
Ya biar saja dia menungguku. Tanpaku mana bisa Kak Billa melewati gerbang perumahan.
Ken tersenyum miring. Ia sangat yakin biarpun Bella tiba lebih dulu, tetap saja tidak bisa masuk. Dan dengan liciknya ia sengaja memperlambat laju mobilnya. Mengemudi santai sembari mendengarkan lagu favoritnya. Ya anggap saja bentuk balas dendam.
Akan tetapi, itu hanyalah keyakinannya semata karena kini Bella sudah tiba di kediaman Mahendra. Bella bukan wanita polos, apalagi bodoh, ia tahu betul, perumahan di mana mansion kediaman Mahendra berada adalah perumahan elit dengan segenap penjagaan ketat. Untuk masuk ke wilayah perubahan dibutuhkan kartu akses.
Sebelum pergi dari hotel tadi pagi, Bella meminta kartu akses tersebut dari Surya. Jadi ia dapat dengan mudah melewati gerbang dan masuk ke kediaman Mahendra. Motornya dibawa oleh pelayan ke garasi sementara dirinya diajak pelayan memasuki rumah.
Mansion dengan tiga lantai, bergaya klasik modern. Lampu yang menerangi setiap sudut membuat mansion tampak bersinar. Pilar kokoh dengan pelayan berjajar rapi. Bella menyerahkan helm dan jaketnya para pelayan.
Bella memasuki ruang tamu, disambut hanya oleh Surya, Rahayu, Silvia, dan Anjani. Bella tak heran jika Brian tidak ada, ia tahu bahwa Brian yang perfeksionis itu pasti sudah tidur, juga El. Tapi, Bella menyipitkan mata melihat Silvia, bukankah Silvia tak pernah pisah dengan Brian?
"Assalamualaikum," sapa Bella, menyingkirkan rasa herannya. Senyumnya mengembang, lanjut menyalami Surya dan Rahayu.
"Waalaikumsalam." Jawaban serentak yang sangat bersahabat.
"Mana Ken, Bel? Kok nggak bareng?"tanya Rahayu heran.
"Masih di jalan kali, Ma," jawab Bella yang membuat Surya langsung paham.
"Kamu bawa motor ngebut?" Sebelum Surya bertanya, Anjani sudah lebih dulu mewakilinya. Surya menatap Anjani datar.
"Ya sesuai kondisi jalan. Kali saja terjebak macet atau dia Ken sengaja lama-lama," jawab Bella, terkesan acuh.
"Aduh macet-macet, memang tak bisa dihindari tapi untuk apa Ken sengaja lama-lama?" Rahayu tampak bingung, begitu juga dengan Silvia dan Anjani. Hanya Surya yang tertawa, disambut oleh senyum tipis Bella. Rahayu menatap Surya meminta jawaban.
"Ya apalagi kalau bukan balas dendam, Sayang. Anakmu itu kan angkuh dan pendendam, pasti mau balas dendam balik ke Abel. Ken pasti mengira Bella tidak bisa masuk dan jalan satu-satunya adalah menunggunya. Sayangnya Papa sudah kasih kartu akses untuk Abel. Jadi anak kita itu sedang menikmati kekeliruannya," jelas Surya. Rahayu langsung mengangguk paham. Ia tersenyum lebar tak lama tertawa.
"Papa sama Bunda kok malah tertawa? Ada yang lucu ya?" Silvia bertanya penuh penasaran. Sementara Anjani sudah mengerti karena tadi Surya menanyakan lokasi detail apartemen Bella.
"Hahaha tentu saja, Via. Adik iparmu itu tertipu oleh pemikirannya sendiri. Lihat saja nanti wajahnya saat pulang," jelas Rahayu.
"Oo begitu." Bella menatap Silvia intens.
Silvia ini memang polos atau bos*h? Kemarin dan tadi apakah sikapnya memang dibuat-buat? Apakah memang benar penampilan anggun belum tentu menunjukkan jati diri?
Entahlah, Bella memilih untuk tidak ambil pusing toh nantinya ia akan tahu juga.
"Eh adik ipar Abel, apa kau sudah makan?" Silvia bertanya dengan nada antusias.
Bella menggeleng.
"Astaga! Jam segini belum makan? Ayo-ayo ke meja makan." Silvia berseru cemas dan langsung menarik Bella menuju meja makan. Bella yang tak siap langsung tertarik.
Surya, Rahayu, dan Anjani menatap hal itu dengan wajah terheran.
Silvia Via itu kan biasanya diam-diam baik. Ini kok malah kayak mau nempel gurita sama Abel? Ahh aku nggak rela Abel dikuasai dia! Abel i'm coming!
Anjani dengan wajah garangnya, melangkah tegas menuju dapur.
"Ada apa dengan Anjani?"
Surya mengendikkan bahunya tak tahu.
"Sayang, aku lapar," ujar Surya dengan nada manja.
"Lapar? Perasaan baru makan deh, Mas. Kamu betul-betul lapar?"
Surya mengangguk dengan mata memelas.
"Ya sudah, ayo aku temani Mas makan," ujar Rahayu penuh perhatian.
Surya tersenyum penuh arti dan dengan segera menggendong Rahayu. Rahayu memekik tertahan dan refleks mengalungkan tangannya pada leher Surya.
"Mas? Turunin! Malu sama anak-anak!"
"Haha memangnya siapa yang mau makan di meja makan?"sahut Surya, mulai melangkahkan kaki menuju tangga.
"Loh kan Mas lapar?" Surya tertawa renyah mendengar kepolosan Rahayu.
"Mas maunya makan kamu, Sayang!"
"Mas!!!" Wajah Rahayu bersemu merah. Terlebih melihat pelayan yang tersenyum tertahan melihat mereka. Alhasil Rahayu hanya bisa menyembunyikan wajah di dada bidang Surya.
"Mas mesum!!"sungut Rahayu pelan.
*
*
*
Ken terheran melihat pintu masuk area perumahan sepi, tidak ada Bella di sana, hanya ada penjaga gerbang yang memang selalu berada di posnya.
Ken lantas bertanya pada penjaga gerbang.
"Permisi, Pak."
"Ah iya Den Ken, ada yang bisa saya bantu?"
"Tadi ada nggak perempuan berhijab naik motor warna hitam nunggu di sini?"tanya Ken.
Penjaga itu tampak mengingat sesaat. Tak lama ia berseru ingat, "oh Non Nabilla ya? Iya benar, Den. Nona Nabilla sudah masuk, Den."
"Lumayan, Den. Hampir satu jam-an gitu."
"Oo terima kasih ya, Pak."
"Sama-sama, Den."
Ken menutup kaca mobil dan melajukan mobilnya memasuki area perumahan menuju mansion keluarga Mahendra.
Sial! Aku menipu diriku sendiri!
Ken lagi-lagi menggerutu, ia keluar dengan wajah angkuh, memasuki mansion. Barang-barang Bella tentu saja pelayan yang membereskannya.
Ken mengedarkan pandang saat tiba di ruang tamu. Tidak ada siapapun kecuali pelayan yang setia menanti perintahnya.
"Mana yang lain?"tanya Ken datar.
"Tuan Surya dan Nyonya Rahayu sudah ke kamar. Tuan Muda Brian juga. Sementara Tuan Muda El belum pulang. Nona Silvia, Nona Bella, dan Nona Anjani berada di ruang makan, Tuan Muda Ken."
Ken tidak heran dengan orangtua dan kedua kakaknya, tapi dengan kakak iparnya? Tumben?
Ken yang penasaran melangkah menuju meja makan. Belum sampai, ia mendengar tawa yang begitu tengah, ceria, dan bahagia. Ken meneruskan langkahnya dan berhenti tak jauh dari meja makan. Ia tertegun sejenak, "Kak Via bisa tertawa?"gumamnya tak percaya.
Ketiga wanita itu, tertawa tanpa beban, bercanda yang terdengar begitu akrab. Ken kembali tertegun melihat tawa lepas Bella. Satu kata, "cantik!"
"Tuan Muda Ken!" Pelayan yang berada di ruang makan menyadari kehadiran Ken. Sapaan itu sontak membuat tawa ketiga wanita itu berhenti dan berganti menoleh ke arah Ken yang juga mengubah ekspresi wajahnya.
"Suamimu sudah pulang, tuh. Sepertinya ia nggak masalah karena pemikirannya salah," bisik Anjani. Bella menarik senyum miring, menatap datar Ken yang kini menatapnya dengan penuh rasa kesal juga kekalahan.
"Adik ipar … apa kamu sudah makan?" Dengan nada yang hati-hati Silvia bertanya pada Ken. Ken hanya memberikan tatapan tajamnya dan seketika Silvia menunduk.
Ken kemudian berbalik dan melangkah menjauh.
"Suamimu sepertinya malu karena kekalahannya," bisik Anjani lagi.
"Ya bocah angkuh itu memang harus sering diberi pelajaran," sahut Bella, santai.
"Wah Abel, kau berani sekali. Apa kau tahu, di rumah ini Ken itu anak emas. Tidak ada yang berani melarang, menegur apalagi mencari masalah dengannya. Suamiku saja tak berani bermasalah dengannya," tutur Silvia.
"Wow daebak! Tapi ku dengar jurusan kuliahnya itu pendidikan, apa ia memang tak berniat masuk perusahaan?"tanya Anjani penasaran.
"Ya … makanya itu awalnya Mas Brian nggak khawatir sama Ken. Tapi setelah ucapan Papa kemarin, Mas Brian sering uring-uringan, belum lagi Papa yang nggak ngasih penjelasan. Mas Brian lebih mudah emosi," jelas Silvia yang tanpa sengaja membocorkan reaksi Brian atas ucapan Surya tempo hari yang menyatakan bahwa Bella adalah wakil Presdir selanjutnya.
Wah belum resmi masuk sudah dapat musuh. Luar biasa kau, Bella!
Bella mengulas senyum tipis.
"Wah Bella, sepertinya kau sudah dapat tantangan, Bel!"bisik Anjani.
"Ya sudah tertebak dari awal, Jani!"balas Anjani, berbisik pula.
Hoam.
"Abel, Jani, aku sudah mengantuk. Aku ke kamar dulu ya," ujar Silvia dengan mata ngantuknya. Bella dan Anjani mengangguk, Silvia berdiri dan melangkah pergi.
"Eh Jani kapan sidangmu?"
"Minggu depan, Bel. Besok kita harus ke kediaman lamaku meminta hakku," jawab Anjani, tampak tegang.
"Ya, sudah lama aku tidak bertarung."
"Bertarung? Memangnya kamu mau MMA?"
"Haha maksudku berdebat. Bertarung di depan bisnis dan hukum, Anjani. Tenang saja, aku pasti bisa mendapatkan semua hakmu!"
Anjani mengangguk. "Terima kasih, Abel."
"Ya. Ah aku sudah ngantuk. Jani aku ke kamar dulu, ya," pamit Bella.
"Kamu tahu kamarnya?"
"Tuh ada pelayan."
"Ah lupa. Hehehe."
Anjani terkekeh atau kelupaannya sendiri. Bella ikut terkekeh pelan, kemudian menuju kamar Ken dengan ditemani pelayan.
Bella membuka kamar Ken. Nuansa biru didominasi putih menjadi warna kamar. Ranjang, sofa, televisi, ruang ganti, dan segala fasiltas kamar mewah anak konglomerat ada di dalam kamar Ken.
Bella mendapati kopernya di dekat meja rias. Dan Ken yang sudah berbaring di ranjang. Bella menghela nafas pelan, menuju salah satu kopernya dan mengambil pakaian ganti juga alat mandinya.
"Dasar kebo!"gerutu Bella pelan kemudian melangkah masuk ke kamar mandi. Ken membuka matanya sedikit, "kebonya minta dibujuk," gumam Ken, lanjut tidur dengan perasaan aneh yang mulai menyelusup masuk ke hatinya.
Ya kumpulkan tenaga karena besok harus bertarung hebat!
Selesai mandi, Bella berbaring di samping Ken dan perlahan mulai memejamkan mata. Bella membeku saat hampir terlelap ada tangan yang memeluk dirinya, siapa lagi kalau bukan Ken.
Kak Billa mirip Cia, sangat hangat.
Anak angkuh, dasar bocah! Bella hanya menggerutu tanpa berniat menyingkirkan tangan Ken dari perutnya.