
Sebuah komitmen telah dibuat, kesepakatan di awal pertemuan tidak lagi berlaku sejak Bella dan Ken sepakat untuk saling membuka hati dan mencintai. Hubungan mereka memasuki tahap baru yakni saling mengenal lebih dalam. Pembawaan Bella yang dewasa, cenderung tenang dan santai, mudah membuat Ken nyaman. Selain itu karakter Ken yang jujur, dan menggemaskan di mata Bella, perlahan berhasil membuat nama Louis tergeser. Tentu saja itu hal yang membahagiakan bagi Surya dan Rahayu.
Hari-hari Bella terasa lebih berwarna, suaminya itu mulai memberi perhatian kecil dan tak jarang bermanja saat mau berangkat dan pulang kerja. Pesan pun tak pernah absen dari Ken saat mendekati jam makan siang. Masa pendekatan yang cukup sukses.
Akan tetapi, perhatian dan kenyamanan Ken untuk Bella tak serta merta mengubah sikap Ken pada Cia. Cinta Ken untuk Cia tetaplah masih sangat besar. Bukan berkurang melainkan bertambah besar dari hari ke hari. Ken juga masih setia dengan rutinitasnya, selalu menemani Cia di kamarnya. Berbagi cerita dan saling jujur satu sama lain, karena prinsip jujur dalam hidup sudah tertanam dalam benak.
Di rumah, Ken belajar menjadi suami yang baik sedangkan di sini, Ken menjadi kekasih yang penuh cinta dan kasih, memberi semangat untuk Cia tetap berjuang.
Mudah? Tentu saja tidak! Berat? Tentu! Prakteknya tak segampang teori. Sebaik-baiknya hubungan segitiga, tentu saja ada sisi yang terluka.
Baik Bella dan Ken menyadari hal itu. Di balik sikap tegar dan ikhlas Cia, masih tersimpan sebuah luka dan ketidakrelaan. Semua itu ditutupi oleh sebuah senyum yang menggambarkan sebuah kebahagiaan.
*
*
*
Mentari mulai menyinari zamrud khatulistiwa. Sinarnya sungguh cerah lagi hangat, menggeser awan gelap dan udara dingin yang masih tersisa. Seorang gadis berdiri di balkon, menatap lembut langit di mana mentari berada. Rambutnya tersapu angin yang menyapa lembut wajahnya. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
Gaun berwarna kuning yang ia kenakan seakan memberitahu bahwa ia sedang bahagia atau akan melakukan sesuatu yang menggembirakan. Wajah pucatnya berseri saat pintu gerbang dibuka. Sebuah mobil putih dengan logo mercedes benz memasuki kediamannya.
"Ken!" Gadis itu melambaikan tangannya penuh semangat saat pengemudi mobil itu keluar. Ken melepas kacamatanya, membalas lambaian tangan gadis itu yang tak lain adalah Cia.
"Sayang!"balas Ken tak kalah semangat. Cia segera berbalik, beranjak dari balkon dan keluar dari kamarnya. Ken menyimpan kacamata kemudian melangkah memasuki rumah.
"Assalamualaikum," sapa Ken ramah pada orang tua dan adik kembar Cia yang berada di ruang keluarga.
"Waalaikumsalam." Jawaban yang serentak.
"Duduk, Ken," pinta Bayu ramah, menepuk sofa di sampingnya.
"Bagaimana kabar keluargamu?"tanya Bayu, sekadar basa-basi.
"Alhamdulillah baik, Om," jawab Ken.
"Syukurlah. Lalu apa kalian berdua saja?"tanya Bayu lagi.
Ken menggeleng.
"Istri saya juga ikut, Om. Piknik bertiga."
Bayu tersenyum simpul. Clara menatap Ken sinis, sedangkan Angkasa dan Anggara menatap Ken lekat. Tatapan mereka bak ingin menelan Ken hidup-hidup sementara Ken sendiri terduduk kaku dengan senyuman tetap menghiasi wajahnya.
"Mana istri kamu?"
Bayu melihat sekilas ke arah pintu masuk.
"Langsung ke lokasi, Om."
"Loh nggak barengan?" Bayu tampak heran.
Belum sempat Ken menjawab, Cia datang dan langsung memeluk Ken yang langsung berdiri.
"Cia, Sayang. Kamu yakin mau piknik keluar?"
Clara bertanya dengan cemas. Cia melepas pelukannya, menggandeng erat lengan Ken.
"Iya, Ma. Piknik bertiga dengan Ken sama Kak Bella," jawab Cia sumringah.
"J-jadi kamu tahu kalian bakalan piknik bertiga?"
Clara terkesiap. Cia mengangguk membenarkan.
"Kenapa? Mama nggak izinin Cia pergi?"
Wajah Cia meredup, menatap kecewa Rahayu. Clara langsung gelagapan. Ia lansung menghampiri Cia.
"Tidak, Sayang. Bukan begitu maksud, Mama. Hanya saja, apa kamu yakin?"
Clara memegang pundak Cia. Cia mengangguk, menatap Clara yakin.
"Ma, sudahlah. Lagipula istrinya Ken itu bukan orang yang harus kita waspadai. Mama jangan khawatir berlebihan, lagipula kan ada Ken yang selalu menjaga Cia," tegur Bayu.
"Tapi Pa, tetap saja." Clara menatap suaminya protes.
"Tante nggak perlu cemas. Cia aman bersama saya," ucap Ken serius.
Clara berpaling menatap Ken.
"Baiklah! Tapi Angkasa dan Anggara akan ikut dengan kalian. Keputusan Mama tidak bisa diganggu gugat!"putus Rahayu.
Angkasa dan Anggara membelalakan mata saat mereka ikut terseret dalam rencana piknik Cia. Sudah terbayang di benak mereka bahwa akan jadi nyamuk besar di tengah dua orang itu, juga Bella. Tapi mengesampingkan hal tersebut, Cia lebih utama.
"Baiklah."
Sebelum Cia protes, Ken lebih dulu menyetujui.
*
*
*
Bella menunggu Ken dan Cia di parkiran taman kota Cattleya. Ia melihat jam tangannya, raut wajahnya tampak tenang.
Mungkin terjebak macet.
Bella memilih memainkan ponselnya. Sudah hampir seminggu Louis tidak memberinya kabar. Saat bertanya pada Daddy Max, pria itu mengatakan bahwa Louis sangat sibuk dengan tender besar perusahaan. Masih mending Teresa yang walau sibuk masih bertukar kabar dengannya walau hanya melalui pesan.
Terselip rindu yang besar untuk keluarga angkatnya itu. Rasanya bertukar kabar lewat ponsel saja tidak cukup, tapi mau bagaimana lagi?
Bella menghela nafas pelan. Ia menyimpan ponselnya dan menatap langit yang sinarnya mulai meninggi.
Seminggu ini Bella sangat sibuk lagi lelah. Pergi pagi pulang lembur. Awal-awal menjabat memang bukan hal mudah. Banyak tantangan dan PR yang harus dikerjakan. Untunglah ia sudah berpengalaman, jadi masalah besar di Diamond Corp sudah terpecahkan.
Sampah-sampah perusahaan yang terbukti menyelewengi perusahaan kini mendekam di dalam penjaga. Dan beberapa hari yang lalu adalah sidang menentukan hukuman untuk keluarga tiri Anjani. Hukuman keluarga itu ditambah karena terbukti melakukan penggelapan dana.
Masalah keuangan perusahaan juga membaik. Dalam seminggu, Bella berhasil membuat Diamond Corp menjalin kerja sama dengan dua perusahaan yang benefit.
Pertama Sadewa Picture, tempat El mengabdi sebagai sutradara dan yang kedua adalah Mahendra Group. Ucapan yang Bella katakan waktu itu, berhasil Bella ucapkan. Sekarang Diamond Corp adalah sponsor utama perhiasaan di dua perusahaan itu. Ya inilah hebatnya punya kemampuan juga koneksi yang bagus.
Semoga dalam tiga minggu ke depan Anjani sudah menguasai semuanya, batin Bella.
Bella membuka matanya saat mendengar deru mobil yang ia kenali. Bella mengembang, itu mobil Ken.
Bella turun dari mobilnya saat kedua pintu depan mobil terbuka. Ken dan Cia turun dari mobil, sama-sama mengulas senyum untuk Bella.
"Assalamualaikum, Aru."
"Assalamualaikum, Kak Bella. Kita bertemu lagi," sapa Cia.
"Waalaikumsalam."
Bella mencium punggung tangan Ken, kemudian beralih memeluk Cia.
"Kok lama sekali kalian?"tanya Bella penasaran. Ken tidak menjawab, melirik mobilnya.
"Mogok lagi?"terka Bella.
Ken menggeleng. Mata Bella menyipit melihat kedua pintu mobil bagian penumpang terbuka dan turunlah dua pria kembar yang masing-masing membawa kantong plastik berwarna putih dan mata fokus ke ponsel. Sepertinya keduanya tengah bermain game.
"Hehe maaf ya, Kak. Adik-adik aku ikut terus tadi di jalan berhenti dulu beli cemilan sama katanya top up diamond," jelas Cia merasa tidak enak melihat tatapan heran Bella.
"Ohh, ya sudah ayo masuk. Nih bawa," ucap Bella, mengambil bekal makan siang yang ia bawa lalu diserahkan pada Ken.
Ketiga orang itu mulai memasuki taman, sementara pria kembar itu masih sibuk dengan game-nya dan stay bersandar pada body mobil.
"Ahh sial! Gimana bisa defeat sih?"keluh Anggara dengan wajah kesal.
"Ya bisalah orang menaranya sudah hancur," sahut Angkasa yang wajahnya datar, menyimpan ponselnya.
"Ck datar amat sih? Pangkat gue turun nih!"
"Ya tinggal naikin!"balas Angkasa cuek, menatap ke arah di mana Ken, Cia, dan Bella tadi berada. Matanya membulat menemukan ketiga orang itu tidak ditempat.
"Ga, Kak Cia mana?"
"Ya di situlah. Sama Kak Ken." Anggara masih sibuk dengan ponselnya.
"Nggak ada. Kita ditinggal kayaknya," ucap Angkasa yang berhasil membuat Anggara memalingkan wajahnya.
"Serius nih?"
"Iya."
"Wah gawat!"
Buru Anggara menyimpan ponselnya dan berkeliling di sekitar parkiran, barangkali jejak ketiga orang itu masih terlihat.
"Woi bego! Ayo masuk, kita susul mereka!"seru Angkasa yang kesal dengan tingkah kembarannya itu.
"Oh okay!"
*
*
*
Ketiga insan itu berjalan berdampingan. Ken berada di tengah, diampit oleh dua wanita yang sama-sama berarti dalam hidupnya. Cia menggandeng lengan Ken, sementara Ken dan Bella saling bergandengan tangan.
Beberapa pengunjung yang berpapasan dengan mereka, melihat ketiganya dengan tatapan beragam. Ketiganya cenderung acuh, tak ambil pusing dengan penilaian orang.
Mereka memberhentikan langkahnya di bawah pepohonan rindang. Tempat yang terhalang dari sinar matahari, tak jauh dari sebuah sungai kecil.
Hah … hah … hah ….
"Kak Cia! Kak Ken, tunggu!"
Ketiga orang itu berbalik ketika mendengar suara si kembar. Terlihat pria kembar itu berlari terengah-engah menghampiri mereka. Kantong plastik yang mereka bawa tampak terpontang - penting.
Hah … hah … hah ….
"Lelahnya … kenapa kita ditinggal?"
Dua orang itu langsung duduk berselonjor kaki. Mengusap peluh, menatap kesal Ken.
"Gimana? Victory apa defeat?"tanya Bella, mendahului Ken yang hendak menjawab.
"Defeat. Lawannya kuat banget." Angkasa melorot kesal pada Anggara.
"Ups!"
Anggara terkejut sendiri. Ia menatap kembarannya dengan menyengir.
"Ck!"
"Kak Bella paham main game?"tanya Cia penasaran.
"Lumayan."
"Wow."
"Serius, Kak? Bisa? Pangkat apa?" Kedua pria kembar itu tampak antusias.
"Legend kalau tidak salah."
"Hah Legend? Aku di bawahnya dong. Masih Grandmaster bintang III, kalau Angkasa baru Epic bintang I," tutur Anggara kagum.
Bella tersenyum, "mau mabar?"tawarnya.
"Mau!"
Dua orang itu langsung kembali mengambil ponsel dan dalam sekejap ponsel itu sudah miring pertanda bahwa sedang loading ke dalam game.
"Hei jangan main game dulu, mana tikarnya? Nggak kalian bawa?"tegur Ken.
"Tikar?"
Saling pandang dan seketika terlonjak kaget. Sedetik kemudian mereka langsung berlari menuju parkiran, teriakan Ken membuat langkah mereka terhenti.
"Kalian mau buka paksa bagasi mobilku, hah? Ini ambil kuncinya!"
Tanpa banyak tanya, dengan senyum-senyum tak jelas Anggara mengambil kunci mobil itu dan segera kembali berlari disusul oleh Angkasa.
Cia tersenyum malu atas tingkah kedua adiknya itu.
"Maaf ya, mereka memang gitu kalau suka nyangkut game."
"Kau beruntung punya adik yang energik, Cia," sahut Bella sendu.
Ia kembali teringat dengan Nesya yang masih mendekam di lapas dan dua hari yang lalu baru melakukan kemoterapi. Bahkan kemoterapi kemarin, Bella hanya menjemput dan mengantarkan Nesya ke rumah sakit. Dan selama di rumah sakit Nesya hanya ditemani oleh petugas lapas.
"Eh kok mendung sih wajahnya, Kak? Kakak teringat sama adik Kakak ya?"
Cia tampak menyesal. Bella menghela nafas pelan, "ya, aku mengingatnya. Tapi sudahlah, sudah takdirnya begitu."
"Kak ini tikarnya!"
Seketika suasana mendung sirna.
Selesai menggelar tikar, mereka semua duduk di atas tikar. Bekal makan dan semua cemilan diletakkan di tengah. Anggara dan Angkasa kembali pada ponsel mereka.
"Kak, ID Kakak apa?"tanya Anggara.
"Bentar. Aku cek ponsel dulu."
Sementara Bella fokus pada ponselnya, Cia dan Ken sibuk bermesraan. Ken membacakan novel untuk Cia sementara Cia tiduran di paha Ken. Semilir angin menambah keceriaan suasana.
Bella ikut mendengarkan Ken bercerita, posisinya yang di sebelah Ken, membuat cerita Ken terdengar jelas.
"Wah jago banget Kakak pakai heronya! Nggak mati-mati. MVP jamin Kak Bella lah ini," seru Anggara.
"Hahaha kamu juga hebat," puji Bella yang dibalas kerucutan Anggara.
Pasalnya pujian itu terbalik dengan kenyataan. Ia lebih banyak dead ketimbang kill.
Lebih baik Angkasa yang jumlah dead dan kill-nya imbang.
"Hm, Kak Bella, kemarin kok kita nggak jumpa ya waktu di rumah sakit?"tanya Cia setelah mendengar permainan selesai. Bella mendongak, menatap Cia.
"Ganti hari. Nesya nggak mau berpapasan lagi sama Ken," jawab Bella.
"Hah? Kok gara-gara aku?" Ken terkejut dan menatap protes Bella.
"Oo aku ingat. Gara-gara pertemuan pertama itu kan. Yang kamu marah-marah walau adik Kak Bella sudah minta maaf. Ingat nggak, Ken?"
Dahi Ken mengeryit, mengingat hal itu. Ia tersenyum kecut mengingatnya.
"Kak main lagi, yuk," ajak Anggara.
"Nanti saja. Kita makan siang dulu," tolak Bella.
"Yah …."
"Jangan bantah! Makan kalau enggak kalian pulang saja!"ketus Cia.
"Eh jangan dong. Ntar kita diamuk Mama."
"Okay!"
Saat makan siang, pria kembar itu saling tatap dengan wajah datar. Lihatlah Ken, mengapa pria itu sungguh beruntung memiliki dua bidadari di sampingnya?
Dan dua bidadari itu sangat akur. Mata keduanya mengerjap melihat Ken yang bergantian menyuapi Cia dan Bella.
Ya mereka berdua memang nyamuk besar yang tidak bisa diusir apalagi dipukul. Sungguh kasihan.