
Di ruang tamu, El dan rombongan disambut oleh kepala pelayan selaku yang menjadi perwakilan Anjani, mengingat bahwa Anjani tidak memiliki keluarga selain Arka. Juga ditemani oleh wali hakim Anjani, selaku yang akan menjadi wali nikah Anjani mengingat bahwa ayah kandung Anjani sudah berpulang ke Rahmatullah sejak lama.
El diampit oleh Surya dan Rahayu selaku orang tua. Belakang ketiganya adalah Brian dan Silvia, kemudian Ken yang menggendong Liev berdampingan dengan Fajar, dan posisi terakhir adalah Nesya dan Dylan.
El memakai baju pengantin berwarna putih lengkap dengan pecinya. Sungguh mirip dengan seorang pangeran, wajahnya yang rupawan tampak tegang bercampur gugup. Sebentar lagi ia akan duduk di depan penghulu untuk menghalalkan Anjani. Semakin mendekati detik-detik, semakin cepat pula jantungnya berdebar.
Setelah proses penyambutan, El diarahkan untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuknya, yakni di depan penghulu yang juga telah hadir.
Rombongan mengambil tempat yang telah disediakan. "Dad, where Mom?"tanya Liev pada Ken. Panggilan Liev pada Bella dan Ken memang berubah. Aneh rasanya jika mereka dipanggil Aunty dan Uncle padahal keduanya adalah orang tua angkat Liev.
"Mom masih di dalam. Sebentar lagi pasti akan keluar," jawab Ken, sembari mengusap rambut Liev yang duduk di sampingnya.
"Baiklah, agar acara bisa dimulai, mempelai wanita bisa dipanggil dan duduk di samping mempelai pria," ucap penghulu.
Salah satu pelayan langsung bergerak mendengar instruksi itu. "Saya saja!" Namun, tiba-tiba Nesya mengajukan dirinya. Pelayan tersebut mengangguk kecil, menerima tawaran Nesya.
Nesya segera bergegas. Menaiki tangga untuk menuju ke kamar Anjani. Tak butuh waktu lama, Nesya telah tiba di depan kamar Anjani. Diketuknya pintu itu yang juga dibuka oleh seorang pelayan yang menunggu di kamar Anjani.
"Kak Jani, sudah dipanggil," ucap Nesya dengan tersenyum.
"Nesya?" Bella terhenyak mendapati Nesya yang memanggil Anjani untuk turun.
"Hehehe, aku kan adik kakak, dan kak Ja I adalah sahabat kakak, tak ada salahnya aku ikut mengapit, kan?"tanya Neysa yang diangguki oleh Bella.
"Wow, you're so beautiful," puji Nesya pada Anjani. Anjani tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum lebar.
"Ayo," ajak Bella, mengapit lengan kanan Anjani dan Neysa mengapit lengan kiri Anjani.
"Ayo, Aka," panggil Anjani pada Arka yang duduk di sofa. Pemuda cilik itu tampak semakin tampan dengan mengenakan jas berwarna grey dan rambut yang disisir rapi ke belakang. Arka mengangguk. Ia akan memimpin langkah. Kemudian dia susul Anjani, Bella, dan Neysa keluar dari kamar. Langkahnya pelan dan kecil, pesona keanggunan terpancar. Masing-masing dari mereka memancarkan aura tersendiri.
Dan saat sudah menuruni tangga, semua perhatian tertuju ke sana. Decak kagum akan pesona dan kecantikan ketiga wanita itu terdengar jelas. Juga Arka yang semakin menunjukkan gurat ketampanannya. Ini baru akad nikah. Yang hari hanyalah keluarga terdekat dan juga orang dari KUA. Untuk dokumentasi, itu menjadi bagian Fajar. Nanti, media yang dibawa naungan Mahendra yang akan mempublikasikan tentang pernikahan Anjani dan El. "Mom very-very beautiful," decak Liev.
"Tentu saja. She's my wife," balas El, pandangannya tak lepas dari Bella.
Begitu juga dengan Dylan. Rasa-rasanya, ia tengah melihat gambaran masa depan. Bagaimana dengan El?
Apalagi kalau dia terdiam dengan mata lekat pada Anjani yang berjalan mendekati dirinya. Make up Anjani berbeda, begitu juga dengan busananya. Gaun rancangannya itu, benar-benar cocok dengan Anjani. Jantung El juga semakin berdebar saat Anjani duduk di sampingnya. Ini adalah puncak. Saat-saat yang mendebarkan.
Arka duduk di belakang sang ibu, dekat dengan Rahayu. Surya sendiri duduk di kursi untuk wali mempelai El.
"Kau sangat cantik, Jani."
"Kau juga, El. Kau sangat tampan."
Keduanya tersenyum. Saling tatap sebelum akhirnya sama-sama mengangguk. "Mereka telepati?"bisik Brian pada Silvia.
"Kan sehati, Mas. Bisa mengerti tanpa harus membuka mulut," balas Silvia.
"Ah benar juga. Sama seperti kita."
"Aru, aku merasa kau lah mempelainya," bisik Ken saat Bella duduk di sampingnya.
"Dan kau adalah mempelai prianya?"balas Bella.
"Kita hanya menikah sekali. Namun, kita bersama seumur hidup," balas Ken dengan menggenggam jemari Bella.
"Off course."
Acara pernikahan dimulai. Dimulai dari pembacaan ayat suci al-Quran. Disusul dengan rangkaian acara hingga akhirnya tiba di acarakan ijab dan qabul.
"Nah El, silakan jabat tangan saya," ucap wali nikah Anjani. Menjelang itu, suasana berubah menjadi senyap.
El segera menjabat tangan wali hakim tersebut. "Bismillahirrahmanirrahim …. Saya nikahkan dan kawinkan kamu, Elvano Mahendra bin Surya Mahendra dengan Anjani, anak perempuan dari Gunawan yang walinya diserahkan kepada saya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 100 gram, dibayar tunai!"ucap tegas wali hakim Anjani pada El.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Anjani anak perempuan dari Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Dalam satu helaan nafas, El mengatakan hal itu.
"Bagaimana para saksi, sah?"tanya penghulu yang jelas disambut dengan gemuruh sah dari para saksi.
"Alhamdulillah …." Kemudian membacakan doa. El dan Anjani telah resmi menjadi suami dan istri. Pernikahan mereka diharapkan membawa keberkahan yang luar biasa sebab dilangsungkan pada saat bulan yang suci, bulan Ramadhan. Dan juga di hari yang baik, yakni hari Jumat.
Ini adalah saat pertama Anjani mencium punggung tangan El. Air matanya jatuh. Tidak pernah menduga bahwa ia akan menikah lagi dengan seorang pemuda yang belum pernah menikah dan usianya juga di bawah dirinya. Sungguh, takdir memang sebuah misteri.
Kemudian mereka memasangkan cincin di jari manis dan dilanjutkan menandatangani surat nikah menikah. Momen-momen itu diabadikan oleh Fajar. Dengan kameranya, ia mengambil dari beberapa angle yang berbeda.
Moment itu juga diwarnai dengan tangis haru keluarga. Bahkan Brian saja, tak bisa untuk tidak menyeka sudut matanya. Begitu juga dengan Surya, apalagi Rahayu.
Satu kali tarikan, itu menjadi kebanggaan tersendiri untuk El. Keduanya kemudian berfoto dengan menunjukkan buku nikah serta cincin di jari manis yang. Senyum keduanya begitu lebar.
Setelahnya acara sungkeman pada orang tua. Dalam hal ini hanyalah pada Surya dan Rahayu. Akan tetapi, tidak mengurangi kekhidmatannya. Malah diwarnai dengan tangis haru yang lebih.
"Not Uncle lagi, Aka. But, Papa," jawab El seraya menggendong Arka setelah acara sungkeman itu selesai.
"Papa." Anak itu sudah lancar, tidak canggung lagi.
"Good boy."
"Nah giliran kalian bertiga yang berfoto," ucap Fajar.
"Smile," ucap Fajar memberi arahan. Senyum yang begitu bahagia.
"Aku sungguh kaget," ucap Ken saat berpelukan dengan El.
"Mengapa?"
"Kakak hebat sekali. Sekali tarikan nafas," puji Ken.
"Karena hanya dia yang ada di hatiku," jawab El dengan menatap lembut Anjani, yang membuat wanita itu tersipu.
"Jangan bahas masa lalu!"ucap Brian, melihat raut wajah Bella yang berubah datar.
"Memangnya hanya dirimu, Kak? She's my Aru, my wife, dia satu-satunya untukku. Tidak ada yang lagi! Masa lalu? Siapa yang tidak punya masalah. Benarkah, Aru?" Ken bukannya tidak menyadari perubahan raut wajah Bella. Bumil semakin sensitif. Dan benar saja, setelah mendengar jawaban Ken, senyum Bella kembali.
"Apa kau tahu, Ken?"tanya Anjani.
Ken menunjukkan tatapan tanyanya. Bagaimana bisa ia tahu, sedangkan apa yang ditanyakan saja tidak tahu. "Jika waktu itu kau gagal lagi, aku akan mencekikmu," ucap Anjani. Ken mundur dan semakin merapatkan tubuhnya pada Bella. Genggaman tangan tidak terlepas.
"Syukurlah aku berhasil. Jika tidak, aku pasti akan sangat menyesal," balas Ken dengan mencium pucuk kepala Bella.
"Hahaha." El tertawa. "Aku setuju sekali dengan hal itu. Hari ini dan ke depannya, mari hidup dengan bahagia!"ucap El. Kini, ia bisa bebas menyentuh Anjani, menggenggam tangan, memeluk dan lainnya.
*
*
*
Setelah acara foto bersama, kecuali keluarga pengantin, berpamitan pulang mengingat juga yang para pria akan shalat Jumat. Tak lupa, bingkisan yang disediakan diberikan untuk tamu.
Begitu juga dengan Surya, Brian, El, Ken, Dylan, Fajar, dan para pria lain menuju ke masjid untuk shalat Jumat. Arka dan Liev juga ikut. Tinggallah para wanita di kediaman Anjani. Anjani sendiri kini tengah dibantu untuk berganti pakaian oleh Bella dan beberapa pelayan.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Jani?"tanya Bella.
"Aku masih merasa haru," jawab Anjani.
"Aku sudah menyandang status seorang istri dan kali ini aku menikah benar-benar karena cinta," imbuh Anjani.
"Bahagialah selalu Anjani. Kau sudah menemukan orang yang tepat, untukmu dan untuk anakmu."
"Kau juga, Abel. Kita bahagia bersama!" Anjani memeluk Bella.
"Selamat menempuh hidup baru."
*
*
*
Sepulangnya dari shalat Jumat, Fajar mengedit mengedit foto pernikahan Anjani dan El. Juga mengirimnya pada Surya agar diserahkan pada bagian publikasi.
Selain dari berita, publikasi pernikahan itu juga dilakukan oleh El dan Anjani sendiri di akun Instagram mereka. Juga keluarga yang mengucapkan selamat dan dengan saling mengtag. Selain itu, juga dicantumkan undangan untuk resepsi mereka. Itu sekitar satu bulan dari sekarang. Ucapan selamat ramai membanjiri kolom komentar.
Sorenya, pukul 16.00, Surya dan lainnya kecuali El pamit pulang. Sementara El tetap di kediaman Anjani.
Dan malam pun tiba. Setelah berbuka dan shalat tarawih, Anjani dan El masuk ke dalam kamar yang telah didekorasi dengan indah.
Dan Arka, dia mulai tidur sendiri. Maklum saja, Mamanya sudah punya suami. Lagipula Arka sudah besar. Anak itu bahkan mengajukan diri untuk itu. Namun, ia mengatakan akan tidur bersama dengan Anjani, sesekali.
"Aku bisa memulainya?" El bertanya. Rasa tegang dan gugup kembali menyerang saat keduanya berada di dalam kamar, berdua. Hanya berdua dalam momen malam pernikahan.
Anjani dan El duduk bersebrangan. Meskipun ini bukan yang pertama, baik untuk Anjani dan El sendiri, keduanya merasa gugup dan bingung dimulai dari mana. Ya, Tuan Muda itu pernah melakukan itu dulu, namun ia pastikan aman. Dan ini jelas berbeda. Jika dulu karena mencari kebahagiaan sesaat maka kali ini adalah untuk kebahagian seumur hidup. Bukan hanya karena nafsu, namun karena cinta, mengharap ridha-Nya karena mereka akan melakukan ibadah.
"Hm." Anjani mengangguk pelan.
El merengsek naik dan mendekati Anjani. Ditangkupnya pipi Anjani. Pandangan keduanya bertemu.
Wajah Anjani bersemu merah. El perlahan mendekatkan wajahnya pada Anjani. Dikecupnya kening, turun ke hidung, dan bibir. "Aku mencintaimu, Anjani," ucap El sebelum mereka melakukan hal yang lebih jauh lagi, ya malam pernikahan mereka.