
"Nona Bella, maaf sebelumnya mengganggu waktu Anda. Hanya saja …."
"Tidak perlu sungkan, Pak. Apa yang ingin Anda sampaikan?"sela Bella, mengaduk cappucino sembari mengamati jalanan sore nan padat ibukota. Saat ini Bella tengah berada di sebuah cafe dekat dengan jalan raya. Desain yang dominan warna hijau membuat pikiran Bella jauh lebih tenang.
"Adik Anda ingin berbicara dengan Anda."
"Oh baiklah."
Gerakan mengaduk itu Bella hentikan. Ponsel berpindah dari tangan kiri ke tangan kanan.
"Kakak! Mengapa kau mengirimku kemari Kak? Aku nggak mau di sini Kak! Nggak mau!"protes Nesya langsung.
"Nggak mau? Dengan kondisimu yang seperti itu, apa kau punya pilihan lain?"tanya Bella balik, datar.
"Tapi Kak …." Ucapan Neysa langsung disela oleh Bella.
"Dengarkan aku baik-baik, Nesya! Apa yang aku lakukan untukmu adalah hal yang terbaik untukmu. Aku jujur saja, tak bisa merawatmu dengan baik jika kau tetap denganku. Percayalah padaku, Nesya. Kelak, jika kondisimu sudah lebih baik dan rehabilitasimu telah usai, aku akan menjemputmu." Nada penuh penekanan yang tidak bisa dan tidak menerima sebuah penolakan.
Sorot mata datar, Bella ingin menangis mendengar tangis pilu Nesya di seberang sana. "Inilah yang terbaik," gumam Bella.
"Kakak aku takut, Kak. Aku takut. A-apa bisa aku kembali dari jurang ini? Kakak di sini mengerikan. Aku ingin pulang, Kak. Aku takut," lirik Nesya yang berhasil membuat air mata Bella kembali menetes.
"Percayalah. Semua akan baik-baik saja jika kau menurut denganku. Adikku, jangan kecewakan aku lagi. Ku mohon …." Nada pelan dengan sepenuh pinta.
"Kakak …." Tergugu, lirik penuh penyesalan.
"Aku janji, Kak. Aku berjanji padamu."
"Bagus," seru Bella. Senyum tipis Bella sunggingkan. Walau masih ada keraguan, Bella harus memberi kesempatan untuk Nesya.
"Halo Nona Bella." Ponsel telah kembali ke pemiliknya.
"Ada satu hal penting lagi yang ingin saya sampaikan. Mengingat hari sudah sore, saya mengharapkan kedatangan Anda selalu wali adik Anda di kantor besok," ucapnya penuh keseriusan. Dahi Bella mengeryit tipis.
"Baiklah."
Tapi apapun itu, ia hanya bisa menyetujui.
Panggilan berakhir. Bella menyesap cappucinonya. Bella mulai menerka apa yang akan ia ketahui esok. Apakah hal baik atau sebaliknya?
Ya apapun itu … kehidupan baru baru saja dimulai. Ayo Bella, bangkit dan semangat. Pikirkan apa yang harus kau lakukan selanjutnya.
Semakin berpikir semakin tak didapat. Bella memutuskan untuk pulang.
Mengendarai motornya dengan kecepatan pelan di tengah jalanan yang ramai lancar. Bella hanya fokus mengemudi. Pikirannya yang fokus pada jalanan.
*
*
*
Tiba di rumah, Bella sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Terkadang diam lebih baik daripada berpikir keras. Terkadang jawaban datang kala hati dan pikiran depan kondisi diam nan tenang.
Pindah rumah. Itulah keputusan Bella. Rumah ini terlalu banyak mengandung kenangan duka. Aura rumah ini seakan suram sungguh membuat hati Bella tidak nyaman.
Masuk ke kamar, Bella mencari apartemen dengan harga yang terjangkau dan layak huni. Tak butuh waktu lama, Bella sudah menemukan apartemen yang cocok dengan seleranya, juga sesuai dengan badjet yang ia anggarkan.
Setelah membuat janji dengan agen penjualan, Bella mandi kemudian menunaikan salat magrib.
*
*
*
Tok.
Tok.
Tok.
Bella yang tengah sibuk membuka web pekerjaan memalingkan wajah ke arah pintu.
"Assalamualaikum. Bella apa kamu di rumah? Ini Bibi." Suara Bik Susi. Bella memindahkan laptop ke atas meja, segera membuka pintu.
"Waalaikumsalam, Bi. Ada apa Bik?"
"Ini, Bibi bawakan sarapan. Kamu belum sarapan kan? Ayo-ayo."
Bik Susi menunjukan rantang yang ia bawa dan masuk menuju dapur. Bella menyusul setelah membereskan laptop miliknya.
"Ayo sarapan. Bibi buat sendiri ini," ujarnya seraya menyodorkan satu piring komplet lontong sayur.
Lontong sayur lengkap dengan telur sambal terhidang di meja makan. Nangka gulai yang dipadukan dengan mie lidi dan labu siam ditambah dengan sambal kering ikan teri dan tempe menggugah selera Bella.
Perut Bella kian meronta lapar. Sarapan pagi khas tanah air membangkitkan selera makannya. Biasanya, selama delapan tahun belakangan ini, sarapan pagi Bella tak lepas dari roti, susu, nasi goreng, dan sarapan barat lainnya.
Bik Susi tersenyum lembut melihat Bella yang lahap menyantap lontong sayur buatannya.
"Awalnya Bibi ragu bawain ini buat kamu. Tapi syukurlah kamu lahap makannya," tutur Bik Susi.
"Haha benarkah? Kalau gitu besok Bibi bawakan lagi."
"Eh tidak perlu repot, Bi. Bella bisa beli sendiri kok, nanti," cegah Bella. Merasa tidak enak dengan Bik Susi.
"Bibi senang kok ngelakuinnya. Kamu kan tahu sendiri anak Bibi semua cowok dan sudah pada nikah semua. Di rumah rasanya sepi apalagi kalau Pamanmu sedang kerja. Sudah deh, di rumah itu sepi kayak kuburan. Hmm apa kamu tinggal sama Bibi saja ya? Ah astaga! Bibi lupa, adik kamu gimana? Sudah pulang apa belum?" Bella tersenyum tipis.
"Nesya sudah Bella antar ke tempat yang seharusnya, Bik. Juga maaf Bella nggak bisa menerima tawaran Bibi."
"Kenapa Bel?" Sedikit kecewa. Binar semangat di matanya sirna, meredup.
"Karena Bella akan pindah, Bik. Hari ini juga."
"Apa?!"
Bik Susi terperanjat kaget. Ia menatap rumit Bella. Bella hanya tersenyum, denting notifikasi membuatnya sibuk menatap layar ponsel.
"Kenapa pindah, Bel? Kamu mau tinggal di mana?"tanya Bik Susi ketika Bella meletakkan ponselnya.
"Rumah ini terasa asing bagi Bella, Bik. Kenangan di sini, semua hampir kenangan duka. Bella nggak kuat kalau harus tinggal di sini." Bella mengedarkan pandang, mengingat kenangan manis yang ada di rumah ini.
"Bella sudah membeli sebuah apartemen, letaknya nggak jauh dari pusat kota dan daerah perkantoran, cocok untuk Bella yang bekerja di perusahaan," lanjut Bella.
"Baiklah. Jika itu sudah menjadi keputusanmu, Bibi hanya bisa mendukungnya."
"Tapi kemana kamu mengirim Nesya? Anak itu tidak mungkin itu ditangani bukan?"
"Ya begitulah. Tapi tenang saja, Bik. Semua akan terkendali," tutur Bella. Sepertinya, lanjut Bella dalam hati.
*
*
*
Bella keluar dengan wajah dasarnya dari kantor BNN. Urusan adikku, ya lantas apa lagi? Untunglah. Keputusan Bella menyerahkan Nesya ke pihak yang seharusnya dapat mengurangi hukuman Nesya. Tidak mudah memang untuk meyakinkan orang-orang terkait.
Surat pemeriksaan dari dokter, juga keterangan hamil, menjadi dua bahan pertimbangan keringanan hukuman Neysa. Seorang bandar yang harusnya ditawan di sel dingin mendapat keringanan hanya menjalani rehabilitasi selama waktu yang ditentukan. Selain itu, Bella juga sudah mengantongi izin untuk membawa Nesya kemoterapi, tentu saja tatap harus ditemani oleh pihak terkait.
Tidak mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untung saja Bella orang yang cakap, dengan begitu sejauh ini semua yang terjadi seperti yang ia inginkan, setidaknya setelah neneknya meninggal.
Nesya, anak itu belum tahu bahwa ia mengidap Leukimia stadium 2. Menurut Bella, ini bukan saatnya memberi tahu walaupun Nesya sudah curiga dengan tubuhnya sendiri. Nesya yang pasrah, mengikuti apa yang Kakaknya katakan.
Kakak. Dia tidak berubah. Seburuk apapun aku, aku tetaplah adiknya. Adik yang ia sayang dan kasihi. Maaf Kakak. Aku membuatmu kecewa. Aku berjanji akan menghilangkan semua kekecewaanmu padaku.
*
*
*
"Ah Bellaku Sayang, apa kau baik-baik saja?"tanya Anjani cemas seraya mengitari tubuh Bella. Bella yang kini berdiri di depan rumah dengan memegang satu kopernya berdecak lidah.
"Kau sendiri kemana? Aku menghubungimu tapi selalu tak kau jawab. Apa kau mati suri hah?"ketus Bella.
"Eh-eh apa katamu? Mati suri? Hm benar sih. Tapi yang mati suri bukan aku tapi ponselku. Hehehe."
Bukannya marah, Anjani malah tertawa.
"Oh kemana bisa mati suri?"tanya Bella penasaran.
"Jatuh," jawab singkat Anjani.
"Jatuh? Kau masih saja ceroboh," keluh Bella.
"Aku memang selalu ceroboh, Abel."
Bella menunjukkan raut wajah tidak suka. "Jangan rendahkan dirimu sendiri, Jani."
"Hahaha aku ini nggak ngerendahin diri kok, aku hanya …."
"Blöd!"gerutu Bella, menyerahkan kopernya pada Anjani yang masih bingung dengan apa yang Bella katakan.
Gold?
Emas?
Apa kebodohanku sebuah harta?
"Hei kenapa diam? Ayo naik!"seru Bella yang melihat Anjani masih mematung.
"Ah iya!" Buru-buru Anjani naik dengan membawa koper Bella. Tiba di depan gang, barulah Anjani turun dan memasukkan koper Bella ke dalam mobil.
Anjani kemudian masuk dan menghidupkan mesin mobil, melaju mengikuti arah Bella melaju.
Aku penasaran dengan suami Anjani.
"Ah Anjani, du bist immer noch derselbe wie zuvor, naiv und dumm was das Leben angeht," gumam Bella dengan bahasa Jerman.