
Dua minggu kemudian. Hari resepsi pernikahan El dan Anjani tiba. Acara itu dimulai pukul 14.00 sampai dengan pukul 22.00. Sengaja dimulai di jam itu karena resepsi diadakan di hari Jumat. Hari yang sama dengan hari pernikahan El dan Anjani.
Sejak jam dimulainya resepsi, tamu sudah banyak yang berdatangan. Dari halaman hotel hingga merembet ke jalan raya, karangan bunga berisi ucapan selamat atas pernikahan El dan Anjani berjejer rapi. Begitu juga dengan tempat parkirnya, baik yang terlihat ataupun yang berada di basement.
Nama El memang tidak terkenal di dunia bisnis. Namun, ia terkenal di dunia hiburan, terlebih setelah film comebacknya booming. Namanya melejit. Belum lagi ditambah dengan kedudukan keluarganya. Dan dari pihak Anjani. Sudah pasti akan banyak tamu yang hadir di resepsi mereka. Bahkan jika diklaim, resepsi El ini yang paling mewah, tidaklah berlebihan.
Bisa dikatakan, pernikahan dan resepsi El yang paling spesial di antara ketiga anak Surya Mahendra. Karena selain pernikahan yang diadakan di hari Jumat bulan Ramadhan. Dan juga hari resepsi yang sama, juga karena suasana dan kondisi keluarga.
Aksara Hotel, dimana hotel itu di bawah kedudukan keluarga Mahendra, di hari resepsi dan besok tidak menerima tamu. Hotel dikhususkan hanya untuk acara resepsi. Karena pastinya jika ada tamu yang datang dari jauh akan menginap.
Menuju ballroom, karpet merah membentang, menyambut para tamu untuk dilewati dan masuk ke ballroom. Resepsi itu tak jauh dari kata mewah.
Di bagian menerima tamu adalah Nesya dan Dylan. Di bagian fotografer adalah Fajar. Surya dan Rahayu jelas duduk di pelaminan bersama dengan El dan Anjani.
Yang lainnya? Tugas Ken, Bella, Brian, dan Silvia telah selesai setelah mengantarkan El dan Anjani ke pelaminan. Ibarat kata mereka berempat menjadi Bridesmaid dan Groomsmen. Untuk resepsi siang, memang itu tugas mereka. Lain untuk resepsi malam.
Dan kini, keempat orang duduk santai sembari mengobrol. Terkadang juga menyapa tamu dan mengobrol dengan mereka.
"Dulu, aku sempat mengira Kak El tidak akan pernah menikah. Ya, mengingat kelakuannya dulu," ucap Ken pada Bella seraya terkekeh pelan.
"Takdir sukar diprediksi, bukan? El menikah dengan Anjani. Dan Anjani, dia menjadi sahabat sekaligus kakak iparku," sahut Bella, terkekeh pula.
Pandangan keduanya tertuju ke arah pelaminan di mana raja dan ratu tengah duduk bersanding dengan senyum begitu lebar. Busana keduanya begitu cerah, secerah wajah mereka. Anjani begitu cantik mengenakan gaun pengantin berwarna biru dengan hiasan mutiara. Dan El yang semakin tampan dengan setelan jas birunya.
Liev tidak bersama dengan mereka. Bocah itu bersama dengan Rahayu. Begitu juga dengan Arka. Karena keibuan Rahayu, anak-anak mudah dekat dan lengket dengannya.
"Mereka serasi, ya?" Bella menopang dagunya.
"Jika tidak serasi, mereka pasti seperti Tom and Jerry," cetus Ken.
"Tapi, kebanyakan sih dimulai dari sana," tambah Ken.
"Ngomong-ngomong, sebagai penulis kerangka naskah film itu, apa kau dapat bagian, Aru?"tanya Ken penasaran karena Bella tidak pernah menyinggung hal tersebut.
Bella mengangguk. "Ada dong. Kalau tidak ada, artinya dia harus hati-hati," jawab Bella, senyumnya berubah simpul.
"Hehehe, iya juga." Ken sedikit merinding. Sejenak ia melupakan bahwa istrinya ini adalah orang yang cukup perhitungan.
"Ken, Abel." Yang dipanggil menoleh. Brian yang memanggil mereka. "Ayo berikan ini padanya," ajak Brian dengan menunjukkan sebuah kotak berukuran sedang yang dihias dengan pita berwarna coklat. Itu adalah kado pernikahan dari Brian dan Silvia untuk El dan Anjani.
"Ayo." Ken menyambutnya yang diangguki oleh Bella. Kedua pasangan itu kemudian menuju ke pelaminan, menghampiri El dan Anjani yang tengah duduk tenang menikmati suasana.
Di pelaminan tinggal El dan Anjani. Surya dan Rahayu bersama dengan anak-anak meninggalkan ballroom beberapa menit yang lalu.
"Ini." Tanpa basa-basi, Brian langsung menyodorkan kotak kado yang ia bawa.
"Apa ini?" El bingung. Belum menerima kotak tersebut.
"Hadiah pernikahanmu," jawab Brian. Mata El langsung berbinar. Ia segera menerima kotak itu.
"Kau berbohong!" Tiba-tiba El menjadi sarkas. Brian menaikkan alisnya. "Kau tidak mau?" Nada Brian datar mendekati dingin.
Anak ini, sedang cari perkara? Ken, Bella, Silvia, dan Anjani saling melempar pandang. "Kembalikan jika kau tidak mau!"
Nah kan, Anjani tersenyum simpul. Saat Brian hendak mengambil kembali kotak tersebut, El segera menyembunyikannya di balik badan. "Enak saja! Sudah dikasih kok diminta kembali," cetus El dengan wajah yang menurut Brian sungguh menyebalkan.
"Tempo hari kau mengatakan tidak akan memberiku kado pernikahan, ini apa?" Ah, rupanya itu dipermasalahkan oleh Ken.
"Bukankah kau tidak percaya dengan ucapanku?!"
"Hei-hei! Perkara kado saja sampai tegang otot, tinggal terima saja banyak drama." Bella mencibir.
"Hehehe." Yang memulainya malah tertawa. Anjani menggeleng. Satu bulan hidup bersama dengan El, ada saja hal baru yang ia temui.
"Thank you very much, Brother!" Tanpa aba-aba, El langsung memeluk Brian. Brian mundur satu langkah karena itu. "Aku tahu, kau tidak pernah berbohong karena kau tidak terlatih untuk itu!"
Brian mendengus sebal. "Mengapa aku punya adik menyebalkan sepertimu?" Brian membalas pelukan El.
"Agar wajahmu tidak kaku seperti kambing," jawab El dengan tersenyum lebar.
"Kau?!" Brian kehabisan kata. Teganya El! "Suamiku setampan ini kau samakan dengan kambing?" Silvia mendelik kesal.
"Aku setuju. Ambil saja lagi kadonya!" Ini lebih gawat! Wajah El langsung berubah. Ia mulai merayu.
"Sepertinya masalah sudah selesai, Via," ujar Bella dengan melirik Brian.
"Hm?" Silvia melihat ke arah Brian. Apa yang terjadi? Mengapa wajah Brian memerah?
"Mas? Kau deman?"
"Dia malu." El yang menjawab.
"Kita sudah selesai. Ayo, Via." Mengajak Silvia meninggalkan pelaminan. Silvia yang belum mengerti hanya mengikuti.
"Ada ya, udah tiga tahun menikah dipuji istri langsung ngeblush?"tanya El.
"Ada. Tadi buktinya," jawab Ken. "Tapi, aku rasa cuma kak Bri yang begitu," imbuh Ken.
"Dan ini hadiah pernikahan dari kami." Bella memberikan sebuah kotak berwarna biru gradasi ungu dengan pita berwarna putih. Bella memberikannya pada Anjani.
"Ah Abel, thank you." Anjani dan Bella berpelukan. Dan Ken juga berpelukan dengan El.
"Bukanya nanti saja. Dan kami harap kalian suka dengan hadiah ini," ujar Ken.
"Kami pasti suka," jawab Anjani.
"Karena Abel tidak pernah mengecewakanku."
Bella tersenyum.
"Lega mendengarnya," ucap Ken.
*
*
*
Sehabis magrib, tamu yang berdatangan lebih banyak lagi daripada waktu resepsi siang.
Gaun resepsi pun telah berganti. Untuk resepsi malam, warna putih menjadi pilihan dan itu adalah pakaian yang mereka gunakan pada saat akad. Keduanya malam ini benar-benar bersinar.
Ucapan selamat terus mengalir untuk keduanya dan juga keluarga.
Tamu undangan terutama yang dari perusahaan tercengang saat melihat Brian dan Ken bernyanyi di panggung yang memang disediakan. Keduanya berduet beberapa lagu yang memang cocok dibawakan oleh keduanya, salah satunya adalah lagu berjudul Cinta Sampai Mati yang alunan dan liriknya begitu shaydu dan mendalam. Apalagi itu hanya diiringi oleh permainan piano dari Ken.
Dan aku pasti setiaa…
Dan acara resepsi ini, memberitahu siapapun itu, yang hadir ataupun yang nantinya hanya melihat video, foto, ataupun berita tentang acara hari, bahwa masing-masing dari mereka sangat-sangat mencintai pasangan mereka.
Begitu banyak wanita cantik malam ini. Namun, tatapan mereka, arah pandang mereka hanya pada satu wanita, sang belahan jiwa yakni sang istri.
"Bagaimana jika kita pakai wedding organizer ini saja?"tanya Dylan, meminta pendapat dan persetujuan Nesya. Keduanya sudah tidak bertugas menjadi penerima tamu lagi.
"Ini sangat bagus. Aku setuju."
"Konsep seperti apa yang kau mau, Nesya?"
Nesya mengedarkan pandangnya.
"Untuk latar pelaminan warna hitam. Dan dekor lainnya warna putih. Jadi, konsepnya hitam putih itu. Terus untuk hiasan, di depan pelaminan itu, ada seperti lampu tumblr gitu. Nah untuk bunganya, tulip bagaimana? Dibentuk seperti pagar di depan pelaminan?" Nesya menjelaskan sekaligus meminta pendapat Dylan.
"Sejujurnya aku kurang pandai hal seperti ini. Tapi, kedengarannya itu bagus. Aku setuju. Atau kita diskusikan saja nanti dengan WO nya?"saran Dylan.
Nesya mengangguk. Dan keduanya sudah mendaftarkan pernikahan. Mereka akan menikah satu minggu dari sekarang yakni di hari Sabtu. Mereka sudah pernah fitting baju sekali. Dan dalam minggu ini juga akan kembali fitting. Dan persiapan lainnya sudah aman terkendali.
"Kau mau bernyanyi, Nesya?"tanya Dylan.
"Mau. Tapi, aku takut," jawab Nesya. Jika naik di sana kan pasti akan diperhatikan, meskipun tidak seluruhnya. Dylan tersenyum. Ia menggenggam jemari Nesya.
"Zaalima, kau suka lagu itu, bukan?"tanya Dylan.
Nesya mengangguk dengan menatap heran Dylan. "Kau tahu?"
"Kau sering mendengarkan lagu itu saat belajar."
"Ah? Sungguh?"
"Ayo, aku akan menyanyikannya untukmu. Kau bisa kan untuk lirik bagian perempuannya?"
"Eh kau bisa lagu itu?" Nesya kembali dibuat terkejut. Dylan mengangguk.
"Aku bisa. Kalau tidak, aku tidak akan berani maju," ucap Dylan meyakinkan.
"Bagaimana jika jelek? Aku gugup, tidak pernah menyanyi di acara besar seperti ini." Nesya masih gugup. Ia berbeda dengan Bella yang sudah sangat percaya diri.
"Kalau begitu jangan lihat mereka. Look at me, okay?" Dylan kembali meyakinkan Nesya. Nesya masih mempertimbangkannya.
"Yes?"
"Yes!" Nesya menyetujuinya. Ia tidak sendiri. Cukup menatap Dylan saja. Dylan tersenyum lebar, menggenggam jemari Nesya dan melangkah menuju panggung musik.
"Mereka akan berduet?" Ken melihat Dylan dan Nesya dengan raut wajah heran dan penasaran.
"Mungkin." Bella juga penasaran. Lagu apa dan bagaimana chemistry keduanya di atas panggung itu.
"Wow. Tak ku sangka, bocah itu bisa menyanyi lagu India," ucap Ken takjub.
"Ya, aku pun," sahut Bella. Para tamu terlihat menikmati lagu tersebut. Terdengar bisik-bisik yang menanyakan siapa gerangan Nesya dan Dylan.
"Mereka secara tak langsung mempublikasikan hubungan mereka. Ke depannya, saat sudah menikah dan kuliah, akan banyak tantangan yang mereka hadapi," ucap Rahayu, menatap seduh Nesya dan Dylan. Arka dan Liev tidak lagi ikut acara resepsi. Keduanya kelelahan dan berakhir di tempat tidur.
"Namanya juga hidup, Yu. Bahkan yang sudah puluhan tahun menikah saja masih sering banyak masalah, apalagi nanti mereka. Ya, masalah tidak bisa dihindari? Tapi, Mas percaya mereka bisa menghadapinya karena itu adalah jalan dan pilihan mereka," jawab Surya.
"Terkadang aku cemas. Jika mereka satu atap dengan kita, kita bisa memantau mereka. Namun, jika sudah pisah atap dan beda provinsi lagi, susah, kan?" Biar bagaimanapun, Nesya dan Dylan sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.
"Kau melupakannya, Yu," ucap Surya, mengalihkan pandangnya ke arah Bella.
"Dia akan tetap melindungi adiknya meskipun kelak sudah menikah. Jadi, jangan terlalu cemas," imbuh Surya.
Rahayu tidak menjawab. Wajahnya masih menunjukkan kecemasan yang ditutupi dengan senyuman. "Ayo kita ke meja Ken dan Brian," ajak Surya dan itu diangguki oleh Rahayu.
Dan kini Dylan dan Nesya telah selesai bernyanyi. Dan itu bertepatan dengan hadirnya tamu yang telah El tunggu-tunggu.
Nizam.
Dan rombongan. Di mana di dalamnya ada Umi Hani dan perwakilan pengurus dan pengajar pondok pesantren Baitussalam. Juga perwakilan dari Santri yang di dalamnya adalah Zidan, Nisa, Haris, Fajar, Laila, dan juga Naina.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapa Nizam.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab El, keduanya kemudian berpelukan.
"Lama tidak bertemu, sekali bertemu menghadiri pernikahanmu, Kak El," lakar Nizam.
"Lama tidak bertemu, apa kau mendengarkan ucapanku tempo hari?" balas El, dengan sedikit berbisik. Nizam tertawa renyah.
"Tentu saja," jawab Nizam. El membulatkan matanya.
"Really?" El tidak bisa untuk tidak berteriak.
Nizam mengangguk. "Coba tanya Umi," ujar Nizam.
"Umi, apa benar Nizam dan Naina?"
"Iya, Nak El. Mereka ta'aruf sekarang," jawab Umi Hani.
"Astaga! Ini …. Hahaha. Selamat-selamat. Langgeng sampai seperti kami, ya," ucap El kembali memeluk Nizam kemudian merangkul Anjani. Di samping Umi Hani, Naina tersipu. Ia menunduk. Tidak pernah menduga, rasa tertarik di hatinya kepada Nizam dibalas dengan mengajaknya ta'aruf.
"Umi," ucap Anjani seraya menyalami Umi Hani.
"Selamat ya untuk kalian berdua," ujar Umi Hani.
Anjani mengangguk, begitu juga dengan El. "Sepertinya di belakang masih ramai. Kami turun dulu, besok kita bisa bicara lagi," ajak Nizam. Ya, itu pesta besar. Umi Hani mengangguk mengerti.
"Nanti aku akan ke sana," ujar El. Nizam mengangguk.
"Assalamualaikum, Kak El." Itu adalah kelima anak yang pernah ikut lomba bersama dengan El sewaktu di pesantren.
"Wah kalian datang?"
"Tentu saja!"jawab Zidan.
"Kau sangat kaya, Kak," ucap Haris takjub.
"Iya. Kami bak udik di sini," celetuk Nisa.
"Apanya yang udik?"tanya Anjani.
"Sama saja, kok. Tidak ada yang berbeda. Anggap saja ini seperti di pesantren," tambah Anjani.