
Babak kedua itu benar-benar di luar prediksi. Baik untuk Bella maupun Ariel sendiri. Babak kedua itu menjadi penentu.
Jujur, ini kali pertamanya Bella memanah dengan target seperti itu.
Pernah, Bella menggunakan panah untuk memanah seseorang yang bermasalah dengannya. Itu sewaktu di Jerman. Ada yang mengusik dirinya dan hampir menyebabkan kematian. Kebetulan itu terjadi waktu acara camping musim panas yang dilakukan di sebuah hutan.
Pelakunya adalah suruhan dari wanita yang merasa cemburu dengan Bella yang selalu dekat dengan Louis. Larinya cepat, Bella menggunakan panah untuk menangkapnya.
Dan ini sebuah tantangan bagi Bella. Dia tidak akan mundur dari tantangan. Ia malah senang karena mencoba hal baru meskipun taruhannya begitu besar.
Dan bagi Ariel sendiri, ini juga sebuah tantangan. Meskipun ia pernah beberapa kali melakukan ini, tetap saja kemampuannya menahan dengan target seperti ini sangat sulit.
Dan siapa yang sangka, pemula yang senang dengan tantangan itu memenangkan pertandingan sementara orang yang berusaha keras untuk itu hanya kalah beberapa point.
*
*
*
"Jadi hanya itu inginmu?"tanya Ariel setelah mereka menyelesaikan tantangan.
"Benar. Aku konsisten dengan ucapanku. Dan aku harap kau juga konsisten pada ucapanmu!"jawab Bella.
"Aku tidak akan melanggar janjiku!"jawab Ariel. Keduanya kemudian berjabat tangan.
Dan para penonton bubar. Termasuk orang tua dan ketiga istri Desya.
"Tak ku sangka, kau menang darinya," ucap Desya saat keduanya berjalan berdampingan, meninggalkan lapangan menuju tempat masing-masing.
"Sudah ku katakan, aku akan menang!"sahut Bella. "Tapi, bukankah seharusnya kau menghibur istri pertamamu itu?"tanya Bella dengan sedikit mencibir.
Desya berdecak pelan. "Berhenti membahas wanita lain saat kita bersama!"tegas Desya.
"Ah iya, apa hubunganmu dengan Andry?"selidik Desya.
"Mengapa tadi kau menatapnya lama? Kau menyukainya?"cerca Desya lagi. Bella tidak langsung menjawab.
Ia menghentikan langkahnya dan memeta wajah Desya. Tak lama kemudian, ia tertawa.
"Kau benar-benar menyukainya?" Nadanya mengandung sedih. Tatapan matanya meredup. Di mata Bella, itu menggemaskan.
"Hentikan!" Bella mengangkat kedua tangannya ke atas. "Jangan cemburu. Aku tidak menyukainya!"lanjut Bella.
Desya langsung sumringah. Ia menghela nafas lega. "Tapi, aku juga tidak menyukaimu. Aku ini wanita bersuami dan aku mencintai suamiku. Aku akan setia padanya!"tambah Bella yang membuat senyum Desya kembali meluntur.
"Jangan seperti ini. Jika kau tanya tentang rasa, maka selamanya jawabanku akan sama!" Setelah mengatakan hal itu, Bella melanjutkan langkahnya.
"Bagaimana?" Baru beberapa langkah Desya berteriak. "Bagaimana jika suami tidak setia? Apa kau akan tetap setia padanya?"lanjutnya dengan berteriak. Ada gejolak emosi di sana.
Bella tercekat. Ia diam. Desya menyerangnya dengan mempertanyakan kesetiaan Ken!
Bella memejamkan matanya. Ia menjadi gundah. Namun, berusaha untuk tetap tenang. "Aku lebih tahu suamiku daripada Anda, Tuan Desya Volcov!"balas Bella, melanjutkan langkahnya.
"****!"erang Desya frustasi. Dan Irene menatap hal itu dengan datar.
*
*
*
"Apa Anda menerima kekalahan begitu saja, Nyonyaku?"tanya pelayan Ariel saat keduanya telah tiba di kamar Ariel.
Ariel melepas ikat rambutnya. Rambutnya yang panjang terurai.
Ekspresi Ariel jelas tidak puas dengan hasil tantangan tadi. Akan tetapi, ia juga harus memegang ucapannya.
"Tentu saja, tidak!"jawab Ariel. Ia menatap lurus ke cermin. Mimik wajahnya dingin.
"Tapi, harus aku akui, dia memang hebat. Baru kali ini aku mendapatkan lawan yang sepadan. Aku tidak bisa berbuat curang apalagi mencurangi kesepakatan," papar Ariel. Dari itu, hadir rasa kagum di hatinya untuk Bella. Akan tetapi, sama sekali tidak mengurangi rasa tidak sukanya pada Bella..
"Mengapa, Nyonya? Padahal Tuan Andry berdiri di pihak Anda? Memanipulasinya adalah hal mudah," heran pelayan tersebut yang merasa bingung dengan tindakan Nyonyanya.
"Artinya kau tidak mengenalku," cetus Ariel.
"Tidak, Nyonya. Ampuni saja!"pinta pelayannya dengan bersimpuh.
Ariel menatapnya dingin. "Kau ingin tahu alasannya?" Pelayan tersebut mengangguk takut.
"Dia bukan orang yang naif. Selain itu, di sana juga ada suami dan kedua mertuaku. Kita memang hitam. Namun, hitam bukan berarti semuanya adalah keburukan dan kejahatan. Selain itu, aku adalah Nyonya Pertama. Jika aku melakukan kecurangan, dia pasti akan menyadarinya dan aku akan menanggung malu. Mungkin kau berpikir aku hari malu karena kalah. Tidak! Aku merasa senang karena aku kalah dengan sportif. Aku malu karena kemampuanku masih kurang!"papar Ariel kemudian.
Ternyata akal sehat Ariel masihlah berfungsi dengan baik. Ia tidak dibutakan dengan ambisi dan hasrat. Ariel masih bisa menahannya. "L-lalu apa yang akan Anda lakukan selanjutnya? Anda tidak akan bisa lagi mengganggunya."
Ariel menarik senyum miring. Dan itu membuat pelayannya bergidik. "Aku memang tidak bisa menyentuhnya. Namun, bagaimana dengan yang lain?"
"M-maksud Anda?"
"Lucia akan pergi. Begitu juga dengan anaknya. Mari, pikirkan cara membuat Evalia pergi juga!"
"B-baik, Nyonya."
*
*
*
"Kurang ajar! Beraninya dia mengatakan hal itu!" Bella dengan marah meninju dinding kamarnya.
Buku-buku jarinya langsung terluka. Wajahnya begitu geram. Memerah, dan menggelap.
Dadanya naik turun. Diikuti dengan nafasnya yang berat.
Jujur saja. Ucapan Desya yang mempertanyakan kesetiaan Ken mengusik hatinya.
Rasa cemas yang semula hanya mencemaskan keadaan Ken, bertambah menjadi mencemaskan kesetiaan Ken.
Rasa itu hadir, karena jarak keduanya. Juga karena ketidaktahuan bagaimana, di mana, dan sedang apa mereka. Bahkan, mereka telah lama tidak berkomunikasi.
Entahlah. Kebanyakan LDR berakhir dengan perselingkuhan. Bagaimana dengan hubungannya dengan Ken?
Yang komunikasi setiap hari saja bisa berpaling apalagi mereka?
"Aniyo! Ken tidak akan berpaling dariku!"gumam Bella, meyakinkan dirinya.
Tadi, emosi memeluknya. Bella tidak berpikir jernih dan menyakiti dirinya sendiri. Namun, setelah merasakan sakit pada buku-buku jarinya, Bella tersadar.
Tadi, ia terpancing. Namun, ia berkata dengan yakin. Bella baru ingat bahwa di rumah itu bukan hanya Ken seorang.
Ada Dylan, adik laki-lakinya yang begitu menyayangi dirinya.
Ada Surya yang mendukungnya. Ada Brian dan Silvia, juga El dan Anjani. Mereka tidak akan membiarkan Ken macam-macam dengan wanita lain.
Ia sangat percaya diri. Keluarga Mahendra berada di sisinya!
"Aku telah mendapatkan kepercayaan keluarga itu. Aku tahu ini sombong, namun aku sangat yakin, Ken tidak akan pernah berpaling dariku. Dia akan setia menungguku kembali!"monolog Bella. Mengusir rasa cemas dan gundahnya.
"Tapi, aku masih sangat kesal pada pria itu! Haruskah aku memberinya pelajaran?"
Okay. Kali ini dengan cara apa kau akan membalasnya, Nabilla Arunika Chandra?
*
*
*
Seseorang berjalan dengan waspada di koridor. Ia menggunakan mantel, menutupi tubuhnya dari hawa dingin. Dan berhenti di depan sebuah pintu lebar. Pintu itu memiliki ukiran yang unik.
Sebelum masuk, dia menilik kanan dan kiri. Setelah dipastikan tidak ada orang, dia langsung masuk, dengan cepat.
Dia menatap ruangan di hadapannya. Penuh dengan rak-rak kayu yang tinggi dan besar. Berisi jajaran buku. Ruangan ini luas. Jumlah bukunya mencapai lebih dari ribuan.
Ini sebuah perpustakaan.
Dia melangkah, menuju lorong rak, seakan mencari sesuatu.
"Nyonya," sapanya setelah menemukan apa yang ia cari. Dia seorang pria.
"Lama sekali!" Seorang wanita menyambutnya dengan nada ketus.
Keduanya bertatapan. Wanita itu, tanpa menunggu lama lagi langsung menyerang pria itu. Memagut bibirnya dengan rakus.
Pria itu membalasnya. Mereka berciuman panas. "Ahhh …," desah wanita itu.
Permainan mereka semakin panas. Desah dan erang memenuhi perpustakaan itu. Suasana yang gelap dan sepi, mendukung mereka melakukan hubungan intim itu.
Hingga akhirnya mereka mencapai pelepasan. Terkulai lemas di lantai perpustakaan. Keduanya mengatur nafas, menikmati sisa-sisa pelepasan. "Terima kasih, Andry."
"Sama-sama, Nyonya!"
Oh! Gosh! Amazing! Wanita itu adalah Ariel!
Ternyata, mereka bermain di belakang. Oh, Desya yang malang. Meskipun ia memiliki segalanya, ia dimahkotai topi hijau oleh istri pertamanya.
*
*
*
Cara apa yang Bella gunakan untuk membalas Desya?
Kembali menendangnya?
Atau cara yang lain?
Pagi setelah menjalankan shalat subuh, Bella bergegas keluar dari kamarnya. Ia menggunakan mantel, menghalau dingin merasuk ke dalam tubuh.
Matahari belum menunjukkan sinarnya. Dan Bella melangkah dengan penuh semangat. Setelah tiba di lantai dasar, Bella bertanya pada penjaga arah menuju dapur.
Penjaga tersebut langsung memberitahunya dan Bella langsung mengikuti arahan penjaga tersebut.
Kini Bella tiba di dapur. Dapur yang luas dan memiliki banyak pekerjaan. Wajah saja!
Ini dapur istana. Tempat di mana mengolah makanan untuk seluruh penghuni istana.
Pelayan bagian dapur sudah sibuk bekerja, membuat sarapan.
Terdapat beberapa kuali besar. Ada juga panci untuk merebus air. Ada yang memotong sayuran dan lain sebagainya. Ada juga yang sibuk memanggang roti. Setiap harinya, puluhan kilo bahan makanan diolah di tempat ini.
Saat melihat Bella, para pelayan itu menghentikan kegiatan mereka dan memberi hormat pada Bella. Mereka mengenal Bella sebagai orang yang penting bagi Tuan mereka.
"Santai saja. Kerjakan saja perkerjaan kalian. Jangan merasa tegang karenaku," ucap Bella.
"Baik, Nona," jawab mereka setelah saling bertukar pandang.
"Ah permisi, boleh aku bertanya?" Bella mengangkat tangannya.
"Saya kepala pelayan bagian dapur, Nona." Seorang wanita bertubuh gempal menghadap pada Bella.
"Ah, begitu ya. Kalau begitu aku butuh sedikit bantuanmu," ujar Bella.
"Saya merasa terhormat bisa membantu Anda, Nona."
Entah itu kesopanan tulus atau karena rasa takut, Bella tidak terlalu memusingkannya. Bella kemudian meminta para pelayan bagian dapur itu untuk menunjukan letak bahan dan alat yang ia butuhkan.
Kepala pelayan itu menurutinya, tanpa banyak tanya. Kini Bella berdiri di depan meja masaknya. Di atas meja sudah terdapat berbagai macam bahan.
Ada bawang, cabai, kecap, telur, udang, dan nasi. Terlihat jelas Bella mau memasak nasi goreng.
Apa Nona Bella pecinta pedas dan asin?batin kepala pelayan yang mengamati Bella memasak.
Tapi, aromanya enak.
Bella mengeluarkan kepandaiannya dalam memasak. Aroma masakan dari yang ia buat menyebar.
Aromanya enak, rasanya pasti enak. Itulah pemikiran orang yang mencium aroma masakan Bella.
Selanjutkan Bella melakukan plating. Ia menata dan menghias nasi goreng spesial itu sedemikian rupa.
Tak lupa, Bella membuat teh mawar.
Ya, Nona Bella memang pencinta asin. Tapi, apakah ada teh dikasih garam? Kepala pelayan itu lagi-lagi yang bisa membatin.
Bella tampak puas dengan hasil kerjanya. "Terima kasih atas bantuannya."
Bella sedikit membungkuk kemudian meninggalkan dapur dengan membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan juga teh mawar.
*
*
*
"Nona?" Irene sedikit terkejut dengan Bella yang sepagi ini mendatangi kamar Desya dengan membawa 'sarapan'.
"Desya ada di dalam, kan?"tanya Bella. "Aku mengantar sarapan untuknya," imbuh Bella saat Irene menatap nampan yang Bella bawa.
"Ah, begitu. Silahkan masuk, Nona." Irene membukakan pintu untuk Bella.
"Terima kasih, Irene." Bella segera masuk.
Mendapati Desya telah selesai berpakaian dan merapikan rambutnya. "Bella?" Ia juga sama terkejutnya dengan Irene.
Bella tersenyum ramah. "Aku bawakan sarapan untukmu. Aku membuatnya sendiri," ujar Bella, sembari meletakkan nampan itu di atas meja sofa.
"Sungguh?" Desya terpana. Wajahnya rumit. Senang dan penasaran.
Apa alasan Bella melakukan hal ini?
Bukankah Bella marah padanya?
"Aku ingin minta maaf padamu," tutur Bella saat melihat keraguan di mata Desya.
"Kau tahu aku bagaimana, kan? Meskipun aku diculik, kau memperlakukanku dengan baik. Kau memberiku posisi penting. Meskipun aku tidak menyukaimu, aku harus berterima kasih padamu," lanjut Bella.
Desya tercengang.
Ini ucapan terima kasih?
"Duduklah. Aku tidak memasukkan racun di dalamnya, kok."
Dengan masih ragu, Desya duduk.
Ditatapnya nasi goreng dan teh mawar itu. Terlihat menggugah selera. Perut Desya tanpa sadar langsung berbunyi meminta diisi.
"****!" Desya mengumpat pelan. Sementara Bella menahan senyumnya.
"Makanlah," ucap Bella.
"Atau kau tidak menyukainya? Biar aku buatkan yang lain." Dengan mata memelas.
"Tidak perlu!"tolak Desya cepat. "Aku akan memakannya," imbuh Desya.
Dia membuatnya sebagai ucapan terima kasih. Juga sudah tidak mempermasalahkan hal kemarin. Aku harus menerima dan menghargai usahanya. Ahhh … dia ke dapur untuk membuatku sarapan. Alangkah indahnya jika setiap hari.
Bella tersenyum. Sekilas ia menyeringai tipis. Desya mulai menyantap nasi goreng itu.
Saat nasi goreng itu masuk ke dalam mulutnya, wajah Desya seketika berubah. "Kenapa? Tidak enak, ya?" Mimik wajah Bella pun ikut berubah.
Puih!
Desya meludahkan nasi goreng yang berada di dalam mulutnya. "Kenapa? Apa tidak enak?" Desya tidak menjawab. Ia meraih teh mawar.
Saat teh itu menyentuh lidahnya, Desya menyemburkannya.
"Ahhh … apa yang salah? Mengapa kau melakukannya? Katakan saja jika tidak enak, jangan seperti ini!" Antara marah dan ekspresi bersalah, mata Bella berkaca-kaca.
Lidahku ….
Desya belum menanggapi Bella. Lidahnya terasa pedar dan aneh. Nasi goreng super asin dan pedas. Ditambah dengan teh mawar asin, itu sangat mempengaruhi lidahnya.
Apa ini balas dendamnya? Desya menatap Bella dengan menerka-nerka.
Tapi, mengapa matanya merah? Apa dia sama sekali tidak tahu?
Mata merah Bella semakin menjadi dan meneteskan setitik air mata.
"Apakah sungguh tidak enak?"tanya Bella, suaranya serak.
"Ini salahku, aku tidak mencicipinya. Kau tahu kan, aku selalu percaya diri dalam hal apapun," tambah Bella.
Dia mengaku salah? Desya kembali tercengang.
Dan merasa bersalah. "Kau tidak menjawabnya. Artinya benar," simpul Bella.
"Tidak. Bukan begitu. Aku hanya terkejut dengan rasanya," jawab Desya dengan menyakinkan.
"Hah?"
"Ini enak. Aku akan menghabiskannya."
"Sungguh?" Desya mengangguk.
"Tidak apa?" Desya kembali mengangguk.
"Terima kasih."
Rasa tidak enak di lidahnya seakan hilang ketika melihat senyum Bella begitu senang.
Sekalipun itu makanan paling tidak enak yang pernah ia makan, Desya akan tetap menyantapnya.
Suap demi suap. Desya menyantap sarapan buatan Bella itu. Desya makan dengan cepat dan sarapan itu segera habis.
"Aku akan mengembalikan piringnya." Bella buru-buru kabur setelah halnya selesai. Meninggalkan Desya yang tepar karena makanan itu.
Makanan itu memang tidak berisi racun. Namun, rasanya seperti racun.
"Tuan?" Irene masuk dengan wajah cemas.
"Air."
Lidahnya seperti mati rasa. Harus segera diguyur dengan air.
Irene segera memberinya. "Bawakan aku sesuatu yang manis," ucap Desya, sebelum wajahnya berubah seperti menahan sesuatu.
Tak lama, Desya bangkit dan lari menuju kamar mandi. "Tuan?"
"Tuan?"
"Anda baik-baik saja?"
Huek!
Huek!
Desya terdengar muntah-muntah.
Di dalam kamar mandi, Desya menatap wajahnya pucatnya. Mulut, perut, dan kepalanya terasa sangat tidak baik.
Jadi, ini balas dendam?
Sedangkan sang pelakunya, tersenyum begitu lebar karena telah berhasil melampiaskan rasa kesalnya.
Meskipun tidak menyangka Desya tetap memakannya padahal sudah tahu rasanya sangat-sangat buruk.
*
*
*