This Is Our Love

This Is Our Love
Teresa



"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Bella yang tengah sibuk bekerja di atas ranjang sakitnya. Bella mendongak, mengalihkan tatapan ke arah pintu. Tadi itu suara Rahayu dan benar, Rahayu masuk dengan membawa kotak bekal. 


"Abel kamu … kok kerja sih? Ken mana? Kamu sendirian?"tanya Rahayu dengan menatap Bella aneh. Raut wajah cemas mendominasi wajahnya. Ia meletakkan kotak bekal di atas nakas dan duduk di kursi, menanti jawaban Abel.


Bella melirik jarum infus yang masih berada di pergelangan tangannya, juga selang oksigen yang masih ia gunakan. Bella tersenyum tipis.


"Iya, Ma. Abel harus segera menyelesaikan target Abel di Diamond Corp jadi waktu nanti Abel masuk ke Mahendra Group, Abel sudah nggak punya beban lagi di sana. Lagipula Abel sudah merasa lebih baik, jadi kerja juga bukan masalah besar. Kan Abel sakitnya alergi bukan penyakit parah," jelas Bella, menatap singkat Rahayu kemudian kembali fokus pada laptopnya.


 Rahayu menghela nafas, ia tak merasa tersinggung dengan sikap Bella. Rahayu paham jika seseorang sudah fokus pada pekerjaannya, apapun yang ada di sampingnya kurang diperhatikan.


"Mama paham, Abel. Tapi setidaknya istirahatlah lebih lama lagi. Kamu ini tergolong baru sadar loh. Memangnya Ken tidak melarang kamu?"ujar Rahayu.


Bella menghentikan tarian jarinya pada keyboard laptop, menoleh sekilas ke arah nakas kemudian menutup laptopnya. Rahayu membantu Bella meletakkan laptop dan berkas yang berada di samping Bella ke ujung ranjang.


"Alright, Ma. Abel berhenti sekarang. Iya tadi Ken dan Anjani melarang Abel bekerja tapi larangan itu hanya berlaku sampai jam makan siang, selebihnya it"s okay," ungkap Bella.


"Anjani? Hm lalu Ken? Ke kampus?"


Melihat Bella yang diam langsung membuat Rahayu geram. "Anak itu! Sudah tahu istrinya sakit bukannya dijagain malah ditinggal bimbingan. Ckckck memangnya nggak bisa izin dulu apa? Awas saja kalau Ken pulang. Mama yang akan ngasih pelajaran sama anak tak bertanggung jawab itu!"


Bella tersenyum. "No, Ma. Tadi Ken sudah izin sama dosennya tapi Bella yang tetap nyuruh Ken berangkat. Bella nggak mau hanya karena sakit alergi Bella, semua kena imbasnya. Dan Bella sudah merasa fit tapi dokternya saja yang bilang Bella harus istirahat total."


"Loh-loh kok malah menyalahkan dokter?"heran Rahayu.


"Bukan menyalahkan dokter, Ma. Hanya kesal saja," jawab Bella, terkekeh. 


Rahayu ikut terkekeh, "Ah ya Mama bawakan makanan dari rumah. Mama khawatir makanan rumah sakit tak sesuai dengan seleramu." Rahayu meraih kotak bekal dan membuka tutupnya. Harum khas bubur ayam langsung menyeruak memenuhi indera penciuman. Perut Bella meronta minta diisi.


"Ya namanya juga makanan orang sakit, Ma. Kebanyakan kan nggak n*fsu makan, jadi makanan enak dan tidak enak sama saja di mulut. Tapi kayaknya Ken suka deh, Ma."


"Ken? Bocah tengik itu ikut makan jatah makanmu, Bel?" Mata Rahayu membulat.


"Ups! Hehehe." Bella tertawa malu.


"Sepiring berdua, gitu?"


Bella menyengir sebagai jawaban. Ia tersipu. Rahayu menggeleng pelan. Rahayu yakin sebentar lagi pasti matanya akan sering melihat kebucinan Ken pada Bella. 


Pesona Bella memang luar biasa! Rahayu tak hentinya berdecak kagum pada menantunya itu. 


Bella merasa canggung ditatap intens oleh Rahayu. Ia makan sesuap demi sesuap dengan gerakan yang lambat. Perasaan Bella tidak nyaman saat Rahayu membuka bibirnya. "Mama sudah nggak sabar menimang cucu. Semoga kamu cepat hamil ya, Bel."


Uhuk 


Uhuk 


Bella tersedak. Benarkan! Rahayu langsung mengambil air minum untuk Bella.


"Cucu?"ulang Bella.


"Yups, cucu." Wajah Rahayu berseri. Ia yakin selama menikah anak dan menantunya ini pasti belum pernah membuat adonan. Tapi ke depannya, dengan pengakuan cinta dari kedua, pasti membuat adonan hanya tinggal menunggu waktu. 


"Okay. Bella dan Ken akan berusaha untuk memberikan Mama dan Papa cucu. Lagipula aku sudah pernah berjanji pada Kak El."


Wajah Rahayu semakin berseri. Bella juga tidak bisa menghindari pertanyaan dari Rahayu.


"Tapi Ma, boleh Bella tanyakan sesuatu?"


"Of course dong. Apa itu?"


"Kak Brian dan Kak Via kan sudah menikah dua tahunan, kok belum punya momongan juga? Apa karena kak Brian terlalu sibuk atau karena belum saatnya atau apa?"


Pertanyaan Bella memang sering bersarang di pikiran Rahayu. Tapi ia enggan berburuk sangka pada keduanya. Bukan rezeki, bisa saja. Bahkan ada yang sudah lebih lama menikah belum juga dikarunia anak. Bahkan sampai menutup mata. 


"Hm Mama nggak mau berburuk sangka, Bel. Tapi Mama juga penasaran, bagaimana jika nanti kamu, Ken, Brian, dan Via cek kesehatan, cek kesuburan, bagaimana?"saran Rahayu. 


"Boleh," jawab Bella tanpa ragu. 


Rahayu mengangguk, "kalau begitu setelah kamu pulih total dan Papa mengizinkan, Mama akan atur waktunya."


Bella tersenyum, ia kembali meminta Rahayu untuk mendekatkan laptop dan semua berkas yang disingkirkan tadi. Bubur ayamnya sudah ludes masuk ke perut. 


"Ma, Abel tinggal kerja dulu, ya. Mama nggak papa kan?"


"Ya sudah. Mama tungguin kamu di sini sampai Ken datang. Santai saja, Bel. Mama ngerti kok," jawab Rahayu. 


Dan dalam beberapa saat kemudian Bella tenggelam dalam pekerjaannya. 


Rahayu berpindah tempat duduk di sofa, ia mengambil ponsel dan memotret Bella yang tengah fokus bekerja. 


Satu jam berlalu, Ken belum juga kembali dan Rahayu duduk cantik sembari membaca majalah. Sesekali ia melemparkan pertanyaan pada Bella yang ditanggapi oleh Bella tanpa menatap Rahayu.


"Abel kapan jadwal kemoterapi adikmu?"tanya Rahayu.


"Setiap hari kamis, Ma."


"Kamis? Berarti besok?" Bella melirik jam, hari, tanggal, dan tahun yang berada di sudut bawah layar. 


"Benar."


"Jadi kamu harus menjemputnya besok, bukan?"


"Iya." Nada bicara yang yakin tanpa keraguan. Lain halnya pada Rahayu yang menunjukkan mimik cemas.


"Yakin? Kamu belum pulih total loh."


"Besok Abel sudah pulih total, Ma." Yang tahu kondisi tubuhnya sehat atau belum kan Bella. Rahayu menghela nafas. Lupa jika menantunya ini punya penyakit harus bertanggung jawab dalam kondisi apapun.


"Kalau Mama yang gantikan bagaimana?"tawar Rahayu.


"Belum bisa, Ma. Abel belum memberitahu Nesya perihal Abel yang sudah menikah. Takutnya nanti Nesya shock dan tidak terkontrol." Lagi-lagi jawaban tanpa memandang lawan bicaranya. Tidak sopan? Masih ditanggapi bukan? 


Bella menolehkan wajahnya ke arah nakas di mana ponselnya berada saat mendengar dering nada panggilan. 


"Teresa?"gumam Bella.


Untung panggilan biasa.


Jika video call bukannya akan menjadi masalah? Ya dalam artian pasti agar terjadi sedikit kekacauan di sana nanti. 


"Morning, my Abel."


"Morning too, Resa. Was ist los?"tanya Bella, tersenyum lembut karena bisa berbicara dengan Teresa. Sudah cukup lama mereka tidak berkomunikasi. Kesibukan dan perbedaan waktu menjadi alasan utama.


"Gibt es nicht. Wie geht es Ihnen? Ich habe von Mr. Louis gehört, dass Sie als Sekretär des Präsidenten arbeiten. Ist das wahr?"


(Tidak ada. Bagaimana kabarmu? Ku dengar dari Tuan Louis kau bekerja sebagai sekretaris Presdir. Benarkah itu?"


Rahayu hanya bisa menyimak tapi tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh dua orang itu lewat sambungan telepon. 


"Rechts. Hm, Sie haben sicher einen guten Grund, mich so früh anzurufen. Was ist los, Resa? Waren Sie nicht mit Ihrer Ausschreibung beschäftigt?"


(Benar. Hm aku yakin kau punya alasan kuat menelponku sepagi ini. Ada apa Resa? Apa kau sudah tidak sibuk dengan tendermu?)


"Um 10 Uhr legen wir die Angebotsdatei vor. Unsere Bestellung steht an letzter Stelle. Beten Sie, dass wir gewinnen, Abel. Damit wir uns bald treffen können. Ich kann es kaum erwarten!"jawab Teresa dengan antusias.


(Jam 10 nanti kami menyerahkan berkas penawaran. Urutan kami berada di posisi terakhir. Doakan kami menang ya, Abel. Agar kita bisa segera bertemu. Aku sudah tak sabar menunggunya!)


"Letzte Position? Wieso den?"tanya Bella heran.


(Posisi terakhir? Mengapa?)


"Mr. Louis hat danach gefragt. Vielleicht möchten Sie eine neue Atmosphäre finden," jawab Teresa.


(Tuan Louis yang memintanya. Mungkin mau cari suasana baru.)


"Hahaha." Bella tertawa mendengar jawaban Teresa. Suasana baru? Bisa saja. Atau mungkin sengaja untuk melihat penawaran milik perusahaan lain dulu. 


Setelah berbincang cukup lama, panggilan diakhiri.


"Temanmu di Jerman, Bel?"tanya Rahayu menebak.


"Sahabatku, Ma."


"Oh pantas saja kamu senang sekali mengobrol dengannya."


"Hahaha tidak juga kok, Ma. Hanya membahas pekerjaan," jawab Bella.


"Huh dasar kamu. Nggak bisa nggak bahas pekerjaan!"gerutu Rahayu yang disambut tawa renyah Bella.


*


*


*


"Ayo semangat, Resa!" 


Teresa menyemangati dirinya sendiri saat keluar dari rumahnya. Teresa sedikit terkejut saat melihat mobil hitam dengan merk mobil terkemuka berada di depan gerbang rumahnya. 


"Tuan Louis?" Teresa mengenali mobil itu dan langsung mengetuk kaca mobil. Kaca mobil diturunkan. 


"Naiklah!" Pria berkacamata hitam itu memberi perintah tanpa menatap Teresa.


"Baik."


Terasa patuh. Ia pernah beberapa kali diantar pulang oleh Louis, tapi belum pernah dijemput. Rasa senang yang dibatasi oleh kesadaran diri membuat Teresa hanya diam menatap jalanan. Tidak ada pembicaraan dalam waktu yang cukup lama.


"Kau sudah memeriksa semuanya kan?" Setelah hampir setengah perjalanan, barulah Louis buka suara.


"Sudah, Tuan! Saya pastikan tidak ada kesalahan dan saya yakin kita pasti menang!"


"Bagus!" Suara datar, tanpa menatap lawan bicara. 


Aneh, mengapa rasanya ada yang aneh dengan hatiku, ya?


Terasa mencuri pandang terhadap Louis. Pria itu tampak semakin mempesona saat mengemudi. 


Deg!


Teresa kaget sendiri saat Louis menoleh padanya.


"Kenapa kau menatapku?"tanya Louis datar.


"Hehehe Anda tampan, Tuan."


Ck jawaban konyol apa itu, Resa? Bukankah seluruh dunia tahu bahwa seorang Louis Kalendra memang tampan?! Dengan senyum yang terkesan canggung, Resa merutuki dirinya sendiri di dalam hati.


Louis mengernyit, "aneh," gumam Louis.


"Oh iya Tuan, bagaimana jika kita tidak menenangkan tender nanti? Kemampuan saya tidak seperti Abel."


Walaupun yakin akan menang, tapi rasa ragu tetap ada di hati Resa.


"Kemenangan itu adalah bonus untuk kerja keras. Asalkan sudah memberikan yang terbaik, kemenangan itu selalu ada. Jangan berkecil hati hanya karena merasa kurang mampu. Kemampuan didapat dari pengalaman. Kedepannya masih banyak tender lagi, jika satu tidak menang, pasti sembilan lagi akan menang."


Hati Teresa menghangat mendengar kalimat menenangkan dari Louis.


"Tapi Tuan, jika tidak menang bukankah tidak jadi darmawisata?"cicit Teresa. Motivasi utamanya untuk bisa memenangkan tender ini adalah bertemu dengan Bella.


"Pasti menang!"jawab Louis dengan penuh keyakinan.