ke lembaran kertas.
Desya tersenyum kecut.
"Lantas jika kau membelinya, kau akan meneruskannya bukan? Pabrik anggur ini, tidak berniat menambah produk?"
"Maksudmu?" Keduanya kembali dalam bahasan bisnis.
"Selama yang aku ketahui, perkebunan dan pabrik anggur dengan skala besar seperti ini, terlebih lagi dengan label mafia, biasanya hanya akan memproduksi wine, right?"
Desya semakin tertarik. "Jika begitu, menurutmu produk apa yang benefit untuk diproduksi selain wine?"
Italia memang terkenal dengan perkebunan anggur dan produksi winenya. Oleh karenanya, jika produksi anggur di negara tersebut merosot maka harga wine akan melambung tinggi.
"Em." Menggerakkan matanya berpikir.
"Apa Lucia hanya pandai mengolah mawar?"
"Aku rasa tidak. Mengapa kau menanyakannya?" Desya memicingkan matanya, curiga.
"Jika begitu, ada banyak produk yang dapat dibuat. Dan Lucia bisa menjadi penanggung jawabnya."
Desya mencerna jawaban Bella.
Lucia menjadi penanggung jawab?
Jika itu terlaksana maka Lucia otomatis akan pindah ke Italia, bukan?
Selain itu, jika Lucia yang menjadi penanggung jawab, apakah salah satu produknya adalah selai dan teh?
"Jika selai dan teh bukankah itu terlalu pasaran?"
"Jika terlalu pasaran, bukankah narkoba itu sama saja bentuknya dan rasanya? Lantas mengapa ada hanya produsen, ada banyak bandar? Dan tetap terjual? Bukankah artinya ada ciri khasnya? Jangan meremehkannya produknya lebih dulu. Itu baru satu jenis, dengan jumlah panen yang aku lihat, mampu untuk memenuhi bahan utama beberapa produk. Itu baru rancangan singkat. Jika kau benar-benar membelinya, maka aku akan membuat yang lebih matang lagi," jelas Bella panjang lebar.
Sebagai mafia, Desya tentu lebih sering berurusan dengan bisnis dengan resiko yang tinggi. Misalnya narkoba dan penjualan senjata.
Jika benar membuat produk seperti itu, artinya perusahaan itu akan memiliki legalitas.
Dan Lucia penanggung jawab …. Desya tersenyum.
Menyingkir secara halus. Jika Desya memberi titah, Lucia pasti tidak akan menolaknya. "Bagaimana keputusanmu? Aku sudah memberikan gambaran kasarnya."
"Apalagi?" Dengan senyum. Desya akan membelinya. "Bagaimana dengan harga? Berapa menurutmu?"
"Boleh aku pinjam kalkulator?"
"Ambil di laci kedua," ucap Desya dengan menunjuk lemari di sebelah ranjang. Bella segera menawarnya. Setidaknya ia bisa memprediksi harga tanah dan bangunan karena erat hubungannya dengan bidang properti dan juga real estate.
Jika menawarkan berarti mereka cenderung pasrah dengan harga. Sebagai calon pembeli yang Budiman mereka tidak bisa membeli dengan harga yang keterlaluan.
"Aku rasa … 10 juta dollar itu tidak berlebihan," ujar Bella.
"Mengapa segitu?"
"Dari data ini, aku menyarankan segitu. Terserah padamu, itu hanya saranku. Jika kau keberatan, kau bisa menurunkannya."
"Akan aku pertimbangkan!"
"Okay."
Lembaran yang telah selesai didiskusikan, Bella pisahkan. Ia letakkan di nakas.
"What this?"tanya Bella dengan menunjukkan sebuah foto yang akan di kertas yang ia baca.
Foto sebuah pulau. Dari atas, terlihat indah dengan hijaunya pepohonan dan birunya air laut. "Aku berencana membelinya untuk tempat istirahat. Letaknya di Maladewa. Itu pulau pribadi. Bagaimana?"
Bella memicingkan matanya. "Katamu akan membeli beberapa perkebunan. Tapi pulau pribadi? Kau mau berkebun pisang, hah?"omel Bella.
Bisa-bisanya menyelipkannya hal pribadi. Akan tetapi, untuk tempat istirahat? Tidak sesederhana itu, kan?
"Hm … jangan terlalu memperjelasnya. Aku yakin kau tahu," ucap Desya dengan mengendikkan bahunya.
Benar. Tidak mungkin hanya untuk sekadar tempat istirahat. Dan dengan memberitahukan hal ini, Desya mengartikan bahwa ia sangat mempercayai Bella.
Bella menghela nafasnya. "Baiklah. Terserahmu saja. Itu urusan pribadimu," jawab Bella.
"Okay."
Bella memisahkan kertas yang berisi data pulau pribadi yang akan dibeli Desya nanti.
"Perkebunan tembakau?" Lembaran ketiga, adalah perkebunan tembakau.
"Itu aku yang menawarnya. Dia mengajukan harga 2 juta dollar, bagaimana?"
"Mengapa tempatnya kau pilih di Indonesia?"
"Hm, aku suka saja. Tidak ada alasan lain."
"Jika kau suka, dan harganya aku rasa cocok, silahkan. Atau mau main taktik tawar menawar?"
"Bisa. Aku akan atur jadwalmu untuk tawar menawar dengannya."
"Hm … perkebunan zaitun? Kau tertarik dengan perkebunan ini?"
"Zaitun, industri kecantikan dan kesehatan memerlukannya, bukan?"
"Apa kau berencana keluar dari zona nyaman?"
"Maybe."
"Harga?"
"4 juta dollar."
Bella mengangguk sekilas. Jika ditotalkan, anggaran sementara adalah sekitar 16 juta dollar. Itu harga yang sangat fantastis. Belum ditambah dengan harga pulau pribadi.
Tidak terlalu mengejutkan untuk Bella. Harta seorang Desya pasti menyentuh angka milyar dollar.
"Sudah selesai, bukan?"tanya Bella, setelah meletakkan kertas di tangannya ke atas nakas. Itu adalah kertas terakhir.
"Ya."
"Kalau begitu aku kembali ke kamarku."
"Ya."
Bella bangkit. Desya menatap punggung Bella yang menjauh. Namun, sekitar lima langkah, Bella berbalik. "Lekas sembuh."
Beberapa saat, Desya tertegun. Ia kemudian menarik senyum. "Tentu."
"Terima kasih."
*
*
*
Halloo author kembali menyapa
Semoga semua dalam keadaan sehat and happy Yasa
Di sini, author ingin menyampaikan, ada yang bertanya, kapan Bella dan Ken bertemu?
Ada kok. Mereka pasti akan bertemu. But, semua itu butuh proses. Bella dengan misinya. Dan Ken dengan tugasnya.
Lama kali? Ya namanya juga ujian. Pasti ada yang mudah dan sulit dan kali ini memang sulit.
Keduanya berada dalam jarak yang tahu. Tanpa tahu kabar satu sama lain. Selain itu, kesetiaan dan cinta mereka di uji.
Semua ada alurnya.
Mungkin Readers merasa alurnya terlalu lama dan bertele-tele. But, ini memang alurnya.
Author harap dan berharap Readers tetap setia menemani kisah Ken dan Bella, juga tokoh lainnya…
Thank you very much untuk semua dukungan. Author haturkan banyak terima kasih.
Sekian sedikit dari author.
Stay safe dan healthy….
See you next time ….
Banyak love dari segenap keluarga besar This Is Our 💕💕🥰🥰