This Is Our Love

This Is Our Love
Aku Pegang Janjimu!



"Setelah kecelakaan maut itu, kondisi Buana Corp goyah. Para investor menarik saham mereka, kas perusahaan juga semakin menipis. Pada akhirnya Buana Corp runtuh. Keluarga kita kehilangan seluruh aset. Bahkan rumah saja harus di sita, dan rumah ini terbakar beberapa bulan setelah kau kembali koma," tutur Bella, menatap bangunan yang hanya tinggal dinding berwarna hitam yang bagian bawahnya sudah ditumbuhi lumut dari tepi jalan.


Dylan menatap bangunan yang tak lain adalah rumahnya dengan perasaan tak karuan. Rumahnya terbakar, ludes, hanya menyisakan dinding bata yang sudah tampak rapuh. Rumah yang dulunya sebuah hunian yang mewah lagi hangat kini hanyalah tinggal dinding hitam yang gersang tak terawat, terkesan angker. 


Dylan menitikkan air mata, belum bisa percaya bahwa tempat yang paling banyak menyimpan kenangan dengan keluarganya telah hancur. 


Bella merangkul Dylan, memberi kekuatan untuk pria imut itu. "Jangan bersedih terlalu dalam. Rumah ini memang sudah hangus terbakar tapi kenangan di dalamnya tak akan pernah hilang. Suatu hari, kita akan kembali membangun rumah ini. Kuatkan hatimu, Dylan. Kau adalah satu-satunya keturunan keluarga Buana. Kau, aku, dan Nesya akan kembali membangkitkan keluarga kita."


Dylan menghapus air matanya. Ia memeluk Bella. Bella menepuk-nepuk pelan punggung Dylan.


"Hari ini adalah hadiah ulang tahun terburuk selama aku hidup," lirih Dylan.


"Tidak semua hadiah itu menyenangkan. Ke depannya kau akan lebih banyak melihat pahit manisnya kehidupan. Dylan, apa kau ingin bertemu dengan Nesya?"


"Nesya?"beo Dylan.


"Benar. Dia pasti senang bertemu denganmu lagi setelah sekian lama," ujar Bella. 


"Hem … aku sangat ingin bertemu dengannya." Dylan mengangguk, wajahnya menjadi lebih cerah. 


"Kalau begitu ayo kita berangkat." 


Keduanya kembali naik motor dan meninggalkan rumah Buana yang sudah hangus terbakar. Setelah motor yang Bella kendarai menjauh, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Kaca mobil depan bagian kiri terbuka lebar. Hanya sebentar mobil itu berhenti, kemudian kembali melaju.


*


*


*


"Lapas? Siapa yang dipenjara, Kak?"heran Dylan. Bella tidak menjawab, ia melepas helmnya dan menaruh di atas motor. 


"Ayo."


Mau tak mau dengan perasaan bingung Dylan mengikuti langkah Bella dengan membawa kantong plastik yang cukup besar. 


Kini keduanya duduk di ruangan tempat untuk mengunjungi dan bertemu dengan tahanan. Bella mengambil alih kantong plastik dan mengeluarkan isinya. Ternyata itu kue ulang tahun. 


Dylan membantu meletakkan lilin angka 23 di atas kue dan menyalakannya.


"Assalamualaikum, Kakak." Nesya yang baru datang langsung memeluk erat Bella. Ia tidak menyadari ada kehadiran orang lain juga kue ulang tahun di atas meja.


"Waalaikumsalam, Nesya. Bagaimana kabarmu?" Bella menangkupkan kedua tangannya pada pipi Nesya, melihat apakah Nesya semakin kurus atas tidak. Bibir sedikit pucat itu tersenyum lembut, menyentuh kedua tangan Bella yang berada di pipinya. "I'm fine, my sister."


"Benarkah? Lalu calon keponakanku? Apa dia nakal?" Satu tangan Bella meluncur mengusap lembut perut Nesya yang sudah menuju ikan tonjolan. 


"Dia sangat baik, seakan tahu bahwa Mamanya sedang kesusahan," jawab Nesya, ikut mengusap perutnya.


"Alhamdulillah. Aku lega mendengarnya," ucap Bella, menghela nafas lega. 


"Hem bukanlah kakak ini masih jam kerja? Mengapa kakak kemari?" Nesya sedikit memiringkan kepalanya. Bella tersenyum, memalingkan wajah ke arah Dylan yang terpaku menatap Nesya. 


Nesya mengikuti arah wajah Bella. Ia menyipitkan mata mendapati pria asing yang tidak ia kenal duduk menatapnya begitu lekat. Tatapan Nesya beralih pada kue ulang tahun, "siapa dia dan kue ini apa artinya?"


"Kau sungguh lupa?" Bella mengerjap pelan. Setahunya adiknya ini paling ingat tanggal ulang tahunnya sendiri juga dirinya juga orang tuanya.


Nesya menggeleng pelan, "memang ini hari apa? Dan pria ini aku sungguh tak mengenalnya."


"Nesya kau sungguh melupakanku?" Dylan bertanya dengan nada sedih. Matanya sudah berkaca-kaca, siap untuk turun hujan. 


Nesya menaikkan alisnya, ia melihat Dylan dengan seksama, beberapa saat kemudian ia menggeleng, "aku sungguh tidak mengenalmu."


"Apa karena aku terlalu lama koma sampai kau pun lupa denganku? Padahal kita begitu dekat. Kita sudah bak anak kembar karena tanggal lahir yang sama. Aku sungguh tak ingat?"tanya lirih Dylan. Air mata sudah mengalir dari pelupuk matanya. Bibir Nesya terbuka sedikit. 


Dulu begitu dekat? 


Bak anak kembar?


Tanggal lahir yang sama?


Seketika Nesya melihat kembali kue ulang tahun itu. Angka 23. Nesya kembali menatap Bella lalu Dylan bergantian.


"K-kau … kau Dylan?"tunjuk Nesya dengan gemetar dan perasaan campur aduk. 


"Huh harus dikasih clue dulu baru kau mengingatku!"gerutu Dylan, ia mencembikkan bibirnya. 


"K-kakak? B-bukankah dia?" Nesya menatap Bella meminta penjelasan.


"Ayo duduk dulu."


"Ya dia Dylan. Baru keluar dari sana kemarin. Dan dia mengalami amnesia disosiatif jadi umur fisiknya tak sejalan dengan umur batinnya. Dia Dylan usia 13 tahun," jelas Bella. Mata Nesya kembali melebar. Ia hanya bisa melongo dengan wajah tak percaya. Nesya butuh waktu menerima informasi ini.


"Kau sama sekali tidak merasa bersalah padaku? Kau sudah mengenalku tapi bahkan tak memberiku pelukan hangat!"cerca Dylan, melipat kedua tangannya kesal.


"Ah ya pelukan?!" Sontak Nesya langsung memberikan pelukan hangat pada Dylan dan tentu saja Dylan membalasnya.


"Aku sangat merindukanmu, Sya."


Nesya tidak menjawab. Ia sibuk menetralkan hatinya yang campur aduk. Bahagia dan takut bercampur. Membuat Nesya kini diam kaku dengan tatapan rumit.


"Kau tak merindukanku?" Lagi-lagi Dylan bertanya dengan nada sedih. Ia menatap dalam mata Nesya. "T-tentu." Jawaban tergagap. 


"Tentu?" Dylan mengulang dengan nada aneh. Nesya tersadar dari kekalutan hatinya. 


"Tentu saja aku sangat merindukanmu, Lan. Seumur hidup aku tidak akan pernah bisa melupakan kembaran tersayangku," ucap manis Nesya.


"Lalu tadi kau …."


"Aku hanya terlalu terkejut," potong Nesya cepat. 


Insan beda usia itu saling tatap dengan senyum yang mengembang lebar. Bella menyaksikan hal itu hanya tersenyum simpul.


"Sudah akhiri dulu temu kangen kalian. Sekarang ayo tiup dan potong kue ulang tahun kalian. Nesya, Dylan, happy birthday yang ke 23," ucap Bella. 


"Ulang tahun? Astaga!" Nesya menepuk dahinya cukup keras.


"Ayo, Nes," ajak Dylan. Nesya mengangguk, kedua anak itu lantas meniup lilin kue. Tepuk tangan ketiganya memenuhi ruang berkunjung. 


Bersamaan, keduanya memotong kue dan menyuapi Bella bergantian lalu saling bersuaapan. 


"Tak ku sangka aku merayakan ulang tahun di lapas," ucap Nesya, terkekeh pelan.


"Bukan tempatnya melainkan suasana hangat yang lebih penting. Nesya, semoga kau diberitakan kekuatan dan ketabahan menghadapi semua ujian hidup, begitu juga denganmu Dylan. Hal baik jadikan panutan, hal kurang baik jadikan pelajaran. Kalian jangan stuck pada masa lalu. Yang lalu biarlah berlalu, cerita kita dimulai dari awal lagi, so tetaplah semangat!"ucap Bella panjang. Kedua insan beda gender itu mengangguk paham.


"Hm usiaku sudah 23 tahun dan kakak sebentar lagi 28 tahun, kapan kakak akan menikah?"tanya Nesya, nadanya mengandung ledekan dan sedikit kecemasan.


"Bu-,"


"Bu apa, Lan?" Telinga Nesya tetap mendengar itu.


"B-bukankah kau sangat nakal? Apa penyebab kau ditahan di sini? Malah tubuhmu kurus lagi pucat, apa kau sakit?" Dylan memang ingin menanyakan hal ini. Nesya langsung terdiam. Ia melirik Bella meminta bantuan. 


"Dan perutmu tadi Kak Abel menyinggung keponakan, kau sudah menikah dan hamil?"


Dapat. Nesya tersenyum mendapatkan jawaban untuk pertanyaan Dylan. "Hm beginilah. Gara-gara pria brengs*k itu aku hamil dan dipenjara karena berhasil membunuhnya. Aku luar biasa bukan?" 


What? Alasanmu cukup mengerikan, Nes!


"J-jadi kau?"


"Hm. Bad destiny."


Dylan yang tampak shock diam. Tak lama kemudian, pria imut itu menatap dalam Nesya.


"Kapan kau bebas?"tanya Dylan.


"Hukumanku diringankan karena aku membunuh untuk melindungi diri, jadi hanya sekitar satu tahunan."


"Melahirkan di penjara?"


"Hm."


"Nesya jangan takut, aku akan menikah denganmu setelah kau keluar nanti!" Mata Nesya dan Bella sama-sama melebar kaget mendengar ucapan yang keluar dari bibir Dylan.


"K-kau? Bocah apa yang pikiran? Kau baru 13 tahun mau menikah denganku?"cetus Nesya, menutupi rasa gugupnya.


"13 hanya ingatanku, umurku tetaplah 23 tahun. Aku akan belajar menjadi pria sesuai dengan umurku. Tenang saja, aku ini cerdas pasti dalam waktu satu tahun bisa melakukan dan berfikir layaknya pria dewasa!"sahut Dylan, menatap Nesya serius.


"Kau serius? Mau menjadi calon suamiku? Lan, kau bercanda kan? A-aku ini sudah kotor dan hina. Aku punya bekas yang seumur hidup tidak akan hilang. Bocah, aku lebih percaya jika kau berkata akan jadi Paman yang baik," ucap Nesya, ia menunduk tak berani menatap mata Dylan.


"Aku serius!" 


Deg.


Nesya kembali mengangkat kepalanya. 


"Baiklah, bocah kau harus memegang erat janjimu ini. Aku akan menanti dengan sabar di sini." Kedua insan itu kembali berpelukan. Air mata Nesya luluh. 


Nesya? Dylan? Apa ini jalan agar keluarga Chandra dan Buana tetap bersama? Ya Allah jika memang keduanya berjodoh, mudahkanlah jalan mereka. Aku sangat ingin Neysa menemukan kebahagian dengan cintanya. 


"Maaf Nona, Tuan, jam kunjungan sudah habis," ucap sipir wanita tegas. 


"Baik, kami sudah selesai kok," jawab Bella, berdiri.


"Baik, Nona." Sipir itu melangkah pergi. 


"Nesya, Kakak pulang dulu ya," pamit Bella.


"Ya, aku tahu." 


"Aku belum ingin pulang  tapi huh batasan ini sungguh membuatku kesal!"gerutu Dylan.


"Saat ada waktu luang kita akan kemari lagi. Atau kau bisa pergi sendiri," ucap Bella.


"Ya."


*


*


*


Setelah Bella dan Dylan meninggalkan area lepas, sepasang kaki jenjang yang terbalut celana jeans berwarna biru pudar masuk dan menemui seorang penjaga. 


Pria itu melepas kacamatanya, "permisi, Bu."


"Ya ada yang bisa dibantu, Dik?"


"Saya ingin memberikan sesuatu pada tahanan atas nama Nesya Aruna Chandra."


"Oh Nesya, bisa saya lihat dulu apa yang ingin Adik titipkan?"


"Ini." Pria itu menyodorkan sebuah paperbag.


Wajah sipir itu tampak heran dengan idi paper bag yang pria itu berikan.


"Adik ini siapanya?"tanyanya selidik.


"Saya Kakak iparnya, katakan saja padanya ini adalah hadiah pertama dari kakak iparnya," ucap pria itu yang tak lain adalah Ken. Sipir itu mengangguk dengan wajah aneh kemudian menyuruh Ken mengisi buku kunjungan.


"Terima kasih, Bu. Selamat siang." Setelah selesai mengisi buku kunjungan, Ken melangkah pergi.


"Kakak ipar? Artinya suami Nona Bella. Astaga apa aku nggak salah dengar tadi?"gumam sipir tersebut.


*


*


*


"Titipan dari siapa ya, Bu?" Nesya dengan heran menerima paper bag yang dititipkan oleh Ken tadi. Satahunya selain Bella, Bik Susi, Dylan, dokter Reu, tidak ada yang tahu bahwa ia di sini. 


"Katanya hadiah pertama dari kakak ipar, Nes." Seusai itu sipir itu melangkah pergi.


"Kakak ipar?"gumam Nesya.


"Kakak kan belum menikah, mustahil aku punya kakak ipar, atau mungkin calon kakak?"


Nesya melihat isi paper bag itu, coklat. 


"Sepertinya ia cukup baik tapi pemalu, aku penasaran dengan kakak ipar ini."


*


*


*


Ternyata meeting satu-satunya setelah jam makan siang diundur menjadi besok sedangkan tugas kantor juga tak terlalu banyak jadi Ken memutuskan untuk mengikuti Bella dan Dylan. Ia melihat dari kejauhan. 


Ken berinisiatif untuk memberikan hadiah ulang tahun untuk Nesya setelah melihat Bella dan Dylan membeli kue. Jujur saja, ia juga belum siap untuk bertemu Nesya secara langsung jadi hanya bisa menitipkan hadiah pada sipir. Ken menjadi lebih dewasa. Ia sangat prihatin dengan masa lalu Dylan. Tapi tetap saja rasa cemburu Ken terhadap Dylan tidak pudar. Hanya saja Ken sudah mulai bisa mengendalikan emosinya.  


Ini hari rabu, besok adalah hari kemoterapi Nesya, aku akan melakukan pendekatan dengannya di rumah sakit, gumam Ken dalam hati. Ia mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan sore kota yang padat, pulang ke kediaman Mahendra