This Is Our Love

This Is Our Love
Tak Bisa Berkata



Setelah Desya berangkat, Irene kembali ke ruang kerja Desya. Irene menemukan Bella masih duduk di kursi kebesaran Desya dengan wajah bersembunyi di balik lipatan tangan. Irene mendengar samar Bella terisak dengan nafas yang tidak beraturan. Untuk beberapa saat, Irene berdiam diri di samping Bella. Irene menatap Bella dengan wajah seakan menerawang. Mengapa Bella menerima syarat dari Desya? Bukankah Bella sangat mencintai Ken? Dan apa yang menjadi syarat Desya itu pasti sangat sulit untuk Bella jalani hingga sampai menangis seperti ini. Ini kali pertama Irene melihat Bella menangis. 


"Nona, mengapa Anda menyetujui syarat dari Tuan?"tanya Irene, ia berkelut pun tidak kunjung ia temukan jawaban. 


Mendengar suara Irene, Bella mengangkat wajahnya. Matanya sembab dan air mata yang mengering di pipi. 


"Irene …." Bella memeluk Irene. Menumpahkan kembali air mata yang tadi sudah terhenti. 


"Aku tidak kuat tapi, aku juga buntu," ucap Bella dengan terisak. 


"Jadi, Anda menyerah?"tanya Irene memastikan. 


Bella menggelengkan kepalanya, "aku tidak menyerah. Aku tidak akan pernah menyerah. Aku … aku hanya memutuskan apa yang terbaik untuk saat ini," ujar Bella, melepas pelukannya pada Irene dan menghapus air mata yang masih tersisa. 


Tatapan sedih Bella berganti menjadi tatapan dingin. Irene merasakan Bella tengah melepas aura kesedihannya. Yang terasa adalah semangat membara yang penuh dengan kepercayaan diri dan pantang menyerah. 


"Tapi, Irene apa benar Tuanmu itu pergi untuk mencarikanku mangga muda?"tanya Bella setelah ingat kalau Desya memerintahkan Irene untuk menyiapkan helikopter. Irene mengangguk. 


"Tuan selalu serius pada Anda, Nona. Perlakuan Tuan kepada Anda, kepada kami, bahkan kepada para istrinya sangat berbeda. Nona saya harap Anda dapat menerima Tuan dengan baik." Irene membungkuk pada Bella seakan itu adalah sebuah permintaan yang resmi dan tulus. Bella tersenyum simpul. 


"Irene aku lapar." Bella tidak menjawab permintaan Irene akan tetapi mengaduh lapar. 


Irene tertegun sesaat. Bukan jawaban ini yang ia inginkan akan tetapi hal ini yang harus ia dahulukan.


"Mohon tunggu sebentar, Nona." Irene pamit undur diri. 


Setelah Irene meninggalkan ruangan, Bella tersenyum sinis, "menerimanya? Huh!! Tidak akan pernah. Cintaku terhadap suamiku, tidak akan pernah terganti. Kami hanya terpisah untuk hanya untuk waktu tertentu. Suatu saat kami akan kembali bersatu," gumam Bella. 


"Mungkin aku mengalah tapi, mengalah untuk menang itu sebuah taktik, bukan?" Ya, ada waktunya bersedih namun rencana harus tetap disusun dan dijalankan.


*


*


*


"Apa katamu?!" 


Entah mengapa juga kabar Desya  kembali ke Green Palace dengan membawa wanita asing baru terdengar oleh ketiga istri Desya.


 Itu diberitahukan oleh salah seorang pelayan yang bekerja di bawah naungan istri pertama Desya. Dan masalahnya adalah ketiga istri Desya tahu bahwa suami mereka membawa wanita asing saat Desya pergi.


 Apa yang akan mereka lakukan? 


Jawaban pertama yang terlintas di benak pasti melabrak Bella, bukan? 


Dan jawabannya adalah iya. 


Entah dari mana pula, kabar itu lepas padahal Irene sudah mengaturnya. Mungkin saja … sikap Irene atau Desya menimbulkan kecurigaan dan membuat mereka menyelidikinya. 


Ketiga istri Bella itu sangat marah mendengar hal tersebut. Mereka bergegas menuju kamar Bella. Namun, sebelum mencapai gedung istana di mana kamar Bella berada, langkah ketiga istri Desya itu terhenti karena berpapasan dengan Irene yang baru keluar dari pintu masuk untuk naik ke lantai atas. 


"Mengapa kalian di sini?!" Itu pertanyaan dengan nada interogasi. 


"Minggir, Irene! Kami akan menyeret wanita itu!!"ucap Ariel, istri pertama dari Desya. 


"Irene, kau bukanlah penguasa di sini! Kau hanya budak di istana ini! Minggir!!"sentak Ariel dengan menunjuk Irene. 


"Benar! Aku memang budak tapi aku berada di bawah naungan Tuan! Aku hanya dan hanya akan menuruti perintah Tuan! Dan Tuan sudah memerintahkanku untuk menjaga Nona! Jadi, silahkan angkat kaki dari sini sebelum saya bertindak kasar!!"ancam Irene balik. Ia sama sekali tidak terganggu dengan hardikan Ariel yang mengatakan ia adalah seorang budak. 


"Irene apa kau tahu siapa aku?! Aku istri pertama Tuanmu! Aku adalah Nyonyamu!"ucap Ariel dengan menekankan statusnya di Green Palace pada Irene. Namun, Irene sama sekali tidak gentar. Ia malah mendecih dan tertawa sinis. 


"Ya, kau memang istri Tuan dan aku hanya asistennya. But, di mata Tuan siapa yang paling penting? Anda atau saya?"tanya Irene dengan menaikkan alisnya. 


"KAU?!" Sepertinya kalah, Ariel tidak bisa membantah lagi. Di mata Desya memang Irene lebih penting bahkan saat Desya sudah memiliki anak dari ketiga istrinya. Kedua anak Desya? Mungkin Desya hanya bertemu satu dua kali dengan kedua anaknya itu. 


"S-setidaknya biarkan kami bertemu dengannya. Kami ingin tahu wanita yang dibawa oleh Tuan yang nantinya akan menjadi bagian dari kami juga yaitu istri Tuan," ujar Irene ketiga Desya, Evalia dengan nada sedikit terbata karena takut. 


Irene memang punya pengaruh penting di Green Palace. Posisinya tepat di bawah Desya. 


"Nyonya Evalia, sayangnya Nona baru saja istirahat," ujar Irene, nadanya sedikit ramah pada Evalia. 


"Jadi, istana bagian ini punya dia? Eh salah diberikan padanya?"


"Sepertinya begitu." Istana ini sebelum dihuni oleh Bella memang kosong.


"Ah apa?! Kau serius, Irene? Seistimewa apa dia rupanya?!" Istri kedua Desya, Lucia terhenyak. Sementara Ariel dan Evalia terbelalak.


"Nona sangatlah istimewa, Nyonya Lucia," balas Irene. 


Entah itu memang ketertarikan yang nyata atau hanya sekadar obsesi, yang pasti Desya memang memberikan Bella pelayanan yang terbaik. Mulai dari tempat tinggal hingga seseorang untuk menjaga dan dimintai tolong. 


"Lebih baik kalian segera kembali. Aku tidak berani menjamin kalian akan aman jika Nona melihat dan terganggu dengan kalian." Irene memberikan sedikit kesan akan karakter Bella di dalamnya. 


"A-ayo lebih baik kita kembali dulu. Nanti kita berkunjung lagi," ajak Evalia. 


"Kalian lemah sekali!"ketus Ariel, pergi dengan menghentakkan kakinya. 


"Bye-bye," ucap Irene dengan melambaikan tangannya pada Evalia dan Lucia saat meninggalkan tempat menyusul Ariel. 


"Huh! Nyonya? Itu hanya titel di atas kertas!"cibir Irene. 


"Sudah? Hanya seperti itu saja?" Irene terperanjat dan berbalik, mendapati Bella berada di belakangnya dengan kedua tangan bersilang di dada. 


"N-Nona? Sejak kapan Anda di sana?"tanya Irene dengan menghampiri Bella. 


"Aku merasa bosan jadi aku ingin keluar."


 "Ku kira seseram apa istri-istri Tuamu itu. Rupanya seperti itu. Putri dari keluarga mana mereka?"tanya Bella. 


"Mereka … hanya putri dari keluarga bisnis dan untuk Nyonya Ariel itu berasal dari keluarga aristokrat Rusia. Namun, dia yang penuh dengan ambisi tidak pernah bisa menaklukkan Tuan. Di mata Tuan, dia hanyalah istri karena tugas sebagai penerus keluarga," terang Irene. 


"Begitu rupanya. Ya sudah, ayo temani aku," ajak Bella. 


"Mari, Nona." Baru saja keluar dari lingkungan gedung istana bagian ini, ada dua sosok cilik yang menabrak Bella. Bella melihat ke bawah. Sepasang anak kecil tampak kesakitan dan Irene langsung berjongkok. 


"Tuan, Nona Muda, Anda baik-baik saja?"


Tuan muda? Nona muda? Dua bocah ini adalah anak-anak Desya?