
Di ranjang rumah sakit, Bella yang sudah tak sadarkan diri lebih dari 8 jam mulai menunjukkan gelagat ia akan segera sadar. Hanya saja sepertinya Bella tengah mengalami mimpi buruk. Ia gelisah, bibir yang sedikit terbuka dan matanya masih tertutup rapat bergerak tak teratur. Nafasnya yang tadinya normal kini mulai tidak beraturan. Setetes kristal bening keluar dari pelupuk mata Bella. Bulir keringat mulai bermunculan di pelipisnya.
"Tidak … tidak mungkin. Tidak ini salahku. Ini salahku."
Bella meracau dalam kondisi yang belum sadar. Ken yang semalaman tidak beranjak dari sisi Bella terbangun mendengar racaun itu. Ken jelas bingung dan cemas dengan Ken, segera ia menepuk pelan pipi Bella agar segera sadar.
"Hei kau kenapa? Aru sadarlah. Jangan membuatku takut lagi."
AAAHHH!
"KAKEK!" Bella terbangun dengan keringat yang mengalir deras. Nafasnya terengah-engah dengan bibir yang terbuka. Tatapan Bella lurus ke depannya, pandangannya tampak kosong. Ken terlonjak kaget mendengarnya.
"Aru kau sudah sadar?" Bella tidak menggubris pertanyaan yang Ken sendiri sudah tahu jawabannya. Ken memberanikan diri untuk memeluk Bella yang tampaknya sangat tertekan dan meringkuk memeluk lutut.
"Kakek …."
"Aru tenanglah. Kakekmu sudah tenang di sana. Jangan bebankan hatimu dengan rasa bersalah," ucap Ken lembut. Ia menangkap inti dari racauan Bella tadi.
Hiks
Hiks
Hiks
"Kakek …." Bella mulai menangis, ia terisak dan kini memeluk erat Bella. Ken menepuk-nepuk pelan pundak Bella seraya membisikkan kalimat menenangkan.
Flashback on
Fobia itu terjadi saat usia Bella menginjak 10 tahun. Hari minggu bulan ke empat adalah hari yang seharusnya menjadi hari bahagia Bella karena hari itu Bella dan sang Kakek pergi ke tempat latihan menembak sebagai hadiah atas kemenangan Bella menjuarai olimpiade tingkat provinsi.
Sedari kecil Bella memang sangat dekat dengan sang kakek, melebihi nenek bahkan orang tuanya sendiri.
Mereka pergi berdua tanpa sopir. Minggu pagi mereka berkendara dengan kecepatan sedang, menikmati suasana pagi yang ramai dengan segala macam aktivitas.
Hanya saja hari ini Bella tampak lebih bersemangat dari waktu sebelum-sebelumnya. Ia meminta sang kakek agar lebih cepat mengemudinya. Ia sudah sangat tidak sabar untuk latihan menembak.
Benar ini adalah pertama kalinya ia akan latihan karena selama ini keluarganya selalu melarang dirinya. Menurut mereka usia Bella belum cukup. Untuk bisa mendapatkan izin dari keluarganya, Bella harus memenuhi syarat yang orang tua, kakek, dan neneknya.
"Iya … iya. Abel sabarlah sebentar. Kita nikmati perjalanannya. Tenanglah tempatnya juga tidak akan tutup."
"Ahh Kakek. Cepatlah sedikit aku sudah tidak sabar." Bella kecil mencembikkan bibirnya.
Kakek yang paham watak Bella tersenyum lembut, tangannya mengacak-acak rambut Bella yang kala itu belum berhijab.
Kakek juga menambah kecepatannya.
"Kakek tambah sedikit lagi. Nanti kita nggak bebagian tempat," ucap Bella.
"Hahaha Kakek sudah membooking tempat untuk kita, Abel. Tenanglah sedikit. Sebentar lagi kita akan sampai," jawab Kakek.
Kakek kembali menambah kecepatannya. Tak tega juga melihat Bella yang sudah tidak sabar. Sayangnya saat menoleh ke depan setelah melihat wajah Bella sekilas, kakek terkejut karena tahu bahwa ia menggunakan kecepatan yang cukup tinggi di persimpangan. Dari arah samping, datang truck yang tampaknya mengalami rem blong.
Kakek berusaha mengerem namun naas tak terhindarkan. Bella yang melihat truck itu terus melaju dan membesar di pelupuk matanya hanya terdiam kaku.
BRAAKK!
Tabrakan pun terjadi. Mobil yang ditumpangi Kakek dan Bella terguling puluhan meter karena terus didorong oleh truck besar itu. Mobil berhenti setelah menabrak pohon besar dan truck menabrak sebuah rumah.
Lalu lintas macet seketika. Mobil ringsek tak berbentuk dan orang-orang yang melihatnya menyakini bahwa penumpangnya tewas. Di tengah kehebohan itu, Bella yang berada dalam pelukan sang kakek yang tersenyum menatap lemah dirinya, masih menelaah apa yang terjadi. Setelah itu Bella tak sadarkan diri diikuti oleh sang kakek.
Kabar kecelakaan yang menimpa kakek dan Bella tentu saja membuat keluarga terkejut dan segera menuju rumah sakit. Tiba di rumah sakit, tangis pecah saat dokter menyampaikan bahwa nyawa kakek tidak bisa diselamatkan dan Bella kecil dalam kondisi koma.
Kesedihan mendalam dirasakan seluruh keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Semasa hidup Kakek dikenal sebagai orang yang baik dan dermawan.
Pemakaman dilangsungkan hari itu juga. Ucapan bela sungkawa terus mengalir. Keluarga juga sudah mengikhlaskan kepergian Kakek. Karena mereka percaya dan tahu bahwa naas atau takdir tak bisa dihindari.
Nenek Marissa juga sama sekali tidak pernah menyalahkan Bella. Ia tahu bahwa suaminya telah tenang di alamnya sana. Ia tidak mau membuat suaminya kecewa dengan menyalahkan Bella.
Sekarang yang menjadi harapan mereka adalah kesembuhan dan kesadaran Bella agar cepat kembali. Dua minggu setelah insiden itu, Bella sadar dan langsung berteriak histeris. Bayangan truck yang mendekat dengan cepat memenuhi ingatannya.
Bella memang tidak menderita luka fisik yang serius tapi trauma secara psikologi sangatlah serius. Bella terpuruk cukup lama. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian sang kakek. Andai, andai saja ia sedikit bersabar dan tenang pasti Kakeknya masih hidup menemani dirinya.
Keterpurukan itu berhasil diatasi oleh keluarga yang siap sedia menemani dan meyakinkan Bella bahwa ini semua adalah takdir bukan salah dirinya. Bella mulai berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian Bella sudah pulih total dan ingin ke makam sang kakek. Sayangnya saat melihat mobil, kilatan kecelakaan itu kembali menyerang dirinya. Bella berteriak histeris dan langsung lari ke kamar dan meringkuk di sudut kamar.
Setelah diperiksa oleh psikolog, Bella diduga memiliki fobia terhadap mobil karena kecelakaan itu. Sama seperti seseorang yang takut naik pesawat karena pernah mengalami turbulensi.
Keluarga berusaha keras untuk menyembuhkan fobia tersebut. Namun, pada akhirnya mereka menyerah. Mereka hanya berhasil menyembuhkan fobia Bella melihat kendaraan lebih dari roda 3 tapi tidak dengan untuk menaikinya. Keluarga sudah cukup senang dengan hal itu. Tidak apa tidak bisa naik mobil, toh mereka juga bisa naik sepeda motor.
Dan fobia itu tetap melekat sampai sekarang.
Flashback off.
"Aunty Abel!"
Bella yang baru selesai makan disuapi oleh Ken menoleh ke arah pintu. Benar itu adalah Arka dan Anjani.
"Assalamualaikum, my bestie," sapa Anjani tersenyum.
"Waalaikumsalam, Jani. Kau datang?"
"Ck tentu saja aku datang menjengukmu. Kau ini kan malaikat dalam hidupku." Anjani dengan gayanya menyingkirkan Ken dari tempat duduk. Anjani kini duduk di kursi dan Arka duduk dalam pangkuannya.
Ken berdecak lidah. Ia diabaikan oleh dua sahabat itu. Astaga! Ken yang dongkol dengan Anjani duduk dengan wajah masam di sofa.
"Hahaha sorry-sorry, bukan itu maksudku. Hem siapa yang memberitahumu?"
"El."
"El? Wah-wah sepertinya hubunganmu dengannya semakin maju ya, Jani?"goda Bella. Wajah Anjani langsung memerah.
"Ah tidak-tidak. Kami hanya sekadar teman. Ya teman. Lagipula aku belum ingin menjalin hubungan asmara dengan pria manapun. Hm ku rasa aku juga tidak akan menikah lagi," ungkap Anjani. Bella tersenyum.
"Ya aku juga sedikit tidak rela jika kau dengannya."
"Why?" Anjani penasaran.
"Karena dia masih punya banyak wanita di luar sana. Tapi jika ke depannya ia menjadi lebih baik lagi, mungkin aku akan merestui kalian," jelas Bella. Anjani terkesiap.
"Wow kau tidak konsisten, Abel!"
"Konsisten juga melihat situasi bukan? Jika ia memang serius dan menunjukkan perubahannya, it's okay. No problem. Tapi tetap saja yang paling utama adalah restu dari Aka, benarkan Aka?"
Aka mengangguk. "Aka nggak mau punya Papa lagi. Cuma Mama sama Aunty Abel, juga Oma Rahayu," sahut Arka.
"Jadi jika El memang benar-benar serius padamu, ia juga harus bisa mengambil hati Aka. Harus menghilangkan kesan buruk seorang ayah yang melekat dalam ingatan Aka," timpal Bella. Anjani tersenyum, ia mengangguk mengerti.
"Eh iya bagaimana bisa kau makan daging sapi? Apa karena sudah puluhan tahun tidak pernah memakannya, kau tergoda untuk menyantapnya barang sesuap? Lihatlah akibatnya, kau harus masuk rumah sakit dan lihat selang oksigen itu, membuat mataku sakit saja," cerca Anjani, meluapkan rasa kesal dan khawatirnya.
"Hehehe … aku memang lupa, Jani. Sudah jangan permasalahkan lagi hal itu. Yang penting sekarang aku sudah baikkan. Gula darahku juga mulai stabil. Ah ya Ken mana ranselku?" Bella beralih menatap Ken yang masih masam di sofa. Wajah Ken langsung berubah menjadi lembut.
"Itu," ucap Ken menunjuk ransel di sebelahnya.
"Apa yang ingin kau lakukan? Jangan katakan?"
"Ya aku harus menyelesaian tanggung jawabku. Lagipula laptop dan berkasnya ada di ransel," sela Bella. Anjani langsung menujukkan wajah melarang. Begitu juga dengan Ken.
"Aru kau harus istirahat total! Ingat kata dokter tadi!"larang Ken. Bella menggeleng.
"Ayolah aku juga istirahat di sini. Aku tidak akan turun dari ranjang. Hanya menyelesaikan apa yang belum selesai."
"No, Abel. Aka larang Aunty mu untuk bekerja!"
"Aunty istirahat saja dulu. Pekerjaan Aunty biar Mama kerjakan," ucap Arka yang membuat Anjani tersedak.
"Nggak Mama juga dong, Aka."
"Jadi Aka gitu, Ma?"
"Ya …."
"Sudah-sudah. Jangan ribut lagi! Aku mau bekerja dan aku harus bekerja. Lagipula di sini rumah sakit. Apa kalian pernah berpikir saat aku sakit sendirian di luar negeri sana?"
"Ah Aru berhentilah keras kepala. Istirahat total saja. Tinggalkan saja dulu pekerjaannmu!"tegas Ken.
Bella tetap menggeleng, menunjukkan wajah penuh harapnya pada Ken.
Ken tidak tega. Bella si pecinta kerja disuruh libur. "Baiklah-baiklah. Tapi selesai makan siang, agar kondisimu lebih stabil lagi!"jawab Ken. Bella mengembangkan senyum.
"Ya sudah kalau begitu, Abel, bocah tengil aku ke kantor dulu ya," pamit Anjani.
"Bocah tengil?" Mata Ken membulat.
"Yap, bocah tengil, bocah angkuh, itulah kau!" Anjani menatap Ken tanpa rasa takut.
"Kau! Kau berani mengejekku?!"tunjuk Ken kesal.
"Tentu. Kenapa tidak berani?"
"Ahh jangan panggil aku dengan sebutan itu!" Ken hanya bisa menunjuk Anjani yang tersenyum penuh kemenangan.
"Lekas sana berangkat!"relai Bella dengan sedikit mendorong Anjani.
"Okay. Assalamualaikum, Abel, bocah angkuh!"
"Waalaikumsalam. Hati-hati."
"Dah Aunty Abel."
"Menyebalkan! Sahabatmu itu sangat menyebalkan, Aru!"
"Heh? Memang benar, kan?"