
Bella melangkah memasuki sel tahanan pengadilan di mana Marco dan Aldric masih berada di dalamnya. Sebentar lagi akan dibawa ke penjara selatan. Untuk Marco, tentu ini menjadi saat-saat terakhirnya. Ia berdiam diri, duduk meringkuk dengan memeluk lututnya di sudut sel. Aldric sendiri duduk di bangku sel dengan tatapan kosong. Entah karena memang tidak fokus atau karena langkah Bella yang terlalu pelan, keduanya tidak bereaksi.
Bella hanya sendiri. Ken, Brian, dan Paman Adam tidak ikut. Bella yang memintanya. Bella juga meminta Ken, Brian, dan Paman Adam pulang duluan karena ia ingin ke suatu tempat untuk menyendiri.
Bella menatap Marco dan Aldric dengan raut wajah dingin. Kedua tangannya bergerak, memegang dan mencengkeram jeruji sel.
Melihat Marco dan Aldric yang bak orang mayat hidup, sorot mata Bella meneduh. "Maaf." Bella berujar dengan lirik.
Mendengar itu, Aldric seperti tersentak dan mengangkat pandangannya. "Nona Bella …." Aldric terbelalak. "A-apa yang Anda katakan tadi? Maaf?" Aldric bertanya dengan wajah tidak percaya. Ia sungguh terkejut.
"Ya. Maaf …."
"A-apa yang Anda katakan? Mengapa meminta maaf? Kamilah yang salah. Bahkan ribuan kata maaf yang kami ucapkan tidak bisa menghapuskan kesalahan kami, Nona."
Aldric berdiri dan berlutut. Bella menggeleng, ia berjongkok dan memegang tengah Aldric. "Jangan berlutut lagi, Paman. Kalian sudah mendapat balasannya. Dengan begitu, masalah atau dendam di antara kita selesai. Tolong, berdirilah, Paman!" Bella meminta Aldric untuk berdiri. Aldric menggeleng.
"Benar. Masalah lalu memang sudah usai. Akan tetapi, rasa bersalah dan penyesalan itu sulit untuk dihilangkan, Nona. Mungkin, selama sisa hidupku ini … aku akan terus merasa bersalah pada keluargamu. Maaf … maaf, maafkan pria tua yang hina dan pengecut ini!" Aldric menggenggam tangan Bella. Ia menangis. Tangisnya begitu menyentuh hati, tidak dibuat-buat menandakan ia sungguh menyesal.
Bella menepuk bahu Aldric kemudian berdiri.
"Aku memaafkan kalian, Paman. Aku juga meminta maaf karena aku harus melakukan ini pada kalian. Aku harus menegakkan keadilan akan keluargaku. Maafkan aku, Paman, Kakek." Bella membungkukkan badannya. Itu bentuk permintaan maaf dan juga ucapan selamat tinggal untuk Marco.
Marco yang awalnya tidak bereaksi, mendengar Bella kembali mengatakan maaf kemudian memanggilnya kakek dengan lembut, tanpa nada dingin dan marah, mengangkat pandangannya. Matanya yang semula kosong menjadi memerah.
"K-kau sama seperti nenekmu. Maaf … maafkan aku …." Marco, sekalipun ia mendengar Bella sudah memaafkannya, rasa bersalahnya tidak berkurang sedikitpun bahkan semakin bertambah. Mendekati akhir hidupnya, bayangan masa muda dan perbuatan buruknya selama ini berputar terus di dalam otaknya bak sebuah kaset film.
Bella kembali berdiri tegak. Tak lama kemudian, petugas penjara datang untuk membawa Marco dan Aldric ke penjara selatan. Bella tersenyum dan melambaikan tangan pada keduanya.
Setelah Marco dan Aldric meninggalkan ruang sel, Bella menghela nafas kasar. Pancaran kelegaan semakin besar.
"Pundakku benar-benar terasa ringan sekarang. Kau juga tidak merasa tertekan lagi bukan, Nak?"gumam Bella sembari mengusap perutnya yang sudah mulai menunjukkan tonjolan.
"Melihat mereka dijatuhi hukuman memang membuatku puas. Namun, jika aku masih menyimpan amarah pada mereka aku tidak akan pernah mendapatkan ketenangan. Memaafkan adalah cara terbaik membuat hati menjadi ringan," gumam Bella lagi sebelum meninggalkan ruang sel. Bella melangkah dengan ringan meninggalkan gedung pengadilan tinggi itu.
Di luar suasana sudah gelap. Bella melepas kecamatannya ketika mendapati sosok yang ia kenal berdiri di dekat sebuah mobil dengan tersenyum padanya. "Ken??" Bella bergumam. Bukankah ia sudah menyuruh Ken untuk pulang lebih dulu bersama dengan Brian? Lalu mengapa masih berada di sekitar pengadilan?
Segera Bella menghampiri Ken. "Assalamualaikum, Ken."
"Waalaikumsalam, Aru," jawab Bella.
"Sudah selesai?" Ken bertanya setelah Bella mengecup punggung tangannya.
"Hm." Bella mengangguk. "Mengapa kau masih berada di sini?"tanya Bella kemudian. "Dan mana Brian dan Paman Adam?"lanjut Bella.
"Tentu saja menunggumu selesai, Aru. Walaupun kau menyuruhku pulang. Mana mungkin aku pulang dan meninggalkanmu sendirian. Terlebih kau bilang mau ke suatu tempat untuk menyendiri. Tidak, aku tidak bisa. Aku sangat khawatir terlebih kau tengah hamil, Aru. Jika ingin ke suatu tempat untuk menenangkan diri, aku temani. Jika kau ingin sendiri, anggap saja aku tembok untukmu bersandar," papar Ken panjang lebar dengan menangkup kedua pipi Bella kemudian memberikan kecupan singkat pada bibir istrinya.
Bella tersenyum lebar mendengarnya. Ia menggerakkan tangannya memeluk Ken. "Jika begitu mari cari masjid dulu lalu aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ujar Bella.
"Hm." Ken berdehem menyetujui. Ken lalu membukakan pintu untuk Bella. Setelah Bella masuk, barulah Ken menuju dan masuk ke kursi pengemudi.
*
*
*
Setelah menunaikan sholat magrib dih sebuah masjid dan setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Ken memberhentikan mobil ketika GPS telah selesai. Bella lebih dulu keluar dari mobil diikuti oleh Ken.
Di hadapan mereka terdapat sebuah bianglala yang cukup besar dan tinggi dengan pemandangan laut yang tampak gemerlap dengan pantulan cahaya lampu gedung-gedung di sekitarnya. Selain bianglala di sana juga terdapat wahana lainnya. Juga terdapat stand yang menjual makanan ringan.
"Jadi kau ingin ke pasar malam, Aru?"tanya Ken memastikan dengan melempar senyum manis pada Bella.
"Ini adalah taman bermain, Ken. Dulu aku sering ke sini untuk menenangkan hatiku. Yah sebenarnya ada beberapa tempat lagi. Namun, ini yang paling sering kunjungi. Lihatlah …." Bella menunjuk puncak bianglala yang tengah berputar itu. Ken melihat ke arah yang Bella tunjuk.
"Dari atas sana kau bisa menatap laut yang begitu indah. Di atas sana juga kau bisa menikmati pemandangan kota yang tidak pernah tidur ini. Di sana kau juga menikmati sapaan angin yang begitu lembut. Ini tempat yang menenangkan bagiku."
"Ya … bianglala dan pemandangannya sangat serasi, terlebih di malam hari," timpal Ken. "Ayo."
Ken mengeluarkan tangannya pada Bella. Bella menerimanya. Keduanya kemudian melangkah memasuki taman hiburan itu dan membeli tiket untuk naik bianglala.
Ketika mereka berada di puncak bianglala, Bella segera mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan pemandangan laut dan sekitarnya lewat foto dan video. Mereka juga mengambil foto selfie berdua dengan latar belakang pemandangan yang begitu luar biasa.
Berada di suasana romantis dan pemandangan indah itu tentu keduanya tidak melewatkan momen untuk berciuman. Ken mulai mendekatkan wajahnya pada Bella, membelai lembut wajah istrinya dan beberapa detik kemudian, bibir keduanya sudah menempel. Mereka berciuman di puncak tertinggi bianglala dan itu akan menjadi sebuah kenangan yang indah dan tidak terlupakan.
*
*
*
Ini adalah gereja di mana Evan dan Calia akan melangsungkan pernikahan. Mempelai pria sudah berdiri dan menunggu di altar. Evan tampak begitu tampan dengan setelan jas berwarna putih. Dengan rambut panjangnya diikat serta kacamata membingkai wajahnya, Evan tampak seperti seorang pangeran yang begitu mempesona. Dalam satu waktu, Evan menunjukkan ketampanan juga kecerdasannya.
Di barisan kursi juga sudah duduk Allen dengan setelan formalnya. Umi Hani dan Nizam juga duduk di baris pertama dengan Nizam sebagai pembatas di antara Allen dan Umi Hani. Di baris berseberangan, juga sudah duduk kakak-kakak Calia.
Tak lama kemudian, pengantin wanita tiba dengan didampingi oleh Tuan dan Nyonya Arshen. Calia tampak begitu cantik. Calia begitu mempesona hingga membuat Evan tak bisa untuk memalingkan wajahnya.
Gaun putihnya menyeret di lantai. Kedua tangannya memegang bucket bunga dan lengannya diapit oleh Tuan dan Nyonya Arshen. Pernikahan yang bisa dikatakan mendadak dan kilat ini hanya dihadiri oleh keluarga inti.
Tiba di anak tangga untuk naik ke altar, Nyonya Arshen mengambil tempat duduk di samping anak dan menantunya. Sementara Tuan Arshen mengantarkan Calia sampai altar.
Di atas altar, Tuan Arshen mempersatukan tangan Calia dan Evan. Ia tersenyum lebar nan penuh arti pada Calia juga Evan. Tuan Arshen kemudian menatap Evan.
"Evan … aku percayakan putriku padamu. Aku harap kau menjaganya dengan sepenuh hati. Menyayanginya dengan tulus. Dan mencintainya untuk selamanya. Aku percaya bahwa kau adalah pria yang tepat untuk putriku. Aku mohon kau jaga kepercayaanku dan kepercayaan putriku kepadamu. Jangan kecewakan dan buat dia sakit hati," tutur Tuan Arshen penuh arti. Evan mengangguk.
"Saya berjanji, Papa," jawab Evan mantap. Tuan Arshen mengangguk kemudian berbalik dan turun dari altar, bergabung dengan istri, anak, dan menantunya.
Setelah itu, pendeta yang akan menikahkan mereka langsung mengambil alih. Menuntun keduanya untuk mengucapkan janji pernikahan.
Tanpa Calia sadari, air mata Calia tumpah ketika Evan mengatakan "aku bersedia."
Calia menjawab "aku bersedia" dengan nada bergetar. Hatinya bergemuruh. Meskipun perasaannya untuk Evan belum terlalu kuat dan nama almarhum kekasihnya masih bertahta di dalam hatinya. Namun, pernikahan ini, keyakinan, dan kemantapan Evan, membuat hatinya tersentuh dan membuatnya terharu.
Umi Hani menyeka sudut matanya. Satu putranya, yang terpisah sejak puluhan tahun dan baru sebentar dipertemukan, putranya sudah menjadi seorang suami dan ia sudah menjadi seorang mertua.
"Ayah, jika Nizam menikah nanti, Ayah akan menghadiri pernikahan Nizam, kan?"tanya Nizam dengan berbisik pada Allen.
Allen menoleh pada putra sulungnya itu. "Tentu saja. Ayah pasti akan menghadirinya," jawab Allen dengan menepuk lembut bahu Nizam. Keduanya lantas berangkulan.
"Silahkan suami mencium istri." Baik Evan atau Calia tertegun. Berciuman? Ya itu untuk menunjukkan rasa cinta terhadap pasangan. Dan itulah yang keduanya lupakan.
Ciuman? Dada keduanya bergemuruh. Antara gugup, juga canggung. Keduanya hanya saling menatap dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Ciuman!"
"Ciuman!"
"Kiss!"
"Kiss!"
Sorakan itu datang dari saudara-saudara Calia. Calia menoleh sekilas ke arah keluarganya. Yang terus bersorak dan menggoda dirinya. Apakah maksud mereka … Calia yang ambil inisiatif?
Calia kembali menatap Evan. Pria yang telah sah menjadi suaminya itu membatu.
"Ayah … apa harus berciuman di depan banyak orang begini?"bisik Nizam. Allen tersenyum. Antara geli juga penuh arti. Kedua putranya masih bisa dikatakan cukup polos. Dan untuk Nizam sendiri, wajar saja.
"Ya. Untuk pernikahan keyakinan ini memang begitu. Ciuman itu menunjukkan rasa cinta terhadap pasangan. Jika kau malu nanti, tutup sana matamu dan juga mata Umimu," beritahu Allen. Nizam dengan patuhnya mengangguk.
Mereka kembali melihat Calia dan Evan. "Tutup matamu, Evan," pinta Calia.
"Tutup mata? Untuk apa?" Evan bingung.
"Tutup saja!" Evan langsung menurut, "begini?"tanyanya setelah memejamkan mata.
"Ya." Calia mendekatkan dirinya pada Evan. Dengan keberanian yang telah terkumpul, Calia mendaratkan ciuman pada bibir Evan dengan kedua tangan mengalung pada leher sang suami. Di saat itu juga, Nizam menutup matanya sendiri juga menutup mata Uminya. Allen mendengus senyum melihatnya.
Evan yang terkejut saat merasakan ada sesuatu yang menempel dan memberi lum*atan lembut pada bibirnya, membuka matanya.
Secara naluri, Evan menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Calia dan membalas ciuman sang istri. Evan kembali menutup matanya.
Tepuk tangan meriah langsung bergema begitu keduanya selesai berciuman. Baik Calia dan Evan, lagi-lagi saling diam sembari menarik dan menghirup udara.
"Terima kasih," ucap Evan kemudian.
"Aku sangat malu," bisik Calia. Kini ia tersipu.
"Ayo." Evan mengulurkan tangannya untuk mereka turun dan memohon restu orang tua.
"Ya." Calia menerimanya.
Aku tahu … kau belum mencintaiku, Calia. Tapi, aku akan memberikan dan melakukan yang terbaik untukmu. Aku percaya dan yakin, suatu hari nanti, akulah pemilik hatimu. Aku akan menantinya dengan sabar. Dan terima kasih karena telah menerimaku menjadi pasangan dan suamimu. I love you, Calia.
Terima kasih telah mengerti aku, Evan. Aku akan berusaha … berusaha untuk hanya mencintai dirimu. Beri aku waktu. Beri aku waktu untuk menuntaskan perasaanku dengannya.