
Ditariknya saham mayoritas di Nero Group membuat perusahaan yang bergerak di transportasi udara itu terguncang hebat. Nero Group yang awalnya tenang kini ketar-ketir dengan nasib perusahaan ke depannya.
Mereka hanya bisa berharap Marco berhasil bertemu dengan ahli waris misterius Tuan Williams dan membujuknya untuk kembali menanamkan saham di perusahaan.
Lah, seberapa berpengaruh sih Tuan Williams itu hingga membuat investor di luar sana yang awalnya sangat menantikan Nero Group menjual saham kini malah tampak ragu padahal jumlah yang kosong sangatlah besar?
Bahkan investor yang sudah cukup lama saja di Nero Group ingin menarik sahamnya.
Itu karena Tuan Williams memang mempunyai pengaruh yang sangat besar. Beliau adalah salah satu Taipan di dunia dengan kekayaan mencapai ribuan milyar.
Apa sih bisnisnya?
Beliau adalah pemilik perkebunan anggur yang terdengar di beberapa negara. Kebun anggurnya luar biasa luas.
Lalu ... bagaimana bisa ia memiliki saham sebanyak itu di Nero Group?
Awalnya sahamnya juga tidak sebanyak itu. Ahli warisnya lah yang melakukannya. Tuan Williams bukan saja memiliki saham di Nero Group. Ada beberapa perusahaan besar lain yang kepemilikan sahamnya cukup besar.
Sayangnya, Taipan itu tewas sekitar lima tahun yang lalu akibat penyakit umur. Dan ahli warisnya hanya menunjukkan inisial namanya tanpa pernah menampakkan dirinya.
Publik pun sama sekali tidak mengenalnya karena tahu jika Taipan itu kehilangan istri dan anaknya dalam kasus kecelakaan pesawat.
Mereka hanya berpikiran mungkin Tuan Williams menikah lagi dan memiliki anak yang menjadi ahli warisnya. Dan publik hanya mengetahui kalau ahli waris Tuan Williams adalah seorang wanita.
"Maaf, Tuan Marco. Nona sedang berada di luar negeri!"ucap kepercayaan Tuan Williams yang masih ada yang bertugas mengurus rumah yang tampak begitu kecil dan sederhana untuk ukuran triliuner seperti Tuan Williams.
Marco dan Aldric menyambangi kediaman Tuan Williams untuk bertemu dan meminta penjelasan lebih lanjut.
"Lalu bagaimana dengan kami?! Tindakan kalian ini membuat Nero Group terguncang! Jika tidak ada penjelasan yang pasti kami bisa tamat! Atau biarkan aku bicara lewat ponsel!"desak Marco.
"Nona tidak bisa diganggu sekarang!"tegas kepercayaan itu.
Nada yang ia gunakan masih sangat sopan.
"Tidak bisa diganggu setelah melakukan hal besar pada Nero Group? Apa Nonamu itu waras, hah? Atau Anda sendiri, katakan di mana letak kesalahan Nero Group!"kecam Marco.
Marco mulai mengarahkan orang-orangnya untuk masuk. Orang kepercayaan Tuan Williams itu sangat tenang. Ia bahkan tersenyum.
Ahli waris hanya menarik saham miliknya di Nero Group, sedangkan saham di perusahaan lain aman-aman saja.
Bukankah artinya Nero Group sedang bermasalah?
Itulah yang ada di benak para pebisnis.
"Apa ini, Tuan Marco? Anda mencoba mengancam saya dan Nona saya?"tanya Orang kepercayaan Tuan Williams dengan menatap tajam Marco dan Aldric.
"Nero Group butuh penjelasan. Jangan salahkan kami jika bertindak kasar!"jawab Marco.
Orang-orangnya menodongkan senjata api pada orang kepercayaan Tuan Williams.
"Tidak tahu diri!"desis orang kepercayaan Tuan Williams kesal.
Mereka kira sebisa itu ia diancam. Sekaligus nyawanya hilang, keputusan nonanya tidak akan berubah. Malah mungkin akan menjadi bemerang untuk Nero Group.
"Jika saya mati, Anda juga mati. Jika kalian menempatkan saya dalam masalah, Anda akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi."
Marco mengeram kesal. Inilah arti di atas langit masih ada langit. Walaupun Nero Group begitu besar dan kuat, masih ada yang dengan mudah membuatnya terguncang hebat.
"Kalau begitu kapan kira-kira nona Anda akan kembali, Tuan? Apa tidak bisa kami bertemu dengan beliau secepatnya?"
Aldric masih lebih sopan daripada ayahnya.
Todongan senjata belum ditarik dan orang kepercayaan Tuan Williams bertepuk tangan.
Tiba-tiba segerombolan pria dengan seragam yang sama masuk dan menodongkan senjata tepat di belakang kepala Marco, Aldric, dan orang-orangnya.
"Menodongkan senjata di tempat pribadi, Anda bisa mendekam di jeruji karena hal ini."
"Kalian malah membuat masalah menjadi lebih besar. Atau begini saja agar perusahaan kalian tidak terguncang terlalu lama."
Penawaran mulai dilakukan.
"Kalian juga sudah datang, kasihan jika pulang dengan tangan kosong."
"Bagaimana caranya, Tuan?"
Bukannya pesimis mencari investor lain. Tuan Williams dikenal sebagai investor yang ulung. Dan ahli warisnya juga dikenal begitu.
Saham yang dimiliki Tuan Williams sebelumnya berkembang pesat dan semakin banyak menanamkan saham.
Tuan Williams menjadi Taipan dengan kesuksesan dua bidang yaitu perkebunan anggurnya dan investasinya.
"Jual saham kalian pada kami. Maka perusahaan kalian tidak akan terguncang terlalu lama!"
Marco dan Aldric tercengang, menjual saham mereka?
Itu artinya mereka akan kehilangan perusahaan yang dibangun dan dikembangkan secara turun-menurun?
"Mustahil!!"ucap Marco dengan membentak dan memukul meja.
Orang kepercayaan Tuan Williams tersenyum simpul, "keputusan ada di tangan kalian!"
"Antarkan tamu keluar!"titahnya kemudian lalu meninggalkan ruangan.
Pria itu tersenyum mendengar teriakan frustasi dan emosi Marco.
"Kalian menyinggung orang yang salah," gumamnya.
Saat sudah melangkah beberapa kali lagi, ponselnya berdering. Wajahnya berubah serius. "Halo, Nona," jawabnya kemudian.
*
*
*
Ditariknya saham mayoritas di Nero Group menjadi sebuah pertanyaan besar di pasar saham dan kalangan pebisnis baik di negeri Paman Sam sendiri hingga menyebar ke benua Eropa.
Nero Group berada dalam masalah besar. Kehilangan investasi dalam jumlah besar membuat saham mereka turun dratis.
Walaupun operasional perusahaan aman, investor masih ragu untuk mengambil bagian mengisi jumlah saham yang kosong.
Sekembalinya dari kediaman Tuan Williams, Nero Group segera melakukan rapat darurat lagi.
Surya juga sudah mendengar kabar jatuhnya saham Nero Group di pasar saham. Surya merasa terkejut.
Perusahaan sebesar Nero Group bisa jatuh tanpa disangka-sangka. Dan ahli waris Tuan Williams ini memang berani. Ia mengambil tindakan yang menggemparkan.
Terlintas dalam benak Surya, apa alasannya?
Dan siapa sebenarnya sosok ahli waris yang diketahui adalah seorang wanita?
Betapa beraninya!
Namun, tidakkan itu tidak bisa untuk tidak membuat Surya tersenyum lebar. Segera ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum, Pa." Rupanya Surya menghubungi Bella.
"Waalaikumsalam, Bel. Bagaimana? Sudah mendengarnya?"balas Surya.
"Hm … sudah. Ku rasa mereka tengah kelimpungan sekarang," sahut Bella dengan nada yang tampak puas.
"Bukankah lebih mudah jika sudah seperti itu?"tanya Surya dengan tersenyum, menatap guratan senja di negara dengan icon menara eiffel itu.
"Ya, itu seperti karma untuk mereka!"ucap Bella.
*
*
*
Di tempatnya, Bella mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dengan tersenyum simpul menatap garis berwarna merah yang stuck di titik terendah yang terpampang jelas di layar laptopnya.
Ken yang melihat suasana hati Bella sangat bagus hari ini langsung mendekati sang istri dan melihat apa yang membuat Bella tersenyum seperti itu.
Ken berdiri di samping Bella. Ia mengeryit melihat sebuah grafik yang memiliki dua garis, merah dan biru dengan posisi garis merah nyaris terhimpit dengan garis dasar.
"Saham perusahaaan mana yang anjlok?"tanya Ken.
"Nero Group," jawab Bella dengan menyodorkan ponselnya pada Ken.
Ken segera membaca artikel bisnis dalam bahasa inggris tersebut.
"Apa ini yang namanya menang sebelum bertindak?"tanya Ken dengan mengulas senyum. Bella mengendikkan bahunya.
"But … mungkin ini baru permulaan," jawab Bella.
"Tapi, bagaimana bisa perusahaan sebesar itu, investor terbesarnya menarik saham mayoritas padahal Nero Group adalah perusahaan yang menjanjikan?"heran Ken.
"Mungkin mereka salah menyinggung orang," jawab Bella seadanya.
"Maksudmu menyinggung salah satu keluarga ahli waris?" Bella mengangguk pelan.
"Aku penasaran siapa sebenarnya ahli waris Tuan Williams yang tidak pernah menunjukkan dirinya," ucap Ken dengan wajah seakan menerawang.
"Tidak menunjukkan diri bukan berarti tidak memiliki taring. Anggap saja itu karma untuk mereka. Hah sudahlah, untuk apa memikirkan hal yang bukan urusan kita? Lebih baik kau mempelajari tanggung jawabmu sebagai kepala proyek pembangunan. Apa kau kira dengan begadang semalaman suntuk membuatmu langsung khatam?"suruh Bella.
Ken menggumam dan melakukan apa yang Bella suruh.
*
*
*
"Zura," panggil Anggara lembut pada istrinya yang tengah melihat keluar jendela kamar, menatap taman bunga kediaman Utomo.
"Hm?" Azzura menoleh pada suaminya.
"Ada apa, Aga?"tanya Azzura dengan nada lembut dan polosnya.
"Bisa kita bicara," tanya Anggara dengan sedikit ragu, "di sini …," lanjut Anggara dengan duduk di tepi ranjang dan menepuk ranjang di sisinya.
Azzura bergegas dan duduk di samping Anggara.
"Mau bicara apa, Aga?"tanya Azzura dengan raut wajah penasaran.
"Zura kamu tahu kan kalau Mama, Papa, dan Kakak aku sudah pergi?"tanya Anggara dengan wajah sendunya.
"Mereka tidak pergi, Aga. Mama Zura mengatakan bahwa mereka menjadi bintang di langit. Mereka tetap di sisi kita, di dalam sini," ujar Azzura dengan mengulurkan jangan menyentuh dada Anggara.
Anggara menunduk melihat telapak tangan Azzura yang mengusap dadanya. Azzura mengatakan bahwa mereka ada di dalam hati. Selama kita mengingatnya mereka tidak akan pernah hilang.
"Ya aku tahu itu, Zura."
Anggara menatap dalam wajah istrinya, memetanya seakan mencari sesuatu.
"Angkasa sendirian di rumah ini jika kita pulang. Sebagai Kakak aku tidak tega dan tidak bisa meninggalkan adikku sendirian dalam kondisi seperti itu. Walaupun ada orang lain di rumah ini, mereka hanyalah pekerja …."
"Jadi, Aga mau tinggal di sini dan meninggalkan Zura?"sela Azzura dengan mimik wajah sedih.
Anggara langsung menggeleng.
"Mengapa tidak Angkasa saja yang tinggal di rumah Zura?"tanya Azzura.
Anggara kembali menggeleng.
"Bukan begitu maksudku, Zura. Aku tidak ingin meninggalkanmu ataupun adikku. Sekarang aku adalah kepala keluarga Utomo yang memang seharusnya tinggal di rumah ini. Zura sebagai istri tentu haruslah ikut dengan suami. Tapi, apa Zura bersedia untuk itu? Meninggalkan Mama dan Papa Zura dan tinggal di sini?"jelas Anggara dengan hati-hati.
Semakin lama satu atap dengan Azzura, dan mengingat akan ucapan Bella, membuat Anggara menyadari bahwa Azzura tidak seburuk yang dibicarakan.
"Hmm … Mama dan Papa Zura bisa tinggal di sini juga, kan?"
"Jika mereka bersedia, pintu rumah ini terbuka lebar untuk itu," jawab Anggara dengan mengangguk.
"Kalau begitu Zura mau bilang dulu sama Mama Papa," ucap Azzura, berdiri kemudian keluar dari kamar.
Anggara menghela nafas pelan. Ia kemudian berdiri dan melangkah mendekati jendela.
Taman tidak ada yang berubah, tetap seperti sebelumnya. Begitu juga dengan kediaman ini. Tata letaknya tidak ada yang berubah. Yang berubah adalah penghuninya.
Penanam aneka bunga di taman, pemilik puluhan bunga anggrek itu sudah pergi, meninggalkan anggreknya yang bermekaran. Sosok yang sering mengambil bunga untuk dijadikan hiasan di vas juga telah pergi.
Sosok yang sering menikmati pagi dan sore ditemani secangkir kopi juga ikut menyusul pergi.
Meninggalkan dua anak yang berusia di bawah dua puluh tahun dengan tanggung jawab yang sangat besar.
Anggara kembali menghela nafasnya. Sebelumnya ia dan Angkasa sudah menjabat sebagai wakil Presdir membantu Bayu karena kelak merekalah yang akan menggantikan Bayu.
Waktu itu datang lebih cepat dari dugaan mereka. Mereka dituntut untuk siap sedia di saat mereka belum siap untuk hal itu.
Nanti siang Anggara akan diangkat menjadi seorang Presdir dan Angkasa tetap pada jabatan sebelumnya. Mereka harus pandai membagi waktu antara kuliah dan kerja.
Namun, biar begitu bukan berarti mereka dilepaskan tanpa pengawasan. Paman Wahyu tanya sudah menganggap Anggara dan Angkasa seperti anak kandungnya sendiri karena ia pun sebatang kara, akan menjadi pembimbing untuk keduanya karena jabatan Paman Wahyu di perusahaan adalah sebagai sekretaris Bayu.