
Yang terlambat merasa sangat takut melihat Bella yang duduk di podium dengan tersenyum dingin. Sorot matanya tajam menghunus, membuat mereka berkeringat dingin. Sanksi apa yang akan Bella berikan pada mereka?
Ken berdiri di belakang Bella dengan perasaan tak kalah tegang. Aura Bella begitu menekan, mengintimidasi semua yang berada di aula.
Seluruh karyawan Mahendra Group pusat termasuk cleaning servis, kecuali Brian menundukkan kepala tak berani menatap wajah Bella yang terlihat menyeramkan.
Bella diam dan itu membuat semua gusar.
"What's up?"tanya Bella, ekspresinya berubah menjadi bersahabat.
Melempar senyum lebar pada seluruh karyawan. Namun, senyum itu terlihat menakutkan di mata setiap karyawan, bahkan Brian saja sedikit tertegun.
"Kenapa kalian terlihat tegang begitu, apa kalian berbuat kesalahan?"tanya Bella lagi, kini ia bertopang dagu.
Tak ada yang menjawab. Sebagian ada yang tetap menunduk, sebagian ada yang saling melirik bingung. Tadi kan perintahnya dalam dua menit harus tiba di aula seluruhnya tidak terkecuali.
Jika terlambat akan ada sanksi, lalu mengapa Bella bertanya akan mereka yang tegang?
Tentu saja tegang akan sanksi dari Bella. Bella kembali tersenyum lebar. Ia berdiri lalu menepuk-nepuk tangannya kemudian beralih menuju mikrofon podium.
Tes
Tes
"Morning!"sapa Bella dengan ramahnya.
"Morning." Hanya Brian yang menjawab.
"Morning?"sapa Bella sekali lagi. Ia mengedarkan pandang ke seluruh ruangan.
"Morning."
Lagi Brian yang menjawab ditambah dengan Silvia.
Ia mengeryit, menunjukkan wajah heran.
"Pak Brian, Sekretaris Silvia, apa hanya kalian yang hadir? Kemana semua yang lain?"tanya Bella pada Brian dan Silvia.
Brian langsung mengendikkan bahunya sementara Silvia mengedarkan pandangnya. Dalam benaknya sudah terlintas apa yang Bella katakan selanjutnya.
"Ah aku melihat ada banyak raga di sini. Kau melihatnya juga kan sekretaris Ken? Atau itu hanya imajinasiku saja?"
Bella melempar pandang pada Ken.
"Itu nyata, Wakil Presdir," jawab Ken.
"Benar begitu, Pak Brian?"
"Saya yakin penglihatan Anda sangat tajam," sahut Brian.
"Ah begitu ya?" Sekali lagi Bell mengedarkan panjang.
"Hooo Anda benar, Pak Brian. Ada banyak raga di sini. Akan tetapi, mengapa mereka menunduk dan malah semakin tegang? Apa aku mengatakan hal yang menakutkan?"heran Bella, memberikan raut wajah bingungnya.
Matanya menyipit seakan tengah menyelidik.
"Saya rasa Anda punya ingatan yang kuat, Wakil Presdir," jawab Brian lagi.
Hanya ia yang tidak terlalu tegang. Ada keyakinan di dalam hatinya jika ia dan Silvia aman.
"Tapi, aku merasa pendengaran dan ingatanku hari ini bermasalah pada raga-raga ini. Sebelumnya aku mendengar raga-raga ini berbicara. Beberapa aku sudah melihat mereka presentasi, beberapa aku dengar bergosip, ada juga yang menyebarkan isu miring. Mengapa mendadak bisu? Apa Tuhan tiba-tiba menarik kemampuan kalian berbicara?"tanya Bella lagi.
Semua bak ciut di depan Bella. Saat bertatapan langsung, bahkan mereka dengan menahan nafas. Bella tidak ingin seperti ini, ia ingin mengayomi, menciptakan relasi yang positif antara bawahan dan atasan.
Bella tidak ingin ditakuti, ia hanya ingin dihormati dan dihargai. Namun, terkadang harus dengan menjadi ditakuti baru bisa menimbulkan rasa hormat dan menghargai.
"HEI! KENAPA DIAM?! KALIAN BISU SEMUA HAH? ATAU KALIAN INGIN MENJADI BISU?!"bentak Bella dengan nada tingginya.
Kesabaran yang sudah habis kembali diuji dengan kebungkaman dan jiwa pengecut karyawannya. Seharusnya mereka berani bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Mengapa baru dikumpulkan saja, belum disidang sudah ketakutan setengah mati? Hello, Bella tidak makan orang tapi ia lebih menyeramkan dari itu.
"Kalian berdua bisa duduk!"tunjuk Bella pada Brian dan Silvia.
Brian melakukan ringan dengan menggenggam jemari istrinya. Keduanya duduk di atas podium, sama seperti Ken yang juga disuruh Bella untuk duduk.
Mereka duduk langsung di lantai marmer, ekspresi Brian bak sedang menantikan pertunjukkan menarik, terlebih ia menarik senyum tipis.
"Ambil posisi squat jump!!"perintah Bella kemudian setelah Bella dan Silvia mengambil tempat duduk.
"Hah?"
"HAH? Gillian begini kalian dengar, waktu saya menyapa kalian, kalian bungkam. HELLO, APA KALIAN MENGANGGAP SAYA INI RADIO RUSAK? SETIAP SAPAAN DAN PERTANYAAN SAYA TADI TIDAK BERARTI BAGI KALIAN? TIDAK PENTING? ATAU KALIAN TIDAK MENGANGGAP SAYA?!"kecam Bella mengeluarkan kekesalannya.
Bella kembali mengedarkan pandang. Ada yang menggeleng, tetap menunduk, menatap Bella dengan mata yang sembab.
Hah! Bella menghela nafas kasar. Sebelum pada akhirnya saudaranya semakin menggelegar.
"JAWAB! KALIAN INI BISU ATAU TULI? ATAU KEDUANYA?!!"bentak Bella.
"M-maaf, Wakil Presdir," jawab mereka terbata lagi sangat pelan.
Bella tersenyum sinis melihat masing-masing dari mereka mulai mengambil sikap squat jump. Kedua tangan memegang telinga, tak peduli apa posisinya, mereka satu tindakan.
"Angkat satu kaki kalian!"ucap Bella memberi perintah lagi.
Yang pria langsung mengangkat satu kali mereka sedangkan yang wanita lebih lama karena kebanyakan dari mereka memakai rok. Ada juga yang ragu karena rok mereka terlalu pendek.
"Besok tidak usah pakai baju saja," cibir Bella pada wanita yang berpakaian ketat. Yang merasa menunduk malu.
Jika kalian pikir Bella akan memberi keringanan, maka tidak. Itu adalah sebuah pelajaran agar tidak diulangi lagi. Kecuali jika urat malu mereka sudah benar-benar putus.
Brian menatap Bella dari tempatnya. Begitu juga dengan Silvia. Brian lalu berganti menatap Silvia, melihat dari atas kepala sampai kaki. Brian tersenyum puas. Silvia mengenakan celana panjang dengan blazer yang tidak menunjukkan lekuk tubuh.
Namun, tak lama ia mengeryit saat menatap rambut Silvia yang digerai sebahu.
Silvia merasa bingung dengan tatapan Brian padanya. "Ada apa, Mas?"tanya Silvia berbisik.
"Bisa kau menggunakan hijab?"tanya Brian langsung.
"Hijab?" Silvia terpana sesaat.
Hijab? Suaminya menyuruhnya berhijab? Tentu saja itu suatu kebahagian untuk Silvia.
Ken memilih untuk memejamkan matanya. Biarlah Bella menyelesaikan masalah dengan cara sendirinya. Biar dia melampiaskan kekesalannya.
"Kalian tahu apa alasan saya mengumpulkan kalian semua di sini?"
Semua sudah mengangkat satu kaki mereka.
"Turunkan kaki lalu turun setengah!"titah Bella.
Dengan ragu, mereka melakukan apa titah Bella. Kebanyakan langsung merasa berat dan pegal. Ingin rasanya protes.
Tapi, apa daya mereka tidak punya keberanian. Mereka bahkan sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara.
Bella mencabut mikrofon dan berbicara dengan berjalan. "Squat jump 20 kali secara serentak. Jika tidak serentak, ulang dan bertambah 1. Seterusnya, jika kalian tidak serentak, maka akan terus bertambah jumlahnya," ucap Bella memberi intruksi dan peraturan.
"Dimulai dari sekarang!"
"Satu …."
"Ulang!" Bella langsung menghentikan.
"Apa-apaan kalian ini?! Baru satu hitungan sudah tidak kompak?!"kesal Bella.
"Satu komando," ucap Ken tanpa membuka matanya.
Bella melirik kesal Ken, apa-apaan kau? Kira-kira itulah arti lirikan Ken. Ken tersenyum membalas lirikkan Bella tanpa membuka matanya.
Para karyawan saling pandang kemudian mengangguk menunjuk salah seorang pria sebagai pembawa aba-aba.
Satu.
Lancar. Bella tidak berkomentar.
Dua.
Aman.
Tiga. Masih aman.
Empat, lima, enam, tujuh, dan seterusnya Bella tidak berkomentar. Lebih menunjukkan sikap menikmati setiap hitungan dari para karyawan.
"Hei ada suruh turun tangan?!"sentak Bella melihat mereka menurunkan tangan dari telinga.
"T-tidak."
"Lalu?"
Buru-buru mereka kembali memegang kedua telinga mereka. Bella tersenyum simpul kemudian menyuruh mereka untuk menurunkan tangan lalu duduk.
"Sit down please," pinta Bella ramah.
Namun, tidak ada yang berani untuk duduk. Semua saling melempar pandang, wajah mereka terlihat ragu dan bingung. Itu karena rasa takut yang sudah menyelimuti hati, alhasil mereka menjadi bingung dan tidak paham bahasa.
"Apalagi yang kalian tunggu? Atau kalian mau tetap berdiri?"
Lagi-lagi tidak ada reaksi. Alhasil Bella memutuskan untuk tetap menberdirikan mereka. Gurat wajah menyesal dan kecewa mendominasi.
"Dungu," cibir pelan Brian.
Tiba-tiba Ken berdiri setelah ia membuka ponselnya. Membisikkan sesuatu pada Bella. Peserta yang mengikuti tender sudah berkumpul di ruang meeting. Siap untuk melakukan presentasi.
Bella mengangguklan kepalanya kemudian meminta Ken untuk memberitahu peserta meeting bahwa meeting diundur 15 menit karena ada masalah yang harus diselesaikan.
Ken mengangguk mengerti kemudian izin undur diri ke ruang meeting.
Bella kemudian melihat jam tangannya dan mengatur timer selama delapan menit.
"Okay, langsung saja pada intinya. Angkat tangan siapa saja yang menentang dan tidak setuju saya menjabat sebagai wakil Presdir berikut alasannya. Jika dalam dua menit tidak ada jawaban, maka jangan salahkan saya jika saya berlaku lebih dari yang tadi!"
"Atau begini pun jadi, siapa yang tidak setuju dengan pembangunan proyek di Papua beserta alasannya!"tambah Bella lagi.
Terdengar bisik-bisik. Dan hening saat Brian mengangkat tangannya, "ya, Pak Brian?"tanya Bella dengan mengangkat kedua alisnya. Silvia pun tercengang.
"Saya mau izin ke toilet," jawab Brian tanpa raut dosa setelah membuat sebuah keterkejutan.
"Of course," sahut Bella langsung.
"Dasar!"gerutu pelan Silvia, mencubit perut Brian sebelum suaminya itu bangkit.
Brian terkekeh pelan. Ia kemudian malah mengelingkan matanya dengan senyum seperti mengejek para karyawan.
Bella mungkin masih muda tapi pengalamannya di lingkaran pekerjaan bisa jadi lebih banyak dari yang sudah senior.
Bella berkerja sembari belajar, mengumpulkan dan menjalin banyak relasi dengan orang-orang kuat. Jika mereka mengganggap mental Bella langsung ciut karena gunjingan yang ditujukan padanya, jawabannya salah besar! Dia bukan tipe yang diam saat ditanggung dan rasakan sendiri akibat mengganggu seekor harimau yang tertidur.
"Tiga puluh detik lagi," seru Bella.
Dan di saat itu, seseorang angkat tangan. Dia adalah salah seorang manager bagian keuangan, bawahan Brian.
"Saya menganggap keputusan Anda terlalu gegabah dan berani. Proyek pembangunan di wilayah rawan konflik sangat berisiko. Belum lagi ini mega proyek, dana yang diluncurkan juga pasti fantastis sedangkan untuk tingkat kesuksesan masih samar-samar. Inilah salah satu alasan saya setuju untuk Anda mundur. Jika dilanjutkan Anda bisa membawa masalah besar untuk perusahaan. Selain itu Anda tengah hamil. Dan ibu hamil sangat sensitif, seseorang yang perasaannya mudah berubah-rubah tidak cocok menjadi pemimpin," jawabnya lancar kemudian menunduk dalam kurang dalam.
Bella tersenyum lebar mendengar.
"Ohh karena hal itu rupanya. Hm tapi, dari kata-kata Anda walaupun proyek ini tidak tercipta, karena saya hamil saya harus mundur, begitu?"
Sebagian menjawab tidak, sebagian lagi diam. Bella kemudian tertawa terbahak. Betapa rendahnya HAM diri yang berpikirlah seperti itu.
"Perusahaan dan negara melarang keras diskriminasi dan apa yang barusan Anda adalah sebuah bentuk diskriminasi terhadap saya yang seorang wanita dan Papua sebagai salah satu bagian dari NKRI."
"Apa Anda tidak mempunyai jiwa patriotisme? Ke mana hati nurani Anda? Apa Anda tidak membaca atau menonton alasan mereka memberontak? Melakukan gerakan-gerakan seperti itu? Karena mereka tertinggal jauh!"
" Lalu siapa yang bisa membawa mereka menuju kemajuan? Pemerintah?" Bella melemparkan pertanyaan lagi.
"Okay. Namun, tidak cukup hanya pemerintah tapi segenap bangsa dan negara Indonesia!" Jika ingin maju tentu semua harus aktif, bukan?
" Jika tidak berani mengambil sebuah gebrakan, bagaimana negeri ini bisa maju? Jika kalian takut mengambil sebuah resiko, bagaimana bisa maju? Atau kalian cukup dengan pencapaian yang kalian dapat?" Bella bertanya tentang pendapat mereka. Dan semua bungkam..
"Kalau saya tidak!" Bella menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Saya belajar dan bekerja di luar negeri agar bisa mencari tahu, mempelajari bagaimana cara mereka belajar dan bekerja hingga bisa maju! Tidakkah kalian berpikir mengapa Singapura yang negara kecil bisa menjadi negara maju?"
"Sedangkan negara kita masih berada di bagian negara berkembang? Luas negara, sumber daya alam dan manusia, semua unggul di kita tapi hanya berdasarkan kuantitas! Sedangkan tingkat pemanfaatan dan kualitasnya, tidaklah maksimal!"tegas Bella.
"Sebagai orang yang telah menempuh pendidikan, pelatihan, dan bekerja dan kalian adalah orang-orang terpilih yang berhasil masuk ke Mahendra Group, saya yakin Anda sekalian paham maksud dan jawaban saya!"pungkas Bella.
"Satu lagi, masalah kehamilan … saya lebih tahu akan diri saya. Thank you!"
Selesai itu Bella meninggalkan podium dan aula menuju ruang meeting karena timernya sudah habis.
"Eh sudah selesai?"
Brian dengan wajah polosnya bertanya. Dan tak menunggu jawaban ia langsung memanggil Silvia.
"Jangan memiliki pandangan yang sempit. Kalian akan menyesal jika perusahaan ini kehilangan orang seperti wakil Presdir!"pesan Brian sebelum keluar dari aula dengan menggandeng Silvia.